Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PENGELOLAAN PRODUKSI TAS GONI DAN KESENIAN KARINDING PADA ORGANISASI MASYARAKAT BARAYA SOREANG DI KABUPATEN BANDUNG Nani Sunarni; Asep Yusup Hudayat
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 2, No 2 (2021): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v2i2.33534

Abstract

"Baraya Soreang" merupakan organisasi yang beranggotakan para mantan gank motor yang berkantor pusat di wilayah Soreang Kabupaten Bandung. Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah pemberdayaan dan peningkatan kreativitas di bidang seni yang telah mereka jalankan. Kreativitas yang telah mitra hasilkan di antaranya adalah produksi tas goni dan karinding. Kecintaannya pada budaya Sunda dilatarbelakangi oleh keinsyafannya untuk kembali kepada lingkungan normatifnya. Potensi kecintaan mereka terhadap budaya Sunda dan kreativitasnya perlu diapresiasi secara baik guna menumbuhkembangkan kesadaran-kesadaran yang kontributif bagi terciptanya harmonisasi baik terhadap lingkungan fisiknya, sosial, maupun lingkungan budayanya. Hasil dari kegiatan ini berorientasi kepada peningkatan pemahaman budaya Sunda, terutama menyangkut nilai-nilai filosofis, nilai-nilai estetika, dan nilai-nilai pragmatis sehingga dihasilkan design-design gambar untuk produk tas goni dan karinding. Adapun pada tahap kegiatan produksi telah dihasilkan tas goni dengan aneka model dan motif serta karinding untuk pengguna pemula dan tingkat mahir.  Kata kunci: Baraya Soreang,tas goni, karinding, kreativitas
PENGGAMBARAN SOSOK BAPAK DALAM NOVEL IL A JAMAIS TUÉ PERSONNE, MON PAPA KARYA JEAN-LOUIS FOURNIER Endah Istiqomah Apriliani; Aquarini Priyatna Prabasmoro; Asep Yusup Hudayat
Humaniora Vol 25, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.801 KB) | DOI: 10.22146/jh.3541

Abstract

This study aims to examine the representation of father domination and the role of autobiographical fiction in resisting the father domination. This study attempts to address two issues: 1) The representation of name-of-the-father domination in a novel, and 2) the narrative resistance to the domination through autobiographical fiction in a novel. The novel used as research as research here is Jean-Louis Fournier’s Il A Jamais Tué Personne, Mon Papa. The analysis is using qualitative descriptive technique. The novel was analyzed using Lacanian psychoanalysis regarding the notion of name-of-the-father, Bourdieu’s theory of domination, and Austin’s autobiographical fiction concept. The study found that 1) there is the domination of name-of-the-father on Jean-Louis Fournier (the ‘I’ figure, narrator, and the author), and 2) the resistance towards the domination is showed through autobiographical fiction genre.
THE "CLASS" DISSENSION OF COLONIAL PERIOD IN SUNDANESE NOVELS: REVIEW OF IDENTITY POLITICS Asep Yusup Hudayat
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.33131

