Pasokan air gambut ke Sungai Kapuas dan Sungai Landak dapat berimplikasi signifikan terhadap kualitas air baku seperti kekeruhan, warna dan pH air yang tidak memenuhi standar. PDAM Khatulistiwa Pontianak memanfaatkan air Sungai Kapuas dan Sungai Landak sebagai air baku sehingga menyebabkan kualitas air yang dihasilkan seperti nilai warna sebesar 315-790 TCU, kekeruhan 34-86 NTU dan pH 6,09 -6,45 tidak memenuhi standar PERMENKES No.492/MENKES/X/2010. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan nilai kekeruhan, warna dan pH dari air baku PDAM Pontianak menggunakan metakaolin. Metakaolin tersusun oleh silika sebesar 56,405% dan alumina sebesar 31,569%. Hasil analisis GSA menunjukkan bahwa metakaolin memiliki luas permukaan sebesar 22,38 m2/g; total volume pori sebesar 0,079 cm3/g dan ukuran rata-rata pori sebesar 7,12 nm, dan ketika telah jenuh digunakan luas permukaan kaolin akan berubah menjadi 34,56 m2/g; total volume pori sebesar 0,090 cm3/g dan ukuran rata-rata pori sebesar 5,24 nm. Metakaolin dapat menghilangkan warna air gambut dengan penggunaan metakaolin sebesar 0,090g dan hasil warna air 1 TCU, turbidity 0,6 NTU dan pH 4-5, serta penggunaan metakaolin pada sistem kontinu dengan debit air 1 liter/90 detik dengan waktu kontak 1 menit efektif digunakan hingga 24 jam dalam meningkatkan kualitas air PDAM hingga memenuhi baku mutu.