Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Uji Antibakteri Isolat Bakteri Asam Laktat yang Diisolasi dari Limbah Cair Sagu Terhadap Bakteri Patogen Kasi, Pauline Destinugrainy; Ariandi, Ariandi; Mutmainnah, Heni
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.85 KB) | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.03.7

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) telah diisolasi dari limbah cair sagu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri isolat BAL yang diisolasi dari limbah cair sagu terhadap bakteri patogen Escherichia coli (bakteri gram negatif) dan Staphylococcus aureus (bakteri gram positif). Isolat BAL yang akan diuji terdiri atas isolat F1 dan F3 (yang diisolasi dari limbah cair sagu yang disimpan selama 1 hari dan 3 hari). Hasil uji antibakteri menunjukkan adanya zona penghambatan berupa zona bening yang terbentuk di sekitar kertas cakram yang mengandung isolat BAL isolat F1 menunjukkan daya hambat hampir sama terhadap bakteri E. coli maupun S. aureus (berturut-turut 22 dan 23 mm). Sedangkan pada isolat F3 daya hambat terhadap bakteri E.coli (25 mm) lebih besar dibandingkan terhadap S. aureus (16 mm). Kedua isolat BAL tersebut berpotensi sebagai starter probiotik untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Uji Antibakteri Isolat Bakteri Asam Laktat yang Diisolasi dari Limbah Cair Sagu Terhadap Bakteri Patogen Pauline Destinugrainy Kasi; Ariandi Ariandi; Heni Mutmainnah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.03.7

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) telah diisolasi dari limbah cair sagu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri isolat BAL yang diisolasi dari limbah cair sagu terhadap bakteri patogen Escherichia coli (bakteri gram negatif) dan Staphylococcus aureus (bakteri gram positif). Isolat BAL yang akan diuji terdiri atas isolat F1 dan F3 (yang diisolasi dari limbah cair sagu yang disimpan selama 1 hari dan 3 hari). Hasil uji antibakteri menunjukkan adanya zona penghambatan berupa zona bening yang terbentuk di sekitar kertas cakram yang mengandung isolat BAL isolat F1 menunjukkan daya hambat hampir sama terhadap bakteri E. coli maupun S. aureus (berturut-turut 22 dan 23 mm). Sedangkan pada isolat F3 daya hambat terhadap bakteri E.coli (25 mm) lebih besar dibandingkan terhadap S. aureus (16 mm). Kedua isolat BAL tersebut berpotensi sebagai starter probiotik untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Analisis fisika kimia perairan industri Panply terhadap kerapatan mangrove dan kepadatan kepiting bakau Tri Sutriani Syam; Pauline Destinugrainy Kasi; Sunarti Cambaba; Syarif Hidayat Amrullah
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24532

Abstract

Ekosistem mangrove berperan penting dalam ekologi laut dan pesisir, salah satunya adalah sebagai tempat pemijahan dan pembesaran (nursery ground) bagi kepiting bakau. Kepiting bakau merupakan salah satu fauna akuatik yang hidup di sekitar hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis mangrove dan jenis kepiting bakau yang ada di sekitar perairan PT Panply dan pengaruh parameter lingkungan terhadap kerapatan mangrove dan kepadatan kepiting bakau di perairan industri Panply. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik jejajah atau eksplorasi yaitu terjun langsung di lapangan dalam melakukan pengamatan dan pengambilan sampel. Pengambilan sampel dilakukan pada 2 stasiun, stasiun I berada tepat di belakang PT Panply sedangkan stasiun II berada sekitar 100 meter dari PT Panply. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di area industri Panply ditemukan 4 jenis mangrove yang terdiri dari Rhizophora mucronata, R. apiculata, Avisennia alba, dan Sonneratia alba. Serta 3 jenis kepiting bakau yang terdiri dari Scylla serrata, S. olivacea, dan S. tranquebarica. Terdapat korelasi antara kerapatan mangrove dengan suhu 0,667 (kuat). Korelasi antara kerapatan mangrove dengan pH 0,179 (sangat rendah). Korelasi antara kerapatan mangrove dengan salinitas, tidak dapat ditentukan nilai korelasinya karena data yang ada seragam. Korelasi antara kerapatan mangrove dengan kecerahan 0,148 (sangat rendah). Selain itu, didapatkan hubungan antara kepadatan kepiting bakau dengan fisika kimia air yaitu korelasi antara kepadatan kepiting bakau dengan suhu 0,879 (sangat kuat). Korelasi antara kepadatan kepiting bakau dengan pH 0,407 (sedang). Korelasi antara kepadatan kepiting bakau dengan salinitas 0,667 (kuat). Korelasi antara kepadatan kepiting bakau dengan kecerahan 0,333 (rendah).
APLIKASI EKSTRAK JAGUNG DAN AIR KELAPA SEBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI PADA PERTUMBUHAN AWAL BIBIT APEL Pauline Destinugrainy Kasi; Sunarti Cambaba; Winda Sanggola
Perbal : Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol 9, No 3 (2021): PERBAL : Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v9i3.1592

