Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Cakrawala Pendidikan

RESENSI BUKU MEWIRAUSAHAKAN BIROKR~SI : lVlentransformasikarl Semangat ~Viraiisaha ke dalam Sektor Publik Sukidjo, Sukidjo
Cakrawala Pendidikan No 2 (2002): Cakrawala Pendidikan edisi Juni 2002, Th. XXI, No. 2
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.754 KB) | DOI: 10.21831/cp.v2i2.8755

Abstract

BUkU ini terdiri atas 11 bab dan dilengkapi dengan 2 lampiran danindeks. Di dalam Pendahuluan diuraikan tentang perestorikaAmerika Serikat yang memberikan gambaran bahwa sejak tahun 1980kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sudah menurun, bahkanpada tahun 1990-an penurunan kepercayaan tersebut cukup tajamsehingga dapat dikatakan p,emerinta4an sudah mati atau I1!;~nemui jalanbuntu. Sehubungan dengan itu, tidak mengherankan jika hanya 5 %warga Amerika Serikat yang akan memilih jabatan dalam pemerintahandan hanya 13% dari pegawai tinggi federal yang merekomendasikankarier pegawai negeri. Pada tahun 1990 USA mengalami defisit yang cukup besar dan untuk menutupnya dilakukan dengan pajak Namuncara ini banyak ditentang sehingga dalam tahun 1990-1991 parapemimpin pemerintah memperdebatkan pilihan antara pengabdian danpelayanan yang lebih sedikit atau pajak yang lebih tinggi Untukmengatasi kecenderungan para pimpinan menghabiskan anggaran padasetiap akhir tahun, maka dikembangkan strateg~,d imana pengelolaananggarran disesuakan pada orientassi pada hasil disertai upaya untukpenghematan serta dikembangkan upaya memberikan bonus kepadamereka yang berprestasi dengan menggunakan sistem manajemenwirausaha publik.Dalam bab selanjutnya yang merupakan inti pada dasarnyamengemukan perlunya perubahan peran pemerintah dari perantradisional yang sifatnya meqgatur, menguasai menuju ke arahmemberikan kesempatan kepada masyarakat Langkah pertama untukmewirausahakan birokrasi adalah pemerintah lebih rnengutamakankegiatan yang bersifat mengarahkan dari pada kegiatan yang sifatnyamengatur Konsekuensinya, perlu ada redistribusi kepenguasaan daripemerintah Secara tradisional, peran pemerintah adalah mengatur dankurang mengedepankan dialog. Dalam konsep baru, peran pemerintahdiharapkan lebih bersifat mengarahkan pada dialog serta membangunkernitraan dengan swasta khususnya kegiatan yang berkaitan denganpelayanan.
SIKAPGURU DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TERHADAP PENGEMBANGAN PROFESI Sukidjo, Sukidjo
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 3 (2004): Cakrawala Pendidikan edisi November 2004, Th. XXIII, No.3
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.812 KB) | DOI: 10.21831/cp.v3i3.4791

Abstract

Nowadays, many yunior and senior high school teachers who have achieve "guru Pembina" IVa rank face a difficulty to get promotion to IV b rank and above. This occurs since to get promotion to IVb rank and above, they must have 12 credit points ofprofession development. They are little know about profession development. The purpose ofthis stud~are: to know degree ofcomprehension, degree ofdifficulty, and yunior and senior high school teacher's attitude to'profession development. The population ofthis study are juniorand senior high school teachers in Yogyakarta Special Territory. Multistage random sampling is employed in this study. Data collection methods are quesioner, documentation, and interview while data collecting instrument is quesioner. Data analysis methods used are differentiation and correlation technique using SPSS 10.0 Based on data analysis, some conclusion can be dra\VTI. Firstly, 58% of teachers have low degree ofcomprhension, 80% ofteachers have moderate degree ofdifficulty and 69% ofteachers have low attitude to profession development. Secondly, there is no significant difference in teacher's attitude to profession development between teachers holding graduate and under graduate degree, junior and senior high school teachers, III rank and IV rank teachers and who have everjoined in training course and who have not everjoined. Thirdly, here is significant difference in degree ofcomprehention ofprofession development between teachers holding graduate and under graduate degree. Fourtly, there is no significant correlation between degree ofcomprehention and degree of difficulty with attitude to profession development. Fifthly, there is negative correlation and significant between
Peran Perguruan Tinggi Dalam Membudayakan Kewirausahaan Sukidjo .
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 1 (2002): CAKRAWALA PENDIDIKAN EDISI FEBRUARI 2002,TH XXI. NO.1
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12978.584 KB) | DOI: 10.21831/cp.v1i1.1797

Abstract

Peran Perguruan Tinggi Dalam Membudayakan Kewirausahaan
Peranan Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Mengatasi Pengangguran Terdidik Sukidjo .
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 3 (2003): Cakrawala Pendidikan edisi November 2003, Th. XXII, No. 3
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17679.379 KB) | DOI: 10.21831/cp.v3i3.1799

