Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisis Semiotika Tagline “Beli Semua Di Shopee” Dalam Membentuk Branding Shopee Farid Mubarok; Siti Muyasaroh
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 3 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/87krm670

Abstract

Based on the increasing competition in the e-commerce industry in Indonesia, taglines play a crucial role as verbal communication elements in shaping brand image. The tagline "Buy Everything at Shopee" was chosen due to its consistency from 2017 to 2023 and its ability to reflect Shopee as a one-stop shopping platform. This study aims to explore the semiotic meaning of the tagline by applying Roland Barthes' theory (denotation, connotation, and myth) and examine its contribution to building Shopee's branding. The research method used was descriptive qualitative analysis using semiotic analysis techniques, while data sources were obtained from documentation of various Shopee promotional materials, theoretical literature, and industry reports. The results show that denotatively, this tagline implies an invitation to shop at Shopee; connotatively, it reflects ease, completeness, and efficiency; and at the myth level, it builds Shopee's image as the premier digital shopping solution. From a branding perspective, the tagline reinforces a friendly and modern brand personality, a brand promise of easy, one-stop shopping, and an emotional attachment with consumers. This study concludes that the tagline "Buy Everything on Shopee" is not simply a promotional phrase, but rather a strategic element in strengthening Shopee's brand identity amidst e-commerce competition. The recommendation is for Shopee to maintain tagline consistency in its communication campaigns, while continually adapting its narrative to digital trends and consumer needs. For further research, a comparative study with other e-commerce taglines (Tokopedia, Lazada, Blibli) or exploration of other verbal branding aspects such as slogans and jingles is recommended. Abstrak Dengan dasar fenomena meningkatnya persaingan industri e-commerce di Indonesia, di mana tagline berperan penting sebagai elemen komunikasi verbal dalam membentuk citra merek. Tagline “Beli Semua di Shopee” dipilih karena konsistensinya sejak 2017 hingga 2023 serta kemampuannya mencerminkan Shopee sebagai platform belanja serba ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna semiotik tagline dengan menerapkan teori Roland Barthes (denotasi, konotasi, dan mitos) serta mengkaji kontribusinya dalam membangun branding Shopee. Metode penelitian yang diterapkan berupa deskriptif kualitatif dengan teknik analisis semiotika, sedangkan sumber data diperoleh dari dokumentasi berbagai materi promosi Shopee, literatur teori, dan laporan industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif tagline ini bermakna ajakan berbelanja di Shopee; secara konotatif mencerminkan kemudahan, kelengkapan, dan efisiensi; sedangkan pada level mitos membangun citra Shopee sebagai solusi utama belanja digital. Dari sisi branding, tagline memperkuat brand personality yang ramah dan modern, brand promise berupa kemudahan belanja serba ada, serta emotional attachment dengan konsumen. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tagline “Beli Semua di Shopee” bukan sekadar frasa promosi, melainkan elemen strategis dalam memperkuat identitas merek Shopee di tengah persaingan e-commerce. Saran yang diajukan adalah agar Shopee tetap mempertahankan konsistensi tagline dalam kampanye komunikasinya, sambil terus menyesuaikan narasi dengan tren digital dan kebutuhan konsumen. Untuk penelitian lanjutan, disarankan adanya kajian komparatif dengan tagline e-commerce lain (Tokopedia, Lazada, Blibli) atau eksplorasi aspek verbal branding lainnya seperti slogan dan jingle.
Pentahelix Peran Aktor Pentahelix Dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan (Studi Strategi Komunikasi Pariwisata Desa Wisata Edelweiss Wonokitri Kabupaten Pasuruan) Heru Ardiansyah; Siti Muyasaroh
Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 6 No. 2 (2025): Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/ittishol.v6i2.3901

