I Made Siaka
Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana, Bali, Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

SPESIASI DAN BIOAVAILABILITAS LOGAM BERAT Pb DAN Cu PADA SEDIMET LAUT DI KAWASAN PANTAI CELUKAN BAWANG I Made Siaka; Dwinda Safitri; Oka Ratnayani
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 10 No 2 (2022): Cakra Kimia (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry)
Publisher : Graduate Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Karakteristik logam berat pada organisme dan sistem ekologis tidak dapat diterangkan hanya dengan mengetahui kandungan logam total dalam perairan, melainkan dengan penentuan bentuk geokimia atau spesies logam tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesiasi dan bioavailabilitas logam berat Pb dan Cu pada sedimen di Kawasan Pantai Celukan BawangBuleleng, Bali. Analisis logam total, spesiasi dan bioavailabilitas ditentukan dengan menerapkan metode digesti dan ekstraksi bertahap. Kandungan logam Pb dan Cu totaldalam sedimen Pantai Celukan Bawang berturut-turut17,2865-39,4533 mg/kg dan 12,9665-56,1346 mg/kg. Spesies logam Pb paling banyak berada sebagaifraksi resistant (29,75-67,10%), diikuti oleh fraksi tereduksi asam (22,45-31,67%), fraksi EFLE (easily, freely, leachable, exchangeable) dengan kisaran dari tidak terdeteksi (ND) hingga 29,33%, dan yang terendahberasosiasi dengan fraksi teroksidasi organik (ND-14,18%). Spesies logam Cu juga didominasi olehfraksi resistant(80,52-90,22%), fraksi teroksidasi organik(4,81-17,20%) berada pada urutan ke dua, diikuti oleh fraksi EFLE (0,88-5,83%), dan terrendahadalah fraksi tereduksi asam (ND-1,14%). Bioavailabilitas logam Pb yang sertamerta bioavailabelberkisar ND-29,33% dan yang berpotensi bioavailabel adalah 33,35-42,78%,sedangkan logam Pb yang nonbioavailabel adalah 29,75-67,10%. Berbeda dengan Pb, logam Cu didominasi oleh bentuk non bioavailabel yaitu berkisar 80,52-90,22%, diikuti oleh Cu yang berpotensi bioavailabel, yaitu 5,95-16,61%, dan terkecil adalah Cu yang bersifat sertamerta bioavailabel (0,88-5,83%). ABSTRACT: The characteristics of heavy metals in organisms as well as on ecological systems cannot be explained by the only knowing total metalcontents in sediments but by determining the geochemical forms or the metal species in the sediments. This study aimed to determine the speciation and bioavailability of heavy metals, Pb and Cu in sediments of Celukan Bawang Beach area of Singaraja, Bali. The total metals, speciation and bioavailability analysiswere determined by applying a digestion and sequential extraction methods. The total metal contents of Pb and Cu in the sediments were 17.2865-39.4533mg/kg and 12.9665-56.1346 mg/kg, respectively. The species distribution of the metals in the sediments was as follows: species of Pb was dominated by the form of resistant fraction (29.75-61.10%), followed by reducible acid fraction (22.45-36.25%), EFLE fraction (easily, freely, leachable, exchangeable) ranging from undetectable (ND) to 29.33%, and the lowest percentagefraction was associated with the organic oxidizable phase (ND-14.18%). The resistant fraction was also the most dominant for Cu (80.52-90.22%), but the oxidizable fraction (4.81-17.20%) was found in the second level, followed by the EFLE fraction (0.88-5.83%), and the lowest was associated with reducible fraction (ND-1.14%). The readily bioavailable Pb ranged from 3.62 to 29.33% and potentially bioavailable Pb was 33.35-42.78%, nonbioavailable Pb was 29.75-61.10%. Different from Pb, Cu metal was dominant as non bioavailable metal (80.52-90.22%) but 0.88-5.83% of the Cu was readily bioavailableand 5.95-16.61% was potentially bioavailable.
