Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN KITAB TAFSIR DI PONDOK PESANTREN PROVINSI RIAU Jani Arni; Ali Akbar; Hidayatullah Ismail
POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam Vol 6, No 2 (2020): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/potensia.v6i2.9817

Abstract

This article examines the problematic of learning the Tafsir book at Islamic boarding schools. There were 11 Islamic boarding schools in Riau Province that were chosen to be examined, they included: Al-Munawwarah Islamic Boarding School Pekanbaru, Al-Kausar Islamic Boarding School Pekanbaru, Dar El-Hikmah Islamic Boarding School Pekanbaru, Al-Muslimun Islamic Boarding School Pangkalan Kerinci, Hidayatul Ma’rifah Islamic Boarding School Pelalawan, Daarun Nahdhah Islamic Boarding School Bangkinang, Anshar As-Sunnah Islamic Boarding School, Ad-Dar Al-Salafiyah Al-Islamiyah Islamic Boarding School, Sabil Al-Salam Islamic Boarding School, Al-Badr Islamic Boarding School, and Al-Taufik Islamic Boarding School Kampar. Problems such as the appearance of unsatisfying results from the alumni of certain Islamic boarding schools regarding to their knowledge about the Tafsir Book is the reason that this subject is interesting to be examined. The data obtained for this study were collected through interviews with related parties, observation and documentation. Subsequently, the data were presented in accordance to the existed information within the field and followed by analyzing them which corresponded with the proposed main problems. After being examined, there are factors found as the obstacles in learning the Tafsir Book. These factors include the limited teachers which are not equal to the number of students, teachers or ustadh of Tafsir that are not based or graduate from the science of Tafsir, lack of references and others.
Unity Of Ummah Mahmud Yunus's Perspective In Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Hidayatullah Ismail; Nasrul Fatah; Jani Arni
Jurnal Ushuluddin Vol 29, No 2 (2021): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v29i2.13113

Abstract

Tafsir Al-Qur'an Al-Karim which is the great work of Mahmud Yunus who is known as one of the productive Indonesian scholars has produced written works in various Islamic disciplines. This interpretation is always interesting to study because its style is thick with the nuances of ijtima'i as a form of response to the realities of life that exist in society. Among the descriptions found in many places in this commentary is the importance of maintaining unity and integrity and avoiding disintegrity. So this paper aims to analyze Mahmud Yunus's thoughts on the unity of the people with a descriptive approach to analysis based on library data. The findings of this study found that efforts to realize unity among Muslims must continue to be carried out even though big challenges always exist. Challenges to the union came from external and internal. External, namely from parties outside Islam who do not want the realization of Muslim unity. While internal comes from within the body of Muslims caused by not adhering to the Qur'an and sunnah and the nature of ta'ashub. As a solution offered is to strengthen moral education or tarbawi akhlaqi in social life
Pemikiran Sayyid Quthb tentang Makna Qital dalam Kitab Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an Hidayatullah Ismail; Jani Arni; Ihfasni Arham; Edi Hermanto
An-Nida' Vol 44, No 2 (2020): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v44i2.12928

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian tafsir tematik dengan fokus pembahasan seputar makna ayat-ayat perang (qital) dalam Al-Qur’an perspektif Sayyid Quthb. Secara umum qital dalam Al-Qur’an dimaknai oleh sebagian mufassir dengan perang melawan kelompok kâfirîn yang menyerang terlebih dahulu, atau dengan kata lain bersifat defensif (dhifâ’iyah) dan melarang perang yang bersifat menyerang atau ofensif (thalabah). Berbeda Sayyid Quthb yang kental dengan basic pergerakan (haraki), bahwa qital dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna defensif, namun juga ofensif, dan itu bukan merupakan sebagai bentuk ekstremisme dan radikalisme, sebab Islam memiliki batasan dan kode etik dalam berperang, sehingga perang menjadi tidak serampangan. Selain itu tujuan utamanya adalah menegakkan kalimat Allah dan melepaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.
Reaktualisasi Moderasi Islam Terhadap Problematika Syariah Pada Era 4.0 Mochammad Novendri S; Hidayatullah Ismail; Dasman Yahya Maali
An-Nida' Vol 46, No 1 (2022): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i1.19227