Abstract

The culture of feudalism and democracy in the Dutch East Indies agreed to oppose one another. The intersection of the two cultures is the perspective of indigenous and colonial identity which ultimately demands a struggle to demand its "class" rights. The struggle for narratives of power was inevitable. The first Sundanese novel Baruang ka nu Ngarora “Poison for the Youth” (1914) by D.K. Ardiwinata and Gogoda ka nu Ngarora “Temptations for the Youth”(1951) as a novel response from M.A. Salmun has shown these oppositional phenomena. This study aims to trace the struggle for narration that has implications for identity politics in the Dutch East Indies colonial period. The method used in this study is descriptive analysis from the perspective of postcolonial studies. From a postcolonial perspective, literary works have become an important means for tracking colonialism practices where the narratives of dominant and defensive forces are nested. The results of the analysis show that the narrative of class disagreement in Gogoda ka nu Ngarora is used as a motive for empowering the spirit of democracy, in Baruang ka nu Ngarora, is used as a motive for the assertion of partiality towards feudal culture. Through the spirit of democracy, the struggle for identity politics was built by M.A. Salmun in Gogoda ka nu Ngarora to rejects feudal ideologies. Through a feudal spirit, identity politics was built D.K. Ardiwinata in Baruang ka nu Ngarora to establishing class identity.Keywords: identity politics, class, native, colonialPERTENTANGAN "KELAS" PADA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL SUNDA: TINJAUAN POLITIK IDENTITASAbstrak Budaya feodalisme dan budaya demokratis pada masa kolonial Hindia Belanda seringkali menunjukkan pertentangan satu dengan lainnya. Persinggungan kedua budaya tersebut dipengaruhi sudut pandang tentang identitas pribumi dan kolonial yang akhirnya memicu perjuangan menuntut hak-hak "kelas"-nya. Perebutan narasi kekuasaan pun tidak dapat dihindarkan. Novel Sunda pertama Baruang ka nu Ngarora (1914) karangan D.K. Ardiwinata dan novel sambutannya Gogoda ka nu Ngarora (1951) karangan M.A. Salmun telah menunjukkan fenomena-fenomena pertentangannya tersebut. Studi ini bertujuan menjejak perebutan narasi yang berimplikasi kepada upaya politik identitas pada masa kolonial Hindia Belanda. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif analisis dalam perspektif studi postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial, karya sastra menjadi sarana penting untuk menjejak praktik kolonialisme tempat bersarangnya narasi-narasi kekuasaan dominan dan perlawanannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi pertentangan kelas dalam Gogoda ka nu Ngarora digunakan sebagai motif pemberdayaan semangat demokrasi, dalam Baruang ka nu Ngarora digunakan sebagai motif penegas keberpihakan terhadap budaya feodal. Melalui semangat demokrasi, upaya politik identitas dibangun M.A. Salmun dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menolak ideologi-ideologi feodal. Melalui semangat feodal, politik identitas dibangun D.K. Ardiwinata dalam Baruang ka nu Ngarora untuk mengukuhkan identitas kelas.Kata kunci: politik identitas, kelas, pribumi, kolonial
LOKALITAS DAN KECERDASAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Asep Yusup Hudayat