Abstract

Peranan Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Mengatasi Pengangguran Terdidik
STRATEGI PEMBERDAYAAN PENGENTASAN KEMISKINAN PADA PNPM MANDIRI Sukidjo Sukidjo
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 2 (2009): Cakrawala Pendidikan, Juni 2009, Th. XXVIII, No. 2
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.581 KB) | DOI: 10.21831/cp.v2i2.315

Abstract

AbstractPoverty eradication is one indicator of the success of the development attempts.Poverty is a complex and multidimensional problem. Attempts to eradicatepoverty that have been made so far are not successful because they focus only oneconomic aspects, not on empowerment and involvement of the local people byestablishing local societal institutions. Autonomous PNPM is a program toeradicate poverty that is based on empowerment through learning by (1) creatingan atmosphere accommodating values of universal humanitarianism, societalprinciples and sustainable development (2) strengthening local societal institutions,(3) strengthening potentials through funding, training, and environmentaldevelopment, and (4) protecting the certainty of the programs for the poor.Keywords: poverty, empowerment, autonomous PNPM
KOMPETENSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS GURU SMP DIY Sukidjo Sukidjo
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN OKTOBER 2014, TH. XXXIII, NO. 3
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.594 KB) | DOI: 10.21831/cp.v3i3.2381

Abstract

Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi guru SMP dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah para guru peserta kegiatan sosialisasi kurikulum 2013 oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud di Yogyakarta. Subjek penelitian adalah 55 orang guru SMP dari Kabupaten Gunung Kidul dan Sleman. Penelitian menggunakan pendekatan survei. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi, sedang analisis data menggunakan teknik kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif berupa narasi, sedang analisis kuantitatif digunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru SMP di DIY: (1) memiliki tingkat kompetensi PTK dalam kategori sedang khususnya tingkat penguasaan teoretik, kemampuan kognitif, dan kemampuan teknis: (2) tidak ada perbedaan tingkat kompetensi PTK antara guru golongan III dengan golongan IV: (3) guru yang pernah melakukan PTK memiliki kemampuan kognitif dan pengalaman yang berbeda dibandingkan guru yang belum pernah melakukan PTK; (4) tidak ada perbedaan penguasaan teoretis, kemampuan kognitif, kemampuan teknis yang disebabkan oleh masa kerja. Kata Kunci : kompetensi, penelitian tindakan kelas, guru SMP JUNIOR HIGH SCHOOL TEACHERS’ COMPETENCE IN CONDUCTING CLASSROOMACTIONRESEARCH Abstract: This study was aimed to describe the competence of junior high school teachers in conducting Classroom Action Research (CAR). The subjects were participants in the socialization of Curriculum2013 run by the Directorate of Primary and Secondary Education, Department of Education in Yogyakarta. The subjects were 55 junior high school teachers from Sleman and Gunung Kidul regencies. This study used the survey approach. The data were colllected using questionnaires and documentation. The data were analyzed using the qualitative and quantitative anlayses. The qualitative analysis was in the form of narrative, while the quantitative analysis used the t-test. The findings showed that: (1) the teachers’ competence in conducting classroom action research belonged to the fair category, especially their theoretical mastery level, their cognitive ability, and their technical ability; (2) there was no significant difference in the competence in conducting classroom action research between the third rank teachers and the fourth rank teachers; (3) teachers who had conducted classroom action research had different cognitive competences and experience from those who had not conducted classroom action research; (4) there was no significant difference in the theoretical mastery, cognitive competence, and technical ability due to working experience. Keywords: competence,Classroom Action Research
SIKAP GURU DI DIY TERHADAP PENGEMBANGAN PROFESI Sukidjo .
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 3 (2004): Cakrawala Pendidikan edisi November 2004, Th. XXIII, No.3
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v3i3.1800

Abstract

SIKAP GURU DI DIY TERHADAP PENGEMBANGAN PROFESI
MODEL PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN LOKAL SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN PENGEMBANGAN USAHA Sukidjo .; Ali Muhson
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 3 (2012): Cakrawala Pendidikan edisi November 2012, Th. XXXI, No. 3
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.423 KB) | DOI: 10.21831/cp.v0i3.4186

