Rikha Widiaratih
Departemen Oseanografi, Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Sudarto, SH, Tembalang, Kota Semarang, Kode Pos 50275 Telp/fax (024) 7474698

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

The Modeling of Tsunami Wave Run-Up and Vulnerability Zone Analysis In Cipatujah, Tasikmalaya District Tamara Centong Mandey; Aris Ismanto; Denny Nugroho Sugianto; Purwanto Purwanto; Rikha Widiaratih; Gentio Harsono
Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 4 (2021): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.92 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v3i4.12491

Abstract

Cipatujah is a sub-district in Tasikmalaya Regency, West Java Province, Indonesia, which is one of the areas affected by significant damage due to tectonic activity in the southern region of Java, namely an earthquake with a magnitude of 7.7 magnitude and West Java tsunami in 2006 after Nusa Kambangan and PangandaranThe purpose of this study is to estimate the tsunami travel time, wave heights distribution, coverage areas, and vulnerability zone based on the Java 17 July 2006 earthquake scenario in Cipatujah, Tasikmalaya Regency. The method used in this study is quantitative and requires bathymetry data, high points, earthquake parameters of July 17, 2006, tidal data, RBI maps, and land use data. Tsunami modeling with numerical simulations using COMCOT v 1.7 and MATLAB software, also Arc Map for mapping tsunami coverage and vulnerability zone areas. Based on data processing, it was found that the maximum wave speed of 3.92 m/s. In the 27th minute, the waves had reached the Cipatujah region, with a maximum run-up height of 6.115 meters and a maximum tsunami range on the land of 1.891 meters. The area affected by the tsunami based on the processing of tsunami coverage data in Cipatujah totals 11.64 km2. Whereas for tsunami vulnerability zone in Cipatujah, it is divided into 3 categories, namely low hazard zone, medium hazard zone, and high hazard zone. This indicates that the Cipatujah region is included in a high tsunami-prone zone. Based on the results of verification and validation with an RSR value of 0,073, then it is assumed that the height of the run-up model is sufficient by the run-up data that occurred during the event.  
Analisis Genangan Akibat Pasang Air Laut di Kabupaten Brebes Putranto Kondang Wijaya; Denny Nugroho Sugianto; Muslim Muslim; Aris Ismanto; Warsito Atmodjo; Rikha Widiaratih; Hariyadi Hariyadi
Indonesian Journal of Oceanography Vol 1, No 1 (2019): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.585 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v1i1.6252

