Ni Luh Yulianti
Program Studi Teknik Pertanian Dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Published : 48 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Variasi Dimensi Wadah dan Lama Fermentasi Terhadap Kualitas Biji Kakao (Theabroma cacao L.) Kering Hasil Fermentasi Nyoman Arinata; Ni Luh Yulianti; Gede Arda
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.736 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p04

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi dimensi wadah dan lama fermentasi terhadap pengeringan biji kakao dari hasil fermentasi dengan dimensi wadah yang berbeda dan untuk mengetahui perlakuan terbaik dari hasil pengeringan biji kakao setelah proses fermentasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor, yaitu faktor pertama adalah dimensi wadah yang berupa kotak kayu yang terdiri dari tiga dimensi yang berbeda yaitu kotak kayu berukuran 19,5 cm x 19,5 cm x 25,5 cm dengan kapasitas biji kakao segar 5,5 kg, kotak kayu berukuran 21,5 cm x 21,5 cm x 28 cm dengan kapasitas biji kakao segar 7,5 kg, dan kotak kayu berukuran 23,5 cm x 23,5 cm x 29,5 cm dengan kapasitas biji kakao segar 9,5 kg. Faktor kedua adalah lama fermentasi, yang terdiri dari tiga taraf yaitu 5 hari, 6 hari dan 7 hari. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah suhu fermentasi, kadar air, jumlah biji per 100 gram, kadar kulit dan uji belah/ cut test yang meliputi biji tidak terfermentasi, biji setengah terfermentasi, biji terfermentasi sempurna, biji berkecambah, biji berjamur dan biji berserangga. Hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan wadah dan lama fermentasi berpengaruh terhadap suhu fermentasi, jumlah biji per 100 gram, kadar air, kadar kulit dan hasil uji belah yaitu biji tidak terfermentasi dan biji terfermentasi sempurna. Perlakuan proses fermentasi yang menggunakan dimensi wadah terbaik adalah dimensi kotak kayu berukuran 23,5 cm x 23,5 cm x 29,5 cm dengan kapasitas 9,5 kg yang difermentasikan selama 6 hari yaitu dengan suhu maksimal fermentasi yang dicapai sebesar 45,50 oC, jumlah biji per 100 gram sebesar 83, kadar air sebesar 7,4% Bb, kadar kulit sebesar 10,97%, hasil uji belah biji tidak terfermentasi 2%, biji setengah fermentasi 15%, biji terfermentasi sempurna 82% dan biji yang berjamur 0%, berkecambah 0% dan berserangga 0%. Kata kunci: kakao, dimensi wadah, lama fermentasi, pengeringan biji kakao. The purpose of this study was to determine the effect of variations in container dimensions and fermentation time on drying cocoa beans from fermented products with different container dimensions and to determine the best treatment of the results of drying cocoa beans after the fermentation process. This research uses a factorial complete random design with two factors, the first factor is the dimensions of the container in the form of a wooden box consisting of three different dimensions, namely a wooden box measuring 19.5 cm x 19.5 cm x 25.5 cm with the capacity of cocoa beans fresh 5.5 kg, wooden boxes measuring 21.5 cm x 21.5 cm x 28 cm with a capacity of fresh cocoa beans 7.5 kg, and wooden boxes measuring 23.5 cm x 23.5 cm x 29.5 cm with the capacity of fresh cocoa beans is 9.5 kg. The second factor is fermentation time, which consists of three levels, namely 5 days, 6 days and 7 days. The parameters observed in this study were fermentation temperature, water content, number of beans per 100 grams, skin content and cut test which included unfermented beans, semi-fermented beans, perfectly fermented beans, germinated beans, moldy beans and insects. The results of the research conducted showed that the treatment of the container and the fermentation time affected the fermentation temperature, the number of beans per 100 grams, moisture content, skin content and the results of the split test ie not fermented and perfectly fermented seeds. The fermentation process that uses the best container dimensions is the dimension of a wooden box measuring 23.5 cm x 23.5 cm x 29.5 cm with a capacity of 9.5 kg fermented for 6 days, with a maximum temperature of fermentation achieved at 45.50 oC , the number of beans per 100 grams is 83, water content of 7,4% Bb, the skin content is 10.97%, the test results are not fermented 2%, half fermented beans 15%, 82% fermented beans and 0% moldy beans, 0% germination and 0 insects %. Keywords: cocoa, container dimensions, fermentation time, cocoa beans drying.
