Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERBANDINGAN NILAI KERENTANAN BERDASARKAN DUA METODE ASESMEN PADA BANGUNAN RUMAH DI DESA TERDAMPAK GEMPA KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006 Wisanggeni Paramusesa Widayat; Sarwidi; Iman Satyarno
Journal Central Publisher Vol 1 No 7 (2023): Jurnal Central
Publisher : Central Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jcp.v1i7.165

Abstract

Latar Belakang : Rumah Tahan Gempa merupakan konsep yang terlahir dari model bangunan tembokan populer yang ada dalam masyarakat Indonesia. Standar yang dikeluarkan terbaru oleh Rumah Tahan Gempa telah diterbitkan dalam bentuk Peraturan Menteri. Peraturan Menteri tersebut adalah Permen PUPR No.5 Tahun 2016. Bentuk dan bahan bangunan yang dapat disesuaikan sesuai kondisi nyata di lapangan yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Dengan wilayah kegempaan dan juga pernah terjadi gempa yang merobohkan banyak masyarakat serta menurut BPBD Bantul 27 Mei Tahun 2006 terdapat 4.143 korban tewas dengan jumlah rumah rusak total yaitu 71.763, rusak berat yaitu 71.372, dan rusak ringan yaitu 66.359 rumah. Konsep Rumah Tahan Gempa sendiri juga sudah mulai dikembangkan dari tahun 2000, sehingga dengan adanya bencana ini diharapkan pembangunan pasca bencana ini dilakukan dengan konsep bangunan rumah tahan gempa. Tujuan : Penilaian kerentanan bangunan rumah terhadap gempa merupakan aspek penting dalam upaya mitigasi risiko bencana. Dalam konteks ini, perbandingan nilai kerentanan berdasarkan dua metode asesmen pada bangunan rumah di Desa Terdampak Gempa Kabupaten Bantul tahun 2006 bertujuan untuk: Mengidentifikasi Kelemahan dan Kekuatan Metode Asesmen, Memahami Tingkat Kerentanan Bangunan, Dll. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ACeBS (Asesmen Cepat Bangunan Sederhana tembokan 1 lantai) adalah aplikasi yang digunakan untuk menilai kondisi bangunan/rumah tinggal sederhana tembokan 1 lantai di wilayah rawan gempa bumi melalui pembangunan rumah sederhana 1 lantai yang memiliki struktur yang kuat dan aman terhadap gempa bumi berdasarkan Permen PUPR. Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian ini yaitu kerentanan rumah pada 3 Desa mempunyai hasil yang dominan rendah yaitu maksimal mempunyai nilai Sedang berjumlah 3 pada Desa Canden. Kesimpulan : Masyarakat sudah mayoritas sadar akan bahaya gempa yang akan terjadi selanjutnya yang dapat membahayakan rumah masyarakat dan telah berupaya membangun rumah tahan gempa dengan baik dibuktikan dengan hasil asesmen yang baik.
Addition of Alkali Activator and Substitution of GGBFS in Hydraulic Cement for High Early Flexural Strength and High Slump Concrete Maria Apolonia Palan Keron; Iman Satyarno; Suprapto Siswosukarto; Ratna Dwiyani Nawangsasi; Muhammad Hasan Taufiq
INERSIA lnformasi dan Ekspose Hasil Riset Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 22 No. 1 (2026): May
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/inersia.v22i1.87888

Abstract

To lower CO2 emissions, the construction sector is increasingly adopting sustainable practices, such as cutting back on clinker usage in cement manufacturing. Hydraulic cement is an environmentally friendly cement material because it uses a smaller amount of clinker. The amount of industrial waste, including materials like Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS), keeps rising each year. Because of this, it is frequently used as an alternative to cement. However, concrete with GGBFS substitution generally experiences a delay in early strength development due to its low reactivity to water. To overcome this, adding an alkali activator in NaOH and Na2SiO3 is necessary. In this study, the dosage of alkali activator was varied at 0%, 2.5%, 5% and 7.5% by weight of GGBFS with R and A values set at 1.5 and 0.45. In addition, using GGBFS can also reduce the workability of concrete, so it is necessary to use a superplasticizer in the form of Sika® Viscocrete®-1050 to improve concrete flow properties. The dosage of superplasticizer used was 0.75% by weight with a target slump of 20 cm for ease of working. The amount of GGBFS used was 30% by weight. To evaluate the materials performance, test were carried out to measure the concrete workability, compressive strength of paste and concrete flexural strength after 3 days of curing. The results show that increasing the dosage of alkali activator can increase the paste compressive strength by more than 24 MPa according to the requirements of using hydraulic cement and concrete flexural strength by more than 3 MPa in 3 days. Concrete with a 7.5% alkali activator dosage can achieve a concrete flexural strength of 4.81 MPa at 3 days and has a slump value of 20 cm. This research can be a solution to reduce CO2 emissions and is useful for construction projects that require high flexural strength values at early ages and high slump.