Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

POTENSI HERBAL BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria Macrocarpa (scheff.) Boerl) YANG DIMANFAATKAN SEBAGAI MODIFIKATOR PERMUKAAN DAN ANTI-ADHESI BAKTERI S.mutans PADA PERMUKAAN MATERIAL RESTORASI RESIN KOMPOSIT : POTENTION OF PHALEVIA FRUIT WICH WAS BE BENEFITTED AS A SURFACE MODIFICATOR AND ANTI ADHESIANT OF S.mutans BACTERIA ON THE SURFACE OF RESTORATION COMPOSITE RESIN MATERIAL Heribertus Dedy Kusuma Yulianto; Morita
Dentika: Dental Journal Vol. 18 No. 2 (2014): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.545 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v18i2.2023

Abstract

Secara alamiah, bakteri rongga mulut mempunyai kecenderungan untuk melekat pada permukaan jaringan keras danlunak rongga mulut karena ketersediaan makanan untuk bakteri terakumulasi di permukaan. Kondisi patologis yangditimbulkan oleh perlekatan bakteri pada permukaan menjadi perhatian khusus dan menjadi objektif penelitian ini, yaituuntuk mencari metode yang efektif dalam menghambat perlekatan bakteri. Metode yang diteliti adalah metode pelapisanpermukaan/coating pada permukaan material restorasi RK yang bertujuan untuk memodifikasi sifat permukaan (surfacetreatment) material restorasi RK yang cenderung bersifat hidrofobik. Sifat hidrofobik ini ditengarai menjadi salah satufaktor penting yang berkontribusi terhadap perlekatan bakteri. Dengan melakukan modifikasi permukaan diharapkandapat mengurangi kemampuan perlekatan bakteri pada permukaan restorasi RK. Indikator yang digunakan untukmengamati perubahan sifat hidrofobisitas permukaan adalah perubahan sudut kontak (contact angle) cairan yangditeteskan pada permukaan. Sudut kontak permukaan yang lebih kecil mengindikasikan permukaan yang bersifat lebihhidrofilik. Untuk mengevaluasi efektivitas metode pelapisan pada permukaan yang bertujuan untuk memodifikasi sifatpermukaan, digunakan senyawa berbentuk cairan yang diekstrak dari buah mahkota dewa (phaleria macrocarpa (scheff.)boerl). Pengaruh permukaan yang dilapisi dengan cairan ekstraksi terhadap perlekatan bakteri diuji dengan menggunakanalat Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil penelitian menunjukkan metode pelapisan dengan cairan ekstrak buah mahkota dewa mampu menurunkan sifat hidrofobisitas permukaan RK, dan hasil gambaran SEM secara kualitatifmenunjukkan adanya penghambatan pembentukan koloni bakteri S.mutans. pada permukaan yang dilapisi dengan cairanekstrak buah mahkota dewa.
Dealing with the high-risk potential of COVID-19 cross-infection in dental practice Yulianto, Heribertus Dedy Kusuma; Purwanti, Nunuk; Utami, Trianna Wahyu; Dewi, Anne Handrini; Listyarifah, Dyah; Ruspita, Intan; Nur, Asikin; Susilowati, Heni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 6, No 1 (2020): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.56588

Abstract

The World Health Organization reported that the SARS-CoV-2 virus has infected more than 5 million people around the world. Dental care providers and health care professionals need to be aware of the high-risk potential of crossinfection since the routes of virus transmission commonly happen through droplets and aerosols. This review aimed at collecting essential knowledge about the COVID-19 needed by dental practitioners. The review focused on the oral involvement in COVID-19, the role of oral transmission as the high-risk potential of cross-infection and recommended strategies to minimize the risk of cross-infection in dental practice. We searched all the published clinical features from PubMed, Google Scholar, Scopus and hand searched library online databases, from January 2015 until May 2020. Keywords used were “COVID-19”, “Dentistry”, “Dental protection”, “Cross-contamination”, “Aerosol and non aerosol”, and ”Povidone-iodine” with their combinations. We identified 52 articles to review after the initial selection with inclusion and exclusion criteria. Results showed use of topical applications of povidine-iodine and viricidal mouthwash could significantly reduce the high-risk of cross-infection from dentistry patients who are asymptomatic with COVID-19 infection. Further safeguards include suspending all non-emergency procedures temporarily and closely screening patients for symptoms which may be suspected to be COVID-19 infection.
Dealing with the high-risk potential of COVID-19 cross-infection in dental practice Heribertus Dedy Kusuma Yulianto; Nunuk Purwanti; Trianna Wahyu Utami; Anne Handrini Dewi; Dyah Listyarifah; Intan Ruspita; Asikin Nur; Heni Susilowati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 6, No 1 (2020): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.56588

