Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Perubahan Rangkaian Ritual Thaipusam di Kuil Sree Soepramaniem Nagarattar pada Etnik Tamil Medan Noviy - Hasanah; Agus - Riyaf
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 2, No 1 (2016): ANTHROPOS
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v2i1.5273

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan ritual Thaipusam, mengetahui siapa saja pihak yang terlibat, mengetahui makna filosofi, dan menjelaskan perubahan-perubahan perayaan ritual Thaipusam di kuil Sree Soepramaniem Nagarattar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penulis menggunakan penelitian lapangan (field research) dengan bentuk observasi non partisipasi (non partisipan observer). Teknik pengumpulan data antara lain yaitu: wawancara (interview), observasi serta studi pustaka (library research), dan dokumentasi untuk menambah data yang relevan. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Proses pelaksanaan Ritual Thaipusam diawali dengan mendoakan susu putih (Paal Kudam) yang dibawa ke Kuil sampai pada pemujaan terakhir kepada Dewa Murugan usai di arak-arak. (2) Pihak yang terlibat dalam mensukseskan perayaan Ritual Thaipusam diantaranya para Pandita, para pengurus kuil, para umat yang tergabung dalam kumpulan Chettyar, para teknisi lampu, petugas pembersih kuil serta para petugas yang memasak makanan di dapur umum kuil. (3) Makna yang terkandung pada perayaan ini adalah untuk mengenang jasa serta menghormati Dewa Murugan yang telah berhasil mengalahkan kekuatan jahat di muka bumi. (4) Perubahan yang terjadi dalam praktik pelaksanaannya adalah ritual cucuk tubuh, menginjakkan kaki ke bara api, Kavadi, pecah kelapa serta arak-arak kereta kencana (Radhem).   Kata Kunci : Thaipusam; Perubahan;Kuil Sree Soepramaniem Nagarattar; Etnik Tamil.
The Strategy of Processing Coffee Farming System in Temas Mumanang Village Permata District of Bener Meriah Regency Nanggroe Aceh Darussalam Puspitawati Puspitawati; Noviy Hasanah; Ayu Febryani
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 5, No 2 (2020): ANTHROPOS JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v5i2.14214

Abstract

This paper is about strategies for how to process coffee in the coffee farming system in Temas Mumanang Village, Permata District, Bener Meriah Regency, Nanggroe Aceh Darussalam Province. This paper thoroughly and in-depth describes the ways of planting and maintaining coffee plants carried out from the first period to the fourth period, starting from making coffee seeds, planting coffee seeds, maintaining coffee plants, and harvesting and handling post-harvest (processing). The whole period has special ways that are the local wisdom of Gayo coffee farmers. This local wisdom is used as a reference to the farming system which until now is able to make the Gayo High Region as a coffee producer with Robusta and Arabica Coffee varieties to foreign countries.
Tradisi Manaruhon Situtungon pada Etnis Batak Toba di Sidikalang Kabupaten Dairi Yesima Sidebang; Noviy Hasanah; Trisni Andayani
Jurnal Antropologi Sumatera Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Antropologi Sumatera, Juni 2021
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.146 KB) | DOI: 10.24114/jas.v19i1.30422

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan makna dari tradisi manaruhon situtungon pada etnis Batak Toba di Sidikalang, Kabupaten Dairi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari parsinabul atau parhata adat Batak Toba serta masyarakat Batak Toba yang sudah pernah mengikuti tradisi manaruhon situtungon baik itu laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang berfokus pada proses dan makna tradisi dengan menggunakan teori tafsir kebudayaan oleh Clifford Geertz. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun hasil dari penelitian ini adalah bahwa tradisi manaruhon situtungon merupakan tradisi wajib bagi etnis Batak Toba di Sidikalang, Kabupaten Dairi. Dalam tradisi ini pihak paranak datang ke tempat pihak parboru untuk menyerahkan makanan adat sebagai bentuk ijin untuk mempersunting anak perempuan dari keluarga tersebut sekaligus menyerahkan sebagian dari jumlah sinamot yang akan dipakai dalam pelaksanaan adat perkawinan tersebut.
UPACARA NADZAR BATUMBANG APAM DI MAKAM KERAMAT GAJAH DESA KUBAH SENTANG Hasanah, Noviy; Zuraidah, Zuraidah
SOCIUS Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, Universitas Negeri Pa
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scs.v6i1.140

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upacara nadzar batumbang apam di makam Keramat Gajah Desa Kubah Sentang dusun I kecamatan Pantai Labu. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa upacara nadzar batumbang apam adalah upacara yang diyakini masyarakat desa Kubah Sentang sebagai pembayaran nadzar atau janji terhadap suatu keinginan yang tercapai. Misalnya jika seorang Ibu bernadzar ketika anaknya sakit, kelak jika anaknya sehat dia akan membawa anaknya batumbang ke makam keramat gajah yang terletak di desa Kubah Sentang Dusun I. Upacara nadzar batumbang apam tidak terlepas dari keberadaan Makam Keramat Gajah yang biasa dijadikan tempat dilakukannya upacara nadzar batumbang apam. Adapun hal yang harus dipersiapkan sebelum upacara ini adalah kue apam, pelepah kelapa yang nantinya akan ditusuki kue apam, uang koin, dan makanan lainnya seperti pulut, ayam panggang. Selanjutnya Prosesi dari upacara nadzar batumbang apam di makam keramat gajah yang pertama mendatangi rumah pemimpin doa sembari menyampaikan tujuan atau hajatnya untuk batumbang apam, kemudian berjalan menuju makam, sesampainya dimakam pelepah kelapa yang telah ditusuki kue apam di tancapkan tanah disisi makam yang diikuti dengan berdirinya orang yang akan dibatumbangkan, kemudian membaca basmallah, shalawat, al-fatihah, doa selamat, selanjutnya membagikan uang koin kepada anak-anak yang hadir pada saat upacara, dan diakhiri dengan memakan kue apam dan makanan lainnya yang telah didoakan bersama. Adapun pandangan masyarakat Desa Kubah Sentang terhadap upacara nadzar batumbang apam di makam Keramat Gajah yakni mereka menganggap adanya kekuatan ghaib di makam Keramat Gajah sehingga ketika melakukan nadzar mudah terkabul.