Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Existence of Visum Et Repertum on the Occurrence of Persecution as Evidence of Work Termination Asri Wijayanti; Achmad Hariri; Agus Supriyo; Basuki Babussalam; Satria Unggul Wicaksana Perkasa
Jurnal Cita Hukum Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v9i3.22868

Abstract

Employment relationships may end due to abuse by workers. The existence of abuse must be medically proven. This research aimed to analyze the existence of a visum et repertum for the occurrence of abuse that can be used as evidence in termination of employment. This legal research was normative with a statutory approach. The results showed that persecution was a criminal act. There was no requirement for a judge's decision in the District Court which already had permanent legal force for the occurrence of persecution as a condition for the validity of the layoff as if the visum et repertum was no longer needed. It was enough that the acts of abuse committed by workers were regulated in the Employment Agreement, Company Regulation or Collective Labor Agreement, then the persecution as a form of an urgent violation can be used as a valid reason for the termination of employment (Article 81 number 37 of the Job Creation Law jo.  Article 151 / 3 Manpower Law jo. article 52/2 Government Regulation 35/2021. The researchers’ efforts to review labor regulations related to urgent violations in the Indonesian manpower system are a form of evaluation of the weaknesses of the Job Creation Law and its implementing regulations can be able to assist legislators to develop and enforce laws that protect certain vulnerable groups namely workers in applying the principle of presumption of innocence.Keywords: Forensics; Persecution; Termination Eksistensi Visum Et Repertum Atas Terjadinya Penganiayaan Sebagai Alat Bukti Pemutusan Hubungan KerjaAbstrakHubungan kerja dapat berakhir karena adanya penganiayaan yang dilakukan oleh pekerja. Adanya penganiayaan harus dibuktikan secara medis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adanya visum et repertum atas terjadinya penganiayaan yang dapat digunakan sebagai alat bukti dalam pemutusan hubungan kerja. Penelitian hukum ini bersifat normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  penganiayaan adalah perbuatan pidana. Tidak adanya keharusan putusan hakim di Pengadilan Negeri yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap atas terjadinya penganiyaan sebagai syarat keabsahan PHK seolah mengakibatkan visum et repertum tidak dibutuhkan lagi. Cukup perbuatan penganiayaan yang dilakukan oleh pekerja diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama, maka penganiayaan sebagai wujud telah terjadi pelanggaran yang bersifat mendesak dapat digunakan sebagai alasan keabsahan pemutusan hubungan Kerja (Pasal  81 angka 37 UU Cipta Kerja jo.  Pasal 151 /3 UU Ketenagakerjaan jo.Pasal 52/2 Peraturan Pemerintah 35/2021. Upaya penulis untuk mereview peraturan perburuhan terkait pelanggaran yang bersifat mendesak dalam sistim ketenagakerjaan Indonesia merupakan bentuk evaluasi atas adanyan kelemahan UU Cipta Kerja dan Peraturan pelaksananya, akan dapat membantu legislator untuk mengembangkan dan menegakkan hukum yang melindungi kelompok rentan tertentu yaitu pekerja dalam menerapkan asas praduga tak bersalah.Kata Kunci: Forensik; Penganiayaan; Pemutusan Hubungan Kerja Наличие Visum Et Repertum в случае преследования как доказательство прекращения работы АннотацияТрудовые отношения могут прекратиться из-за жестокого обращения со стороны работников. Наличие жестокого обращения должно быть доказано с медицинской точки зрения. Это исследование было направлено на анализ наличия visum et repertum в случаях злоупотреблений, которые могут использоваться в качестве доказательства при увольнении. Это правовое исследование было нормативным с законодательным подходом. Результаты показали, что преследование было уголовным преступлением. В районном суде не требовалось вынесения решения судьей, которое уже имело постоянную юридическую силу в связи с преследованием в качестве условия действительности увольнения, как если бы в visum et repertum больше не было необходимости. Достаточно того, чтобы акты жестокого обращения, совершенные работниками, регулировались трудовым договором, регламентом компании или коллективным трудовым договором, тогда преследование как форма неотложного нарушения может быть использовано в качестве уважительной причины для увольнения (статья 81 № 37 Закона о создании рабочих мест, ст. 151/3 Закона о рабочей силе, ст. 52/2 Постановление правительства 35/2021. Усилия исследователей по пересмотру трудового законодательства, касающегося неотложных нарушений в индонезийской системе кадровых ресурсов, являются формой оценки Слабые стороны Закона о создании рабочих мест и его подзаконных актов могут помочь законодателям в разработке и обеспечении соблюдения законов, которые защищают определенные уязвимые группы, а именно работников, в применении принципа презумпции невиновности.Ключевые слова: судебная экспертиза; преследование; прекращение действия
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PEMANFAATAN TANAH ASET MILIK PT KAI OLEH PIHAK KETIGA DI DAOP VIII SURABAYA Lina Lina; Agus Supriyo
JUSTITIA : Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora Vol 9, No 6 (2022): JUSTITIA : Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.173 KB) | DOI: 10.31604/justitia.v9i6.2839-2848