BIOAVAILABILITAS TIMBAL (Pb) DAN TEMBAGA (Cu) DALAM TANAH PERTANIAN SERTA KANDUNGANNYA DI DALAM BIJI PADI Ni Desak Komang Ayu Hartani; I Made Siaka; I Wayan Suarsa
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 10 No 2 (2022): Cakra Kimia (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry)
Publisher : Graduate Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus pada tanah pertanian dapat menyebabkan peningkatan akumulasi logam berat dalam tanah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran, bioavailabilitas logam Pb dan Cu dalam tanah, dan kandungan logam tersebut dalam beras yang dihasilkan dari pertanian tersebut. Metode ekstraksi bertahap digunakan untuk spesiasi dan penentuan konsentrasi logamnya menggunakan instrumen AAS. Pada penelitian ini ditemukan bahwa kandungan logam total Pb dan Cu dalam tanah berturut-turut pada kisaran 58,76-70,22 mg/kg dan 66,60-72,31 mg/kg untuk tanah sebelum penanaman padi dan saat panen berkisar 65,33-78,09 mg/kg dan 71,07-82,25 mg/kg. Logam Pb dan Cu yang bioavailable pada tanah sebelum penanaman padi ditemukan paling rendah, yaitu 13,80-19,71% dan 10,82-11,69%, diikuti oleh logam non bioavailable: 35,33-38,83% dan 23,97-35,51%, dan paling tinggi adalah logam yang berpotensi bioavailable, yaitu 44,17-47,37% dan 52,98-64,62%. Akan tetapi, kandungan Pb dan Cu dalam beras berturut-turut 0.12-0,29 mg/kg dan 1,88-2,518 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian ini, tanah pertanian di Desa Kukuh, Tabanan tergolong tidak tercemar menurut nilai the former Greater London Council (GLC), yaitu <500 mg/kg untuk Pb dan <100 mg/kg untuk Cu. Begitu juga, persentase logam yang bioavailable paling rendah, sehingga dapat diprediksi bahwa tidak lebih dari 20% logam-logam tersebut terakumulasi dalam tanaman. Ini terbukti bahwa kandungan Pb dan Cu dalam beras sangat kecil dan berada di bawah ambang batas yang diperbolehkan FAO/WHO, yaitu <0,3 mg/kg untuk Pb dan <10 mg/kg untuk Cu. Dengan demikian, beras yang diproduksi dari tanah pertanian tersebut tidak tercemar logam berat dan aman untuk dikonsumsi. ABSTRACT: The use of inorganic fertilizers on agricultural soils continuously and excessively can lead to an increase in the accumulation of heavy metals in the soil. This study aimed to determine the level of contamination, the bioavailability of Pb and Cu in soil, and their contents in rice produced from agriculture. The sequential extraction method was used to determine the bioavailability of the metals. In this study, it was found that the total metals content of Pb and Cu in the soil were 58.76-70.22 mg/kg and 66.60-72.31 mg/kg for the soil before planting rice and at harvest time were 65.33-78.09 mg/kg and 71.07-82.25 mg/kg, respectively. The Pb and Cu being bioavailable in the soil before planting rice were found to be the lowest at 13.80-19.71% and 10.82-11.69%, followed by non-bioavailable metals: 35.33-38.83% and 23.97-35.51%, and the highest were the metals being potentially bioavailable: 44.17-47.37% and 52.98-64.62%. However, Pb and Cu contents in rice were 0.12-0.29 mg/kg and 1.88-2.518 mg/kg. Based on the results of this study, agricultural soil in Kukuh Village, Tabanan was classified as unpolluted according to the value of the former Greater London Council (GLC) for Pb <500 mg/kg and <100 mg/kg for Cu). Moreover, it was found that the metals content in the rice was below the maximum limit allowed by FAO/WHO (<0.3 mg/kg for Pb and <10 mg/kg for Cu). Thus, rice produced from the agricultural soil of Kukuh-Tabanan was not contaminated by heavy metals and was safe for consumption.