Junita Hardini
Program Studi Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana. Jl. Raya Kampus UNUD, Jimbaran, Kuta Selatan, 80361, Bali, Indonesia.

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Peranan FMA Glomus sp. dan Pupuk Anorganik terhadap Produktivitas Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) var. Lokal Bali Naomi Anggi Triarta; Meitini Wahyuni Proborini; Junita Hardini
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.158 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i2.60

Abstract

Produktivitas tanaman kedelai (Glycine max var. Lokal Bali) dapat ditingkatkan melalui pemupukan. Salah satu pupuk hayati yang bisa diaplikasi sebagai pendamping pupuk anorganik adalah fungi mikoriza arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan FMA Glomus sp. dan pupuk NK terhadap produktivitas tanaman kedelai lokal Bali. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Taksonomi Tumbuhan/Mikologi dan Shading house Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan Racangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yaitu (A) Tanah steril (kontrol) atau tanpa inokulasi FAM dan pupuk NK; (B) Tanah steril, 50 spora Glomus sp.; (C) Tanah steril, 50 spora Glomus sp. dan pupuk NK 5 g; (D) Tanah steril, 50 spora Glomus sp. dan pupuk NK 10 g; (E) Tanah steril, 50 spora Glomus sp. dan pupuk NK 15 g. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, berat kering tajuk, berat kering akar, jumlah polong isi dan polong hampa, berat basah dan berat kering polong, dan persentase kolonisasi FMA Glomus sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 50 butir spora Glomus sp. dan pupuk NK 5 g pada perlakuan C berperan meningkatkan produktivitas tanaman kedelai terlihat pada jumlah polong isi sebanyak 51 polong per tanaman yang berbeda nyata secara statistik dan memiliki berat kering sebesar 9,10 g, tetapi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumuhan tanaman kedelai.
Callus Induction In Leucaena (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) As An Effort To Provide Target Transformation Through Agrobacterium tumefaciens Ni Nyoman Nila Arieswari; Ida Ayu Astarini; Junita Hardini; Austin Ryan Garrido; Debora Margareth; Jennifer Crismonika; Sebastian S. Cocioba
International Journal of Biosciences and Biotechnology Vol 10 No 1 (2022): INTERNATIONAL JOURNAL OF BIOSCIENCES AND BIOTECHNOLOGY
Publisher : Central Laboratory for Genetic Resource and Molecular Biology, Faculty of Agriculture, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IJBB.2022.v10.i01.p02

Abstract

Leucaena is a plant that produces biomass productivity in the form of hardwood for fuel with low humidity and high calorific value. However, Leucaena is also classified as an invasive plant which can cause the urgency of native plant species and ecosystems in Indonesia. Therefore, the formation of sterile Leucaena needs to be done, one of which is through genetic transformation using Agrobacterium tumefaciens. Callus is used as a target for transformants in the genetic transformation process, so it is necessary to use appropriate media and PGR. This study aimed to determine the type of media and the concentration of 2,4-D on callus induction. This research is an experimental study with a completely randomized design (CRD) method with two factors. The first factor is the type of media (MS and WPM) and the second factor is the concentration of 2,4-D (0; 0.25; 0.50; 0.75; 1.00; 1.25 and 1.50 mgL-1 ). Each treatment was repeated three times so that 42 experimental units were obtained. Parameters observed were callus initiation, callus fresh weight (gram), callus texture and color. Quantitative data is analyzed by analysis of variance (ANOVA). The results showed that the use of media had a significant effect (P<0.05) on callus fresh weight. The use of 2,4- D concentration had a significant effect (P>0.05) on callus texture. The use of WPM media resulted in the fastest callus emergence time (6.67±0.57), the best callus texture (crumb callus type 2) and the best callus color (green). Meanwhile, the highest fresh weight (2,48±0.83) was in the use of MS media. The fastest callus emergence time occurred in the control (without the addition of 2,4-D) (7.33±0.57 and 6.67±0.57), the highest average fresh callus weight (2,48±0.83 and 2.35±0.32) occurred in the treatment with the addition of 1.00 mgL-1 2,4-D with a crumb callus texture of type 2 and callus green color only appeared in the treatment with a concentration of 0.25 mgL-1.
Identifikasi dan Skrining Fitokimia Jamur Endofit pada Mangrove Sonneratia alba J.E. Smith Anak Agung Putri Suci Hati; Fainmarinat Selviani Inabuy; Junita Hardini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p8

Abstract

Jamur endofit dikenal sebagai sumber alternatif senyawa bioaktif tumbuhan. Tumbuhan mangrove Sonneratia alba J.E. Smith diketahui berperan sebagai inang bagi jamur endofit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis jamur endofit pada tumbuhan S. alba dan skrining kelompok senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur endofit. Sampel diperoleh di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Pamogan, Denpasar Selatan. Pengambilan sampel berupa daun, buah, dan kulit batang tumbuhan yang sehat. Organ daun, buah, dan kulit batang S. alba diisolasi secara in vitro pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Isolat murni jamur endofit dimurnikan menurut karakteristik morfologi kemudian ditumbuhkan pada media beras. Isolat murni diidentifikasi dan dilakukan skrining fitokimia secara kolorimetri, meliputi uji alkaloid, flavonoid, dan terpenoid. Dari tujuh isolat jamur endofit diperoleh pada penelitian ini, lima isolat telah teridentifikasi yaitu Colletotrichum dan Phyllosticta dari daun. Penicillium dan Neopestalotiopsis sonneratae dari buah, dan Trichoderma harzianum dari kulit batang. Dua isolat endofit lainnya, yakni dari daun dan kulit batang belum teridentifikasi. Ketujuh isolat menghasilkan metabolit sekunder golongan alkaloid dan terpenoid.  
Identifikasi dan Skrining Fitokimia Jamur Endofit pada Mangrove Sonneratia alba J.E. Smith Anak Agung Putri Suci Hati; Fainmarinat Selviani Inabuy; Junita Hardini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p8

Abstract

Jamur endofit dikenal sebagai sumber alternatif senyawa bioaktif tumbuhan. Tumbuhan mangrove Sonneratia alba J.E. Smith diketahui berperan sebagai inang bagi jamur endofit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis jamur endofit pada tumbuhan S. alba dan skrining kelompok senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur endofit. Sampel diperoleh di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Pamogan, Denpasar Selatan. Pengambilan sampel berupa daun, buah, dan kulit batang tumbuhan yang sehat. Organ daun, buah, dan kulit batang S. alba diisolasi secara in vitro pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Isolat murni jamur endofit dimurnikan menurut karakteristik morfologi kemudian ditumbuhkan pada media beras. Isolat murni diidentifikasi dan dilakukan skrining fitokimia secara kolorimetri, meliputi uji alkaloid, flavonoid, dan terpenoid. Dari tujuh isolat jamur endofit diperoleh pada penelitian ini, lima isolat telah teridentifikasi yaitu Colletotrichum dan Phyllosticta dari daun. Penicillium dan Neopestalotiopsis sonneratae dari buah, dan Trichoderma harzianum dari kulit batang. Dua isolat endofit lainnya, yakni dari daun dan kulit batang belum teridentifikasi. Ketujuh isolat menghasilkan metabolit sekunder golongan alkaloid dan terpenoid.