Abstract

Dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum atas status dan hak kepemilikan tanah, Indonesia telah mengatur secara yuridis aspek kepemilikan tanah melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Meskipun demikian, konflik penguasaan tanah masih kerapkali terjadi. Di antara sekian banyak pihak yang terlibat dalam konflik penguasaan tanah, PT Kereta Api Indonesia merupakan salah satu pihak yang paling sering terlibat dalam sengketa penguasaan tanah, mengingat perusahaan ini memiliki aset kepemilikan berupa tanah yang dimanfaatkan sebagai jalur transportasi kereta api dan menunjang pekerjaan utamanya sebagai penyelenggara transportasi kereta api di Indonesia. Dalam beberapa kasus, khususnya yang terdapat sangkut pautnya dengan tanah-tanah yang berada di tanah aset milik PT Kereta Api Indonesia, secara yuridis PT KAI masih memegang status kepemilikan atas tanah-tanah tersebut. Namun untuk memberikan nilai ekonomi dan nilai manfaat yang lebih banyak, beberapa masyarakat memanfaatkan tanah tersebut sebagai tempat tinggal, tempat aktivitas perekonomian, dan tempat-tempat kegiatan kemasyarakatan. Hal ini terjadi salah satunya di Kabupaten Mojokerto tepatnya di Kec. Gedeg yang masuk ke dalam DAOP VIII Surabaya. Untuk membahas aspek hukum dari permasalahan tersebut, peneliti membagi fokus ke dalam dua poin, yakni mekanisme penguasaan yang dilakukan oleh masyarakat selaku pihak ketiga dan status hukum yang ada. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif sebagai metode penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penguasaan tanah PT KAI oleh masyarakat bertentangan dengan undang-undang yang berlaku sehingga batal demi hukum (dianggap tidak pernah ada).
Pertanggungjawaban Korporasi dalam Kasus Pencemaran Lingkungan Hidup Novy Yandari Nurlaily; Agus Supriyo
Media of Law and Sharia Vol 3, No 3: June 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Muhamadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mls.v3i3.14384

