I Gusti Ngurah Sumanta Buana
Departemen Teknik Transportasi Laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Model Perencanaan Pengiriman Struktur Anjungan Lepas Pantai Mohammad Idham Harari; I Gusti Ngurah Sumanta Buana; Achmad Mustakim
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.51620

Abstract

Anjungan atau bangunan lepas pantai (offshore platform) adalah struktur atau bangunan yang dibuat sebagai sarana dalam proses eksplorasi minyak dan gas di lepas pantai. Jenis anjungan lepas pantai yang sering dipakai di Indonesia adalah jenis fixed platform. Anjungan lepas pantai ini dibuat di darat, kemudian diangkut dan diinstalasi di lokasi eksplorasi. Pengangkutan ini biasanya menggunakan 3 (tiga) cara atau skenario yang merupakan kombinasi antara ketersediaan dan ukuran barge. Setiap cara dipilih dengan alasan yang tidak jelas selain kedua yang disebut di atas, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemilihan skenario pengangkutan dan pemilihan barge untuk mengangkut jacket maupun topside, dan kemudian membuatnya dalam sebuah model. Berdasarkan hasil wawancara, penentuan skenario pengiriman jacket dan topside dilakukan dengan memperhatikan 4 faktor, yaitu, (i) jadwal selesai fabrikasi dan instalasi jacket maupun topside (ii) dimensi dan berat jacket dan topside (iii) ketersediaan barge, serta (iv) jarak dari lokasi fabrikasi ke instalasi. Pembuatan model untuk memilih skenario yang tepat dilakukan setelah mewawancarai beberapa pakar di bidangnya. Berdasarkan hasil perhitungan model, pada site 1, barge yang terpilih adalah B 34 dengan sewa harian sebesar Rp 1.927 jt. dan barge B4 sewa TCH/bulan sebesar Rp 2.199 jt. Sedangkan barge dalam negeri yaitu B18 sewa TCH per bulan sebesar Rp 2.147 jt. dan B19 sewa harian sebesar Rp 1.023 jt. Pada site 2 barge yang terpilih adalah B14 dengan sewa VCH sebesar Rp 6309 jt. Sedangkan barge dalam negeri adalah B17 sewa tch per bulan sebesar Rp 11897 Jt. Pada site 3 barge luar negeri yang terpilih adalah barge B10 dengan sewa harian sebesar Rp 4.448 jt. dan B15 dengan sewa TCH/bulan sebersar Rp 3.302 jt. Sedangkan barge dalam negeri yaitu B20 dengan sewa VCH sebesar Rp 3.659 jt. dan B16 dengan sewa TCH per bulan sebesar 8119 jt.
Model Optimisasi Distribusi dan Perencanaan Terminal Regasifikasi Liquefied Natural Gas (LNG): Studi Kasus Pulau Jawa Riza Alfian Arief Wardana; I Gusti Ngurah Sumanta Buana; Hasan Iqbal Nur
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.51623

Abstract

Biaya pengapalan LNG yang tinggi mengakibatkan tingginya harga gas yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Selain itu, pembangunan unit pembangkitan baru di Cilamaya dan peningkatan kapasitas daya UP Grati mengakibatkan peningkatan permintaan akan LNG. Perencanaan terminal regasifikasi di Jawa Timur diharapkan dapat menunjang pemenuhan kebutuhan akan LNG di UP Gresik dan Grati. Penyedia sarana pembangkit tenaga mengharapkan biaya LNG di Unit Pembangkitan lebih rendah dari nilai 14,5% Indonesian Crude Price (ICP). Permasalahan tersebut akan diselesaikan dengan model optimisasi pendistribusian LNG yang berasal dari 3 (tiga) kilang produksi, yaitu Badak LNG, Donggi Senoro LNG dan Tangguh LNG menuju 3 (tiga) terminal penerima LNG di Jawa. Model optimisasi tersebut menghasilkan 4 pilihan kapal yang digunakan dengan biaya total sebesar Rp34.620.155.621.573 untuk memenuhi permintaan akan LNG yang berjumlah 16.244.803 m3 dan biaya satuan LNG $7,53/MBTU. Perencanaan terminal regasifikasi yang dilakukan menghasilkan dua unit tangki penyimpanan berkapasitas 75.000 m3 dan biaya per tahun sebesar Rp561.191.198.608.
Model Perencanaan Fasilitas Distribusi Gas Alam Cair Untuk Pembangkit Listrik Berkapasitas Kecil di Indonesia Ilham Kaafabihi Mubarok; I Gusti Ngurah Sumanta Buana; Hasan Iqbal Nur
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i1.60659

