Muhammad Noupal
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Kontekstualisasi Ayat-Ayat tentang Kepemimpinan dalam Al-Qur’an (Studi Fenomena Politik Identitas Indonesia) Rani Martia Sari; Muhammad Noupal; Deddy Ilyas
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 4 No 1 (2023): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/almisykah.v4i1.18954

Abstract

This research is entitled "Contextualization Of Verses About Leadership in The Qur'an" (Study of Political Phenomena of Indonesian Identity)". The background of this research is of the term leadership in the contemporary era. There has been a lot of disharmony between religious communities that has deprived other people of their basic rights, resulting in discrimination and oppression due to leadership issues. Even though the essence of the truth of leadership in a religion is the formation of a prosperous, just and prosperous society (Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghafur) Islam does not provide a formal leadership and state administration system for its people, however, the Koran as the main source of teachings provides principles universal about leadership in the holy book, as for the form of words or meanings that have the criteria and characteristics of a leader described in several letters and verses in the Koran. Against this background, the problem is formulated, how is the contextualization of the verses of the Koran about leadership towards the phenomenon of identity politics in Indonesia? and What aspects are contained in the contextualization of the verses of the Koran about leadership towards the phenomenon of identity politics in Indonesia? The type of research that will be used is library-based research (library research). The research is carried out by taking data sources from library, then selecting these data, and analyzing these data. This research is basically main source, namely the verses that discuss leadership and how the phenomenon of Indonesian Identity Politics.
KRITIK SAYYID UTSMAN BIN YAHYA TERHADAP GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM DI INDONESIA : Studi Sejarah Islam di Indonesia Abad 19 dan Awal Abad 20 Muhammad Noupal
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 14 No 2 (2013): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v14i2.470

Abstract

Kritik Sayyid Utsman terhadap pemikiran pembaharuan Islam merupakan salah satu bentuk kontroversi Sayyid Utsman yang sangat mengemuka. Ia mengkritik pemikiran dan ide-ide pembaharuan Islam khususnya pada awal abad 20 dan menganggapnya sebagai ajaran sesat dan menyalahi syariat Islam. Sebagai seorang mufti sekaligus penasehat pemerintah Hindia Belanda, kritiknya terhadap Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha menjadi salah satu poin penting untuk melihat lebih jelas keterlibatan Sayyid Utsman dalam sejarah sosial intelektual Islam di Indonesia pada awal abad 20. Kritik Sayyid Utsman terdapat dalam sejumlah besar karyanya. Ia setidaknya menulis tujuh buah buku yang berhubungan dengan pembaharuan Islam. Kritiknya bukan saja diarahkan kepada ide dan pemikiran pembaharuan, tetapi juga kepada tokoh-tokohnya; Afghani, Abduh dan Rasyid Ridha. Sayang, dalam buku-buku tersebut, kita tidak mendapatkan banyak informasi bagaimana awal pembaharuan Islam di Indonesia menemukan momentumnya dalam sejarah sosial intelektual Islam di Indonesia. Kritik Sayyid Utsman terhadap pemikiran Islam di Indonesia dapat dilihat dari dua kasus; tentang reinterpretasi al-Quran dan terbukanya pintu ijtihad. Dalam dua kasus ini, Sayyid Utsman menganggap bahwa gerakan pembaharuan Islam dianggap menyalahi ketentuan yang sudah dibuat oleh para ulama sebelumnya. Apalagi secara  teknis, kemampuan untuk menafsirkan al-Quran dan melakukan ijtihad memerlukan persyaratan khusus yang tidak mungkin mampu dimiliki oleh masyarakat Islam saat itu. Dari sisi ini, kita bisa melihat bahwa kritik Sayyid Utsman lebih bersifat formalitas; yang memang sesuai dengan kedudukannya sebagai mufti.
ZIKIR MAHASANTRI MA’HAD AL-JAMI’AH UIN RADEN FATAH PALEMBANG DITINJAU DARI PERSPEKTIF ILMU TAREKAT Nyayu Siti Zahrah; Muhammad Noupal; Muhammad Arfah Nurhayat
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 22 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v22i1.9014

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang zikir mahasantri Ma’had al-Jami’ah UIN Raden Fatah Palembang yang ditinjau dari perspektif ilmu tarekat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ritual zikir yang dilaksanakan oleh mahasantri di Ma’had al-Jami’ah UIN Raden Fatah Palembang yang ketika diamati zikir ini memiliki kesamaan dengan ajaran tasawuf dan beberapa tarekat, baik dari segi adab, bacaan, gerakan, nada dan intonasi. Maka dari itu penulis ingin menganalisis zikir mahasantri Ma’had al-Jami’ah UIN Raden Fatah ditinjau dari perspektif ilmu tarekat. Dalam Penelitian ini penyusun menggunakan analisis fenomenologi yang berarti mengamati fenomena-fenomena yang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa zikir yang dilaksanakan oleh mahasantri Ma’had al-Jami’ah UIN Raden Fatah Palembang memiliki tujuan yang sama dengan tujuan zikir pada ajaran tasawuf yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan dari sisi bacaan, zikir yang dilakukan Mahasantri Ma’had al-Jami’ah sebagian besar memiliki kesamaan dengan bacaan zikir pada tarekat Naqsabandiyah, tetapi dari sisi adab zikir nya lebih kepada adab zikir ajaran Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, namun nada dan intonasi zikir yang terdapat dalam zikir ini sebagian memiliki kesamaan dengan nada dan intonasi zikir pada ajaran tarekat Sammaniyah. Sedangkan gerakan zikirnya mengikuti gerakan zikir dari ajaran Syekh Abdus Shamad al-Palimbani. Hal ini dikarenakan imam zikir tersebut yaitu Bapak Munir merupakan pengikut dua aliran tarekat yaitu tarekat Naqsabandiyah dan tarekat Sammaniyah.
KEHIDUPAN DUNIA PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Kajian Terhadap Kata Al-Hayah Dan Kata Al-Ma’isyah) Muhammad Alif Aziz; Muhammad Noupal; RA Erika Septiana
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 23 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v23i2.15084