Abstract

The existence of the industry has a positive impact on the economy. However, along with the production process, it will also produce a waste product called waste. The purpose of this study is to analyze the responsibility of the company which in this case is PT Surabaya Industrial Estate Rungkut for waste pollution in the environment around the company. This study analyzes cases using a comparison between Law No. 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management with Law No. 11 of 2020 concerning Job Creation, article 88 which eliminates the absolute responsibility of corporations to be responsible. This study uses a normative juridical method. In this study, the authors analyze the problem of environmental waste which is suspected to have originated from the leakage of the Wastewater Management Installation (IPAL) owned by PT SIER and the corporate responsibility scheme of PT SIER for the case from the point of view of the Job Creation Act. The Job Creation Law itself is known to change the provisions related to absolute liability which previously bound corporations based on Law Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management. The results of this study indicate that the corporate responsibility for waste pollution that occurs after the elimination of absolute responsibility is limited to administrative responsibility.
JUAL BELI TANAH YANG BERSERTIFIKAT DIJAMINKAN HUTANG MENURUT UU NO.5 TAHUN 1960 Ade Dwi Aprilia, Agus Supriyo
Madani Legal Review Vol 6 No 2 (2022): MADANI LEGAL REVIEW
Publisher : FAKULTAS HUKUM UM PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/malrev.v6i2.1572

Abstract

ABSTRACT This study focuses on examining the legal status of buying and selling certified land that is guaranteed by debt, about this very much happens in the community which causes a lot of confusion. This study refers to the Agrarian Law, namely Law Number 5 of 1960. This research is expected to be able to answer some of the problems that occur regarding (1) regarding the sale and purchase of legal land, (2) forms of legal protection that are devoted to the buyer and seller, and (3) an analysis of the position of the sale and purchase of land that is certified but is still guaranteed by the debts. This study uses a normative method and uses a statutory approach. The results showed that; First, the process of buying and selling land is considered valid if it can show valid documents, Second, in the legal aspect the seller must have good faith in providing proof of ownership to the new and legal owner, third, regarding the case of buying and selling land, land certificates still often cause problems. conflict in the community when making buying and selling transactions. Keywords : Certificate, Sale and Purchase, Guarantee. ABSTRAK Penelitian ini berfokus meneliti tentang status keabsahan jual beli tanah yang bersertifikat yang dijaminkan hutang, mengenai hal tersebut sangat banyak terjadi di masyarakat yang mengakibatkan banyak kebingungan. Penelitian ini merujuk pada Undang-Undang Agraria yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab beberapa permasalahan yang terjadi mengenai (1) perihal jual beli tanah sah, (2) bentuk perlindungan hukum yang dikhususkan kepada pihak pembeli dan penjual, dan (3) analisa mengenai kedudukan jual beli tanah yang bersertifikat tersbut namun masih dijaminkan hutang piutang. Penelitian ini menggunakan metode normatif dan menggunakan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ; Pertama, proses jual beli tanah dianggap sah apabila dapat menunjukkan dokumen yang sah, Kedua, dalam aspek hukum penjual harusnya mempunyai itikad baik dalam memberikan bukti-bukti kepemilikan kepada pemilik yang baru dan sah, ketiga,mengenai kasus jual beli tanah sertifikat tanah masih sering menimbulkan konfilk di masyarakat saat melakukan transaksi jual beli. Kata kunci : Sertifikat, Jual beli, Jaminan.
Existence of Visum Et Repertum on the Occurrence of Persecution as Evidence of Work Termination Asri Wijayanti; Achmad Hariri; Agus Supriyo; Basuki Babussalam; Satria Unggul Wicaksana Perkasa
Jurnal Cita Hukum Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v9i3.22868