Abstract

The World Health Organization reported that the SARS-CoV-2 virus has infected more than 5 million people around the world. Dental care providers and health care professionals need to be aware of the high-risk potential of crossinfection since the routes of virus transmission commonly happen through droplets and aerosols. This review aimed at collecting essential knowledge about the COVID-19 needed by dental practitioners. The review focused on the oral involvement in COVID-19, the role of oral transmission as the high-risk potential of cross-infection and recommended strategies to minimize the risk of cross-infection in dental practice. We searched all the published clinical features from PubMed, Google Scholar, Scopus and hand searched library online databases, from January 2015 until May 2020. Keywords used were “COVID-19”, “Dentistry”, “Dental protection”, “Cross-contamination”, “Aerosol and non aerosol”, and ”Povidone-iodine” with their combinations. We identified 52 articles to review after the initial selection with inclusion and exclusion criteria. Results showed use of topical applications of povidine-iodine and viricidal mouthwash could significantly reduce the high-risk of cross-infection from dentistry patients who are asymptomatic with COVID-19 infection. Further safeguards include suspending all non-emergency procedures temporarily and closely screening patients for symptoms which may be suspected to be COVID-19 infection.
RONGGA MULUT SEBAGAI RESERVOIR POTENSIAL UNTUK INFEKSI Pseudomonas aeruginosa Puspita Hajardhini; Heni Susilowati; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto
ODONTO : Dental Journal Vol 7, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/odj.7.2.125-133

Abstract

Introduction : Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) is Gram-negative bacteria which is normally inhabiting in environment, however it tends to be an opportunistic pathogen within oral cavity. It utilizes the oral cavity as potential reservoir to infect either lungs or oral cavity itself. Both planktonic and biofilm forms can mediate its infection in oral cavity so that making its difficulties to eradicate since its broad resistance to antibiotics.Method : We review the pathogenesis of oral infection and host defense mechanism to P. aeruginosa as well.Discussion: Several prevention strategies, both chemical and nonchemical, are elaborated to avoid oral bacterial contamination.Conclusion : Prevention strategies in dental aspect to P. aeruginosa is highly needed as its occurrence are susceptible to cross-infection.
Potensi Lendir Lele (Clarias batrachus) sebagai Saliva Buatan untuk Perawatan Mulut Kering Zipora Silka Yoretina; Deaoxi Renaschantika Djatumurti; Roissatun Nasikah; Hendri Susanto; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.62569

Abstract

Xerostomia merupakan kondisi klinis pasien berupa mulut kering yang dapat meningkakan pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab kandidiasis. Penanganan pasien xerostomia dapat dilakukakan dengan pemberian saliva buatan. Lendir lele memiliki karakristik dan kemampuan dalam mengganti fungsi saliva sekaligus sebagai antijamur Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lendir lele (Clarias batrachus) sebagai saliva buatan untuk perawatan mulut kering. Lendir lele (Clarias batrachus) diekstraksi kemudian diformulasikan menjadi saliva buatan dengan konsentrasi 13,2%, 14,4%, dan 17,2%. Pengujian dilakukan dengan mengukur tegangan permukaan menggunakan indikator besarnya sudut kontak tiap tetesan pada glass slide, mengukur derajat keasaman saliva buatan dengan pH meter, serta uji daya hambat pertumbuhan Candida albicans dengan metode disc-diffusion. Data kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA satu jalur dan LSD dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan sudut kontak antara saliva buatan 13,2%, 14,4% dan 17,2% pada glass slide dengan saliva alami dan kontrol positif (p<0.05), Perbedaan daya hambat terhadap koloni Candida albicans signifikan antara saliva buatan dengan kontrol positif dan saliva alami (p<0.05). Berdasarkan uji pH, terdapat perbedaan signifikan ketiga konsentrasi saliva buatan (13,2; 14,4; 17,2%) dengan saliva alami dan kontrol positif. Lendir lele berpotensi sebagai bahan pembuatan saliva buatan dan dapat berfungsi sebagai anti-jamur (Candida albicans).
Kemampuan Pembasahan Saliva Buatan dengan Kandungan Ekstrak Mukus Lele (Clarias batrachus) Zipora Silka Yoretina; Anne Handrini Dewi; Hendri Susanto; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.62571

