Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Penerapan Teknologi untuk Peningkatan Produktivitas dan Pemasaran Criping Pisang Kelompok Wanita Tani Soka Makmur Anita Susiana; Ratna Kartikasari; Solikhah Retno Hidayati
Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 1 No. 3 (2021): Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Kuras Institute & Scidac Plus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.253 KB) | DOI: 10.51214/japamul.v1i3.142

Abstract

Usaha criping pisang Kelompok Wanita Tani (KWT) Soka Makmur mulai dijalankan pada tahun 2018. Tempat usaha criping pisang terletak di Dusun Kadisoka, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Pembuatan criping pisang rutin berproduksi setiap bulan. Namun sejak ada Pandemi Covid-19, produksi kripik pisang berhenti total selama hampir 4 bulan. Dengan berhentinya produksi, berarti pula penghasilan anggota KWT Soka Asri berkurang. Permasalahan pertama adalah keterbatasan pasar, karena selama ini criping pisang lebih banyak dipasarkan melalui grup whatsapp yang dimiliki oleh anggota, dan sebagian kecil dititipkan ke toko-toko oleh-oleh. Permasalahan kedua adalah proses produksi yang masih konvensional, sehingga hanya mampu menerima pesaranan dalam jumlah yang terbatas. Solusi yang diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah pelatihan pemasaran online dan penerapan teknologi untuk meningkatkan kualitas produk. Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan kapasitas pelaku usaha dan peningkatan kualitas produksi criping pisang. Setelah intervensi teknologi dalam kegiatan pengolahan criping pisang, ada peningkatan dalam kapasitas produksi berupa peningkatan frekuensi produksi. Semula, ibu-ibu anggota KWT Soka Makmur hanya mampu memproduksi criping satu kali dalam sebulan. Sekarang, kapasitas produksi meningkat menjadi hamper empat kali dalam satu bulan. Peningkatan pengetahuan melalui kegiatan pelatihan yang diikuti oleh anggota KWT Soka Makmur menghasilkan perluasan pasar. Pesanan criping pisang meningkat hingga 25% tiap kali produksi, sehingga tambahan penghasilan anggotanya juga meningkat.
PENGARUH VISKOSITAS MEDIA CELUP TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO MARTENSITIC WHITE CAST IRON ASTM A532 Subardi; Ratna Kartikasari; Achmad Supiani
Jurnal Teknik Mesin Vol 1 No 1 (2011): Jurnal Teknik Mesin Vol.1 No.1 October 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) - ITP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.447 KB) | DOI: 10.21063/jtm.2011.v1.i1.41-45

Abstract

Besi tuang putih memiliki keunggulan yaitu tahan aus, tahan korosi, kekuatan dan keuletan yang tinggi serta tahan terhadap perubahan suhu Besi tuang putih banyak digunakan pada industri pembuatan roda kereta api, rol untuk menggerus (grinding), dan plat penghancur batu. Kelemahan dari besi tuang putih tersebut adalah ketahanan terhadap keausan belum maksimal. Peningkatan ketahanan terhadap keausan salah satunya dengan proses heat treatment. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh viskositas pada media celup terhadap kekerasan dan struktur mikro besi tuang putih martensitik ASTM A532. Spesimen besi tuang putih martensitik ASTM A532 merck Cr 12, CR 17, CR 21 dengan ukuran 15 mm x 10 mm x 10 mm, selanjutnya dilakukan proses uji komposisi, heat teatment dengan suhu 900ºC ditahan 30 menit, lalu dicelupkan media oli dengan viskositas SAE 10, SAE 30, SAE 50. Pengujian meliputi uji kekerasan vickers dan pengamatan struktur mikro. Hasil pengujian komposisi kimia menunjukkan ASTM A532 CR12 mempunyai unsur C (carbon) sebesar 1.75% dan unsur Cr (Chromium) sebesar 14.24% masuk dalam kategori golongan besi tuang putih martensitik ASTM A532 Type A. ASTM A532, pada spesimen CR17 mempunyai unsur C (carbon) sebesar 2.15%, unsur Cr (Chromium) sebesar 17.90%, masuk golongan ASTM A532 Class II Type B. Dan Cr21 mempunyau unsur C (carbon) sebesar 3,15%, unsur Cr (chromium) sebesar 19,25% termasuk golongan ASTM A532 Type E. Hasil struktur mikro ASTM A532 terdiri dari struktur martensit, perlit dan Carbida Cr. Hasil pengujian kekerasan media quenching oli (SAE 10, SAE 30 dan SAE 50) untuk merck CR 12, CR 17, CR 21 nilai kekerasan berbeda jauh (signifikan). Kekerasan tertinggi dari ketiga merck besi tuang putih adalah CR 12 sebesar 1017,5 Kg/mm² pada quenching SAE 10, struktur martensit menjadi berkurang namun carbida Cr bertambah sehingga kekerasan menjadi tinggi. Dan kekerasan terendah pada CR 21 yaitu 600,1 Kg/mm² pada quenching SAE 50, pemanasan akan menurunkan jumlah martensit dan carbida sehingga kekerasan menurun.