Abstract

Employment relationships may end due to abuse by workers. The existence of abuse must be medically proven. This research aimed to analyze the existence of a visum et repertum for the occurrence of abuse that can be used as evidence in termination of employment. This legal research was normative with a statutory approach. The results showed that persecution was a criminal act. There was no requirement for a judge's decision in the District Court which already had permanent legal force for the occurrence of persecution as a condition for the validity of the layoff as if the visum et repertum was no longer needed. It was enough that the acts of abuse committed by workers were regulated in the Employment Agreement, Company Regulation or Collective Labor Agreement, then the persecution as a form of an urgent violation can be used as a valid reason for the termination of employment (Article 81 number 37 of the Job Creation Law jo.  Article 151 / 3 Manpower Law jo. article 52/2 Government Regulation 35/2021. The researchers’ efforts to review labor regulations related to urgent violations in the Indonesian manpower system are a form of evaluation of the weaknesses of the Job Creation Law and its implementing regulations can be able to assist legislators to develop and enforce laws that protect certain vulnerable groups namely workers in applying the principle of presumption of innocence.Keywords: Forensics; Persecution; Termination Eksistensi Visum Et Repertum Atas Terjadinya Penganiayaan Sebagai Alat Bukti Pemutusan Hubungan KerjaAbstrakHubungan kerja dapat berakhir karena adanya penganiayaan yang dilakukan oleh pekerja. Adanya penganiayaan harus dibuktikan secara medis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adanya visum et repertum atas terjadinya penganiayaan yang dapat digunakan sebagai alat bukti dalam pemutusan hubungan kerja. Penelitian hukum ini bersifat normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  penganiayaan adalah perbuatan pidana. Tidak adanya keharusan putusan hakim di Pengadilan Negeri yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap atas terjadinya penganiyaan sebagai syarat keabsahan PHK seolah mengakibatkan visum et repertum tidak dibutuhkan lagi. Cukup perbuatan penganiayaan yang dilakukan oleh pekerja diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama, maka penganiayaan sebagai wujud telah terjadi pelanggaran yang bersifat mendesak dapat digunakan sebagai alasan keabsahan pemutusan hubungan Kerja (Pasal  81 angka 37 UU Cipta Kerja jo.  Pasal 151 /3 UU Ketenagakerjaan jo.Pasal 52/2 Peraturan Pemerintah 35/2021. Upaya penulis untuk mereview peraturan perburuhan terkait pelanggaran yang bersifat mendesak dalam sistim ketenagakerjaan Indonesia merupakan bentuk evaluasi atas adanyan kelemahan UU Cipta Kerja dan Peraturan pelaksananya, akan dapat membantu legislator untuk mengembangkan dan menegakkan hukum yang melindungi kelompok rentan tertentu yaitu pekerja dalam menerapkan asas praduga tak bersalah.Kata Kunci: Forensik; Penganiayaan; Pemutusan Hubungan Kerja Наличие Visum Et Repertum в случае преследования как доказательство прекращения работы АннотацияТрудовые отношения могут прекратиться из-за жестокого обращения со стороны работников. Наличие жестокого обращения должно быть доказано с медицинской точки зрения. Это исследование было направлено на анализ наличия visum et repertum в случаях злоупотреблений, которые могут использоваться в качестве доказательства при увольнении. Это правовое исследование было нормативным с законодательным подходом. Результаты показали, что преследование было уголовным преступлением. В районном суде не требовалось вынесения решения судьей, которое уже имело постоянную юридическую силу в связи с преследованием в качестве условия действительности увольнения, как если бы в visum et repertum больше не было необходимости. Достаточно того, чтобы акты жестокого обращения, совершенные работниками, регулировались трудовым договором, регламентом компании или коллективным трудовым договором, тогда преследование как форма неотложного нарушения может быть использовано в качестве уважительной причины для увольнения (статья 81 № 37 Закона о создании рабочих мест, ст. 151/3 Закона о рабочей силе, ст. 52/2 Постановление правительства 35/2021. Усилия исследователей по пересмотру трудового законодательства, касающегося неотложных нарушений в индонезийской системе кадровых ресурсов, являются формой оценки Слабые стороны Закона о создании рабочих мест и его подзаконных актов могут помочь законодателям в разработке и обеспечении соблюдения законов, которые защищают определенные уязвимые группы, а именно работников, в применении принципа презумпции невиновности.Ключевые слова: судебная экспертиза; преследование; прекращение действия
Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Oleh Badan Pertanahan Nasional Di Surabaya Rahmadani, Lisa Putri; Supriyo, Agus Agus
Qistie Jurnal Ilmu Hukum Vol 17, No 1 (2024): Qistie : Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/jqi.v17i1.10535