Abstract

Artikel ini membahas tentang reaktualisasi moderasi Islam terhadap problematika syariah pada era 4.0. Problematika syariah adalah permasalahan yang tiap hari berada dilingkungan kaum muslimin , baik berupa muamalah maupun ibadah. Maka penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai moderasi islam terhadap problematika syariah pada era 4.0. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka. Metode pengumpulan data pada penelitian ini meliputi buku-buku dari data primer dan data sekunder, serta sumber lainnya. Metode analisis dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan konten analisis. Adapun hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa moderasi Islam perspektif syari’ah dapat dikelompokkan dalam bentuk tiga aspek diantaranya dengan meringakan beban (taklil al-taklif), mempermudah urusan (‘adam al-harj) dan pelaksanaan hukum dengan bertahap (al-tadarraj al-tasyri’). Reaktulisasi moderasi Islam di era 4.0 adalah sebagai perwujudan dari implementasi konsep moderasi Islam berbasis syariah dalam mengikuti kemajuan zaman, dengan memperhatikan aspek prinsip dan dasar dalam memahami agama Islam.
THE CONCEPT OF IKHTILĀF IN THE BOOK TAWḌĪḤ AL-AḤKĀM AND ITS RELEVANCE TO MARRIAGE LAW IN INDONESIA Parlindungan Simbolon; Hidayatullah Ismail; Hendri K
Hukum Islam Vol 23, No 1 (2023): HUKUM ISLAM
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jhi.v1i23.20116

Abstract

The Difference of moeslim scholar’s opinion in determining furu’iyah laws will always occur in every era. It can be caused by the difference in understanding and methods that are used to determine the law. Sometimes, these differences trigger conflict among society,  In order to avoid conflict of the society, it needs an appropriate approach to compromise (al-jam'u) these differences. Among the contemporary scholars who discuss this issue is 'Abdullah bin 'Abdurraḥmān al-Bassām in the book Tawḍīḥ al-Aḥkām. Various kinds of ikhtilaf issues are raised by al-al-Bassam in this book. The problem in this research is how is the concept of ikhtilāf in the book of Tawḍīḥ al-Aḥkām and its relevance to marriage law in Indonesia? This study aims to examine issues of ikhtilāf in the Kitab al-Nikah in the book of Tawdih al-Ahkam and how the al-Bassām method solves them and their relevance to marriage law in Indonesia. This research is a qualitative descriptive study involving the documentation method. The data in this study were analyzed using the content analysis method. The results of this study indicate that there are six problems of ikhtilaf related to marriage in the book of Tawdih al-Ahkam. Al-Bassam solved the problem by using three methods, namely 'Ard al-Aqwal, Munaqasyah al-Adillah and al-Tarjih. The tarjih performed by al-Bassam is in accordance with the marriage law in Indonesia as stipulated in the Compilation of Islamic Law.
Profetisme dalam Rumah Tangga: Analisis Multidisipliner Hadis “Khairukum Khairukum li Ahlih” sebagai Fondasi Keluarga Sakinah di Era Modern M. Ridho Firdaus; Hidayatullah Ismail; Ilyas Husti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6006

Abstract

Keluarga sebagai unit sosial terkecil menghadapi tantangan kompleks di era modern, mulai dari krisis komunikasi hingga tingginya angka perceraian. Ajaran Islam, khususnya hadis Nabi Muhammad SAW, menawarkan panduan yang relevan secara universal. Artikel ini mengkaji secara mendalam hadis “Khairukum khairukum li ahlih wa anā khairukum li ahli” (Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis multidisipliner untuk menggali makna hadis ini melampaui interpretasi fikih konvensional. Analisis mengintegrasikan perspektif ilmu hadis (takhrij dan asbabul wurud), hukum Islam (fikih munakahat dan maqasid al-shari'ah), psikologi keluarga, dan sosiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan sebuah kerangka kerja komprehensif yang menetapkan standar kebaikan holistik. Secara fikih, hadis ini menjadi ruh dari konsep mu'asyarah bil ma'ruf. Secara psikologis, ia mempromosikan kecerdasan emosional, komunikasi empatik, dan pola kelekatan yang aman (secure attachment). Secara sosiologis, hadis ini berfungsi sebagai instrumen untuk membangun ketahanan keluarga (family resilience) dan agen sosialisasi nilai-nilai luhur. Kesimpulannya, revitalisasi pemahaman hadis ini secara multidisipliner dapat menjadi solusi strategis dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah yang tangguh menghadapi tantangan zaman.
Implikasi Perceraian Secara Sosiologis Dalam Pandangan Alquran Helmi Cendra; Hidayatullah Ismail
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6207

