Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERILAKU EKONOMI MASYARAKAT MISKIN DI SEKITAR KAWASAN HUTAN GUNUNG RINJANI PULAU LOMBOK Siddik, M. Siddik; Amiruddin, Amiruddin; Juniarsih, Nuning
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol 1, No 1 (2013): JAI Vol 1 No 1 Juni 2013
Publisher : Jurnal Agribisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objectives of this research are (1) to describe behavior of household economy; (2) to analyze factors affecting the behavior of household economy; and (3) to analyze income and outcome of households on basic equilibrium level and on actual equilibrium level. The results of the research showed that the community forest programs (HKm) given to the community living around the forests had opened job opportunities and income sources to the community living around Mount Rinjani Forest, and  community incomes were far above basic equilibrium level. Factors which consistently and positively affected the economic behavior of community households were the area of HKm land occupied, the diversity of household works, the access of their villages to the center of economic activities and the area of land they utilized other than HKm land. On the other hand, household incomes from government subsidies (such as BLT and Raskin) and other sources outside the thriving labor tended to make household labors became lazier and poorer, which significantly and negatively affected working time and incomes of households.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA TERDAMPAK PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL LOMBOK PRAYA Syarifuddin, Syarifuddin; Inderasari, Oryza Pneumatica; Juniarsih, Nuning; Rasyidi, Muhammad
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.583 KB)

Abstract

Pembangunan diharapkan dapat berdampak secara riil terhadap ekonomi baik di sektor pariwisata, perhotelan, industri jasa, perdagangan bagi masyarakat disekitar. Keberadaan bandara memberikan dampak secara ekonomi maupun sosial kepada desa terdampak yang menjadi objek penelitian yaitu Desa Ketare, Tanak Awu, dan Penunjak. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pemetaan sosial, evaluasi pembangunan bandara, dan rekomendasi CSR-Comdev bagi PT Angkasa Pura. Metode Penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam pada masyarakat terdampak, stakeholder, dan pihak PT Angkasa Pura. Masyarakat desa terdampak pada dasarnya adalah masyarakat mekanis yang memiliki solidaritas kuat. Keberadaan bandara tidak berdampak pada hubungan sosial dan budaya masyarakat terdampak namun memberi dampak dengan munculnya sektor nonagraris seperti perdagangan dan jasa, pariwisata, dan industri kreatif. PT Angkasa Pura telah memberikan kontribusi bagi masyarakat terdampak melalui program-program pemberdayaan ekonomi dan pemberian bantuan. Namun, secara ekonomi dan sosial, belum ada dampak yang massif terhadap perkembangan perekonomian, hal ini disebabkan program pemberian pinjaman modal usaha yang diberikan belum terakses oleh masyarakat secara umum. Harapannya, pihak PT Angakasa Pura dapat memberikan kontribusi lebih terhadap pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya dengan pamanfaatan potensipotensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terdampak.Kata Kunci: pemberdayaan, bandara, masyarakat terdampak
MODAL SOSIAL SEBAGAI SRATEGI BERTAHAN HIDUP MASYARAKAT DESA MARIA, KECAMATAN WAWO, KABUPATEN BIMA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT solikatun, solikatun; Juniarsih, Nuning
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.34 KB)

