Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Relationship between Viral Load Levels and Malnutrition Screening and Nutritional Status in HIV Patients at RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Oktavia Salsadillah Putri; Enny Nugraheni; Noor Diah Erlinawati; Mulya Sundari; Debie Rizqoh
Proceeding International Conference Of Innovation Science, Technology, Education, Children And Health Vol. 4 No. 1 (2024): Proceeding of The International Conference of Inovation, Science, Technology, E
Publisher : Program Studi DIII Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/icistech.v4i1.81

Abstract

Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) cases continue to increase and are becoming a top global public health problem. When weight loss is more than 10% below the previous body weight, the relative risk of death is going to increase almost 6-fold. A viral load checkup is a test to measure the amount of HIV in the blood. The increase in nutritional needs and tissue catabolism is caused by the increase in viral load in the body. Malnutrition screening is necessary to evaluate nutritional status so that this treatment can be recommended if the patient is malnourished. This research is an analytical observational study with a cross-sectional design. Analysis was carried out on 109 people living with HIV who received treatment at RSUD Dr. M Yunus Bengkulu. The independent variable in this study is the viral load level, while the dependent variable is screening for malnutrition and the nutritional status of people living with HIV/AIDS—data analysis using the Spearman Rank test. The study results showed no correlation between viral load levels and nutritional status with a value of p=0.243 (p>0.05), and there was a correlation between viral load levels and malnutrition screening with p≤001. The viral load of HIV patients at Dr. M Yunus Bengkulu does not correlate with nutritional status, but it correlates with malnutrition screening.
Pencegahan Delayed Diagnosis dan Peningkatan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Betungan Mirna Mirna; Sipriyadi; Enny Nugraheni
DHARMA RAFLESIA Vol 24 No 1 (2026): JUNI (ACCREDITED SINTA 5)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/dr.v24i1.48177

Abstract

Tuberkulosis adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Epidemiologi tuberkulosis Indonesia berdasarkan laporan WHO tahun 2022 mencapai angka 9,2% dari 10,6 juta kasus. Kesulitan dalam menurunkan angka kejadian Tuberkulosis adalah delayed diagnosis. Sehingga perlu peningkatan kesadaran minum obat yang didampingi oleh pendamping dalam hal ini PMO bisa berasal dari keluarga atau kerabat dekat. Kegiatan ini dilakukan dengan metode edukasi dan evaluasi. Setelah dilakukan edukasi dinilai dengan kuisioner tentang pendampingan keluarga. Pada kegiatan ini terdapat 50 peserta yang terdiri dari pasien TB dan juga pendamping pasien TB. Sebagian besar pasien TB berjenis kelamin perempuan dan pendamping pasien 24 orang wanita. Pasien terdistribusi sebagian besar berusia 46-50 tahun sedangkan pendamping pasien sebagian besar berusia 36-40 tahun. Status pendamping sebagian besar adalah keluarga namun bukan kandung. Pesrta diberikan kuisioner sebelum dan setelah edukasi yang terdiri dari beberapa pertanyaan terkait indikator delayed diagnosis dan kepatuhan minum obat. Nilai rata-rata sebelum edukasi 44,4, dan setelah edukasi 80. Kesimpulan pada kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan pada peserta sebelum dan setelah dilakukan edukasi dalam mendampingi pasien TB.