Abstract

Salah satu masalah yang timbul dalam budidaya apel adalah ketersediaan bibit apel. Penggunaan zat pengatur tumbuh pada bibit awal apel dapat memacu pertumbuhan sehingga diperoleh bibit yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sitokinin alami dari kombinasi ekstrak jagung dan air kelapa terhadap pertumbuhan awal bibit apel (Malus domestica), serta untuk mengetahui volume konsentrasi sitokinin alami yang menghasilkan pertumbuhan awal bibit apel (Malus domestica) terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu kontrol (P0), 100 ml/polybag (P1), 150 ml/polybag (P2) dan 200 ml/polybag (P3). Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan jika terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan berbagai konsentrasi sitokinin memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi batang dan jumlah daun bibit apel (Malus domestica) dalam waktu pengamatan 28 hari setelah perlakuan (hsp). Perlakuan P3 dengan konsentrasi sitokinin alami sebanyak 200 ml/l menunjukkan pertumbuhan awal bibit apel terbaik dengan tinggi batang rata-rata 5,2 cm dan jumlah daun rata-rata 4,57 helai.
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL KETEPENG CINA (Cassia alata L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Colletotrichum gloeosporioides Pauline Destinugrainy Kasi; Ridha Yulyani Wardhi; Sunarti Cambaba; Ika Pitra Annisa
Cokroaminoto Journal of Chemical Science Vol. 2 No. 1 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Colletotrichum gloeosporioides is a pathogenic fungus that attacks plants and causes anthracnose disease. Leaves of ketepeng cina (Cassia alata. L) have potential as a biological fungicide because they contain secondary metabolite which is collected as an antifungal. This study aims to know about the inhibitory effects of etanolic extract of ketepeng cina leaves on the growth of Colletotrichum gloeosporioides, and to determine the effective concentration of etanolic extract of ketepeng cina leaves in inhibiting the growth of Colletotrichum gloeosporioides. The treatment etanolic extract of ketepeng cina leaves used were: P0: 0% concentration, P1: 30% concentration, P2: 60% concentration and P3: 80% concentration. Fungal growth was observed on the 7th day after incubation. The results showed that the contribution of etanolic extract of ketepeng cina leaves could inhibit the growth of the fungus Colletottrichum glosporidies. The most effective concentration of etanolic extract of ketepeng cina leaves was 80%, with an average growth of Colletotrichum gloeosporioides diameter was 1.35 cm and suppressed the spread of hyphae
PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK CAIR REBUNG BAMBU U NTUK PERTUMBUHAN KANGKUNG SECARA HIDROPONIK Pauline Destinugrainy Kasi; Suaedi Suaedi; Faridha Angraeni
BIOSEL (Biology Science and Education): Jurnal Penelitian Science dan Pendidikan Vol 7, No 1 (2018): BIOSEL (Biology Science and Education): Jurnal Penelitian Science dan Pendidikan
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI AMBON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.981 KB) | DOI: 10.33477/bs.v7i1.391

Abstract

Keragaman morfologi selama perkembangan embrio somatik sagu (Metroxylon sagu Rottb.) Morphological variations during the development of somatic embryos of sago (Metroxylon sagu Rottb.) Pauline Destinugrainy KASI; . SUMARYONO
E-Journal Menara Perkebunan Vol 74, No 1: Juni 2006
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.434 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v74i1.120