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap suku bangsa memiliki nilai-nilai kerifan lokal yang terkandung di setiap sendi kehidupan tradisonalnya. Penerapan nilainilai kearifan di era global tentu menjadi sangat penting dalam upaya memperkuat karakter bangsa.  Nilai-nilai kearifan lokal  menyangkut silih asah, silih asih, dan silih asuh yang merupakan warisan kecerdasan budaya leluhur bangsa Indonesia akan menempati fungsi nyatanya dalam geliat globalisasi. Menyangkut penerapan nilai yang dimaksud, kecerdasan budaya „cultural intelligence‟ menjadi penting untuk diberdayakan dalam pengajaran bahasa dan sastra yang dimungkinkan peserta didiknya berlatar belakang budaya heterogen sehingga penerapan pembelajaran berbasis kecerdasan budaya menjadi sangat penting. Makalah ini memusatkan perhatian kepada penjejakan andil nilai-nilai kearifan lokal berbasis kecerdasan budaya dalam pembentukan karakter peserta didik. Tujuan utama makalah ini adalah memetakan secara konseptual makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilai-nilai kearifan lokal untuk menakar identitas bangsa. Menurut Barker (2005: 15)  identitas itu diciptakan dan bukan ditemukan dan terbentuk dari representasirepresentasinya. Dengan demikian, identitas kebangsan yang dapat dijejak melalui nilai-nilai kearifan lokal pun berada dalam kapasitas pengkonstruksiannya secara kultural. Identitas pun terbentuk melalui representasi-representasinya. Metode yang digunakan dalam kepentingan menjejak andil nilai-nilai kearifan lokal tersebut adalah metode dialektika. Hasil yang diharapkan dari makalah ini adalah pemetaan makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilainilai kearifan lokal melalui ekspresi dan sumber-sumber maknanya. Kata Kunci: lokalitas, kecerdasan budaya, identitas, pendidikan karakter 
LOKALITAS DAN KECERDASAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Asep Yusup Hudayat
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Setiap suku bangsa memiliki nilai-nilai kerifan lokal yang terkandung di setiap sendi kehidupan tradisonalnya. Penerapan nilai-nilai kearifan di era global tentu menjadi sangat penting dalam upaya memperkuat karakter bangsa. Nilai-nilai kearifan lokal menyangkut silih asah, silih asih, dan silih asuh yang merupakan warisan kecerdasan budaya leluhur bangsa Indonesia akan menempati fungsi nyatanya dalam geliat globalisasi. Menyangkut penerapan nilai yang dimaksud, kecerdasan budaya ‘cultural intelligence’ menjadi penting untuk diberdayakan dalam pengajaran bahasa dan sastra yang dimungkinkan peserta didiknya berlatar belakang budaya heterogen sehingga penerapan pembelajaran berbasis kecerdasan budaya menjadi sangat penting. Makalah ini memusatkan perhatian kepada penjejakan andil nilai-nilai kearifan lokal berbasis kecerdasan budaya dalam pembentukan karakter peserta didik. Tujuan utama makalah ini adalah memetakan secara konseptual makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilai-nilai kearifan lokal untuk menakar identitas bangsa. Menurut Barker (2005: 15) identitas itu diciptakan dan bukan ditemukan dan terbentuk dari representasi-representasinya. Dengan demikian, identitas kebangsan yang dapat dijejak melalui nilai-nilai kearifan lokal pun berada dalam kapasitas pengkonstruksiannya secara kultural. Identitas pun terbentuk melalui representasi-representasinya. Metode yang digunakan dalam kepentingan menjejak andil nilai-nilai kearifan lokal tersebut adalah metode dialektika. Hasil yang diharapkan dari makalah ini adalah pemetaan makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilai-nilai kearifan lokal melalui ekspresi dan sumber-sumber maknanya. Kata-kata Kunci: lokalitas, kecerdasan budaya, identitas, pendidikan karakter
Perempuan, Alam, Siluman, dan Tabu dalam Novel Burak Siluman Karya Moh. Ambri: Tinjauan Realisme Magis Asep Yusup Hudayat
Tsaqofah Vol. 19 No. 02 (2021): December 2021
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v19i02.5482