Karakteristik Briket Berbahan Baku Kulit Kopi dengan Variasi Suhu dan Lama Waktu Pengarangan yang Berbeda Luh Gede Gita Gowinda Mulyana Utami; Ni Luh Yulianti; I Putu Surya Wirawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p19

Abstract

Abstrak Kulit kopi dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi alternatif yang banyak dijumpai pada sektor pertanian yang merupakan limbah biomassa. Kegiatan meneliti ini mempunyai tujuan dalam memperoleh pengaruh variasi suhu dan lama waktu pengarangan yang berbeda tehadap kualitas briket kulit kopi. Perancangan atas percobaan kegiatan meneliti ini mempergunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua (2) faktor. Faktor pertamanya yakni suhu pengarangan (S) 200°C, 250°C, dan 300°C. Faktor kedua yaitu lama waktu pengarangan (L) 30 menit, 45 menit, dan 60 menit. Kombinasi rancangan percobaan penelitian dengan 2 kali ulangan yang akan diperoleh 18 unit percobaan. Parameter yang diamati pada penelitian meliputi kadar air, kerapatan massa, kuat tekan, kadar abu, volatile matter, karbon terikat, dan laju pembakaran. Pada penelitian ini data yang didapatkan dilakukan kegiatan menganalisis melalui pengujian sidik ragam serta pengujian Duncan jika terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara suhu dan waktu pengarangan memberi pengaruhnya yang bersignifikan kepada parameter mutu briket yang diperoleh. Briket dengan suhu pengarangan yang digunakan yaitu 3000C dan lama waktu pengarangan 60 menit (S3L3) sebagai perlakuan yang menciptakan briket berkualitas terbaik. Karakteristik dari briket hasil perlakuan S3L3 ini adalah memiliki kuat tekan sebesar 235.11 kgf/cm2, kerapatan massa sebesar 0.62 g/cm3, kadar air sebesar 1.67%, dan laju pembakaran sebesar 0.012 g/menit. Abstract Coffee husks can be used as an alternative energy source which is often found in the agricultural sector as biomass waste. This research was conducted to determine the effect of different temperature variations and carbonization on the quality of coffee husk briquettes. The experimental design of this study used a factorial Randomized Block Design (RAD) with 2 (two) factors. The first factor is the cooking temperature (S) 200°C, 250°C, and 300°C. The second factor is the length of writing time (L) 30 minutes, 45 minutes, and 60 minutes. The combination of a research experiment design with 2 replications will produce 18 experimental units. Parameters observed in this study include moisture content, mass density, compressive strength, ash content, volatile matter, bound carbon, and combustion rate. In this study, the data obtained were analyzed by variance test and continued with Duncan's test if there were significant differences between treatments. The results showed that the interaction of temperature and cooking time had a significant effect on the quality parameters of the briquettes produced. The briquette treatment with the curing temperature used was 300°C and the curing time of 60 minutes (S3L3) was the treatment that produced the best quality briquettes. The characteristics of S3L3 treatment briquettes are that they have a compressive strength of 235.11 kgf/cm2, a mass density of 0.62 g/cm3, a water content of 1.67%, and a combustion rate of 0.012 g/min.
