Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KAPASITAS LENTUR KOLOM BETON BERTULANGAN BAMBU WULUNG POLOS M. Nanang Syaifun Nahar; Agus Setiya Budi; Bambang Santosa
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v1i4.37512

Abstract

Bambu sebagai alternatif pengganti tulangan baja karena mempunyai kuat tarik cukup tinggi yang mendekati kekuatan baja. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan benda uji berupa kolom dengan pembebanan eksentris yang berukuran 150 mm x 150 mm dengan tinggi 1500 mm. Benda uji kolom sebanyak 7 buah, dimana 3 buah kolom dengan tulangan bambu wulung polos, 2 buah dengan tulangan baja, dan 2 buah tanpa menggunakan tulangan. Sifat mekanik kolom beton yang diamati diantaranya adalah kapasitas beban, lendutan, kuat tekan, serta pola retak. Analisis kolom dengan tulangan baja mempunyai momen sebesar 517.69 tmm. Kapasitas lentur hasil pengujian benda uji kolom tulangan baja mempunyai momen sebesar 257.89 tmm. Hasil analisis kolom dengan tulangan bambu Wulung polos adalah 543.9 tmm. Momen hasil pengujian kolom tulangan bambu adalah 134.08 tmm. Beban maksimum (Pmaks) yang mampu ditahan oleh kolom beton dengan tulangan bambu Wulung polos sebesar 1300 kg, sedangkan kolom beton dengan tulangan baja sebesar 4700 kg dan kolom tanpa tulangan sebesar 1150 kg. Hasil pembebanan memperlihatkan bahwa kolom tulangan bambu Wulung mempunyai kontribusi lebih pada kelekatan beton yang runtuh jika di bandingkan dengan kolom tanpa tulangan.
KUAT LENTUR BALOK BETON TULANGAN BAMBU PETUNG VERTIKAL TAKIKAN TIDAK SEJAJAR TIPE U LEBAR 1CM TIAP JARAK 15CM Azwar Anes; Agus Setiya Budi; Bambang Santosa
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.062 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37060

Abstract

Bambu dapat menjadi alternatif bahan pengganti tulangan baja pada balok beton bertulang yang lebih ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kuat lentur pada balok beton tulangan bambu petung takikan tidak sejajar tipe U dengan lebar takikan 10 mm pada tiap jarak 150 mm dan balok beton tulangan baja D7,45 mm. Pengujian agregat halus, agregat kasar dan pengujian karakteristik bambu digunakan sebagai uji pendahuluan untuk mengetahui kelayakan material. Perencanaan rancang campur beton menggunakan metode SK SNI 03-2834-2000. Dimensi bambu yang digunakan adalah panjang 1650 mm, lebar 20 mm dan tebal 5 mm. Benda uji berbentuk balok dengan dimensi panjang 1700 mm, lebar 110 mm dan tinggi 150 mm. Kuat lentur balok bertulangan bambu petung didapat sebesar 3,9394 MPa, dan balok bertulangan baja D7,45 mm adalah sebesar 12,3693 MPa. Perbandingan kuat lentur hasil pengujian pada balok bertulangan bambu petung terhadap balok bertulangan baja D7,45 mm adalah 31,8481%.
KUAT LENTUR BALOK BETON TULANGAN BAMBU PETUNG VERTIKAL TAKIKAN TIDAK SEJAJAR TIPE U LEBAR 2 CM TIAP JARAK 15 CM Heru Cahyanto; Agus Setiya Budi; Bambang Santosa
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37056

Abstract

Beton bertulang merupakan bahan konstruksi yang sering digunakan pada struktur bangunan. Kelebihan beton adalah dapat dibentuk sesuai kebutuhan, mampu menerima kuat tekan dengan baik, tahan aus, awet dan mudah perawatannya, namun saat ini harga bahan bangunan termasuk tulangan baja cukup tinggi, oleh karena itu perlu material pengganti tulangan baja yang memiliki kuat tarik cukup tinggi, lebih ekonomis dan mudah didapat. Bambu dapat menjadi alternatif bahan pengganti tulangan baja pada balok beton bertulang yang ekonomis, ramah lingkungan dan mudah didapatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kuat lentur balok beton tulangan bambu petung vertikal takikan tidak sejajar tipe U lebar 2 cm tiap jarak 15 cm. Pengujian agregat halus, agregat kasar dan pengujian karakteristik bambu digunakan sebagai uji pendahuluan untuk mengetahui kelayakan material. Perencanaan rancang campur beton menggunakan metode SK SNI 03 - 2834 - 2000. Dimensi bambu yang digunakan adalah panjang 1650 mm, lebar 20 mm dan tebal 5 mm. Benda uji berbentuk balok dengan dimensi panjang 1700 mm, lebar 110 mm dan tinggi 150 mm. Nilai kuat lentur balok beton tulangan bambu adalah 5,4545 N/mm2 atau 44,1973 % dari balok beton tulangan baja dengan 12,3693 N/mm2 untuk nilai kuat lenturnya.
Pengembangan Textile Reinforced Concrete (TRC) Slab Menggunakan Serat Cantula dengan Berbagai Anyaman Fajar Teroja Alamsyah; Stefanus Adi Kristiawan; Bambang Santosa
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.291 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36929