Abstract

Pelaksanaan pendaftaran tanah tiap daerah merupakan tanggung jawab pemerintah yang menjelaskan salah satunya kegunaan sertifikat tanah, yaitu untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hakhak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisis Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) oleh Kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Surabaya dan manfaat yang terjadi. Metode yang hendak digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yuridis normatif menggunakan pendekatan perundang-undangan. Hambatan dalam pelaksanaannya seperti belum tercapainya tujuan dalam pencapaian target Sertifikat Hak Atas Tanah  (SHAT), karena banyak pemohon yang belum terdaftar, kurangnya fasilitas untuk pelaksanaan pendaftaran dan kurangnya komunikasi antara kantor BPN dan masyarakat yang kurang paham mengenai adanya program PTSL. Untuk mengatasi hambatan tersebut, yaitu dengan mengaktivasikan NIK yang tidak valid agar dapat mengajuakan pemberkasan untuk pendaftaran program PTSL, mengoptimalkan proses pemberkasan dari pihak Desa agar pengentrian oleh staf kantor BPN bisa segera dilakukan dan cepat selesai.
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PEMANFAATAN TANAH ASET MILIK PT KAI OLEH PIHAK KETIGA DI DAOP VIII SURABAYA Lina Lina; Agus Supriyo
JUSTITIA : Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora Vol 9, No 6 (2022): JUSTITIA : Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/justitia.v9i6.2839-2848

Abstract

Dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum atas status dan hak kepemilikan tanah, Indonesia telah mengatur secara yuridis aspek kepemilikan tanah melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Meskipun demikian, konflik penguasaan tanah masih kerapkali terjadi. Di antara sekian banyak pihak yang terlibat dalam konflik penguasaan tanah, PT Kereta Api Indonesia merupakan salah satu pihak yang paling sering terlibat dalam sengketa penguasaan tanah, mengingat perusahaan ini memiliki aset kepemilikan berupa tanah yang dimanfaatkan sebagai jalur transportasi kereta api dan menunjang pekerjaan utamanya sebagai penyelenggara transportasi kereta api di Indonesia. Dalam beberapa kasus, khususnya yang terdapat sangkut pautnya dengan tanah-tanah yang berada di tanah aset milik PT Kereta Api Indonesia, secara yuridis PT KAI masih memegang status kepemilikan atas tanah-tanah tersebut. Namun untuk memberikan nilai ekonomi dan nilai manfaat yang lebih banyak, beberapa masyarakat memanfaatkan tanah tersebut sebagai tempat tinggal, tempat aktivitas perekonomian, dan tempat-tempat kegiatan kemasyarakatan. Hal ini terjadi salah satunya di Kabupaten Mojokerto tepatnya di Kec. Gedeg yang masuk ke dalam DAOP VIII Surabaya. Untuk membahas aspek hukum dari permasalahan tersebut, peneliti membagi fokus ke dalam dua poin, yakni mekanisme penguasaan yang dilakukan oleh masyarakat selaku pihak ketiga dan status hukum yang ada. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif sebagai metode penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penguasaan tanah PT KAI oleh masyarakat bertentangan dengan undang-undang yang berlaku sehingga batal demi hukum (dianggap tidak pernah ada).
Enhancing Public Service Access for Vulnerable Groups Through the Pentahelix-Based Inclusive Village Model Achmad Hariri; Holly Ichda Wahyuni; Agus Supriyo
Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum Vol. 19 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/fiatjustisia.v19no1.3984