Pemanfaatan Air Kelapa Dan Asam Sitrat Sebagai Larutan Peraga Menggunakan Teknik Holding Untuk Memperpanjang Masa Kesegaran Bunga Potong Krisan (Chrysanthemum indicum L.) Tipe Spray Maria Magdalena Kristiani Mbulu; I. A. Rina Pratiwi Pudja; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.699 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi terbaik air kelapa dan asam sitrat sebagai larutan peraga untuk memperpanjang masa kesegaran bunga potong Krisan. Penelitian ini terdiri dari 25 satuan percobaan, setiap percobaan diulang 2 kali sehingga didapatkan 50 satuan percobaan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor percobaan. Faktor tersebut merupakan kombinasi dari air kelapa dan asam sitrat. Konsentrasi air kelapa yang digunakan yaitu 0%, 4%, 8%, 12% dan 16% sedangkan konsentrasi asam sitrat yang digunakan adalah 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, dan 400 ppm. Parameter yang diamati yaitu lamanya kesegaran bunga, presentase kemekaran bunga, larutan terserap dan warna bunga. Dari hasil penelitian, perlakuan terbaik adalah perlakuan konsentrasi air kelapa 4% dan asam sitrat 400 ppm dengan lama kesegaran bunga yaitu 11 hari, presentase kemekaran bunga sebesar 65,5%, total larutan terserap sebanyak 177,5 ml dengan warna bunga putih sangat pudar dan sedikit kecoklatan. This research aims to obtain the best concentration of coconut water and citric acid as a solution to extend Chrysanthemum cut flowers’ freshness period. The research is consisted of 25 experimental units, each experiment was repeated twice to gain 50 experimental units. The research uses a completely randomized design (CRD) with an experimental factor. The factor is a combination of coconut water and citric acid. The concentration of coconut water which was used 0%, 4%, 8%,12% and 16% meanwhile the concentrations of citric acid which was used 0 ppm,100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, and 400 ppm. The parameters which is measured are;the flower‘s freshness period, percentage of flower bloom, the absorbed solution and the flower’s color. Based on the results of the research, it is known that the best treatment is the concentration of coconut water 4% and citric acid 400 ppm that will gain 11 days of flowers’ freshness period, the percentage of flowers’ bloom is 65.5%, the total absorbed solution is 177.5 ml with flower’s color becoming very faded and slightly brown.
Pengaruh Kombinasi Limbah Jagung Ketan (Zea mays ceratina) dan Kotoran Sapi pada Proses Pengomposan dengan Bioaktivator Berbeda di Desa Lokasari I Gede Yoga Juni Sastrawan; I Putu Surya Wirawan; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p05

Abstract

Potensi limbah jagung ketan, kotoran sapi dan mikroorganisme lokal (MOL) yang terdapat di Desa Lokasari yang selama ini tidak dimanfaatkan secara baik, kini dengan sentuhan teknologi yang cukup sederhana dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos, dalam rangka pemanfaatan limbah pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan komposisi bahan dan jenis bioaktivator yang digunakan terhadap kualitas hasil pengomposan lalu dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-7030-2004. Bahan baku utama pada pengomposan ini yaitu limbah jagung ketan dan kotoran sapi. Bahan bioaktivator yang digunakan yaitu bonggol pisang, daun gamal, dan nasi basi dengan proses fermentasi selama 2 minggu serta ditambahkan molase dan air cucian beras. Wadah pengomposan berupa keranjang bambu berbentuk tabung dengan tinggi 40 cm dan diameter 40 cm. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dua faktor. Faktor pertama yaitu perbandingan komposisi bahan limbah jagung ketan dan kotoran sapi dengan 5 taraf perlakuan: K1 (100%:0%), K2 (75%:25%), K3 (50%:50%), K4 (25%:75%), dan K5 (0%:100%). Faktor kedua yaitu jenis bioaktivator berbeda dengan 3 taraf perlakuan: B1 (MOL bonggol pisang), B2 (MOL daun gamal), dan B3 (MOL nasi basi). Masing-masing perlakuan diulang menjadi 3 ulangan. Pada proses pengomposan, suhu dan pH diamati setiap hari selama 35 hari. Kadar air, Rendemen, C-organik, dan N-total diamati diakhir proses pengomposan. Kombinasi limbah jagung ketan dan kotoran sapi dengan jenis bioaktivator berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap suhu dan C-organik, serta berbeda nyata terhadap rendemen, N-total, dan rasio C/N. Komposisi limbah jagung ketan dan kotoran sapi