Upaya Peningkatan Kekerasan Grinding Ball Besi Tuang Putih Astm A532 Dengan Proses Temper Mus ta kim; Joko Pitoyo; Ratna Kartikasari
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga saat ini kebutuhan besi tuang putih ASTM A 532 untuk grinding ball pada industri semen masih dipenuhi dengan impor. Percobaan pembuatan paduan ini sudah dilakukan pada skala IKM. Akan tetapi satu kekurangan paduan yang dihasilkan bersifat getas sehingga nilaiketangguhan relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari upaya peningkatan kekerasan dan ketangguhan besi tuang putih ASTM A 532 produk IKM untuk aplikasi grinding ball pada industri semen dengan proses temper. Hasil pengujian komposisi kimia menunjukkan bahwa besi tuang putih ASTM A532 mengandung 4,57% C, 18,26% Cr dan 0,20 % Mo sehingga termasuk dalam ASTM A532 class II type D martensitic white cast iron. Hasil uji struktur mikro menggunakan mikroskop optik dan SEM menunjukkan bahwa besi tuang putih ASTM A532 mempunyai struktur martensit, perlit dan sementit, tetapi memiliki pola, jumlah dansebaran yang berbeda. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan bahwa besi tuang putih ASTM A532 mempunyai nilai kekerasan tertinggi yaitu pada besi tuang putih ASTM A532 spesimen setelah hardening 900ºC yaitu sebesar 878,59 kg/mm2 dan terendah 744,80 kg/mm2 pada specimen temper 450 0C. Hasil pengujian XRD menunjukkan persentase (%) terbesar struktur mikro adalah sementit, selanjutnya adalah martensite dan perlit. Semakin tinggi temperatur temper nilai kekerasan besi tuang putih ASTM A532 menurun tapi keuletannya akan naik, hal inidisebabkan terjadinya perubahan strukturmikro dari martensit menjadi martensit temper.Kata kunci: Besi tuang putih ASTM A 532, martensitik, kekerasan, impak, temper
Analisis Biaya Operasional Kompor Biomassa pada Industri Tahu di Desa Tuksono, Kulon Progo, D.I.Yogyakarta daru sugati; Ratna Kartikasari
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-13 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri tahu meruapakan salah satu industri pengolahan yang membutuhkan energi panas untuk proses produksi. Proses produksi yang dimaksud adalah proses memasak bubur kedelai sebelum penggumpalan dan pencetakan. Panas yang digunakan untuk memasak bubur tersebut dapat berasal dari gas, arang kayu, batu bara, dan biomassa. Di daerah produksi tahu Tuksono, indutri tahu rumahan menggunakan bahan bakar biomasa. Penggunaan jenis bahan bakar ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan industri tahu daerah tersebut untuk dapat bertahan untuk berproduksi. Inovasi yang dilakukan adalah desain tungku biomasa yang mampu beroperasi dengan berbagai jenis biomasa. Berdasarkan percobaan pada tungku biomasa yang dilakukan oleh pengusaha tahu memberikan hasil bahwa biomasa berukuran kecil berupa serbuk kayu memberikan efisiensi operasional lebih baik dari biomasa yang berukuran besar berupa potongan kayu. Penggunaan serbuk kayu atau tatal kayu dengan biaya 300 % lebih hemat dibanding dengan potongan kayu ditinjau dari aspek harga.