Abstract

 Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes merupakan daerah potensial di bidang pertanian dan perikanan. Sebagian besar wilayah pesisir Kecamatan Brebes digunakan untuk tambak. Namun wilayah ini memiliki masalah yaitu banjir pasang yang menggenangi lahan tambak dan merusak fasilitas umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasang surut, elevasi muka air laut, laju kenaikan muka air laut, dan luas wilayah genangan banjir pasang. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk membuat model genangan banjir pasang dalam bentuk peta. Data yang digunakan berupa data pasang surut, DEM (Digital Elevation Model), data titik genangan banjir pasang, Peta Rupabumi Indonesia tahun 2001, dan citra GeoEye1 perekaman tahun 2017. Diketahui bahwa tipe pasang surut di perairan Kecamatan Brebes adalah campuran condong ke harian ganda dengan elevasi muka air laut yang terukur sebesar 84,2 cm untuk nilai muka air laut rerata (MSL), 146,44 cm saat pasang tertinggi (HHWL), 21,85 cm saat surut terendah (LLWL). Serta nilai laju kenaikan muka air laut sebesar 3,87 cm/tahun. Sehingga luas wilayah genangan banjir pasang pada tahun 2017 sebesar 4502,23 Ha. Kemudian diprediksi pada tahun 2018 – 2022 luas wilayah genangan akan meluas berurutan tiap tahun sebesar 4690,33 Ha, 4825,11 Ha, 4966,17 Ha, 5049,19 Ha, dan 5114,74 Ha.  Brebes District, Brebes Regency is a potential area in agriculture and fisheries. Most of the coastal areas of Brebes District are used for ponds. But this area has a problem is tidal flood, that flooding the ponds and damaging public facilities. This study aims to determine the characteristics of tidal, sea water elevation, sea level rise, and the tidal flood inundation area. The method used is a quantitative method using the Geographic Information System (GIS) approach to create a model of tidal flood inundation area into a maps. The data used to make the model are tides, DEM (Digital Elevation Model), Indonesia Rupabumi maps published in 2001, GeoEye1 satellite images recorded in 2017. It is known the tidal type in Brebes District coastal water is mixed tide prevailing semidiurnal with sea level measurements of 84,2 cm for mean sea level (MSL), 146,44 cm during high highest water level (HHWL), and 21,85 cm at low lowest water level (LLWL). Rate of sea level rise is calculated at 3,87 cm/year. Inundation area by tidal flood in Brebes District in 2017 is 4502,23 Ha. Then it is predicted that in 2018 – 2022 the area of inundation will extend each year by 4690,33 Ha, 4825,11 Ha, 4966,17 Ha, 5049,19 Ha, and 5114,74 Ha respectively.
Model Sebaran Limbah Bahang Di PLTU Tanjung Jati B Jepara Fernandito Suryo Hutomo; Aris Ismanto; Heryoso Setiyono; Lilik Maslukah; Rikha Widiaratih
Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 1 (2021): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2503.768 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v3i1.10352

Abstract

PLTU Tanjung Jati B sedang menambah unit operasionalnya. Adanya penambahan unit ini akan menambah luasan limbah air panas yang lebih luas dari sebelumnya. Bertambahnya luasan limbah air panas ini memerlukan analisa pola sebarannya untuk dapat mengantisipasi terjadinya kerusakan lingkungan pada perairan sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sebaran suhu perairan setelah adanya penambahan unit 5 & 6 PLTU Tanjung Jati B Kabupaten Jepara pada musim barat, peralihan I, timur, dan peralihan II. Penelitian ini menggunakan data primer berupa suhu lapangan dan debit simulasi air bahang . Data  sekunder berupa pasang surut, batimetri, arus, dan angin. Metode yang digunakan dalam  penelitian ini adalah model hidrodinamika adveksi-dispersi dengan menggunakan aplikasi Delft3D. Hasil penelitian ini adalah pola sebaran suhu air bahang akan mengikuti pola arus yang ada, dimana arah sebaran pada Musim Barat dan Peralihan I condong ke arah timur, lalu pada Musim Timur dan Peralihan II condong ke arah barat.
Mengkaji Area Genangan Banjir Pasang Terhadap Penggunaan Lahan Pesisir Tahun 2020 Menggunakan Metode Geospasial di Kabupaten Pekalongan, Provinsi Ja Maria Griselda Novita; Muhammad Helmi; Rikha Widiaratih; Hariyadi Hariyadi; Anindya Wirasatriya
Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 3 (2021): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.927 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v3i3.11449