K5B1 menghasilkan kompos dengan kualitas rata-rata terbaik dan sesuai SNI, yaitu pH 6,94, kadar air 36,47%, C-organik 28,87%, N-total 1,56%, dan rasio C/N 18,49%. The potential waste of glutinous corn, cow dung and local microorganisms (MOL) in Lokasari Village which has not been used properly, now with a touch of technology that is quite simple can be used as material for making compost, in the context of utilizing agricultural waste. This study aims to determine the effect of the comparison of material composition and the type of bioactivator used on the quality of the compost and then compared with the Indonesian National Standard (SNI) 19-7030-2004. The main raw materials in this composting are glutinous corn waste and cow dung. The bioactivator materials used were banana weevil, gamal leaves, and stale rice with a fermentation process for 2 weeks and added molasses and rice washing water. The composting container is a tubular bamboo basket with a height of 40 cm and a diameter of 40 cm. The method used was a two-factor factorial randomized block design (RAKF). The first factor is the comparison of the composition of glutinous corn waste and cow dung with 5 treatment levels: K1 (100%:0%), K2 (75%:25%), K3 (50%:50%), K4 (25%:75 %), and K5 (0%:100%). The second factor is different types of bioactivators with 3 treatment levels: B1 (MOL banana weevil), B2 (MOL gamal leaves), and B3 (MOL stale rice). Each treatment was repeated into 3 replications. In the composting process, temperature and pH were observed every day for 35 days. Moisture content, yield, C-organic, and N-total were observed at the end of the composting process. The combination of glutinous corn waste and cow dung with different types of bioactivators had a very significant effect on temperature and C-organic, and significantly different on yield, N-total, and C/N ratio. The composition of glutinous corn waste and K5B1 cow dung produced compost with the best average quality and according to SNI, namely pH 6.94, water content 36.47%, C-organic 28.87%, N-total 1.56%, and C/N ratio 18.49%.
PENGARUH TEKNIK BLEEDING DAN JENIS MEDIA PENDINGIN TERHADAP MUTU FILLET IKAN KAKAP PUTIH(Lates calcarifer Bloch) I Gede Widi Sedana; I Wayan Widia; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 3 No 2 (2015): Agustus
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.033 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik perdarahan dan jenis media pendingin pada kualitas fillet Barramundi (Lates calcalifer Bloch). Desain eksperimental dengan dua faktor, yaitu faktor teknik pendarahan dan faktor medium pendingin digunakan pada penelitian ini. Teknik pendarahan terdiri dari empat perawatan, yaitu tanpa perdarahan, satu luka, dua luka, dan ike-jime. Jenis faktor media pendingin terdiri dari empat perlakuan, yaitu tanpa media, air dingin, serpihan es, dan bubur es. Variabel yang diamati adalah visual, aroma, tekstur, suhu, pH, TPC, dan TVB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pendarahan dan jenis media pendingin mempengaruhi kualitas fillet Barramundi secara signifikan. Interaksi antara dua teknik pendarahan luka dan media pendingin bubur es menunjukkan hasil terbaik dengan nilai aroma, tekstur, pH, TVB, dan indikator kualitas TPC adalah 5,6 (agak segar), 7,07 (segar), 7,07 (segar), 7,34 (segar), 6,42 , 4,74 mg N / 100 g, masing-masing 4,30x10 ^ 3 koloni / g. The aimed of this research were to determine the effect of bleeding techniques and types of cooling mediumon the fillet’s quality of Barramundi (Lates calcalifer Bloch). Experimental design with two factors, namely bleeding technique factor and cooling medium factor was used on this research. Bleeding techniques consist of four treatments, i.e without bleeding, one wounded, two wounded, and ike-jime. Types of cooling medium factor consists of four treatments, i.e without media, cold water, ice flake, and ice slurry. Observed variables were visual, aroma, texture, temperature, pH, TPC, and TVB. The results showed that bleeding techniques and the types of cooling medium affected the fillet’s quality of Barramundi significantly. The interaction between two wounded bleeding technique and ice slurry cooling media showed the best result with the value of aroma,texture, pH, TVB, and TPC quality indicator was 5.6 (rather fresh), 7.07 (fresh), 7.34 (fresh), 6.42, 4.74 mg N/100 g, 4.30x10^3 colony/g, respectively.