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran aktor Pentahelix dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, dengan fokus pada strategi komunikasi pariwisata di Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. MenggunaKomunikasi Pariwisata dan metode penelitian kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara dengan key informan, termasuk Kepala Desa Wonokitri, Ketua Pokdarwis, pemilik homestay, akademisi, dan koordinator media desa. Data dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pariwisata di Desa Wisata Edelweiss Wonokitri telah diterapkan dengan baik oleh berbagai pihak. Namun, meskipun setiap aktor Pentahelix menjalankan perannya sesuai bidangnya, kurangnya sinergi di antara mereka menjadi kelemahan yang perlu diperbaiki. Penerapan strategi komunikasi yang melibatkan kolaborasi Pentahelix telah berhasil memperbaiki promosi dan produk wisata, meningkatkan keterlibatan masyarakat, serta memperkuat upaya konservasi dan aksesibilitas. Hal ini tidak hanya mendukung kesejahteraan masyarakat setempat tetapi juga memastikan keberlanjutan pariwisata di desa tersebut. Penelitian ini menyoroti pentingnya sinergi antaraktor dalam strategi komunikasi untuk mencapai pengembangan pariwisata berkelanjutan yang lebih efektif di Desa Wisata Wonokitri.
Analisis Wacana Sara Mills Wanita Berpotensi Grooming dan Stigmatisasinya di Kompas.com Periode Januari-Maret 2023 Naili Mauhibatillah; Yuwita, Nurma; Siti Muyasaroh
Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 5 No. 1 (2024): Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus wanita jadi pelaku pelecehan merupakan kasus yang jarang terjadi, sehingga tidak heran jika kasus ini menjadi trending topik di cybermedia. Kompas.com adalah salah satu media yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia sebagai sumber informasi. Karena media massa merupakan pihak konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas, maka peneliti akan menganalisis bagaimana wanita bisa berpotensi menjadi pelaku pelecehan dan bagaimana stigmatisasinya di Kompas.com dengan pendekatan wacana kritis Sara Mills. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan fokus penelitian pada pemberitaan wanita jadi pelaku pelecehan di cybermedia Kompas.com periode Januari hingga Maret 2023 menggunakan analisis wacana kritis Sara Mills. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab wanita berpotensi grooming yaitu faktor internal dari psikologis individu dan faktor eksternal dari lingkungan dan media. Analisis wacana kritis Sara Mills dari pemberitaan wanita jadi pelaku pelecehan di Kompas.com menunjukkan bahwa wanita cenderung diposisikan sebagai objek dalam teks. Selain itu, posisi subjek-objek menjelaskan adanya relasi terbentuknya stigma terhadap wanita jadi pelaku pelecehan. Pertama, wanita jadi pelaku pelecehan memiliki pelabelan buruk. Kedua, wanita jadi pelaku pelecehan merupakan wanita yang mengalami kerusakan karakter. Sehingga secara tidak langsung, posisi wanita seperti ini berada pada posisi yang dimarjinalkan dibandingkan dengan pria yang jadi pelaku pelecehan.
Efek Sosial Media : Negative Social Media Content Dalam Vlog "Nomnoman Taek Versi Tretes" dalam Relasinya Dengan Kenakalan Remaja (Juvenile Deleguensy) di Pasuruan Nicky Norjana; Zainul Ahwan; Siti Muyasaroh; Moh. Edy Marzuki
HERITAGE Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Heritage
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v10i1.3220

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana bad influence konten negatif vlog “nomnoman taek” versi Tretes terhadap kenakalan remaja (Juvenile Deleguensy). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan library research dengan menggunakan teori media communication mediated computer (CMC) dan efek media sosial dengan fokus kajian pada konten Vlog “Kumpulan video hot nom-noman taek versi tretes” pada akun Wakwau channel yang telah ditonton 18.670 viewer. Konten Vlog tersebut divisualkan dengan image trand gaya remaja yang yang dianggap kekinian. Diantara image yang dikaitkan dengan konten video “nom-noman taek versi tretes” adalah tren pacaran remaja masa kini, hingga tren berkunjung ke lokalisasi Tretes. Konten-konten negatif yang terdapat dalam vlog tersebut secara sadar atau tidak menjadi konsumsi masyarakat pengguna media sosial, khusunya para generasi muda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : Pertama, Konten vlog tersebut semakin memperparah citra buruk Tretes di mata masyarakat karena masalah prostitusi, ditambah lagi tingkat kenakalan remaja yang tinggi. Kedua, aksi unggahan video berkonten negative tersebut menimbulkan reaksi negatif dari pembuatan video sejenis yang cukup tinggi dilihat dari jumlah video baru yang bermunculan, jumlah views yang tinggi, dan komentar yang banyak. Ketiga, hal ini menyebabkan bad influence pada remaja seperti terjadinya kasus narkotika dan prostitusi dibawah umur
The Role of Corporate Social Responsibility in Strengthening Social Legitimacy Through Zakat Siti Muyasaroh; Nabrisi Rohid; Ahmad Ziddan Wildan Al-Islami; Atiqurrahman, Mohammad
Communicator: Journal of Communication Vol. 2 No. 2 (2025): Communication
Publisher : Perkumpulan Dosen Tarbiyah Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59373/comm.v2i2.170

Abstract

The management of corporate zakat is becoming an increasingly essential part of the governance of Islamic philanthropic institutions, especially as CSR regulations and tax incentives strengthen their legal foundation and social legitimacy. This research is motivated by the need to understand how the Amil Zakat Institution, especially NU-Care LazisNU, responds to these external pressures and integrates zakat into sustainability strategies and institutional communication. A qualitative approach is employed through in-depth interviews with zakat managers, analysis of the institution's annual report, and a review of supporting documents to explore the institution's managerial practices, communication patterns, and partnerships. The results of the study indicate that CSR regulation is the primary factor ensuring that zakat management is conducted systematically, professionally, and with a long-term orientation. Tax incentives serve as an additional driver, strengthening institutions' capacity to expand social programs. NU-Care LazisNU employs a two-way communication model through digital media, annual reports, proposals, and cross-sector partnerships. Zakat is positioned as a strategic instrument that supports six program pillars: education, health, economy, da'wah, social welfare, and humanitarian aid. These findings confirm that corporate zakat has evolved into a modern governance practice that strengthens the moral legitimacy and social effectiveness of institutions