Abstract

Research entitled the life of the life of the world from the perspective of the Qur’an (study of the word al-Hayah end the word al-Ma’isyah) in this study, the interpretation of the science of interpretation with the word study method (tahlili) is used end this research uses library research, from here the research converys the background, namely the world life of the world al-Hayah end world al-Ma’isyah which contains a different meaning of life in a word of life in life in the Qur’an with the lauguage of the word life. Therefore, this study concludes in the view of the Qur’an that the word al-Hayah has the meaning of life end the word al-Ma’isyah has the meaning of life end livelihood, the meaning of the life of the world is taken from the surah Az-Zukhruf 43:32. The word al-Hayah has many meanings of life in the Qur’an as life in the meaning of line in the from of the life of the world of life which has the life of the world end has the life of the hereafter end the word al-Ma’isyah has two meanings of the word life end livelihood in life in the Qur’an, as life describes the life of the human image in the world end the hereafter in life end livelihood, which explains the picture of life in this world end in the hereafter.
Majelis Syiah: Studi tentang Dakwah dan Penyebaran Mazhab Syiah di Kota Palembang Muhammad Noupal; Zaki Faddad Syarif Zain
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 24 No 2 (2023): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v24i2.34219

Abstract

Pasca Revolusi Islam Iran tahun 1979, jumlah penganut syiah di Palembang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh pengikut syiah seperti perayaan Hari Asyuro, kegiatan majelis taklim dan pembacaan doa. Tulisan ini ingin melihat bagaimana dakwah dan penyebaran mazhab syiah di Palembang, khususnya melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan dalam majelis syiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk melihat realitas penyebaran mazhab syiah dan ajaran-ajarannya yang diterima masyarakat. Penelitian berkesimpulan bahwa, pertama; dakwah syiah di Palembang tidak dilakukan dalam bentuk yang formal, seperti ceramah umum tetapi melalui relasi social. Dalam relasi sosial ini peran keluarga menjadi faktor paling dominan yang membuat syiah diterima sebagai prinsip keagamaan (‘aqidah) dan ibadah (fiqih). Kedua, dakwah syiah tidak identik dengan keberadaan majelis syiah yang dibentuk sebagai wadah pemeluk syiah untuk melaksanakan ibadah dan memperkuat kesyiahan mereka kepada para imam. Ketiga, keberadaan majelis syiah di Palembang terjadi melalui tiga fase yaitu fase pertumbuhan, fase penguatan dan fase perubahan. Perkembangan majelis syiah pada tiap fase tersebut dipengaruhi oleh peran masing-masing tokoh, baik itu ulama, tenaga profesional atau orang biasa.
Religious Moderation in School Digital Culture: Negotiating Students’ Religious Identities at SMAN 21 Palembang Robi Darwis; Ahmad Zainuri; Muhammad Noupal
Journal of Education and Teacher Training Innovation Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Education and Teacher Training Innovation
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/9h7wh943

Abstract

This study examines the negotiation of religious moderation within the digital culture of students at SMAN 21 Palembang. The presence of social media, WhatsApp groups, memes, and other forms of digital communication has created new social spaces that influence students’ religious attitudes and identity formation in multicultural schools. This study aims to analyze the process of negotiating students’ religious identities in the school’s digital space as well as the school’s strategies for strengthening religious moderation amidst majority-minority relations. This study employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving 12 informants comprising the school principal, Islamic Religious Education teachers, Christian Religious Education teachers, student organization advisors, Muslim students, and non-Muslim minority students. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results indicate that the school’s digital space functions not only as a communication medium but also as an arena for identity negotiation, symbolic struggle, and the reproduction of religious narratives among students. Memes, stickers, and social media interactions serve as forms of religious expression that can strengthen group solidarity while simultaneously creating the potential for exclusion of minority groups. Nevertheless, the school strives to foster an inclusive culture through dialogic interactions, multicultural activities, and the internalization of religious moderation values in both formal and informal contexts. This study concludes that religious moderation in schools is shaped through a dynamic process of social negotiation within students’ digital culture. This research contributes to the development of studies on digital religious moderation and multicultural education in Indonesian public schools.