Pengaruh Waktu Proses Austemper Terhadap Struktur Mikro, Kekerasan, Dan Kekuatan Paduan Fe-1Al-6,9C Jeremia Yakin Berkat Zandroto; Ratna Kartikasari; wartono
Retii 2022: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-17
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu proses austemper terhadap struktur mikro, kekerasan, dan kekuatan besi tuang paduan Fe-1Al-6,9C. Proses yang dilakukan adalah austemper yang dimulai dengan pemanasan pada T 900°C selama 1 jam, dilanjutkan pencelupan dalam garam cair (KNO3 55% + NaNO3 45%) pada T 300oC selama 10, 15, 20, 25, 30 menit, diakhiri dengan pencelupan dalam air. Pengujian yang dilakukan adalah uji komposisi kimia menggunakan spectrometer, uji struktur mikro dengan mikroskop optik, uji kekerasan dengan metode Brinell, dan pengujian tarik. Hasil pengujian komposisi kimia paduan Fe-1Al-6,9C menunjukkan bahwa kadar unsur utama besi (Fe) 89,40%, dan unsur paduan utama aluminium (Al) 0,98%, karbon (C) 6,94%. Struktur mikro paduan Fe-1Al-6,9C terdiri atas struktur ferit, perlit dan grafit, setelah proses austemper struktur perlit berubah menjadi bainit. Hasil uji kekerasan menunjukkan bahwa proses austemper meningkatkan nilai kekerasan dan mencapai maksimum (407,44 Kg/mm2) pada penahanan selama 30 menit dalam garam cair. Hasil uji tarik menunjukkan bahwa paduan Fe-1Al-6,9C memiliki nilai tegangan dan regangan sebesar 76,5 Mpa dan 6,68%, proses austemper menurunkan nilai tegangan dan regangan sehingga mencapai nilai terendah (37,07 Mpa dan 3,2%) pada penahanan selama 25 menit dalam garam cair.
PENGARUH WAKTU PROSES DEEP CRYOGENIC TREATMENT TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN, DAN KEAUSAN PADUAN Fe-Al-Mn-Mo Angelio Fila Delfianto Maitano; Ratna Kartikasari; Rivan Muhfidin
Retii 2022: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-17
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paduan Fe-Al-Mn-Mo merupakan baja paduan yang termasuk baja tahan karat yang dikandidatkan menggantikan baja tahan karat konvensional paduan Fe-Cr-Ni. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu proses Deep Cryogenic Treatment (DCT) terhadap struktur mikro, kekerasan, dan keausan pada paduan Fe-Al-Mn-Mo. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah coran baja paduan Fe-Al-Mn-Mo. Uji komposisi dilakukan untuk mengetahui kandungan yang terdapat pada bahan uji, selanjutnya dilakukan persiapan spesimen dengan cara memotong bahan menjadi spesimen. Proses yang dilakukan adalah DCT dengan cara perendaman dalam nitrogen cair pada suhu -196˚C dengan variasi waktu 1, 2, 3, 4, dan 5 jam. Kemudian dilakukan pengembalian pada suhu ruangan. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian struktur mikro, pengujian kekerasan dan pengujian keausan. Pengujian komposisi kimia menunjukkan bahwa paduan Fe-Al-Mn-Mo memiliki unsur utama yakni Fe sebesar 76,52%, unsur paduan utama Mn sebesar 14,11%, Al sebesar 10,62% dan Mo sebesar 0,45% dan paduan Fe-Al-Mn-Mo termasuk baja paduan tinggi. Pengujian struktur mikro menunjukkan bahwa paduan Fe-Al-Mn-Mo memiliki struktur ferit dan austenite. Proses DCT menyebabkan struktur ferit semakin besar dan banyak sedangkan struktur austenite semakin kecil dan berkurang namun butir austenit akan semakin menyebar di antara butir ferit. Pengujian Kekerasan menunjukkan kenaikkan kekerasan yang tidak signifikan. Pengujian keausan menunjukkan penurunan laju keausan.