Abstract

Xerostomia merupakan keluhan subyektif mulut kering yang sering berhubungan dengan adanya penurunan fungsi kelenjar saliva. Penanganan pasien xerostomia dapat dilakukan dengan pemberian saliva buatan. Mukus lele memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menggantikan fungsi saliva, sehingga dengan konsentrasi yang tepat mampu berperan sebagai lubrikan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kemampuan pembasahan antara saliva manusia dengan saliva buatan yang mengandung mukus lele (Clarias batrachus) pada permukaan hidrofobik. Mukus lele (Clarias batrachus) diekstraksi kemudian diformulasikan menjadi saliva buatan dengan menambahkan 0,1% methylparaben, 0,05% EDTA, 4,69% dekstrosa, dan aqua pro-injection. Pengujian dilakukan dengan mengukur kemampuan pembasahan saliva buatan menggunakan indikator besarnya sudut kontak sampel pada permukaan hidrofobik selama 5 menit. Data yang digunakan merupakan rerata nilai sudut kontak pada kedua sisi tetesan di menit ke-0, 0,5, 1, 1,5, 2, dan 5 yang dianalisis menggunakan aplikasi ImageJ. Hasil independent sample t-test  menunjukkan sudut kontak saliva buatan mukus lele lebih kecil daripada saliva manusia (p<0,05) pada pengamatan menit ke-0, 0,5, 1, 1,5, 2, dan 5. Kemampuan pembasahan saliva buatan mukus lele memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan saliva manusia, sehingga saliva buatan ini memberikan fungsi lubrikatif dan protektif yang tidak terlalu menyerupai saliva manusia.
Pengaruh pasta gigi fluorida dan low-abrasive fluoridated terhadap kekasaran permukaan gigi pasca home bleaching karbamid peroksida 20% Andina Widyastuti; Pribadi Santosa; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto; Margareta Rinastiti; Raras Ajeng Enggardipta; Novia Sari Sulistyo
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77047

Abstract

Bleaching merupakan prosedur pemutihan gigi yang pada saat ini banyak diminati oleh masyarakat. Salah satu efek bleaching adalah terjadinya peningkatan porusitas email sehingga gigi lebih rentan terhadap terjadinya karies. Remineralisasi diperlukan untuk meningkatkan kekerasan email, salah satunya dengan pemberian pasta gigi. Terdapat beberapa jenis pasta gigi yang beredar di pasaran, namun belum diketahui pasta gigi manakah yang terbaikuntuk digunakan pada pasien pasca bleaching. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasta gigi fluorida dan pasta gigi low-abrasive fluoridated terhadap karakteristik permukaan gigi pasca aplikasi home bleaching menggunakan karbamid peroksida 20%. Penelitian ini menggunakan spesimen berupa 20 gigi premolar rahang atas yang sudah dilakukan ekstraksi, kemudian diberi perlakuan penyikatan dengan akuades, pasta giginonfluorida, pasta gigi fluorida, dan pasta gigi low-abrasive fluoridated. Uji kekasaran permukaan dilakukan sebelum bleaching, setelah bleaching, serta penyikatan setelah bleaching. Hasil uji ANAVA dua jalur menunjukkan nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok perlakuan penyikatan gigi dan kelompok waktu pengujian kekasaran permukaan. Uji post-hoc multiple comparison test LSD menghasilkan terdapat perbedaaan kekasaran permukaan gigi yang bermakna antara kelompok penyikatan gigi dengan pasta gigi fluorida dan pastagigi low-abrasive fluoridated. Proses bleaching pada penelitian ini menunjukkan peningkatan kekasaran permukaan email gigi secara signifikan. Perlakuan penyikatan gigi menurunkan kekasaran permukaan email secara bermakna. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa proses penyikatan dengan pasta gigi pasca bleaching dapat mengembalikan kondisi kekasaran permukaan email yang mendekati saat sebelum dilakukan bleaching.Penggunaan pasta gigi fluorida dan pasta gigi low-abrasive fluoridated direkomendasikan untuk digunakan pada pasien pasca perawatan bleaching.
Hidrofobisitas bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 10145 setelah dipapar dengan ekstrak lidah buaya (Aloe vera) M. Eric Brilian; Regina Titi Christinawati Tandelilin; Tetiana Haniastuti; Alma Linggar Jonarta; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77604