Abstract

The Pentahelix approach is essential for enhancing access to and the quality of public services for vulnerable groups in Desa Karduluk, Sumenep. By fostering collaboration among government, academia, businesses, communities, and media, this model aims to create fairer, more effective, and sustainable services. This study employs a juridical-empirical method to assess the implementation of the Pentahelix approach in developing an inclusive village. The findings highlight its potential but also reveal challenges, including the absence of village-level regulations and limited private sector involvement. Academia, particularly IAIN Madura, has contributed through Tri dharma activities, albeit on a limited scale. Local businesses play a minor role, requiring training and market access support. Community groups, such as Parjughe and Pemuda Peduli, demonstrate concern for vulnerable populations but have not specifically addressed disability issues. While local media like kimpragaan.com have been active, broader media engagement remains limited.
Beyond Terrorism: An Interdisciplinary Legal Study of The Motivation, Impact, and Solidarity of Lone Wolf Terrorism: Melampaui Terorisme: Studi Hukum Interdisipliner tentang Motif, Dampak, dan Solidaritas Terorisme Lone Wolf Samsul Arifin; Achmad Hariri; L.ya Esty Pratiwi; Agus Supriyo
Indonesian Journal of Counter Terrorism and National Security Vol. 4 No. 2 (2025): July-December, 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijctns.v4i2.26394

Abstract

Lone wolf terrorism is terrorism committed by individuals without direct affiliation with large terrorist organizations. This phenomenon is increasingly worrying in various countries, including Indonesia. Attacks by self-radicalized individuals have a different pattern from conventional terrorism, as the perpetrators act alone and are difficult to detect by security forces. In Indonesia, the increase in Lone Wolf terrorism cases in recent years is due to the easy access to the internet and social media that spread radicalism. The city of Surabaya came under scrutiny after the terrorist attacks in May 2018, where several acts were linked to large networks such as Jamaah Ansharut Daulah (JAD). The government and local communities, such as the Community of Peace Fighters, have tried to prevent radicalization through deradicalization programs and monitoring of vulnerable individuals. However, the individualistic and disorganized nature of lone wolf terrorism makes it difficult to anticipate. This research aims to identify patterns of radicalization that can give rise to lone terrorists, who are not directly affiliated with terrorist groups. The method used is interdisciplinary legal research with a qualitative approach, which was carried out at the Surabaya Peace Fighters Community, which is under the guidance of the Special Da'wah Institute (LDK) of the Muhammadiyah Regional Leadership (PWM) of East Java. The results of this study show that there are so many external factors that make a person radicalized. One of them is ideological factors, social conditions, structural injustices that encourage them to rebel, and the most powerful is the understanding that radical actions are justified by religious teachings (Islam).
The Effectiveness of Mediation as an Instrument for Land Dispute Resolution: A Normative Legal Study of the Role of the National Land Agency in Lamongan Regency Galih Raka Dewa; Agus Supriyo
Socio Legal and Islamic Law Vol 3 No 2 (2024): The Journal of Socio-Legal and Islamic law
Publisher : Faculty of Law, Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jssl.v3i2.26848

Abstract

The strategic socio-economic value of land in Indonesia often triggers complex disputes that are inefficiently resolved through litigation, necessitating mediation as a more equitable alternative. This study aims to evaluate the effectiveness of mediation in resolving land disputes, particularly in Lamongan Regency. The research method used is normative juridical. The results indicate that the effectiveness of mediation is significantly determined by a constellation of factors, including the parties' good faith, mediator competence, documentary completeness, and public legal literacy. However, findings reveal that mediation in Lamongan remains suboptimal due to several critical barriers. Specifically, the research identifies that low public legal awareness and the persistent egoism of disputing parties often lead to deadlocks during the negotiation process. Furthermore, the inability of mediators to employ effective communication techniques and psychological approaches frequently results in a failure to reach a formal peace agreement (Akta Perdamaian). Literature studies at the Lamongan Land Office (BPN) confirm that these internal and external constraints prevent mediation from becoming the primary choice for dispute resolution. Consequently, many cases that could be settled through non-litigation channels eventually escalate to court, increasing the burden on the judicial system. To enhance effectiveness, this study recommends intensive legal socialization to the community, specialized certification and training for professional mediators, and the institutional strengthening of the BPN’s role as a facilitator to ensure a more sustainable, fair, and legally certain dispute resolution framework in Indonesia.