Abstract

One important factor in the strategy of survival is social capital that is used to maintain survival and meet people's needs. This study aims to: (1) know in depth the forms and roles of social capital that occur in people's lives; (2) knowing the role of the community in developing social capital. This study uses qualitative research methods with an explorative approach. The research location is in Maria Village, Wawo District, Bima Regency, West Nusa Tenggara Province. The forms of social capital that exist in Maria village include 1) networks, which in the social network have cooperation, mutual cooperation, participation; 2) Trust held by the Maria community which creates a sense of shared ownership and honesty; 3) Social norms and values that have become a means of controlling attitudes and behavior of community members and fostering mutual tolerance among community members. The role of social capital as a survival strategy: 1) the establishment of social relationships / interactions among members of the community that can foster brotherhood, kinship and kinship; 2) the strength of social solidarity in the community; 3) trust in the community fosters mutual attitudes to help; 4) preserving traditions in the life of Mary's society; and 5) social values and norms which act as tools of social control. The role of the community in developing social capital: 1) the community participates in the development of social capital in Maria Village seen in cooperation or involvement carried out among community members such as youth organizations, youth mosques, village youth associations and so on; 2) the attitude of the community in developing social capital is very open, it is seen that the village community of Maria is open to change.Keywords: Social Capital, Strategy, Society. AbstrakSalah satu faktor penting dalam strategi bertahan hidup adalah modal sosial yang digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui secara mendalam bentuk-bentuk dan peran modal sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat; (2) mengetahui peran masyarakat dalam mengembangkan modal sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Lokasi penelitian berada di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bentuk-bentuk modal sosial yang ada di desa Maria antara lain 1) jaringan, yang mana di dalam jaringan sosial terdapat kerjasama, sikap gotong royong, partisipasi; 2) Kepercayaan yang dimiliki masyarakat Maria yang menimbulkan rasa memiliki bersama dan kejujuran; 3) Norma-norma sosial dan nilai-nilai yang telah menjadi alat pengontrol sikap dan tinggah laku anggota masyarakat dan menumbuhkan sikap saling toleransi antar anggota masyarakat. Peran modal sosial sebagai strategi bertahan hidup : 1) terjalinnya hubungan/interaksi social antar anggota masyarakat yang dapat menumbuhkan persaudaraan, kekeluargaan dan kekerabatan; 2) kuatnya solidaritas sosial di masyaakat; 3) kepercayaan yang ada di masyarakat menumbuhkan sikap saling tolong menolong; 4) melestarikan tradisi di dalam kehidupan masyarakat Maria; dan 5) nilai dan norma sosial yang berperan sebagai alat kontrol sosial. Peran masyarakat dalam mengembangkan modal sosial : 1) masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengembangan modal sosial di Desa Maria terlihat dalam kerjasama atau keterlibatan yang dilakukan antar anggota masyarakat seperti karang taruna, remaja masjid, himpunan remaja desa dan sebagainya; 2) sikap masyarakat dalam mengembangkan modal sosial sangat terbuka, hal ini terlihat masyarakat desa Maria terbuka terhadap perubahan.Kata Kunci: Modal Sosial, Strategi, Masyarakat.
PENINGKATAN PRODUKSI USAHA TANI PADI DI KECAMATAN GUNUNGSARI MELALUI PENYULUHAN TEKNOLOGI PRODUKSI Ridwan, Ridwan; Karyadi, Lalu Wirasapta; Juniarsih, Nuning
Jurnal Ilmiah Abdi Mas TPB Unram Vol 1, No 1 (2019): Volume 1 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Teknik Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/amtpb.v1i1.15

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melakukan diseminasi informasi (sosialisasi) dan advokasi tentang teknologi produksi dalam pelaksanaan. Pengabdian ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan Gunungsari, yaitu di Desa Tamansari, sedangkan tempat kegiatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara Tim Penyuluh dengan Warga sasaran. Demikian juga waktu pelaksanaan kegiatan ditentukan berdasarkan kesepakatan. Pada hari-H kegiatan Tim mendatangi lokasi kegiatan tepat waktu.   Materi penyuluhan disampaikan oleh seluruh anggota Tim secara bergiliran yang dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, serta menggunakan model Pendidikan Orang Dewasa (POD). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta penyuluhan umumnya memiliki pemahaman yang baik terhadap materi yang disampaikan oleh Tim Penyuluh. Hal ini mengindikasikan tentang cukup efektifnya penyuluhan ini dalam upaya penyebarluasan informasi mengenai teknologi produksi padi dalam rangka pelaksanaan Program Upsus Pajale. Penggunaan metode ceramah dan diskusi dalam kegiatan penyuluhan ini memungkinkan terjadinya proses komunikasi dua arah antara narasumber dengan audiens secara langsung dan bertatap muka. Melalui tatap muka di kelas, audiens dapat menyampaikan pertanyaan, pendapat dan saran kepada para narasumber secara langsung dan para narasumber pun dapat memberikan umpan balik (feedback) secara langsung, sehingga terjadi komunikasi yang bersifat dialogis antara narasumber dengan para peserta, yang pada gilirannya komunikasi antara keduanya menjadi efektif. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa respons peserta penyuluhan terhadap pelaksanaan penyuluhan ini tergolong positif. Umumnya peserta penyuluhan menilai bahwa baik metode, media maupun bahasa pengantar yang digunakan oleh para narasumber dalam kegiatan penyuluhan mendukung terwujudnya pemahaman yang baik bagi peserta penyuluhan itu sendiri mengenai materi yang disampaikan oleh Tim Penyuluh.
Gender and Family Empowerment of Indonesian Migrant Workers through the BK-TKI Program in the Coastal Region of the Mandalika Special Economic Zone, Indonesia Rahmawati, Ratih; Ramdani, Taufiq; Juniarsih, Nuning
Journal of Advanced Multidisciplinary Research Vol 5, No 2 (2024): December 2024
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jamr.5.2.151-166