Abstract

Women, nature, ghost, and taboo are the main discourses related to magical realism in “Burak Siluman”, a novel by Moh. Ambri. In Burak Siluman, women (the main sign) were connected to the discourse of nature, ghost, and taboo. In it, women represent the suppressed desires of the lower class for wealth, position, honor wrapped in narratives of fascination, search, wandering, misfortune, and a curse. Discourses on the supernatural, half-ghost, and taboo legends in the novel are important traditional realities that are studied and seen by the workings of the concepts of magical realism in the colonial period of the Dutch East Indies. The main problem is: how does the concept of magical realism affect the construction of the world (physical and supernatural), especially related to ghost and taboo narratives in “Burak Siluman”. Thus, the main objective of this research is the interaction of the influence of magical realism on narratives construction related to women, nature, ghost, and taboo. To resolve the issue, the concept of contemporary magical realism is used from a postcolonial perspective. The results of this study is the placement of the "between" space (magic in rational) which is represented in the wandering figure is the core idea of ​​magical realism in “Burak Siluman”.
PERJUANGAN PEREMPUAN SANTANA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL GOGODA KA NU NGARORA KARYA M.A. SALMUN Asep Yusup Hudayat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3536

Abstract

Artikel ini mengungkap perjuangan perempuan santana (kelas menengah) pada masa kolonial yang direpresentasikan dalam novel Gogoda ka nu Ngarora karya M.A. Salmun. Perjuangan perempuan santana  tidak saja melekat kepada upaya pembebasan diri dari banyak kungkungan patriarki tetapi juga ditunjukkan melalui cara perempuan santana menempatkan diri sebagai subjek yang “belajar” dari budaya kolonial. Budaya kolonial diterima perempuan santana untuk mengembangkan wawasannya, juga dijadikan sebagai sumber-sumber peniruan. Gogoda ka nu Ngarora “Godaan bagi Kaula Muda” karya M.A. Salmun yang berkisah tentang kaum pribumi pada tahun 1870-an hingga 1880-an merepresentasikan perjuangan perempuan santana dalam kungkungan feodalisme melalui penerimaan atas modernitas yang dibawa pihak kolonial. Cara-cara penerimaan perempuan santana yang dipicu kesadaran untuk menuntut hak-haknya dalam semangat demokrasi menjadi penting untuk dijejak berdasarkan perspektif postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial, Bhaba (dalam Loomba, 2003: 229-236) menyebutkan bahwa wacana kolonial mendorong subjek terjajah untuk 'meniru' penjajah, dengan mengadopsi budaya, kebiasaan, asumsi, dan nilai-nilai yang hasilnya tidak pernah sederhana menyangkut reproduksi sifat-sifat. Tiruannya bersifat kabur dan tidak pernah jauh dari ejekan atau parodi dalam ketidakpastian kontrol perilaku terjajah (pribumi) dalam dominasi kolonial. Dengan demikian, masalah pokok yang akan dijawab dalam penelitian  ini  adalah bagaimana perempuan santana mengadopsi dan mengekspresikan kebudayaan kolonial dalam kepentingan perjuangan menuntut hak-haknya melalui pengungkapan praktik mimikri yang dilakukan perempuan santana pribumi secara dialektis. Hasil penelitian ini adalah perempuan santana ditempatkan dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menyangkal dan menggugat  kesewenangan kaum ménak. Adapun kaum ménak yang dilemahkan adalah bentuk pembelaan Salmun terhadap santana dan cacah. Semangat meruntuhkan penindasan kaum ménak dilakukan perempuan santana melalui mimikri yang mengarah kepada tindakan mengolok-olok kaum ménak sekaligus untuk menggangu otoritas utama, yaitu kolonial. Kata kunci: perempuan, kelas menengah, mimikri, kolonial  AbstractThis article aims to describe the ‘santana’ (middle class) women's struggle during the colonial period as represented in the novel “Gogoda ka nu Ngarora” by M.A. Salmun. The ‘santana’ women's struggle was related to efforts to free themselves from many patriarchal confinements. This is also shown by the way that ‘santana’ women positioned themselves as subjects who "learned" from colonial culture. The colonial culture was accepted by ‘santana’ women in developing their horizons, also colonial culture was used as sources of imitation. “Gogoda ka nu Ngarora” "Temptation for Youths" by M.A. Salmun, which tells the story of the natives from the 1870s to 1880s, represents the struggle of ‘santana’ women in the confines of feudalism through acceptance of modernity brought by the colonial side. The ways of accepting ‘santana’ women which are triggered by awareness to demand their rights in the spirit of democracy are important to be traced based on a post-colonial perspective. Based on a post-colonial perspective, Homi Bhabha (in Loomba, 2003: 229-236) states that colonial discourse encourages colonized subjects to 'imitate' the colonizer, by adopting culture, habits, assumptions, and values whose results are never simple regarding the reproduction of traits. Its imitation is vague and is never far from ridicule or parody of the uncertainty of control over the behavior of the colonized (natives) in colonial domination. Thus, the main problem that will be answered in this article is how ‘santana’ women adopted and expressed colonial culture in the interests of struggling to claim their rights through dialectical disclosure of mimicry practices carried out by indigenous ‘santana’ women. The result of this research is that ‘santana’ women are placed in “Gogoda ka nu Ngarora” to deny and sue the abuses of men. As for the people who are weakened, they are defending M.A. Salmun for ‘santana’ and ‘cacah’ (low class). The spirit of overthrowing the oppression of the aristocracy was carried out by ‘santana’ women through mimicry which resulted in the act of mocking the aristocracy as well as disturbing the main authority, namely the colonial. Keywords: women, middle class, mimicry, colonial
LANDSCAPE AND THE SILENCE OF COLONIALISM NARRATIVE IN THE FIRST SUNDANESE NOVEL (1914) Asep Yusup Hudayat; Lina Meilinawati; Teddi Muhtadin
Prosiding Seminar Nasional dan Internasional HISKI 2020: 29TH INTERNATIONAL CONFERENCE ON LITERATURE AND HISKI 36TH ANNIVERSARY IN GORONTALO 2020 (Lite
Publisher : Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/psni.v0i0.56