Abstract

Pseudomonas aeruginosa merupakan salah satu mikroorganisme dengan kemampuan melekat dan membentuk biofilm pada dental unit waterline yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial dan infeksi sekunder periapikal terutama pada pasien yang memiliki sistem imun yang rendah dan tidak stabil. Hidrofobisitas merupakan sifat fisikokimiawi utama yang berperan pada tahap awal adhesi bakteri dan pembentukan biofilm. Tanaman lidah buaya (Aloe vera) berpotensi menghambat perlekatan bakteri karena mengandung komponen aktif seperti tanin, flavonoid,saponin dan terpenoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak lidah buaya terhadap hidrofobisitas P. aeruginosa ATCC 10145. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental laboratoris yang menggunakan sampel berjumlah 24 yang terbagi dalam empat kelompok yaitu satu kelompok kontrol negatif dan tiga kelompok perlakuan dengan masing-masing kelompok terdiri dari enam sampel. Lidah buaya diekstraksi denganmenggunakan metode maserasi kemudian diencerkan dengan menggunakan akuades. Pengamatan hidrofobisitas P. aeruginosa ATCC 10145 menggunakan metode pengukuran sudut kontak. Suspensi bakteri dicampur dengan akuades pada kelompok kontrol dan ekstrak lidah buaya pada subkelompok perlakuan dengan konsentrasi masingmasing 8,5%, 17%, dan 34%. Suspensi yang telah tercampur diinkubasi, kemudian didepositkan ke dalam membranfilter selulosa asetat. Pada membran filter selulosa asetat dilakukan drop-profile analysis dan dilanjutkan dengan pengukuran sudut kontak menggunakan software Image-J. Selanjutnya data dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dan dilanjutkan post hoc LSD (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks hidrofobisitas tertinggi terlihat pada kontrol negatif dan indeks hidrofobisitas terendah terlihat pada kelompok ekstrak lidah buaya dengankonsentrasi 34%. Hasil One-way ANOVA menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya pada semua kelompok signifikan dalam menurunkan hidrofobisitas P. aeruginosa ATCC 10145. Hasil LSD test menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya dengan konsentrasi 34% merupakan konsentrasi yang paling efektif dalam menurunkan hidrofobisitas P. aeruginosa ATCC 10145. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak lidah buaya bermakna menurunkan hidrofobisitas P. aeruginosa ATCC 10145 dan konsentrasi 34% memiliki efek tertinggi dalam menurunkan hidrofobisitas P. aeruginosa ATCC 10145 dibandingkan dengan konsentrasi 8,5% dan 17%.
Uji komparasi desinfektan septalkan, terralin, dan alkohol 70% terhadap daya sterilisasi permukaan kursi dental Arif Andriyanto; Risma Dwi Irfanto; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto
Jurnal Teknosains Vol 12, No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/teknosains.79820

Abstract

Cross-infection has the potential to occur in the Dental and Oral Hospital due to cross-transmission of pathogenic microbes through dental chair surfaces that are contaminated with microbes. This  study aims to compare the effectiveness of three types of disinfectant Septalcan, Terralin, and 70% alcohol on the inhibition of pathogenic microbes originating from the oral cavity of patients who contaminate the surface of dental chairs in aerosol and non-aerosol clinics. Sampling of microorganisms was carried out using the technique of wiping/swab the surface of dental chairs in aerosol and non-aerosol clinics before and after the disinfection process with three types of disinfectants. The decrease in the number of germs before and after the disinfectant process is used as a parameter for the effectiveness of the disinfectant. The results of the one-way ANOVA statistical test shows that there is no significant difference in the effectiveness of the three types of Septalcan, Terralin, and 70% alcohol in reducing the number of germs on the surface of dental chairs. The three types of disinfectants are able to minimize the risk of cross-infection due to pathogenic microbial contamination on the surface of the dental chair.
Efektivitas Alat Extraoral Suction Unit pada Layanan Kesehatan Gigi dan Mulut Benidiktus Tulung Prayoga; Agustinus Winarno; Margareta Rinastiti; Dian Permata Sari; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto; Julita Hendrartini
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 8, No 4 (2023): November
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.86573

Abstract

Latar   Belakang: Petugas layanan kesehatan gigi dan mulut rentan terpapar infeksi berbagai penyakit dari pasien. Rongga mulut penuh dengan bakteri. Droplets dan aerosol dari cairan mulut pasien dapat menjadi media penularan penyakit. Extraoral suction unit (EOSU) dibutuhkan untuk membantu mengendalikan sebaran aerosol selama layanan kesehatan gigi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan unjuk kerja extra oral suction unit lokal dengan produk komersial sebagai pembanding.Metode: Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berupa alat penyedot aerosol hasil rancangan tim peneliti Universitas Gadjah Mada Merk D yang dibandingkan dengan dua produk komersial dari luar negeri Merk A dan B, satu alat produk dalam negeri Merk C. EOSU diuji di klinik gigi dengan prosedur serupa layanan sesungguhnya. Pengujian yang dilakukan adalah mengukur kapasitas hisap, tingkat kebisingan, sebaran aerosol dan angka kuman.Hasil: Extraoral suction unit produk buatan luar negeri (Merk A) menunjukkan unjuk kerja yang paling baik karena sebaran aerosol di sekitar lokasi kerja paling sedikit. Produk Merk D mempunyai unjuk kerja di bawah produk Merk A namun masih lebih baik dibanding produk buatan luar negeri lainnya (Merk B) dan produk dalam negeri lain (Merk C)Kesimpulan: Extraoral suction unit lokal mempunyai kapasitas serupa dengan produk komersial dan menjanjikan untuk diproduksi massal.