Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Webinar: Upaya Mendukung Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Dyah Intan Puspitasari; Siti Nurokhmah; Setyaningrum Rahmawaty
Abdi Geomedisains Vol. 2, No. 2, January 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.946 KB) | DOI: 10.23917/abdigeomedisains.v2i2.351

Abstract

Memberikan ASI eksklusif memiliki manfaat yang sangat besar bagi ibu dan juga bayi. Untuk mencapai target nasional (80%) cakupan ASI eksklusif, diperlukan berbagai upaya, salah satunya adalah dengan memberikan edukasi kesehatan. Pemberian edukasi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman agar nantinya kelompok sasaran ini dapat berperan aktif dalam mendukung keberhasilan ASI eksklusif. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan memberikan edukasi melalui Webinar kepada masyarakat. Materi yang diberikan adalah kebijakan terkait ASI eksklusif, manfaat ASI, dan juga kiat menyusui pada ibu bekerja. Secara umum kegiatan berlangsung dengan lancar. Peserta memiliki antusias yang tinggi dalam mengikuti kegiatan tersebut dengan memberikan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi. Pengetahuan peserta juga mengalami peningkatan secara signifikan (p=0,000) terlihat dari peningkatan nilai pretest dan posttest dari rata-rata 7,29 menjadi 8,55. Kegiatan Webinar series dengan tema yang mendukung praktek-praktek menyusui yang direkomendasikan dan terbentuknya komunitas yang mendukung ASI eksklusif diharapkan menjadi upaya tindak lanjut untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif.
Hubungan Operasi Sesar dengan Inisiasi Menyusu Dini di Indonesia: Analisis Data SDKI 2017 Siti Masitoh; Siti Nurokhmah; Anissa Rizkianti; Sugiharti Sugiharti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 31 No 1 (2021)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v31i1.3430