Abstract

The landscape (nature and domestic space) in the first Sundanese novel (1914) Baruang ka nu Ngarora” Poison for the Youth”, which was published during the colonial period of the Dutch East Indies, can be interpreted as ambiguous, which has the potential to show a palimpsest. The reasons are (1) the landscape (especially nature) in the novel has an atmosphere of silence, (2) the atmosphere cannot be interpreted as peaceful, but how the problems surrounding the practice of colonialism are likely to be hidden, diverted, or even interpreted, and (3) the landscape has the potential as a layered text based on memory traces inherent in narratives about the changing natural landscapes and domestic space. Thus, this study aims to uncover the potential of landscapes as areas of hiding, diversifying, and suppressing the narratives of colonialism. The approach used for this purpose is postcolonial. From a postcolonial perspective, Loomba (2003: 92-93) states that literature is also an important means of taking, reversing, or opposing the dominant colonial means and ideologies. This study also uses the palimpsest concept to show the overlapping phenomenon of pre-colonial and colonial narratives in the natural landscape and domestic space, which indicates the hidden narrative of colonialism behind this background. The result of this research is the silence of the narrative of colonialism in the background of natural landscapes and domestic space which is constructed as hiding and transferring of colonialism narratives.
KESENYAPAN NARASI KOLONIALISME DALAM NOVEL-NOVEL SUNDA RENTANG 1914—1940: WACANA MENGINGAT DAN MELUPAKAN (The Silent of Colonialism Narratives in Sundanese Novels Circa 1914—1940: Memory Discourse about Remembering and Forgetting) Hudayat, Asep Yusup; Rahayu, Lina Meilinawati; Muhtadin, Teddi A.N.
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4402