Abstract

Tulisan ini membahas implikasi perceraian secara sosiologis dalam pandangan alquran. Melalui tinjauan pustaka dan penafisran secara maudhu'I (tematik), berdasarkan salah satu dalam alquran yaitu surat al-Thalaq, dalam artikel ini dapat disimpulakan bahwa perceraian dalam QS al-Thalaq memiliki empat aturan, yaitu: (1) suami membatalkan perceraian ketika istri suci dari haid dan tidak mengalami kekerasan; (2) Allah melarang orang beriman membawa wanita yang bercerai keluar rumah sebelum masa iddahnya berakhir, (3) masa iddah wanita yang belum dewasa adalah masa ketika ia belum haid; dan (4) masa iddah bagi wanita lanjut usia adalah tiga bulan, sedangkan bagi wanita hamil yang suaminya telah meninggal, masa iddah berlangsung hingga kelahiran anak. Implikasi teologis QS al-Thalaq dibahas. Al-Thalaq mencakup keyakinan akan pertolongan Allah dan keyakinan akan rezeki-Nya. Implikasi sosiologisnya meliputi: perceraian dapat menyelesaikan masalah dalam keluarga, tidak menghancurkan persahabatan, dan merupakan bagian dari takdir pasangan tersebut.
Perkawinan Di Era Disrupsi: (Telaah Kajian Multidisipliner Atas Fenomena Kawin Kontrak Terhadap Al-Qur’an Dan Hadis Perkawinan) Roja Lukmanul Khovid; Ilyas Husti; Hidayatullah Ismail
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6209

Abstract

Artikel ini membahas tentang pandangan tasawuf tentang makna pernikahan. Pernikahan antara laki-laki dan perempuan serta menyatu untuk hidup bersama sebagai suami istri dalam ikatan. Secara istilah, pernikahan adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Dari akad itu juga, muncul hak dan kewajiban yang mesti dipenuhi masing-masing pasangan. pernikahan adalah salah satu ciri manusia sejak pertama kali diciptakan. Tidaklah Allah menciptakan nabi Adam alaihissalam kecuali diciptakan pula hawa sebagai pasangan hidupnya, Hakikat pernikahan adalah salah satu ciri manusia sejak pertama kali Allah SWT ciptakan. Di mana dia menjadikan Hawwa dari tulang rusuk Nabi Adam AS untuk keduanya menjadi pasangan suami istri dalam ikatan pernikahan. Kemudian dari keduanya lahirlah seluruh umat manusia atas izin-Nya. Karena pernikahan adalah jaminan atas keberlangsungan peradaban ummat manusia dimuka bumi. Pernikahan juga merupakan salah satu jalan menuju Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan pernikahan yang dilandasi dengan iman insya Allah akan tercapai pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Dalam rangka membangun hukum perkawinan dengan pendekatan tasawuf diperlukan koneksitas nilai- nilai tasawuf dengan undang-undang dalam bingkai kemaslahatan. Untuk itu nilai-nilai tasawuf seperti warak dan zuhud serta qonaah dan lain sebagainya perlu dikembangkan dan diintegrasikan secara koneksitas kedalam hukum perkawinan. Pernikahan ikatan lahir batin antara dua orang yang berlainan jenis (laki-laki dan perempuan) untuk hidup bersama dalam satu rumah tangga dengan mengharapkan keturunan berdasarkan ketentuan syari’at Islam. Diharapkan dengan memahami arti pentingnya pernikahan, akan memberikan kedamaian hidup berumah tangga bagi setiap suami dan istri.