Abstract

Gasifikasi pembangkit listrik berkapasitas kecil di Indonesia yang direncanakan Kementerian ESDM, memiliki permasalahan selain karena lokasi yang tersebar, serta jumlah permintaan sedikit, juga karena kondisi kedalaman disekitar area pembangkit tersebut. Alat angkut untuk gas itu sangat berbeda dengan batubara karena perbedaan karakteristik muatan. Kemungkinan kondisi tersebut akan menimbulkan perbedaan pola distribusi. Untuk itu, Penelitian ini bertujuan untuk merancang model perencanaan fasilitas distribusi gas alam cair untuk pembangkit listrik berkapasitas kecil. Langkah pertama adalah menganalisis alternatif alat angkut gas yang tersedia. Selanjutnya adalah mengidentifikasi karakteristik area dan lokasi pembangkit listrik, serta melakukan estimasi jumlah permintaan gas alam masing-masing pembangkit listrik. Karena setiap pembangkit listrik memiliki jumlah permintaan kecil dan area yang tersebar, beberapa konsep pola distribusi perlu dikembangkan untuk mencapai biaya paling optimum dan mampu mengatasi permasalahan area pada lokasi pembangkit. Metode optimasi dengan minimalkan biaya total terminal digunakan untuk menentukan pola distribusi yang paling optimum. Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pola distribusi gas alam cari paling optimum menggunakan konsep Kapal, FSU dan ORU. Kapal untuk pengangkut LNG berkapasitas 5.000 m3 – 15.600 m3. Fasilitas penyimpanan untuk terminal LNG pada pembangkit listrik menggunakan FSU berkapasitas 15.000 m3 – 122.000 m3. Sebagian besar fasilitas regasifikasi yang terpilih adalah NDAAV dan SCV dengan konsep dermaga Jettyless LNG Transfer. Biaya satuan dari distribusi LNG ke masing-masing pembangkit listrik berkisar antara $0,99/MMBTU - $7,94/MMBTU.
Model Distribusi Bahan Pokok Wilayah Kepulauan: Studi Kasus Kepulauan Karimunjawa Afifah Nuryaningtyas; I Gusti Ngurah Sumanta Buana; Hasan Iqbal Nur
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i1.60712

Abstract

Dalam 10 tahun terakhir, Kepulauan Karimunjawa banyak dikunjungi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Bersama dengan penduduk setempat, para wisatawan tersebut mengunjungi kepulauan tersebut dengan memanfaatkan sarana transportasi laut yang ada. Moda transportasi tersebut selain untuk mengangkut penumpang juga digunakan untuk mengangkut barang kebutuhan sehari hari yang hampir sebagian besar dipasok dari Pulau Jawa daratan. Akan tetapi, kegiatan tersebut seringkali terhambat karena cuaca buruk yang menyebabkan sarana transportasi tersebut tidak dapat beroperasi. Hal tersebut mengakibatkan keterlambatan pasokan bahan pokok, yang membuat bahan pokok menjadi langka dan pada akhirnya mengakibatkan harga kebutuhan tersebut menjadi mahal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model pola operasi pengiriman bahan pokok untuk Kepulauan Karimunjawa terutama yang berkaitan dengan kondisi cuaca. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi kondisi cuaca yang kemudian dipakai untuk menentukan hari berlayar. Selanjutnya adalah mengestimasi kebutuhan bahan pokok baik untuk wisatawan maupun penduduk setempat dengan memperhatikan jumlah konsumsi per kapita. Karena penduduk serta lokasi tujuan wisata tersebar di beberapa pulau, beberapa skenario perlu dikembangkan untuk mengangkut kebutuhan sehari-hari tersebut. Metode Travelling Salesman Problem (TSP) untuk menentukan rute perjalanan dari masing-masing skenario yang direncanakan. 3 (tiga) skenario yang digunakan adalah: (i) pola operasi hub and spoke, (ii) pola operasi multiport, dan (iii) pola operasi port to port. Skenario kedua terpilih karena menghasilkan biaya total transportasi laut yang paling rendah yaitu Rp. 774.734.408 per tahun. Skenario ini mampu memenuhi permintaan (demand) sebesar 4.039 ton/tahun dengan kemampuan supply sebesar 4.050 ton/tahun yang sudah disesuaikan dengan kondisi cuaca buruk. Armada kapal yang digunakan adalah kapal barang dengan payload 30 ton. Rute yang dilalui adalah Jepara – Karimunjawa – Nyamuk – Parang – Kemujan – Genting – Jepara dengan jarak total sebesar 133,75 mil laut. Selanjutnya adalah merancang penjadwalan serta menyediakan fasilitas gudang pada pulau tujuan.
Model Pengembangan Infrastruktur Pelabuhan Perikanan Studi Kasus: Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Yolanda Farraz Bestari Tambunan; I Gusti Ngurah Sumanta Buana; Hasan Iqbal Nur
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i1.60733