Karakteristik Biji Kakao Hasil Fermentasi Kapasitas Kecil dengan Jenis Wadah dan Lama Fermentasi yang Berbeda Novi Adi Aryani; Ni Luh Yulianti; Gede Arda
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.096 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh variasi wadah dan lama fermentasi terhadap karakteristik biji kakao hasil fermentasi pada kapasitas kecil. 2) dan untuk mengetahui perlakuan yang menghasilkan karakteristik biji kakao terbaik setelah fermentasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah wadah yang terdiri dari tiga taraf yaitu kotak kayu, keranjang bambu dan karung plastik. Faktor kedua adalah lama fermentasi, yang terdiri dari tiga taraf yaitu 4 hari, 5 hari dan 6 hari. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi suhu fermentasi, pH luar biji kakao, pH dalam keping biji kakao, jumlah biji per 100 gram, kadar kulit, kadar air, uji belah meliputi biji tidak terfermentasi, biji setengah terfermentasi, biji terfermentasi sempurna, biji berkecambah, biji berjamur, biji berserangga. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan wadah dan lama fermentasi berpengaruh terhadap suhu fermentasi, pH luar biji kakao, pH dalam keping biji kakao, jumlah biji per 100 gram, kadar kulit, kadar air, hasil uji belah yaitu biji tidak terfermentasi dan biji terfermentasi sempurna. Perlakuan biji kakao yang difermentasikan dalam kotak kayu berukuran 25,5 cm x 25,5 cm x 30,5 cm dengan kapasitas 7,5 kg yang difermentasikan selama 6 hari merupakan kombinasi perlakuan yang menghasilkan karakteristik biji kakao terbaik yaitu dengan suhu maksimal fermentasi yang dapat dicapai sebesar 45,45oC, pH luar biji kakao segar sebesar 6,40, pH dalam keping biji kakao segar sebesar 4,10, jumlah biji per 100 gram sebesar 87,5, kadar kulit sebesar 10,95%, kadar air sebesar 7,3% bb, hasil uji belah yaitu biji tidak terfermentasi 0%, biji setengah terfermentasi 8%, biji terfermentasi sempurna 92%, berjamur 0%, berkecambah 0% dan berserangga 0%. This study is aimed at 1) knowing the effect of container variation and fermentation time to the characteristics of fermented cocoa beans in small capacity. 2) and knowing the treatment that produces the best cocoa beans characteristics after fermentation. The factorial randomized block design with two factors is used in this study. The first factor is a container type consisting of three levels, namely wooden box, bamboo basket, and plastic sack. The second factor is the fermentation length which consists of three levels; they are 4 days, 5 days, and 6 days. The parameters observed in this study are fermentation temperature, external cocoa bean pH, internal cocoa bean pH, number of beans per 100 grams, skin content, water content, split test including unfermented beans, underfermented beans, fermented beans, germinating beans, moldy beans, and beans that contain insect. The results showed that container treatment and fermentation time had an effect on the fermentation temperature, external cocoa bean pH, internal cocoa bean pH, number of beans per 100 grams, skin content, and water content, split test result that is unfermented beans and fermented beans. Furthermore, the treatment of fermented cocoa beans in a wooden box measuring 25.5 cm x 25.5 cm x 30.5 cm with 7.5 kg capacity fermented during 6 days is a combination of treatments that produce the best characteristics of cocoa beans with maximum temperature fermentation that can be achieved at 45.45oC, external cocoa bean pH at 6.40, internal cocoa bean pH 4.10, number of beans per 100 grams content of 87,5, skin content of 10.95%, water content of 7,3% bb, split test including unfermented beans 0%, underfermented beans 8%, fermented beans 92%, germinating beans 0%, moldy beans 0%, and beans that contain insect 0%.