Abstract

Perubahan iklim menyebabkan peningkatan suhu yang mempercepat laju muka air laut. Kenaikan muka air laut mengancam wilayah pesisir yang padat penduduk dan juga daratan rendah karena akan menyebabkan banjir rob. Salah satunya adalah pesisir Kabupaten Pekalongan. Banjir rob yang diakibatkan adanya kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah menyebabkan bertambahnya luasan genangan banjir rob di daratan. Penelitian ini  melakukan pengolahan data untuk mengetahui karakteristik pasang surut bulan November 2020 dan laju kenaikan muka air laut, melakukan pengolahan data titik tinggi rupabumi untuk mengetahui elevasi muka tanah tahun 2020, melakukan pengolahan citra SAR Sentinel-1 untuk memetakan laju penurunan muka tanah serta mengkaji luas area genangan banjir rob pada penggunaan lahan dengan menggunakan pemodelan spasial genangan banjir pasang tahun 2020 berdasarkan data laju kenaikan muka air laut, ketinggian genangan, elevasi muka tanah, dan laju penurunan muka tanah. Metode yang digunakan pada penelitian ini untuk komponen pasang surut diolah menggunakan metode Least Square, laju kenaikan muka air laut dengan metode ROMS, laju penurunan muka tanah dengan metode DinSAR dan pemetaan genangan banjir rob dengan pemodelan geospasial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan selisih nilai HHWL dan MSL pada bulan November 2020 adalah 42,11 cm. Kenaikan muka air laut adalah 3,8 mm/tahun. Penurunan muka tanah rata-rata Kecamatan Wiradesa, Kecamatan Tirto, Kecamatan Siwalan dan Kecamatan Wonokerto adalah 20,27 cm/tahun, 20,58 cm/tahun, 21,63 cm/tahun dan 23,49 cm/ tahun. Luas daerah yang tergenang banjir rob pada bulan November 2020 adalah 783,99 hektar, tetapi dengan adanya tanggul menjadi 1,68 hektar.
Sebaran Mineral Feromagnetik di Perairan Delta Sungai Bodri, Kendal Petrus Subardjo; Sri Yulina Wulandari; Muhamad Adnan Kurnianto; Sugeng Widada; Rikha Widiaratih
Indonesian Journal of Oceanography Vol 2, No 1 (2020): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.711 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v2i1.7175

Abstract

Mineral feromagnetik atau biasa disebut pasir hitam merupakan salah satu mineral berat yang berasal dari aktivitas vulkanik. Pemanfaatan mineral ini memegang peranan cukup penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari aspek industri, elektronik, rumah tangga, otomotif, hingga digunakan sebagai bahan pengobatan kanker dalam bidang kedokteran. Delta sungai Bodri yang alirannya bersumber dari gunung Ungaran serta laju sedimentasi yang cukup tinggi menjadi wilayah yang tepat untuk dilakukan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kandungan, pola sebaran serta faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kandungan mineral feromagnetik yang terdapat pada sedimen dasar di delta sungai Bodri. Untuk mengetahui kandungan mineral feromagnetik, digunakan teknik analisa sederhana terhadap sampel sedimen menggunakan magnet dan mikroskop di laboratorium. Arus sejajar pantai diperhitungkan untuk diketahui pengaruhnya terhadap sebaran mineral feromagnetik. Hasil analisa ini menunjukkan kandungan sedimen yang tersebar secara terpola dari dalam sungai, muara, hingga sisi delta dengan kandungan tertinggi pada sungai sebesar 35,04 %. Pada depan muara sungai mineral ini tidak terdeteksi, kemudian terdeteksi kembali pada sisi-sisi delta, baik pada bagian barat maupun bagian timur yang kadarnya bervariasi sekitar 2-5%. Hal ini menjelaskan adanya hubungan arus sejajar pantai terhadap sebaran mineral feromagnetik di wilayah delta sungai Bodri. Ferromagnetic minerals or known as black sand is one of the heavy minerals which is derived from volcanic activity. This mineral utilization plays an important role in everyday life, ranging from aspects of industry, electronics, household, automotive, even used as a treatment of cancer in the field of medicine. The Bodri River Delta, which sourced from Ungaran Mountain and a high sedimentation rate, is the right area for this research. This research was conducted to find out how big the content, the pattern of distribution and any factors that affect the ferromagnetic mineral content found in the basic sediment in the Bodri river delta. To know the mineral content of ferromagnetic, used simple analysis technique to sediment sample using magnet and microscope in laboratory. Longshore currents are taken into account to determine its effect on the distribution of the mineral ferromagnetic. The results of this analysis show that the sediment content is scattered patterned from the river, estuary, to the delta side with the highest content in the river of 35.04%. In front of the river mouth, this mineral is undetectable. Then detect again on the sides of the delta, both on the western and eastern parts which levels vary about 2-5%. This explains the existence of a longshore current linkage to the ferromagnetic mineral distribution in the Bodri river delta region.
Pola Arus Di Perairan Kabupaten Jepara Abdillah Ranadipura; Denny Nugroho Sugianto; Warsito Atmodjo; Agus Anugroho Dwi Suryoputro; Petrus Subardjo; Rikha Widiaratih
Indonesian Journal of Oceanography Vol 1, No 1 (2019): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3101.433 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v1i1.6247