Pengaruh Aging Paduan Al-Si-Cu Bahan Wajan Produk IKM Terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Ratna Kartikasari; Teddy Marvin Silalahi; Wartono
Retii 2022: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-17
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas wajan produk IKM dengan cara memberikan perlakuan panas pada paduan aluminium sebagai bahan wajan. Proses perlakuan yang diberikan adalah aging (pengerasan usia) dengan tujuan agar paduan mengalami peningkatan pada kekuatan tarik, kekerasan, keuletan dan mengubah struktur mikro menjadi butiran yang lebih halus. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Aluminium paduan Al-Si-Cu dengan variasi kadar Cu berbeda-beda mulai dari 2%, 4% dan 6%. Proses aging dilakukan dengan tahapan pertama yaitu pemanasan pada temperatur 525 ºC selama 1 jam, dilanjutkan pendinginan dalam media air. Kemudian paduan Al-Si-Cu dipanaskan kembali pada temperatur 195 ºC selama 5 jam kemudian didinginkan di udara. Pengujian yang dilakukan adalah uji struktur mikro menggunakan mikroskop optik, uji kekerasan Brinell, uji tarik dan uji impak dengan metode Charpy. Struktur mikro menunjukkan bahwa paduan Al-Si-Cu memiliki fasa Al, Si dan CuAl2. Nilai kekerasan tertinggi terdapat spesimen perlakuan aging pada penambahan Cu 4% sebesar 21,63 BHN. Hasil pengujian tarik menunjukkan bahwa nilai tegangan tertinggi terjadi pada paduan 4 % Cu dengan perlakuan aging sebesar 18,93 MPa dan nilai regangan sebesar 0,94%. Pengujian impak menghasilkan harga impak tertinggi pada raw material dengan kadar 2% Cu sebesar 0,007 J/mm2.
PENGARUH SHOT PEENING TERHADAP KARAKTERISTIK PERMUKAAN SS 301 SETELAH PROSES ANIL Ratna Kartikasari; Wartono Wartono; Muhammad Oky Sadewa
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 21, No 2 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jst.v21.n2.p32-37

Abstract

SS 301 merupakan baja tahan karat austenitik yang memiliki sifat ulet, ketahanan korosi yang sangat tinggi dan non-hardenable. Pengembangan aplikasi SS 301 menuntut kombinasi sifat yang baik antara ketahanan korosi dan kekerasan permukaan. Perlu upaya untuk meningkatkan kekerasan permukaan SS 301 dengan pengerjaan dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh shot peening terhadap karakteristik permukaan SS 301 setelah proses anil. Proses anil dilakukan pada temperatur 800°C, 900°C dan 1000°C. Proses shot peening dilakukan menggunakan partikel alumina dengan ukuran 0,8-1 mm selama 20 menit dengan tekanan 6-8 bar. Pegujian yang dilakukan adalah uji komposisi kimia, struktur mikro, kekerasan dan ketahanan korosi. Hasil uji komposisi kimia menunjukkan bahwa SS 301 mengandung Cr 18,32% dan Ni 7,84%, Mn 1,5% dan C 0,31%. Struktur mikro SS 301 terdiri atas struktur austenit dengan pola semi dendritik. Proses anil dan hardening mengubah struktur austenit menjadi equiaxed, setelah shot peening terlihat butiran austenit yang halus di permukaan. Secara umum proses shot peening meningkatkan kekerasan tetapi menurunkan ketahanan korosi SS 301.