Pengaruh Larutan Disinfektan dan Pengemasan Atmosfer Termodifikasi Menggunakan Film Plastik Terperforasi Terhadap Susust Bobot dan Mutu Buah Cabai Merah Besar (Capsicum annuum L.) Selama Penyimpanan Gede Oka Mandana; I Made Supartha Utama; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 1 No 1 (2013): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.941 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan jenis larutan disinfektan sebagai bahan pencuci dan perbedaan persentase perforasi kemasan film plastik polyprophylene (PP) yang mampu memperlambat kemunduran mutu buah caber merah besar selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis larutan disinfektan dengan tiga taraf perlakuan yaitu; tanpa disinfektan (Do), perendaman dalam 200 ppm larutan potassium sorbat (Ds) dan perendaman dalam 300 ppm larutan klorin (Dk). Faktor kedua adalah persentase perforasi kemasan dengan empat taraf perlakuan yaitu; 0% perforasi (Po), 0.3% perforasi (P0.3), 1.0% perforasi (P1.0) dan 3.0% perforasi (P3.0). Penelitian ini menggunakan jenis plastik polypropylene berukuran 30 cm x 20 cm dengan ketebalan 0.06 mm. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali dengan 280-300 gr buah untuk setiap unit percobaan. Sebagai pembanding disiapkan kontrol yaitu buah cabai merah besar tanpa perlakuan disinfektan dan pengemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman di dalam 300 ppm klorin dengan perforasi kemasan sebesar 3% (DkP3) secara signifikan mampu menekan susut bobot dan tingkat pembusukan pada buah cabe merah besar dibandingkan perlakuan lainnya dan kontrol. The aim of this research was to determine the type of disinfectant solution to wash the large-red chili fruit and the percentage of perforation plastic film packaging polypropylene perforation (PP) which are able to decelerate the quality deterioration of the chili fruit during storage. This research used a completely randomized with two factors of treatments. The first factor was isinfectant solution with three stage treatments which is consisted of three different treatments, namely without treatment of disinfectants (Do), submersion in 200 ppm solution of potassium sorbate (Ds) and submersion in 300 ppm chlorine solution (Dk). The second factor was the percentage of perforation of plastic film packaging with four different levels of treatments, namely without perforation (Po), with 0.3% perforation (P0.3), with 1.0% perforation (P1.0) and with 3.0% perforations (P3.0). The experiment used a plastic film type of polypropylene with dimension of 30 cm x 20 cm and 0.06 mm thickness. Each treatment was repeated three times with 280 – 300 g fruits for each experimental units. Control was prepared using chili fruits without disinfectant and packaging as comparison. The result indicated that the chili fruits submerged in 300 ppm chlorine and packed in the 3 % perforated plastic films bags gave significant reduction in weight loss and intensity of of decay compare than other treatments and control.