Abstract

Abstrak: Model Pemberdayaan Kelembagaan Lokal Sebagai Wahana Pendidikan Pengembangan Usaha. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui : (1) permasalahan yang dihadapi kelompok usaha warga miskin dalam mengembangkan usaha; (2) kegiatan pemberdayaan yang dilakukan Tim Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) terhadap lembaga lokal; (3) kegiatan pemberdayaan yang dilakukan lembaga lokal terhadap kelompok usaha dalam mengembangkan usaha. Penelitian ini merupakan RD, dilakukan di Provinsi Yogyakarta. Penentuan sampel dilakukan secara random. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, interview dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisis data digunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan analisis data diperoleh simpulan : (1) permasalahan utama yang dihadapi kelompok usaha warga miskin adalah kekurangan modal kerja, bahan baku dan pemasaran; (2) Kegiatan pemberdayaan yang dilakukan Tim KMW kepada lembaga lokal berupa pelatihan dan pendampingan; (3) kegiatan pemberdayaan yang dilakukan lembaga lokal terhadap kelompok usaha berupa pelatihan, bimbingan, pendampingan melalui program pinjaman bergulir, pelatihan keterampilan dan pembangunan permukiman dan lingkungan. Kata Kunci: pemberdayaan dan pengembangan usaha Abstract : Local Institutional Empowerment Model As A Educational for Bisnis Development. The objective of this study were to identify : (1) the problem facing the poor in developing their business; (2) empowerment activities that was undertaken by Regional Management Consultant Team towards local institution; (3) empowerment activities that was undertaken by local institution toward business groups in order to developing their business activity. This study was R D, and undertaken in Yogyakarta Province. Samples were randomly selected. Data were obtained through questionnaire, interview, and documentation. Data analysis used descriptive qualitative analysis. Conclusion of this study were : (1) the main problem faced by business group of the poor is lack of capital, raw materials, and marketing; (2) empowerment activities that was undertaken by Regional Management Consultant Team towards local institution were training and mentoring; (3)empowerment activities that was undertaken by local institution toward business groups in order to developing their business activity were training, guidance, assistance through revolving loan program, skills training, and development of settlement and environment Keywords : empowerment and bisnis development
Resensi Buku: Mewirausahakan Birokrasi: Mentransformasikan Semangat Wirausaha ke Dalam Sektor Publik Sukidjo .
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 2 (2002): Cakrawala Pendidikan edisi Juni 2002, Th. XXI, No. 2
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7155.085 KB) | DOI: 10.21831/cp.v2i2.1798

Abstract

Resensi Buku: Mewirausahakan Birokrasi: Mentransformasikan Semangat Wirausaha ke Dalam Sektor Publik
UPAYA PENGEMBANGAN EKONOMI PEDESAAN Sukidjo Sukidjo
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 2,1995,TH.XIX
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v2i2.9178

Abstract

Menurut Sakemas 1976.81% penduduk Indonesia tinggal didacrah pedcsaan. Kegiatan ekonomi pedcsaan pada dasamya meru~pakan kehidupan ya~g seadanya yang mengolah dan memanfaatkansumber daya alam s-etempat."Kegiatan ekonomi y'ang dilakukan didaerah pcdcsaan masih bbrsifat tradisional, dengan skala usaha yangkccil dan subsisten.·D3:~_rah pedy~aan memiliki sumbe~ daya alampotensial yang relatif Q,any~k, ~enaga kerja yang b.anyak Jan murah.Tersedianya sumber daya'alit"in yang banyak serta tenaga kerja yangmurah merupakan faktor:yang sangat meriguntungkan bagi perkembanganekonomi dacrnh ,yang1bersangkutan. Ter~edianya jumlahpenduduk yang ba,O).'ak ,mcrupakan pas~r potensial. Namun dcmikian.perkembangan ckon~mi pedesaan dirasakan masih sangat lambat,walaupun telah tersCdta beroagai sarana dan prasarana perhubungandan komunikasi. Jika dibandingkan dengan perkembangan ekonomiperkolaan, perkembangan ekonomi ped~aan terti·nggalj~uh. Adanyaperbedaal).; l~~ ,~rkcmbal1gan ekonom~' daera~ pedcsaan' dan. perkotaan,didu1£a~oisebabkan''oleh hcbe~apa faktor. Di satu pihak, didacrah prlrko~aah;'lebih: berkembangi ktkuatan "spread'effect" dansebalikny.a: kekuatan "bad:wash: effect" l~ih: berkembang di'daerahpedcsaan. Di !ai~Ri~~k, dis,e1?abkan kura~g:ny,a.kese~pa~n"Jllasyara":kat pedesaap Ul1,tu~,~C?q?artis~pasidalam pe~bangunan karena kurangnyapengusaha:atnlS"~et'prodtlksi. teiidahnyll nilili tukar komo'ditiserta rendahnya sumber' claya 'manusia di ·pcdesaan. Keadaan; ini jikadibiarkan akan menga~iba~kan ketida:~::lJ)era~aanekonomiregionalataupun gap antsra pc:rIs-~J:tl,bjl~gan ekonomi_,p~rko~an da~p~,esaanakan serria~in Jesar. Olel). ~ebab itu, ekoriomi pedesaan p'erlu lebihdikembangkan 'dan' ditiiigldltka'o' agar'd-a~at'm~'mperkeCil:'gap antaraperkembangan'ekonomi koU! dan d«sa. sehingga mengalimya modalke kola danutpjlnisasi dapat dikurangj.. Untuk itu, diperluka,n. kebijaksanaany,~ng !Ue~~a:sar untuk meni,ngkatka,n pemilikan asset"", , I.,·" -'. . ~ , . ' ' •• '. , . produksi m:~'sya.rakat ped~~an';'pe~ingkatan peml1ikan sumb,?r dayamanusia, penij:igkatan:pci:manfaatari ~Ieknologi. memherikan bantuan'pcmasaran dan PCfflga4~n. 'bahan baJeu'/ierta menciptakan pus,at-pusatpertumb~han.