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong yang direlokasi ke tempat baru pada tahun 2019, menimbulkan beragam reaksi dari pengguna pelabuhan tersebut. Relokasi pelabuhan ini dianggap belum berjalan dengan baik karena tata ruang kegiatan perikanan masih belum sesuai dengan aturan yang ada. Selain itu, pendangkalan yang terjadi pada kolam pelabuhan di lokasi baru menghambat beberapa kegiatan, seperti, pembongkaran muatan ikan, tambat kapal, pengisian perbekalan kapal dan perbaikan kapal. Hal tersebut memerlukan pembenahan sehingga dapat meningkatkan kelancaran kegiatan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak relokasi PPN Brondong serta merencanakan peningkatakan utilitas fasilitas yang lama. Langkah pertama yang penting dilakukan adalah meramalkan hasil produksi tangkapan, kunjungan kapal serta kebutuhan perbekalan untuk kapal melaut. Analisis Biaya Manfaat (Cost Benefit Ratio/BCR) dilakukan untuk mengetahui dampak relokasi pelabuhan. Nilai CBR yang diperoleh (0,5) mengindikasikan bahwa relokasi tersebut “Tidak Layak”. Berdasarkan hal tersebut, peningkatan kinerja pelabuhan secara keseluruhan perlu dilakukan dengan mengembangkan terminal di lokasi yang lama. 2 (dua) skenario dikembangkan dengan memperhatikan fasilitas yang ada, yaitu dengan: (i) memberdayakan kembali pelabuhan lama dengan melakukan perbaikan fasilitas dan (ii) melakukan penambahan fasilitas dan penambahan kapasitas dermaga. Kedua skenario layak untuk dilaksanakan berdasarkan hasil nilai Net Present Value (NPV) maupun analisis biaya manfaat. Nilai NPV Skenario 1 dan 2 berturut-turut sebesar Rp 3.308.744.199 dengan payback period tahun-7 dan Rp 15.865.204.183 dengan payback period tahun-13. Karena masing-masing nilai BCR dapat diterima, incremental BCR perlu dilakukan untuk memilih skenario terbaik. Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario B merupakan pilihan terbaik.
Model Pengembangan Angkutan Transportasi Air di Wilayah Bersungai Banyak: Studi Kasus Kabupaten Teluk Bintuni Fikri Fadhilah; I Gusti Ngurah Sumanta Buana; Pratiwi Wuryaningrum
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i1.60735

Abstract

Kabupaten Teluk Bintuni adalah wilayah yang dialiri banyak sungai yang dimanfaatkan oleh penduduk karena kondisi jalur darat yang tidak selalu dapat dilewati oleh kendaraan. Salah satu moda transportasi yang digunakan untuk menghubungkan ke-24 distrik yang ada di kabupaten tersebut adalah taksi air yang telah beroperasi sejak tahun 2019. 3 (tiga) unit taksi air berkapasitas 16 orang tersebut belum dapat beroperasi secara optimum, karena hanya menjangkau 4 (empat) distrik saja. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merencanakan pola operasi baru dari taksi air yang ada sehingga dapat menjangkau seluruh distrik di Kabupaten Teluk Bintuni. Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi sungai yang dapat dilayari serta menghitung kombinasi rute. Terdapat 11 distrik yang dapat di lalui oleh taksi air. Dengan memperhatikan waktu operasi taksi air yang tidak boleh lebih dari 12 jam, wilayah operasi dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu, Wilayah Operasi Utara I, Wilayah Operasi Utara II, dan Wilayah Operasi Selatan yang masing-masing dilayani oleh satu taksi air. Biaya operasi taksi air di masing-masing wilayah operasi dapat dihitung dan dipakai untuk menentukan pola operasi dengan biaya terendah. Rute terpilih di Wilayah Operasi Utara I adalah Bintuni – Tomu – Aranday – Kamundan – Aranday – Tomu – Bintuni. Wilayah Operasi Utara II adalah Bintuni – Manimeri – Wamesa – Manimeri – Bintuni. Wilayah Operasi Selatan adalah Aroba – Sumuri – Babo – Kuri – Kaitaro – Kuri – Babo – Sumuri - Aroba. Benefit Cost Ratio dihitung untuk mengetahui kelayakan pola operasi tersebut. Nilai benefit cost ratio dari pola operasi taksi air yang direncanakan adalah 1,09, yang berarti pola operasi yang direncanakan layak secara ekonomi. Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui perilaku 3 (tiga) variabel, yaitu, permintaan penumpang, load factor, dan tarif, terhadap kelayakan operasi taksi air.
Arsitektur Digitalisasi Slot Sharing Agreement pada Pelayaran Rakyat (Pelra) Rizki Eka Nafiandia; I Gusti Ngurah Sumanta Buana
Journal Software, Hardware and Information Technology Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sistem Informasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shift.v2i1.21