Abstract

Summary In vitro culture of sago (Metroxylon sagu Rottb.) on an agar-solidified medium consists of somatic embryos of different sizes, colors, and developmental stages.  One gram of mostly globular somatic embryos were cultured on a solid medium to observe their morphological variations with respect to embryo size, color, and developmental stage over one passage of six weeks culture.  The medium was a modified-MS medium with half-strength of macronutrients containing   0.01 mg/L ABA and 2 mg/L kinetin.  At the end of culture passage, fresh weight of embryo increased by 2.3 folds.  The embryo numbers increased by more than two times indicating the formation of secondary embryos.  The average size of sago somatic embryos did not change significantly over the culture period; however, the embryo size was already highly varied at the start and increased gradually as the embryo developed.  At the initial of culture,   33.7 % of the embryos were yellowish, 64.1 % were greenish, and 2.2% were reddish.  By the end of the culture the composition of yellowish embryos increased to 51.2 %, greenish embryo decreased to 42.5 % and red embryos increased to 6.3 %.  At the initial culture, 61 % of the embryos were at the globular, 9 % at heart-shape and 30 % at torpedo stage.  Generally globular embryos developed into later-stage embryos as the culture progressed, although almost 56% of the embryos remained at the globular stage after the sixth week.Ringkasan Kultur in vitro sagu (Metroxylon sagu Rottb.) pada medium padat terdiri dari embrio somatik dalam berbagai ukuran, warna, dan fase perkembangan.  Satu gram embrio somatik yang sebagian besar dalam fase globuler dikulturkan pada medium padat untuk mengamati keragaman morfologi embrio dalam hal ukuran, warna dan fase perkembangan dalam satu periode kultur enam minggu.  Medium kultur adalah MS modifikasi dengan setengah hara makro serta penambahan zat pengatur tumbuh ABA 0,01 mg/L dan kinetin 2 mg/L.  Pada akhir masa kultur bobot embrio segar meningkat 2,3 kali dibandingkan awal masa kultur.  Jumlah embrio juga mengalami peningkatan sebesar lebih dari dua kali yang menunjukkan adanya pembentukan embrio somatik sekunder. Ukuran rata-rata embrio tidak berubah secara signifikan selama masa kultur akan tetapi ukuran embrio telah sangat beragam pada awal kultur dan terus meningkat hingga akhir kultur. Warna embrio mengalami perubahan selama periode kultur.  Pada awal kultur dijumpai 33,7 % embrio berwarna kuning, 64,1 % embrio hijau, dan 2,2 % embrio merah.  Pada akhir kultur presentase embrio kuning meningkat menjadi 51,2 %, embrio hijau menjadi 42,5 %, dan embrio merah 6,3 %.  Pada awal kultur, dijumpai 61 % embrio pada fase globuler, 9 % fase bentuk-hati dan 30 % fase torpedo.  Umumnya embrio globuler berkembang menjadi embrio fase lanjut selama kultur berlangsung, namun 56 % embrio masih tetap dalam fase globuler pada minggu keenam.
KARAKTERISASI MORFOLOGIS ISOLAT BAKTERI TERMOFILIK DARI SUMBER AIR PANAS PINCARA Pauline Destinugrainy Kasi
Indigenous Biologi : Jurnal Pendidikan dan Sains Biologi Vol 3 No 2 (2020): Indigenous Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Kristen Artha Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33323/indigenous.v3i2.40

Abstract

Sumber air panas merupakan salah satu habitat alami dari bakteri termofilik. Bakteri termofilik adalah kelompok bakteri yang mampu tumbuh pada suhu lingkungan yang tinggi, berkisar antara 45°-90°C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan karakterisasi morfologi isolat bakteri termofilik yang dapat diisolasi dari sumber air panas Pincara. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptf eksploratif, dengan mengambil sampel pada sumber air panas Pincara. Isolasi dan karakterisasi morfologis dilakukan di Laboratorium Sel dan Jaringan Fakultas Sains Universitas Cokroaminoto Palopo. Isolat dikulturkan pada medium Luriah Bertani Agar (LBA) dan diinkubasi pada suhu ±50ºC selama 3x24 jam. Sebanyak 3 isolat murni bakteri termofilik ditemukan dengan karakteristik bervariasi. Semua isolat bakteri merupakan bakteri Gram positif dan berbentuk basil. Isolat P1 memiliki karakteristik morfologi koloni dengan pigmentasi putih krem, bentuk circular, tepi entire, dan elevasi convex. Isolat P2 memiliki karakteristik morfologi koloni dengan pigmentasi putih krem, bentuk circular, tepi entire, dan elevasi flat. Sedangkan isolat P3 memiliki karakterisasi morfologi koloni dengan pigmentasi putih krem, bentuk irreguler, tepi undulate, dan elevasi flat.
Identifikasi Bakteri Asam Laktat dari Limbah Cair Sagu dengan Gen 16S rRNA Pauline Destinugrainy Kasi; Ariandi Ariandi; Eka Pratiwi Tenriawaru
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 36, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.558 KB) | DOI: 10.20884/1.mib.2019.36.1.924