Abstract

Banyak bahan dan material alami di sekitar kita belum termanfaatkan dengan maksimal. Serat cantula yang berasal dari tumbuhan Agave Cantula Roxb adalah salah satunya. Bentuk pemanfaatan serat cantula yang saat ini sedang dikembangkan adalah sebagai salah satu material komposit untuk perkuatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kuat lentur, indeks kekakuan, indeks toughness, indeks daktilitas dan prilaku retak dari slab mortar yang di beri perkuatan serat cantula. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen, dengan mengumpulkan data, bahan serta melakukan serangkaian percobaan dan pengujian kemudian menganalisis dan menyimpulkan hasil penelitian. Objek penelitian ini adalah menggunakan serat cantula yang di anyam dengan berbagai variasi sebagai material komposit perkuatan slab mortar dengan tujuan untuk mengetahui jenis anyaman yang dapat berkontribusi secara maksimal. Hasil penelitian ini didapatkan nilai indeks rata-rata sebagai berikut; kuat lentur normal = 9.7 MPa, Grid 1 = 9. MPa, Grid 2 = 8.4 MPa, Fishnet = 9.4 MPa ; kekakuan normal = 515.6 N/mm, Grid 1 = 147.7 N/mm, Grid 2 = 238 N/mm, Fishnet = 357.4 N/mm ; toughness normal = 69.9 Nmm, Grid 1 = 164.6 Nmm, Grid 2 = 125.5 Nmm, fishnet = 99.5 Nmm ; daktilitas normal = 1, Grid 1 = 12.6, Grid 2 = 6.2, Fishnet = 5. Prilaku retak yang terjadi secara umum benda uji mengalami retak pertama pada beban 56-61 N dengan lendutan 0.08- 0.22 mm sedangkan untuk pola keruntuhan seluruh benda uji terjadi keruntuhan tekan.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT DAN FLY ASH PADA CAMPURAN BETON TERHADAP KINERJA HUBUNGAN BALOK KOLOM DENGAN PEMBEBANAN STATIK (UMUR BETON 90 HARI) Bahreisi Mahfud; Edy Purwanto; Bambang Santosa
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v1i4.37516

Abstract

Besarnya potensi gempa yang terjadi di Indonesia menyebabkan banyak bangunan dan infrastruktur yang mengalami kerusakan dari tingkat ringan, sedang, sampai berat. Berdasarkan data kerusakan struktur bangunan akibat gempa, didapat fakta bahwa kerusakan struktur yang dominan terjadi adalah pada bagian hubungan balok kolom (HBK), sedangkan balok dan kolom diluar sambungan masih menunjukkan kinerja yang baik dan hanya terdapat retak di daerah dekat sambungan balok kolom. Kinerja HBK dapat diperbaiki dengan jalan memberi penambahan serat dan fly ash pada adukan beton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan serat dan fly ash terhadap kinerja hubungan balok kolom. Beton dengan tambahan fly ash memiliki kuat tekan yang rendah di umur awal, dan akan memiliki kuat tekan yang kurang lebih sama dengan beton normal pada umur 90 hari. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan benda uji yang berupa hubungan balok-kolom dengan ukuran balok 150 mm x 200 mm dengan panjang 1000 mm dan kolom ukuran 150 mm x 150 mm dengan panjang 1500 mm untuk uji pembebanan statik pada umur 90 hari. Total benda uji HBK sebanyak 6 buah dimana, 3 buah benda uji HBK Serat+fly ash dengan penambahan serat baja DRAMIX sebesar 10 kg/m3, fly ash sebanyak 25 % dari berat semen dan 3 buah berupa HBK beton normal. Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan serat dan fly ash memiliki beban maksimum dan daktilitas yang lebih tinggi dari beton normal. Beban maksimum HBK serat+fly ash mengalami peningkatan 5,08 % dan daktilitas mengalami peningkatan 3,887 % dibandingkan benda uji HBK beton normal. Penambahan serat dan fly ash juga dapat mengurangi lebar retak pada HBK serat+fly ash yaitu dari 0,63 cm pada HBK normal menjadi 0,5 cm.
PERAN GANDA WANITA DALAM EKONOMI KELUARGA (Studi Kasus Pada Pedagang Wanita Pasar Klewer) Bachtiar Suryo Bawono; Bambang Santosa
Journal of Development and Social Change Vol 3, No 1 (2020): Volume 3 no. 1 April 2020
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v3i1.41674