Abstract

Pantai Kartini adalah salah satu pantai yang berada di Kabupaten Jepara. Kabupaten jepara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus di Timur, serta Kabupaten Demak di Selatan. Sarana transportasi Pantai kartini menuju pulau sekitar seperti pulau jepara dapat dijangkau melalui perahu - perahu wisata yang dapat dipengaruhi oleh kondisi hidro – oseanografi, termasuk arus penelitian ini adalah untuk mengetahui pola arus laut Perairan Kartini, Kabupaten Jepara. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai acuan dan dapat memberi informasi adanya pola arus laut di Perairan Pantai Kartini, Kabupaten Jepara dengan menggunakan perangkat lunak MIKE 21. Arus model diverifikasi dengan arus yang diperoleh dari hasil survey lapangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif, sedangkan metode pengambilan sampel dengan metode purposif. Pemodelan yang digunakan menggunakan data primer arus ADCP serta data sekunder pasang – surut, angin dan bathimetri yang didapat dari instansi terkait guna sebagai parameter yang dapat mempengaruhi arus model. Arus pasang surut yang diperoleh mempunyai arah dominan menuju barat daya dengan kecepatan berkisar 0.1 - 0.358 m/s. Kecepatan minimum perairan adalah 0.1 m/s  dan kecepatan maksimum perairan adalah 0.358 m/s.   Kartini Beach is one of the beaches located in Jepara. Jepara is one of the districts in Central Java Province.it have borders the Java Sea in the west and north, Pati and Kudus in the East, and Demak in the South. Kartini Beach have transportation facilities to the surrounding islands such as panjang Island that can be reached by tourist boats which can be influenced by hydro-oceanographic conditions, including the current.this research to determine the ocean current patterns in Kartini Beach, Jepara. This research is expected to be useful as a reference and can inform the existence of patterns of ocean currents in the waters of Kartini Beach, Jepara,using a current model created by MIKE 21 software. Current models are verified by currents obtained from the results of field surveys. The research method used is a quantitative method, while the sampling method with a purposive method. The model primary data uses field current data using ADCP and secondary data such as tidal, wind and bathymetry obtained from relevant government company as parameters that can influence the flow of the model. The tidal currents obtained have the dominant direction to the southwest with speeds ranging from 0.1 - 0.358 m/s. The minimum water velocity is 0.1 m / s and the maximum speed of the waters is 0.358 m/s. 
Studi Sebaran Sedimen Dasar di Perairan Sungai Banjir Kanal Timur Semarang, Jawa Tengah Nanda Rahmadi; Sugeng Widada; Jarot Marwoto; Warsito Atmodjo; Rikha Widiaratih
Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 3 (2021): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.225 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v3i3.11707