Abstract

This research focuses on the cargo hold rental system on the Pelra ship, which plays an important role in island connectivity which is categorized as PPKT (pulau-pulau kecil terluar). The purpose of this study is to identify the conventional cargo hold rental system and Pelra as well as the disengagement between agents. The method used is an empathy map and user persona which serves to identify the needs and objectives of the application prototype users. The purpose of this study is to identify the disengagement between Pelra parties by developing a cargo hold rental system in the form of a prototype, as well as forming a transformation strategy for implementing information system exchange. The method used is an empathy map and user persona which serves to identify the needs and objectives of the application prototype. The resulting prototype can simplify the cargo rental business process from 11 to 9 stages. Cost-benefit analysis is used to determine the feasibility of the prototype. The prototype is considered feasible because the feasibility ratio value is 1.133 so that it can be applied to the Pelra cargo hold rental process.
Analisis Dampak Pembangunan Kra Canal terhadap Industri Kepelabuhanan di Indonesia Dio Mukti Kuncoro; I Gusti Ngurah Sumanta Buana; Achmad Mustakim
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.748 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v2i1.5700

Abstract

Selat Malaka selama ini menjadi jalur terpenting di dunia karena merupakan rute tercepat bagi kapal dari barat (westbound) ke timur (eastbound). Sehingga tiga negara di pesisir Selat Malaka (Indonesia, Malaysia, dan Singapura) berlomba-lomba untuk mengambil keuntungan dengan menyediakan fasilitas pelayanan kapal yang melintas, seperti, pemanduan, bunkering, dan hub port. Namun pada tahun 2017 diberitakan bahwa akan dibangun Kra Canal yang akan menjadi alternatif jalur pelayaran Selat Malaka. Apabila dibangun maka akan terjadi perubahan rute yang mengakibatkan kapal tidak lagi melalui Selat Malaka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembangunan Kra Canal terhadap industri kepelabuhanan di Indonesia dengan memperhatikan biaya transportasi laut kapal mainliner petikemas internasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata perubahan biaya per unit ($/TEUs) kapal mainliner internasional jika melalui Kra Canal (meningkat) sebesar 30,58%, 21,96%, dan 13,08% berturut-turut dibanding Tanjung Perak, Tanjung Priok, dan Belawan. Sedangkan throughput petikemas transhipment internasional pada masing-masing pelabuhan utama Indonesia terdampak tidak signifikan, yaitu hanya berpindah sebesar, Tanjung Perak 0,24%, Tanjung Priok 2,03%, dan Belawan 1,56%. Penurunan penggunaan fasilitas kepelabuhanan pada masing–masing pelabuhan direpresentasikan dalam pendapatan ($), yaitu, Tanjung Perak sebesar $ 129.592,72, Tanjung Priok sebesar $ 376.943,91, Belawan sebesar $ 344.731,75, dan Selat Malaka sebesar $ 8.163.226,68 untuk jasa pemanduan dan $ 110.338.169,02 untuk jasa bunkering.
Analisis Strategi Pengembangan Pelabuhan Kendari Riyan Abdillah Takdir; I Gusti Ngurah Sumanta Buana
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 13 No. 1 (2019)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jurnalwave.v13i1.3576

Abstract

The increase in cargo flows that are not supported by adequate port facilities has hampered the Nusantara Kendari Port logistics process. The port development strategy by relocating Nusantara port functions to Bungkutoko Port is considered a solution to the limitations of the Nusantara Port. The purpose of this study was to analyze the impact of the planned transfer of the port by observing several performance indicators. The port performance indicators used were yard occupancy ratio (YOR), berth occupancy ratio (BOR) and shed occupancy ratio (SOR). The results showed that the Nusantara Port performance indicator values before the relocation were 118.57% for YOR of container, 24.3% for YOR of general cargo, 62.55% for SOR of general cargo, 17.71% for BOR of passengers and 76.91% for BOR of container and general cargo. Whereas after the relocation there were several performance indicator values that did not reach operational performance standards. Those values were 75.37% for BOR of container in 2028, 70.96% for YOR of container in 2033 and 67.21% for SOR of general cargo in 2021. Based on the results, it was concluded that an alternative development strategy was necessary to optimize the value of Kendari Port performance indicators.