Pengembangan Experiental Tourism di Kalitaji Kapanewon Kokap Kulon Progo Hidayati, Solikhah Retno; Trianda, Obrin; Kartikasari, Ratna
Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2023): Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Kuras Institute & Scidac Plus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/00202303675000

Abstract

Kegiatan pariwisata merupakan salah satu elemen penting dalam sektor perekonomian di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu desa yang telah berkembang menjadi desa wisata adalah Desa Wisata Sermo Hargowilis yang terletak di Kapanewon Kokap. Desa wisata tersebut memiliki beragam atraksi wisata, salah satunya atraksi wisata alam yang terdapat di Kawasan Kalitaji, Dusun Soka. Kalitaji memiliki potensi wisata alam dan kuliner. Potensi wisata alam berupa kontur wilayah perbukitan hingga sungai, sedangkan potensi wisata kuliner berupa Kopi Kalitaji. Saat ini, atraksi wisata tersebut belum berkembang secara optiimal karena keterbatasan sumberdaya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk menghasilkan program pengembangan sumberdaya manusia yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendampingan mind mapping untuk memilih program sesuai prioritas. Temuan dari kegiatan ini adalah kurangnya rasa percaya diri masyarakat untuk mengembangkan kegiatan wisata di lingkungan tempat tinggalnya. Implikasi kegiatan ini adalah tersusunnya program pengembangan sumberdaya manusia untuk pengembangan kegiatan pariwisata, yang dibagi menjadi knowledge enhancement dan skill competency upgrading. Prioritas kegiatan berdasarkan penilaian masyarakat adalah pendampingan pengetahuan potensi wisata di Kalitaji dan pelatihan kompetensi tour guide untuk para pemuda. Selain itu, dengan partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan pengabdian berdampak pada peningkatan kapasitas masyarakat untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan kegiatan pariwisata di Kalitaji
Pengaruh Temperatur Temper Terhadap Struktur Mikro, Kekerasan, Dan Kekuatan Tarik Besi Tuang Paduan Al Oktavianus, Yosep; Ratna Kartikasari; Mustakim
Retii Vol 18 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-18 (Edisi Penelitian)
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh temperatur temper terhadap struktur mikro, kekerasan dan kekuatan tarik pada besi tuang paduan Al. Proses temper yang dilakukan meliputi proses hardening pada suhu 900 o C selama 1 jam diikuti dengan pendinginan media udara. Tahapan berikutnya adalah temper yang dilakukan pada suhu 200ºC, 250ºC, 300ºC, 350ºC dan 400ºC selama 1 jam diikuti dengan pendingin media udara. Pengujian yang dilakukan adalah uji komposisi kimia menggunakan alat spektrometer , uji struktur mikro menggunakan alat mikroskop optik, kekerasan menggunakan metode Vickers, dan uji tarik. Hasil pengujian komposisi kimia menunjukkan kadar unsur utama Fe 92,24%, unsur paduan utama Al 1,36%, dan C 3,49%, struktur mikro paduan terdiri dari ferit, perlit, dan grafit, setelah dilakukan proses hardening fasa ferit terlihat dominan karena unsur Al yang berperan sebagai pembentuk dan penstabil fasa ferit, sedangkan proses temper menunjukkan fasa perlit tersebar secara merata bersama fasa ferit diantara serpih grafit yang berubah menjadi lebih kecil. Besi tuang paduan Al memiliki nilai kekerasan sebesar 186,16 kg/mm ​​2 , setelah proses temper kekerasannya menurun hingga mencapai minimum 125,14 kg/mm ​​2 pada temperatur 400 o C. Hasil pengujian tarik menunjukkan terjadi penurunan tegangan tarik setelah proses hardening sebesar 94 ,61 Mpa sedangkan setelah proses temper tegangan tarik mengalami peningkatan dan penurunan secara tidak beraturan.