Abstract

Banjir Kanal Timur merupakan gabungan Tambak Lorok (Kali Banger) dan Kali Tenggang. Adapun sungai Banjir Kanal Timur melintasi kota Semarang bagian timur yang padat pemukiman dan industri. Banyak aktivitas manusia dan industri di sekitar daerah aliran sungai (DAS) ini. antara lain adalah industri tekstil, bahan makanan, bahkan terdapat tempat pelelangan ikan. Banyaknya aktiviitas manusia di sekitar wilayah sungai ini menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan seperti penurunan kualitas air dan peningkatan proses sedimentasi pada mulut muara merupakan permasalahan yang ditimbulkan. Proses sedimentasi di muara sungai yang terjadi terus menerus akan menyebabkan pendangkalan dan sulitnya akses untuk menuju ke laut lepas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis sedimen dasar di Perairan Banjir kanal Timur dan melihat pola arus yang mempengaruhi. Sedimen dasar diambil secara langsung juga melaukan pengukuran batimetri. Terdapat 10 stasiun yang menjadi daerah penelitian dimana 2 stasiun berada di Muara Sungai Banjir Kanal Timur, dan lainnya berada di perairan yang lebih dalam. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa jenis sedimen yang berada di Muara Sungai Banjir Kanal Timur adalah lanau dan daerah yang lebih dalam mengandung pasir. Pola arus pada Perairan Banjir Kanal Timur merupakan arus pasang surut.
Efektifitas Struktur Kerapatan terhadap Laju Sedimentasi dan Jenis Sedimen pada Hybrid Engineering di Desa Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah Ginnia Julianti Utomo; Warsito Atmodjo; Denny Nugroho Sugianto; Rikha Widiaratih; Aris Ismanto
Indonesian Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2022): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v4i1.13160

Abstract

Kabupaten Demak merupakan salah satu wilayah yang mengalami berbagai permasalahan pesisir yang cukup parah. Erosi dan abrasi pantai menjadi fenomena yang terus terjadi selama 20 tahun terakhir. Perairan Sayung merupakan salah satu daerah yang mengalami erosi dan abrasi pantai dengan wilayah yang dilintasi banyak nelayan. Perubahan wilayah pesisir akibat permasalahan tersebut memicu berbagai dampak buruk bagi wilayah tersebut, seperti, kehilangan daerah pesisir, tambak, bahkan mangrove. Aktivitas penebangan hutan mangrove, penambangan pasir, tingginya fenomena gelombang dan pasang surut air laut yang juga memicu adanya erosi dan abrasi pantai. Akibat hal tersebut, angkutan sedimen yang berpindah akan membuat berubahnya garis pantai dan pengikisan wilayah daratan pantai. Penurunan kualitas pesisir akan berpengaruh signifikan jika erosi pantai dalam jangka panjang tidak segera diatasi dan akan membuat masukan sedimen dari sungai juga tidak seimbang akan berpotensi kerugian yang lebih besar. Penerapan hybrid engineering dengan metode ramah lingkungan menjadi solusi berbasis ekosistem, karena mampu mengembalikan substrat lumpur sebagai tempat tumbuhnya mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur hybrid engineering permeable yang dapat meningkatkan laju sedimentasi di Perairan Sayung. Pengambilan data lapangan dilakukan selama 10 bulan dengan metode purposive sampling. Analisis laju sedimentasi yang dihasilkan yakni berkisar antara 0,64 – 3,61 cm/bulan. Meningkatnya laju sedimentasi menunjukkan adanya struktur hybrid engineering yang bekerja secara efektif yang didukung dengan adanya hubungan faktor oseanografi yaitu gelombang dan pasang surut.
Sebaran Sedimen Dasar di Perairan Karimunjawa Larosa Nurfikri Gamellia; Purwanto Purwanto; Sugeng Widada; Petrus Subardjo; Muslim Muslim; Rikha Widiaratih
Indonesian Journal of Oceanography Vol 1, No 1 (2019): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2989.621 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v1i1.6264