Abstract

Indonesian Migrant Workers (PMI) are the country's foreign exchange heroes who generate remittances, by rotating funds (wages) from the results of work abroad. Coastal areas have their own characteristics because they have distinctive potential as marine tourism that holds the potential for the development of productive businesses in coastal areas. This potential needs to be balanced with the ability to manage the potential of marine resources. However, the problems experienced by them such as inequality of remittance management practices and social problems. This study aims to determine the implementation of the development of migrant workers and their families in coastal areas from the bottom through theBuilding Indonesian Workforce Families program or BK-TKI program, this is a strengthening of migrant workers families so that they can reduce difficulties in managing remittances, avoid vulnerable conditions because migrant workers' families are left behind to work, and the possibility of migrant workers returning to work abroad for the next period so that migrant workers and their families are declared out of the poverty chain after implementing the program. This research is qualitative research with a case study approach and analyzed with Robert K. Merton's structural functionalism theory. Data on the conditions of implementation of the BK-TKI program in coastal communities were obtained for 3 months. The results show that the implementation of the BK-TKI program in this region only has 2 pillars running, namely the pillar of economic empowerment and guaranteeing the rights of migrant workers' children.
POTENTIAL DEVELOPMENT OF BAU NYALE TRADITION AS CULTURAL TOURISM IN LOMBOK Rahmawati, Ratih; Ramdani, Taufiq; Juniarsih, Nuning
SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan Vol. 5 No. 2 (2022): Sufism, Muslim Community, and Religious Moderation Concept in Indonesia
Publisher : UIN Mataram dan Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sangkep.v5i2.6790

Abstract

The development of tourism potential is not only in nature tourism but culture tourism, the community protects cultural tourism in Lombok by carrying out the routine customs of Bau Nyale (re: Bau is catching, Nyale is sea worms). Traditional customs traditions are carried out as an effort to preserve culture in the form of entertainment and ritual processions. This is done as a dynamic in the recovery of the economic sector while developing the potential for cultural tourism in the Mandalika SEZ. This research is qualitative research with an exploratory approach, the phenomenon is analyzed with the theory of Symbolic Interactionism by George Herbert Mead, with a component of community social action in developing the potential of cultural tourism in Lombok. The result of the research is the Bau Nyale tradition with the adaptation of new habits carried out with wisdom to be an innovation in introducing the Sasak tradition to the wider community. Although in its implementation there is a reduction in activities, the potential of tradition is still manifested in a series of ceremonial events, so that it still exists as an attraction for the surrounding community and tourists, in addition, the historical site of the Princess Mandalika Statue is a priority area to visit. The involvement of human resources is important in the process of developing cultural tourism as an implementer of cultural socialization and promotion, implementers of cultural values and norms, with the synergy of local governments and traditional figures who contribute to the implementation.
PENGUATAN KOPERASI NELAYAN UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DI KAMPUNG NELAYAN MODERN BINTARO, KELURAHAN BINTARO, KECAMATAN AMPENAN, KOTA MATARAM Rahmawati, Ratih; Ratih; Juniarsih, Nuning; Ramdani, Taufiq
Jurnal Pepadu Vol 6 No 4 (2025): Jurnal Pepadu
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v6i4.8875

Abstract

Nelayan identik dengan persoalan-persoalan atau isu-isu yang sering dialami oleh masyarat yang tinggal di wilayah pesisir. Nelayan kerap mengalami masalah cuaca, jika kondisi cuaca kurang baik maka hasil tangkapan yang diperoleh cenderung sedikit, sehingga penjualan ikan kurang bisa menstabilkan perekonomian mereka, selain itu, kurangnya kesadaran dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memiliki tujuan untuk memberikan penguatan kepada masyarakat sehingga memiliki akitivitas pemberdayaan melalui program koperasi nelayan di wilayahnya. Manfaat dari kegiatan pengabdian masyarakat adalah masyarakat dapat membuat UMKM atau pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan koperasi nelayan sehingga dapat meningkatkan perekonomian meski saat paceklik. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat menggunakan metode diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) sehingga dapat saling berbagi informasi mengenai penggunaan koperasi nelayan, penggalian potensi sumber daya alam, dan pengelolaannya. Hasil kegiatan menunjukkan nelayan memahami bahwa dapat membangun kewirausahaan melalui bantuan koperasi simpan pinjam dengan meminjam dana yang digunakan sebagai modal usaha. Selain itu, nelayan dapat memahami koperasi nelayan tidak hanya difungsikan sebagai penyedia layanan simpan pinjam namun juga memiliki layanan-layanan lain sehingga masyarakat dapat menggunakan jasa pelayanan koperasi seperti toko serba ada, penjualan dan penyewaan peralatan nelayan; selain itu masyarakat dapat mengembangkan kapasitas melalui pembinaan yang dilakukan oleh koperasi bersama pemerintah atau dinas terkait dan melakukan kegiatan produktif sehingga dapat memulai bisnis pribadi maupun kelompok. Dengan kata lain, masyarakat pesisir memiliki minat yang tinggi untuk tergabung dalam koperasi nelayan.