Abstract

Bakteri Asam Laktat (BAL) telah diisolasi dari limbah cair sagu yang diperolah langsung dari industri pengolahan sagu tradisional di Malangke Barat, Sulawesi Selatan. Isolat murni BAL diperoleh dari sampel limbah cair sagu, masing-masing dari limbah cair sagu yang disimpan selama 1 hari (F1). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi BAL dari limbah cair sagu dengan menggunakan gen 16S rRNA. Ekstraksi DNA dilakukan dengan menggunakan Genaid Presto™ Mini gDNA Bacteria Kit GBB100, kemudian sampel diamplifikasi menggunakan primer 16S rRNA (16sRNA-F 5’-AGAGTTTGATCCTGGCTCAG-3’ dan 16S RNA-R 5’- GTTTACCTTGTTACGACTT-3’) dengan panjang basa 1300 bp. Sampel yang telah diamplifikasi kemudian disekuensing ke 1st Base. Hasil analisis filogenetik menunjukkan similaritas 100% dengan Lactobacillus mali DSM 20444 dan similiaritas 98% dengan Lactobacillus  satsumensis NRIC 0604
Characterization of Flower’s Color based on CHS Gene Structure in Phalaenopsis ‘OX Queen’ and Dendrobium ‘Cheddi Jagan’ Orchids Hanifa, Yumna Rahmadias; Gildantia, Elke; Kasi, Pauline Destinugrainy; Purwantoro, Aziz; Semiarti, Endang
Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology Vol 9, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jtbb.91511

Abstract

Orchids (Orchidaceae) are ornamental plants known for their high aesthetic value attributed to the shapes, colours, and fragrances of their flowers. Two types of hybrid orchids with attractive flowers, namely the Phalaenopsis 'OX Queen' orchid and the Dendrobium 'Cheddi Jagan' boast attractive flowers were used in this research, because of the beauty of its flower colour. The objective of this research is to characterise the morphology of flower colour and CHS (Chalcone Synthase) gene content that induces flower colour. The method used in this research analyzing the flower’s colour by using the RHS (Royal Horticultural Society) colour chart and molecular analysis by DNA genomic isolation and PCR amplification of gDNA for CHS gene specific primers. The results showed that purple colour is observed through the RHS, with P. 'OX Queen' coded as Deep Purple Pink (N73A) and D. 'Cheddi Jagan' coded as Strong Reddish Purple (N72C). The CHS gene can be amplified in P. ’OX Queen’ 1,287 bp and D. ’Cheddi jagan’ 3,731 bp. In both orchids, the results of amplification showed CHS motifs with conserved domains PLN03172 and PLN03170. The research results show that there is a significant difference in the morphology of the flowers of orchids. Purple colour is observed through the RHS, with P. 'OX Queen' coded as N73A and D. 'Cheddi Jagan' coded as N73C. The results showed that gDNA can be isolated by using CTAB method according to Murray and Thomson, and the CHS gene can be amplified by using CHS primers, resulting 1200 bp of P. 'OX Queen' and 2500 bp for D. 'Cheddi Jagan'. Through this study, preliminary data is expected to be obtained for future research, which is the formation of variegated flowers through editing the CRISPR/Cas9 genome in the CHS gene. This research is intended to support further studies on the formation of variegated flower patterns in P. 'OX Queen' and D. 'Cheddi Jagan’, focusing on the CHS gene using CRISPR/Cas9 technique.