Abstract

Women in the era of globalization have experienced significant changes. As women who previously were not played an active role in the labor market, many woman now play an active role in the world of work, especially in the trade sector. Based on data from the Surakarta City Gender Study and Social Workers Association (PRP) Study, 72% of the traditional market trader population is women. In addition to having a positive impact, increasing women's participation in the world of work also has a negative impact on women themselves. As women as workers will experience double burden problems. It means women who work will have two responsibilities, that is public work responsibilities and domestic work responsibilities.Therefore, the author would like to know how the Dual Role of Women in the Family Economy in Women's Traders' Families in Surakarta City's Klewer Market? This study uses gender analysis techniques Hardvard-1 or HAF method combined with interactive analysis methods. The results showed that the first category of informants only wives who traded in the market showed that, the wife played a role in increasing family income. The initial income of a husband working alone is only able to meet primary needs. After the wife trades, the husband and wife can meet secondary needs and increase family purchasing power. In the access and control of family economic resources, they tend to be dominated by husbands. The informants of both husband and wife trading together in a kios then the role of the wife does not affect the ups and downs of trading income. In accessing and controlling economic resources the family runs in balance.
MINAT PEMUDA PADA PERTANIAN HORTIKULTURA DI DESA KELOR KECAMATAN KARANGMOJO KABUPATEN GUNUNGKIDUL Adriana Sharadhea Ningtyas; Bambang Santosa
Journal of Development and Social Change Vol 2, No 1 (2019): Volume 2 no. 1 April 2019
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v2i1.41657

Abstract

Youth is a valuable asset to the country. The success of the nation's development depends on the level of its youth participation. Phenomena declining the interest of youth in agriculture is a special concern for society and government. Amid in the youth interest in the agricultural sector work, there is a group of farmers who have an interest in agriculture, especially horticultural. The purpose of this research is to see the process of increasing youth interest in horticultural farming, a factor that affects youth interest and the process of forming rational youth choices related to increased interest in horticultural farming. Qualitative research with a descriptive exploratory approach was conducted in the village Kelor Karangmojo District in Gunungkidul Regency. Sampling techniques using purposive sampling techniques. As for the research, informant consists of the youths who belong in a group of horticultural farmer Youth, non-village youth groups and village devices. Data is collected by observing, post conducting interviews and documentation. To test the data validity using source triangulation. Data analysis techniques use interactive models of Miles and Huberman with the rational choice theory of James S. Coleman.The results showed the process of increasing youth interest through: increased youth involvement in horticultural farms that are differentiated into direct involvement and supporting involvement about concerning frequency, long farmed and The youth-owned land area;  Increased members of Horticulture Farmer Youth Group; Raising horticultural farmland; and increased youth innovations in horticultural farming. In the factors that affect the interest of the driving factor is the inner urge, social motivation, and emotional factor also the traction factor in the form of economic factors and market availability. The rational choice of youth against horticultural farming occurs because of the objectives that youths want to achieve by doing horticultural farming activities. Youth access to natural resources as well as capital is a tool for youth to get their goals. In maximizing the efforts of youth conduct collective behavior that is by forming a group of agriculture that has access to human resources and capital resources that can overcome the limitations of youth actors of individuals in activities Horticultural farming.
ECONOMIC EMPOWERMENT OF THE COMMUNITY OF BATU LAYANG CISSARUA VILLAGE, BOGOR Achmad Jaelani; Winaya Purwanti; Hastuti Indra Sari; Safrudin; Bambang Santosa; Arsid; Harnovinsah
International Review of Practical Innovation, Technology and Green Energy (IRPITAGE) Vol. 4 No. 1 (2024): March-June 2024
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/irpitage.v4i1.1667

Abstract

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSME) Skills Training has been implemented in Batu Layang Village, Cisarua Subdistrict, Bogor, to increase local communities' economic empowerment. This program aims to provide knowledge and skills to Batu Layang Village residents so they can manage small and medium businesses more effectively. The training method involves workshops, practical training, group discussions, and direct mentoring by experts in the MSME field. The training results showed a significant increase in participants' knowledge and skills, increased income, and the opening of new jobs at the local level. An evaluative discussion regarding the program's success was carried out, including identifying challenges faced and recommendations for strengthening the program's sustainability in the future. This program has had a significant positive impact on the economic empowerment of the Batu Layang Village community and can be an example of similar efforts in other areas.