Abstract

The prevalence of exclusive breastfeeding and early initiation of breastfeeding in Indonesia, is still low 37.3% and 58.2%, respectively. However, cesarean delivery increased from 12.3% in 2012 to 17.0% in 2017. Women who gave birth by cesarean section were less likely to breastfeed earlier. This study aimed to determine the relationship between cesarean delivery and early initiation of breastfeeding among women in Indonesia. This study was a further analysis of the 2017 IDHS data with a sample of the 6,877 last-born children in the two years preceding the survey. The dependent variable was early initiation of breastfeeding, while the main independent variable was cesarean delivery. Other covariate variables included age, education, occupation, place of residence, parity, history of antenatal care, place of delivery and wealth index. Data analysis used logistic regression to determine the relationship between cesarean delivery and early initiation of breastfeeding, showing as the Adjusted Odds Ratio among 95% confidence interval. The results of the study showed that eight out of ten (82.75%) women who gave birth by cesarean section did not experience early initiation of breastfeeding, compared to those who delivered vaginal delivery (62.75%). Women who gave birth by cesarean section were 7.16 times more likely to not practice early initiation of breastfeeding (AOR 7.16; 95% CI: 3.66-14.01) compared to those who delivered vaginal delivery. To improve early initiation of breastfeeding, pregnant women need to be encouraged to do antenatal care (ANC) to increase their knowledge and confidence about breast milk. In addition, health workers and health care providers need to provide support to women who give birth by cesarean section to breastfeed as early as possible through providing adequate information about breastfeeding, encouraging rooming-in and preventing the promotion of formula milk. Abstrak Prevalensi air susu ibu (ASI) eksklusif dan inisiasi menyusu dini (IMD) di Indonesia, masih rendah yaitu masing-masing 37,3% dan 58,2%. Di sisi lain, kelahiran melalui operasi sesar meningkat dari 12,3% pada 2012 menjadi 17,0% pada 2017. Wanita yang melahirkan dengan operasi sesar lebih kecil kemungkinannya untuk menyusui lebih awal. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persalinan sesar dengan IMD pada wanita di Indonesia. Studi ini merupakan analisis lanjut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 dengan sampel 6.877 anak terakhir yang lahir dalam kurun waktu dua tahun sebelum survei. Variabel dependen adalah IMD, sedangkan variabel independen utama adalah persalinan sesar. Variabel kovariat lainnya antara lain usia, pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, paritas, riwayat antenatal care, tempat persalinan, dan indeks kekayaan. Analisis data menggunakan regresi logistik untuk mengetahui hubungan antara persalinan sesar dengan IMD, yang dilihat dari nilai Adjusted Odds Ratio dengan interval kepercayaan 95%. Hasil studi menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh (82,75%) wanita yang melahirkan dengan operasi sesar tidak melakukan IMD, dibandingkan dengan yang melahirkan persalinan pervaginam (62,75%). Wanita yang melahirkan melalui operasi sesar memiliki kemungkinan 7,16 kali lebih tinggi untuk tidak melakukan IMD (AOR 7,16; 95% CI: 3,66-14,01) dibandingkan dengan mereka yang melahirkan secara pervaginam. Untuk meningkatkan praktik IMD, ibu hamil perlu didorong untuk melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan dirinya mengenai ASI. Selain itu, petugas kesehatan dan penyedia layanan kesehatan perlu memberikan dukungan kepada wanita yang melahirkan melalui operasi sesar untuk menyusui sedini mungkin melalui pemberian informasi mengenai ASI secara memadai, mendorong adanya rooming-in, serta mencegah pemberian promosi susu formula.
Prevalence and Determinants of Pre-lacteal Feeding: Insights from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey Nurokhmah, Siti; Masitoh, Siti; Werdani, Kusuma Estu
Kesmas Vol. 16, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pre-lacteal feeding is widely known as a distraction to exclusive breastfeeding, and the malpractice continues to be prevalent in Indonesia. Therefore, this study aimed to explore the potential determinants of pre-lacteal feeding among mothers of infants below 24 months. A sample of 6,455 mother-infant pairs from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) was used. Also, multivariate logistic regression was employed to identify factors associated with pre-lacteal feeding practice. In Indonesia, 44% of infants were introduced to solid/liquid feeds in their first three days of life. Infant formula was the most common pre-lacteal feed given, followed by any other milk, plain and sugar water, and honey. Early initiation of breastfeeding and living in an urban area was protective method against pre-lacteal feeding (AOR: 0.24; 95%CI: 0.21-0.28; AOR: 0.76; 95%CI: 0.65-0.90, respectively), while cesarean delivery acted as arisk factor (AOR: 1.36; 95%CI: 1.14-1.63). Meanwhile, gender role attitude, parity, perceived birth size, and household wealth index was also associated with pre-lacteal feeding. Overall, the percentage of mothers introducing pre-lacteal feeds was still high. The modifiable covariates associated with pre-lacteal feedings, such as early initiation of breastfeeding, parity, and birth size, were the major factors discouraging this practice.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS) DENGAN STATUS GIZI BALITA (BB/U) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GATAK SUKOHARJO Setyoningsih, Wiwit; Nurokhmah, Siti; Ekorinawati, Wiwik
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan gizi pada anak masih menjadi isu kesehatan baik ditingkat global maupun nasional. Di Indonesia, prevalensi underweight mencapai 17,1% pada tahun 2022. Faktor yang mempengaruhi status gizi balita antara lain tingkat pendidikan ibu dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) di rumah tangga. Pendidikan ibu berperan secara tidak langsung terhadap status gizi balita, sedangkan praktik PHBS berpotensi mencegah terjadinya masalah gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan PHBS dengan status gizi balita berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U) di wilayah kerja Puskesmas Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 86 responden. Data tingkat pendidikan ibu dan PHBS dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner. Data antropometri diperoleh melalui pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital dan status gizi ditentukan berdasarkan nilai Z-score BB/U. Analisis data dilakukan dengan uji Korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan menengah atas dengan rata-rata lama pendidikan 11,9 tahun. Rata-rata skor PHBS rumah tangga yaitu 14,09. Status gizi balita berdasarkan nilai Z-score BB/U mayoritas memiliki status gizi normal dengan rata-rata nilai Z-score -0,93. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan status gizi balita BB/U (r = 0,367; p < 0,001), demikian pula PHBS berhubungan signifikan dengan status gizi balita BB/U (r = 0,475; p < 0,001). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan PHBS dengan status gizi balita berdasarkan indeks BB/U.  
Hubungan Ketahanan Pangan dengan Status Gizi Ibu Balita di Kecamatan Selo Boyolali Makhabatien Salmania; Luluk Ria Rakhma; Siti Nurokhmah
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 4 (2026): Agustus 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v5i4.9093