Abstract

In the early 20th century circa 1914–1940 were Sundanese novels almost "silent" from the colonialism narratives. This condition shows that memories were forgotten, suppressed, ignored, or even omitted in literary works because of the domination of the Dutch East Indies. However, the colonial traces can be revealed through how the narratives are constructed and presented. Through their works, the authors (from the middle class and educated) told about social reality and themselves in the challenges of social change in the early 20th century. This paper aims to reveal the memory selection process of Sundanese novelists in the early 20th century in producing their works under the dominant forces influences: feudal and colonial. The data analysis techniques were as follows, (a) data instrumens: narrative tools, special expressions, projection, and contruction (b) describing the data instrumens, (c) interpreting the data, (d) conclusions. The analysis results are: (1) the authors positioning (as teachers, natives, and employees of the Balai Pustaka) had an affects on the memories selections that were used to constructing narratives about domination and power, (2) the narratives of colonialism memories in five novels are built in three ways: suppressed, diverted, and even erased, (3) The voices behind the colonialism-narratives silent are expressed through the metaphorical traces of power, the pre-colonial and colonial memories as background, and indigenous marginal discourse. Pada awal abad ke-20 sekitar tahun 1914—1940 novel-novel Sunda nyaris “diam” dari narasi kolonialisme. Kondisi ini menunjukkan bahwa ingatan dilupakan, ditekan, diabaikan, atau bahkan dihilangkan dalam karya sastra karena dominasi Hindia Belanda. Namun, jejak kolonial dapat terungkap melalui bagaimana narasi dibangun dan disajikan. Melalui karya-karyanya, para pengarang (dari kelas menengah dan terpelajar) bercerita tentang realitas sosial dan diri mereka sendiri dalam tantangan perubahan sosial di awal abad ke-20. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap proses seleksi ingatan para novelis Sunda di awal abad 20 dalam menghasilkan karya-karyanya di bawah pengaruh kekuatan dominan: feodal dan kolonial. Teknik analisis data adalah sebagai berikut, (a) instrumen data: alat naratif, ungkapan khusus, proyeksi, dan konstruksi (b) mendeskripsikan instrumen data, (c) menafsirkan data, (d) kesimpulan. Hasil analisis adalah: (1) positioning pengarang (sebagai guru, pribumi, dan pegawai Balai Pustaka) berpengaruh terhadap pemilihan memori yang digunakan untuk mengkonstruksi narasi tentang dominasi dan kekuasaan, (2) narasi memori kolonialisme dalam lima novel dibangun melalui tiga cara: ditekan, dialihkan, dan bahkan dihapus, (3) suara-suara di balik narasi-narasi kolonialisme diekspresikan melalui jejak metaforis kekuasaan, kenangan pra-kolonial dan kolonial sebagai latar, dan marginalisasi pribumi.
MÉNAK KAJAJADÉN DALAM WACANA ESTETIS: MÉNAK KAJAJADÉN DALAM WACANA ESTETIS Hudayat, Asep Yusup
KABUYUTAN Vol 2 No 2 (2023): Kabuyutan, Juli 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i2.169

Abstract

Hubungan oposisional ménak-cacah dalam karya sastra Sunda kerap memberi celah khusus sehingga efek estetisnya diterima secara khusus pula. Cerita pendek “Haturan Nunung Rajainten” karya Tjaraka menjadi contoh untuk melihat fenomena tersebut. Rosidi telah menilai carpon tersebut sebagai karya yang paling aneh dan karya terbaik dibandingkan dengan karya-karya Tjaraka lainnya yang dikumpulkan dalam buku Awéwé Dulang Tinandé. Terkait penilaian tersebut, Rosidi telah mengambil bagian untuk melihat cerita pendek tersebut dari perspektif estetika resepsi. Namun demikian, Rosidi hanya menunjukkan sepintas terkait penilaiannya, padahal realitas terkait hubungan oposisional ménak-cacah dalam bingkai feodal dan kolonial pada cerita pendek tersebut perlu ditelaah secara memadai untuk penunjukkan proses tanggapannya. Karya Tjaraka tersebut perlu dijejak untuk melihat cara pengarang memahami dan memotret realitas, terutama terkait hubungan oposisional. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan mengungkap cara realitas terkait hubungan oposisional disajikan dalam cerita pendek “Haturan Nunung Rajainten” karya Tjaraka. Untuk tujuan tersebut, teori respons estetik digunakan dalam penelitian ini. Teori tersebut digunakan untuk menunjukkan proses pembacaan terkait efek estetik yang dihasilkan dari karya yang diteliti. Metode purposive digunakan untuk menjaring data yang telah disediakan instrumen dan variabelnya. Pengolahan dan analisis data diarahkan secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan oposisional ménak-cacah mengukuhkan posisi ménak yang tidak bisa ditembus cacah. Harapan pria cacah atas perempuan ménak dinarasikan melalui teknik epistolari. Teknik tersebut mengantarkan cerita pendek “Haturan Nunung Rajainten” berdampak lebih secara estetik.