Abstract

Bangunan terumbu buatan (Artificialreefs) merupakan salah satu bentuk upaya untuk menganggulangi dan rehabilitasi kerusakan yang terjadi pada terumbu karang alami. Pembuatan terumbu buatan merupakan suatu rekayasa struktur bangunan yang sengaja diturunkan ke laut untuk menyerupai habitat ikan dan ekosistem terumbu karang. Adanya bangunan tersebut dapat mempengaruhi dinamika faktor hidro-oseanografi yang terjadi, salah satunya yaitu proses sedimentasi yang dipengaruhi oleh arus laut.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi sebaran sedimen dasar yang terjadi pada bangunan terumbu buatan (artificial reefs) pada saat sebelum dan sesudah simulasi model. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap yaitu tahap survei lapangan dan tahap pemodelan numerik menggunakan MIKE 21 flow model serta dilanjutkan modul Sand Transport (ST). Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan penentuan lokasi penelitian dipilih secara purposive sample. Hasil penelitian menunjukkan kondisi hidrodinamika pada lokasi penelitian dengan kecepatan arus maksimum sebesar 0.9388 m/sdengan arah dominan menuju barat laut dan timur laut. Analisa sedimentasi dilakukan dengan mengamati hasil dari model (output) serta membuat potongan melintang pada daerah struktur bangunan dan membandingkan hasil baik sebelum maupun setelah simulasi. Hasil potongan melintang I-I’ dan potongan melintang II-II’ mengalami perubahan kedalaman (erosi) sepanjang garis potongan melintang, sedangkan pada potongan melintang III-III’ mengalami penumpukan material sedimen (sedimentasi) pada rentang jarak 10 m. Artificial reefs (Artificial reefs) are one of method for overcome and rehabilitatedamages that occurs on natural reefs.The manufacture of artificial reefs is a structural engineering that deliberately lowered to the sea to resemble the habitat of fishes and coral reef ecosystem. The existence of such buildings can affect the dynamics of hydro-oceanography factors that occur,for example the sedimentation process which influenced by the ocean currents. This study was purposed to determine the distribution pattern of sedimentation process that occurs on the building of artificial reefs, before and after the model simulation. This study was divided into two phases, field survey phase and numerical modelling using MIKE 21 flow model module continued with Sand Transport module (ST).This study used a quantitative method and determination of location was using purposive sampling method. The result shown hydrodinamic condition of study location with maximum velocity rate at 0,9388m/s, dominantly went to northwest and northeast. For sedimentation analysis was done by observing the results of the model (output) and also making a cross section on the area of the building structure and compare the results both before and after simulation. The I-I’ cross section and II-II’ cross section had and increase in depth (erosion) across the cross section line, and then in a section III-III’ there is a sediment buildup (sedimentation) in the range of 10 meters.
Pembuktian Catatan Sejarah dalam Perkembangan Pesisir Jepara Bagian Barat, Jawa Tengah Heryoso Setiyono; Warsito Atmodjo; Rikha Widiaratih
Indonesian Journal of Oceanography Vol 2, No 2 (2020): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5918.807 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v2i2.8077

Abstract

Berdasarkan laporan-laporan perjalanan tentang pelabuhan Jepara, Jawa Tengah tahun 1774 oleh Stockdale (1749-1814) menunjukkan di depan pelabuhan terdapat tiga pulau, yaitu Visschers, De Nis, dan Foul, serta satu batu karang yang tinggi Walvisch. Berdasarkan peta tahuh 1858 di depan pelabuhan Jepara terdapat dua pulau dan satu karang. Berdasarkan Peta Laut tahun 2002 menunjukkan bahwa di depan pelabuhan Jepara hanya terdapat satu pulau dan satu terumbu karang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada satu pulau telah menyatu dengan daratan Jepara dihubungkan oleh tombolo, satu pulau menjadi bagian daratan (proses deposisional), sehingga tersisa satu pulau (Pulau Panjang) dan satu karang (Karang Bokor).  Based on report of journey about Port of Jepara, Central Java at 1774 by Stockdale (1749-1814) that’s there is three islands in front of the port, is Visschers, De Nis, and Foul, and also a high rock Walvisch. Based on map 1858 in the front of the port there is two islands and a reef island. Based on the Map of Sea year 2002 that in front of port of Jepara only one island dan a reef island. Result of the research that’s one island merge  with mainland of Jepara by tombolo with depositional processes (Kelor islands), and others are an island (i.e. Pulau Panjang) and a reef island (Karang Bokor).