Abstract

Fulfillment of family nutritional needs is associated with household food security conditions. This study aimed to analyze the relationship between household food security and the nutritional status of mothers with toddlers in Selo District, Boyolali Regency, including Jrakah, Klakah, and Tlogolele Villages. This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach involving 108 mothers of toddlers selected through simple random sampling. Household food security was assessed using the Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS), while nutritional status was determined based on Body Mass Index (BMI). The relationship between variables was analyzed using the Chi-Square test with a significance level of p<0.05. The results showed that 51.9% of households experienced food insecurity and 8.3% of mothers with toddlers had undernutrition. There was a significant relationship between household food security and the nutritional status of mothers with toddlers (p=0.033). Mothers from food-insecure households had an 8.5 times higher likelihood of experiencing undernutrition compared to those from food-secure households (OR=8.50; 95% CI: 1.024–70.524). Maternal nutritional status is influenced by various factors, including socioeconomic conditions, dietary patterns, energy intake, physical activity, and biological factors.
Hubungan Ketahanan Pangan Keluarga dengan Asupan Zat Besi dan Vitamin C Pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Selo, Boyolali Khansa Az-Zahidah; Luluk Rakhma; Siti Nurokhmah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1479

Abstract

Ketahanan pangan keluarga berperan penting dalam menyediakan kebutuhan zat gizi, termasuk zat besi dan vitamin C pada wanita usia subur (WUS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ketahanan pangan keluarga dengan asupan zat besi dan vitamin C pada WUS di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali keluarga dengan asupan zat besi dan vitamin C pada WUS di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 108 WUS yang dipilih menggunakan simple random sampling. Responden merupakan WUS yang bersedia mengikuti penelitian, telah tinggal di Kecamatan Selo minimal 5 tahun, tidak sedang menjalani diet khusus atau menderita penyakit kronis yang mempengaruhi pola makan, serta berperan dalam pengelolaan pangan keluarga sehari-hari. Ketahanan pangan keluarga diukur menggunakan Household  Food  Insecurity  Access  Scale (HFIAS) , sedangkan asupan zat besi dan vitamin C diukur menggunakan Kuesioner Semi  Quantitative  Food  Frequency  Questionnaire (SQ-FFQ) . Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square . Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,8% keluarga tergolong rawan pangan, 53,7% WUS memiliki asupan zat besi kurang, dan 56,5% memiliki asupan vitamin C kurang. Terdapat hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan keluarga dengan asupan zat besi ( p=0,004 ) dan vitamin C ( p=0,001 ). WUS yang berasal dari keluarga rawan pangan memiliki proporsi asupan zat besi dan vitamin C kurang lebih tinggi dibandingkan keluarga tahan pangan. Dapat disimpulkan bahwa ketahanan pangan keluarga berhubungan dengan asupan zat besi dan vitamin C pada wanita usia subur. Upaya peningkatan ketahanan pangan rumah tangga diperlukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan mikronutrien pada wanita usia subur.
The Correlation Between Food Insecurity Level and Stunting in Indonesia Siti Masitoh; Sudarto Ronoatmodjo; Siti Nurokhmah
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (JIKM)
Publisher : Faculty of Public Health, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26553/jikm.2022.13.2.385-398

Abstract

Indonesia is among the five countries with the highest burden of stunting. Food insecurity reflecting the availability of food in the household is one of the indirect causes of undernutrition. This study examines the relationship between food insecurity and stunting in Indonesia. We used data from the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) with a sample size of 82,777 under-five children selected using multistage random sampling. The relationship between food insecurity and stunting was calculated using cox regression to obtain crude and adjusted prevalence ratios (PR) considering strata and weights. Children from households with moderate food insecurity had a (PR unadj)  1.24 (1,18 – 1,31) times higher risk of stunting, and the risk rose in households with severe food insecurity (PR unadj) 1.39 (1,27 – 1,53). Subgroup analysis based on regional categories showed that the association between food insecurity and stunting was only significant in rural areas. Children in rural regions who experienced moderate food insecurity had a 1.09 (95% CI 1.02-1.16) times greater risk of stunting and an increased risk of 1.15 times (95% CI 1.03 – 1.28) in households with severe food insecurity. Interventions are needed to prevent stunting by improving household food security, particularly in rural areas. Further research is needed with better study designs to prove a causal relationship between food insecurity and stunting.