Karakteristik Pengeringan dan Sifat Fisik Bubuk Jahe Merah Kering (Zingiber Officinale Var.rubrum) dengan Variasi Ketebalan Irisan dan Suhu Pengeringan Ni luh Devi Widyanti; Ni Luh Yulianti; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p01

Abstract

ABSTRAK Pengolahan jahe merah dalam bentuk bubuk merupakan salah satu cara untuk mengawetkan hasil panen jahe merah yang memiliki kadar air yang tinggi. Pengolahan jahe merah dalam bentuk bubuk perlu dilakukannya pengeringan pada bahan sehingga mampu mengeluarkan kandungan air yang terdapat pada bahan. Dalam pengeringan suatu bahan suhu dan ketebalan merupakan hal berpengaruh pada pengeringan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik pengeringan, sifat fisik bubuk jahe merah serta perlakuan yang menghasilkan kualitas bubuk jahe kering yang paling baik dengan variasi suhu dan ketebalan irisan selama pengeringan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor yang pertama yaitu suhu pengeringan 50oC, 60oC, dan 70oC dan faktor kedua yaitu ketebalan irisan jahe merah 1 mm, 3 mm, 5 mm. Parameter yang diamati yaitu kadar air, kerapatan curah, sudut curah, indeks keseragaman, dan laju penurunan kadar air jahe merah. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar perlakuan suhu dan ketebalan irisan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter kadar air, kerapatan curah, sudut curah, dan laju penurunan kadar air jahe merah. Selanjutnya perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan (N3S5) dari jahe merah yang dikeringkan dengan ketebalan irisan 3 mm yang dikeringkan dengan suhu 50oC dengan nilai kadar air 10,05% bb, kerapatan curah 790Kg/m3, sudut curah 43,34o. ABSTRACT Processing red ginger in powder form is one way to preserve the red ginger crop, which has a high moisture content. Processing of red ginger in powder form requires drying of the material so it can remove the water content in the material. In drying a material, the temperature and thickness influence drying. The purpose of this study was to determine the drying characteristics, the physical properties of red ginger powder and the treatment that produced the best dry ginger powder quality with variations in temperature and slice thickness during drying. The design used in this study was a factorial randomized block design (RBD) with two factors and three replications. The first factor is the drying temperature of 50oC, 60oC, and 70oC and the second factor is the thickness of the red ginger slices 1 mm, 3 mm, 5 mm. The parameters observed were moisture content, bulk density, angle of bulk, uniformity index, and rate of reduction in water content of red ginger. The results showed that the interaction between the temperature treatments and the thickness of the slices had a significant effect on the parameters of moisture content, bulk density, angle of bulk, and the rate of reduction in water content of red ginger. The best treatment was obtained in treatment (N3S5) of dried red ginger with a thickness of 3 mm slices dried at a temperature of 50oC with a moisture content value of 10.05% bb, bulk density 790Kg/m3, angle of bulk 43.34o.
Karakteristik Briket Biomassa dengan Variasi Geometri dan Jenis Bahan Baku yang Berbeda I Putu Dharma Putra Ritzada; Ni Luh Yulianti; Ida Bagus Putu Gunadnya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p06

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik briket biomassa dengan variasi geometri dan jenis bahan baku briket biomassa yang berbeda dan menentukan perlakuan manakah yang menghasilkan briket dengan kualitas yang paling baik. Penelitian ini menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok) Faktorial menggunakan 2 faktorial dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah jenis bahan baku (A) yang terdiri dari tiga taraf yaitu bambu tabah (A1), sekam padi (A2) dan campuran bambu tabah sekam padi (A3). Faktor kedua yaitu bentuk geometri briket (B) yang terdiri dari dua taraf yaitu balok (B1) dan silinder (B2). Seluruh perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan sehingga didapatkan 18 data pengamatan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat pengaruh perlakuan yang signifikan, maka dilanjutkan dengan uji BNT terhadap rata-rata perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Interaksi antar perlakuan jenis bahan baku dan bentuk geometri memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter mutu briket yang dihasilkan, Perlakuan briket yang dibuat dari sekam padi dengan bentuk silinder (A2B2) merupakan perlakuan yang menghasilkan briket dengan kualitas paling baik dengan nilai kadar air sebesar 2,64% bb, kadar abu sebesar 6,60%, laju pembakaran sebesar 73,16 (gr/menit) dan volatille matter sebesar 13,86 %. ABSTRACT This study aims to analyze the characteristics of biomass briquettes with different geometry variations and types of biomass briquette raw materials and determine which treatment produces the best quality briquettes.This research uses block design (RAK) using 2 factorials and 3 replications.The first factor is the type of raw material (A) which consists of three levels, namely tabah bamboo (A1), rice husk (A2) and a mixture of tabah bamboo rice husk (A3). The second factor is the geometric shape of the briquette (B) which consists of two levels, namely beams (B1) and cylinders (B2). All treatments were repeated 3 times in order to obtain 18 observational data. The data obtained were analyzed by means of variance and if there was a significant treatment effect, then it was followed by the BNT test on the average treatment.The results showed that the interaction between treatments. Types of raw materials and geometric shapes had a significant effect on the quality parameters of the resulting briquettes.The treatment of briquettes made from rice husks in a cylindrical shape (A2B2) is a treatment that produces the best quality briquettes with a moisture content value of 2.64% bb.ash content was 6.60%, combustion rate was 73.16 (gr / minute) and volatile matter was 13.86%.
Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Karakteristik Teh Herbal Daun Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) dalam Kemasan Paper Sack Ni Made Dwi Lantari; Pande Ketut Diah Kencana; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i01.p12

Abstract

ABSTRAK Teh merupakan minuman yang populer serta banyak di minati masyarakat Indonesia maupun dunia. Salah satu jenis teh yaitu teh herbal, yang terbuat dari berbagai daun, biji maupun akar tanaman. Teh daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) merupakan salah satu contoh teh herbal yang diolah untuk memanfaatkan senyawa yang terkandung di dalam daun bambu tabah tersebut untuk menghasilkan karakter tersendiri. Penyimpanan pada suhu yang tepat dapat menjaga karakter yang dimiliki oleh teh daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz). Penelitian ini dilaksanakan untuk menentukan suhu dan lama penyimpanan yang tepat dengan kemasan paper sack. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama yang digunakan dalam rancangan penelitian ini adalah suhu penyimpanan dan faktor kedua yang digunakan yaitu lama penyimpanan. Faktor pertama terdiri dari dua jenis suhu yaitu (F1) : suhu 10°C dan (F2) : suhu 30°C. Faktor kedua terdiri dari 6 taraf yaitu (T1) : lama penyimpanan 1 minggu, (T2) : lama penyimpanan 2 minggu, (T3) : lama penyimpanan 3 minggu, (T4) : lama penyimpanan 4 minggu, (T5) : lama penyimpanan 5 minggu dan (T6) : lama penyimpanan 6 minggu. Parameter yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air, pH, total asam, total fenol, flavonoid dan uji organoleptik terdiri dari warna air seduhan, aroma dan rasa pada daun teh yang telah di seduh. Hasil penelitian menunjukan bahwa suhu penyimpanan 10°C dapat mempertahankan karakteristik teh daun bambu selama waktu penyimpanan 6 minggu lebih baik yaitu dengan kandungan fenol sebesar 114,466 mg/100g dan kandungan flavonoid sebersar 27,675 mg/100g. ABSTRACT Tea is a popular drink and is in great demand by Indonesians as well as in the world. One type of tea is herbal tea, which is made from various leaves, seeds and plant roots. Tabah bamboo leaf tea (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) is an example of herbal tea that is processed to utilize the compounds contained in the tabah bamboo leaves to produce its own character. The storage at the right temperature can maintain the character of the tabah bamboo leaf tea (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz). This research was carried out to determine the proper storage temperature of tabah bamboo leaf tea during storage with packs of papersack from different temperature treatments for 6 weeks. This study used a completely randomized design (CRD) which consisted of two factors, the first factor used was storage temperature and the second factor was storage time. The first factor consists of two types of temperature, namely : a temperature of 10°C and a temperature of 30°C. The second factor consists of 6 levels, namely 1 week storage time, 2 weeks storage time, 3 weeks storage time, 4 weeks storage time, 5 storage time weeks and 6 weeks of storage. The parameters observed in this study consisted of chemical analysis including moisture content, pH, total acid, total phenol, flavonoids and organoleptic tests consisting of the color of the brewed water, aroma and taste of the brewed tea leaves. The results showed that the storage temperature of 10°C could better maintain the characteristics of bamboo leaf tea during the storage time of 6 weeks, namely with a phenol content of 114.466 mg / 100g and a flavonoid content of 27.675 mg / 100g.