Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH KEDALAMAN MENYELAM, LAMA MENYELAM, ANEMIA TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT DEKOMPRESI PADA PENYELAM TRADISIONAL Halena Isrumanti Duke; Sri Rahayu Widyastuti; Suharyo Hadisaputro; Shofa Chasani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 12. No. 2. Tahun 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.847 KB)

Abstract

Latar Belakang:Penyakit dekompresi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan akibat penurunan tekanan dengan cepat di sekitarnya. Faktor-faktor yang diduga meningkatkan dekompresi adalah kedalaman menyelam, lama menyelam, dan anemia.Tujuan :Untuk menjelaskan besarnya pengaruh kedalaman menyelam, lama menyelam, anemia terhadap kejadian penyakit dekompresi pada penyelam tradisional. Metode :Penelitian mix methode desain studi kasus kontrol yang diperkuat dengan  indepth interview ini dilakukan terhadap 46 responden, meliputi 23 kasus (penyelam tradisional penderita penyakit dekompresi) dan 23 kontrol (penyelam tradisional bukan penderita penyakit dekompresi) yang diambil secara purposive sampling. Instrument penelitian adalah  kuesioner wawancara. Analisis data secara univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (logistic regression).Hasil :Kedalaman  menyelam  ≥ 30 meter (OR = 6,62; 95% CI = 1,059 – 41,390, p<0.043), lama menyelam ≥ 2 jam (OR = 61,680; 95% CI = 3,687 – 1031,93, p<0.004) dan anemia (OR = 14,453, 95% CI = 2,146-97,346, p<0.006) berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi.Kesimpulan :Kedalaman  menyelam ≥ 30 meter, lama menyelam  ≥ 2 jam, dan anemia berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi dengan probabilitas 94,45%.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI PADA PASIEN YANG BEROBAT DI POLIKLINIK RSUD RAA SOEWONDO PATI Reza Rachman; Shofa Chasani; Setyo Gundi Pramudo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.295 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15825

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi bukanlah penyakit yang dapat dipandang sebelah mata saja, sebab kondisi faktual menyatakan bahwa hipertensi dapat meningkatkan timbulnya beberapa komplikasi yaitu penyakit serebrovaskular, infark miokard, gagal jantung kongestif, dan insufisiensi renal. Hal tersebut akan menyebabkan disabilitas, membatasi aktivitas sehari-hari, fungsi sosial, dan status psikologis.Tujuan : Mengetahui hubungan faktor risiko hipertensi terhadap kejadian hipertensi stage 1 dan stage 2 pada pasien yang berobat di poliklinik RSUD RAA Soewondo Pati.Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 75 responden, yang menderita hipertensi. Penelitian dilakukan di poliklinik RSUD RAA Soewondo Pati pada bulan Maret 2016. Sampel diambil secara consequtive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara langsung serta pemeriksaan fisik berupa pengukuran tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan. Analisis data dilakukan secara bertahap meliputi analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda metode Backward Stepwise (Likelihood Ratio) pada program SPSS.Hasil : Hasil uji statistik dengan regresi logistik berganda tidak menunjukkan adanya perbedaan antara  faktor risiko hipertensi stage 1 dan hipertensi stage 2 pada pasien yang berobat di poliklinik RSUD RAA Soewondo Pati yaitu usia (p = 0,83), riwayat keluarga (p = 0,615), merokok (p = 0,222),  obesitas (p = 0,25), jenis kelamin (p = 0,713), konsumsi natrium ( p = 0,653), konsumsi lemak (p = 1), aktivitas (p = 0,673) dan alkohol (p = 0,606).Simpulan : Faktor risiko hipertensi usia, riwayat keluarga, merokok, obesitas, jenis kelamin, konsumsi natrium, konsumsi lemak, aktivitas dan konsumsi alkohol tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap kejadian hipertensi stage 1 dan stage 2.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KENDURUAN, KABUPATEN TUBAN Lingga Hageng Kurnia Santosa; Shofa Chasani; Setyo Gundhi Pramudo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.268 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14806

Abstract

Latar Belakang : Salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan penting di seluruh dunia adalah hipertensi, dikarenakan prevalensinya yang tinggi dan terus meningkat serta hubungannya dengan penyakit kardiovaskuler, stroke, retinopati, dan penyakit ginja.Tujuan : Mengetahui hubungan faktor risiko hipertensi terhadap kejadian hipertensi derajat 1 dan derajat 2 pada Pasien yang berobat di Puskesmas Kenduruan , Kabupaten Tuban, Jawa Timur.Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 75 responden yang menderita hipertensi. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kenduruan, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban pada bulan Maret 2016. Sampel diambil secara konsekutif sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara langsung serta pemeriksaan fisik berupa pengukuran tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan. Analisis data dilakukan secara bertahap meliputi analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda metode Backward Stepwise (Likelihood Ratio) pada program SPSS.Hasil : Hasil uji statistik dengan regresi logistik berganda tidak menunjukkan adanya perbedaan antara faktor risiko hipertensi stage I dan hipertensi stage II pada masyarakat di Puskesmas Kenduruan, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban. Dengan riwayat keluarga (p = 0,586; OR = 1,36 dan 95% CI = 0,449 – 4,117), usia ( p = 1,000; OR = 1,131 dan 95% CI = 0,27 – 4,72), merokok (p = 1,000; OR = 0,94 dan 95% CI = 0,18 – 5,05), obesitas (p = 0,749; OR = 1,18 dan 95% CI = 0,33 – 4,28), jenis kelamin ( p = 0,725; OR = 0,69 dan 95% CI = 0,19 – 2,54), konsumsi garam (p = 1,000; OR = 0,5 dan 95% CI = 0,06 – 4,35), konsumsi lemak (p = 0,72; OR = 0,082 dan 95% CI = 0,11 – 2,8 ), aktivitas fisik (p = 0,033; OR = 4,32; 95% CI = 1,28 – 14,58 ) dan konsumsi alkohol (p = 1,000 ).Simpulan : Riwayat keluarga, usia, merokok, obesitas, jenis kelamin, konsumsi garam, konsumsi lemak, aktivitas fisik dan konsumsi alkohol tidak didapatkan hasil yang berbeda sebagai faktor-faktor risiko hipertensi stage I maupun hipertensi stage II.
HUBUNGAN ANTARA LAMA HEMODIALISIS DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK (STUDI DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) Aidillah Mayuda; Shofa Chasani; Fanti Saktini
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.27 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18531

Abstract

Latar belakang: Penyakit ginjal kronik (PGK) sebagai akibat kerusakan struktural dan fungsional ginjal memiliki progresifitas tinggi berlanjut sebagai end stage renal disease (ESRD) dan memerlukan suatu terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis. Terapi hemodialisis jangka  panjang akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan dan berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien.Tujuan: Menganalisis hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup penderita penyakit ginjal kronik di RSUP dr Kariadi Semarang.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek penelitian ini merupakan pasien penyakit ginjal kronik di RSUP Dr.Kariadi Semarang periode Maret-Juni 2016. Diperoleh 44 subjek dengan metode consecutive sampling. Data yang digunakan adalah data primer, yaitu hasil pengisian kuesioner KDQOL SF™1.3 dan data sekunder berupa rekam medis.Hasil: Kualitas hidup pasien dengan kategori baik, cukup dan kurang berturut-turut sebagai berikut: 7 (11,4%), 16(36,4%), 5(15,9%) pada hemodialisis < 5 tahun dan 5(11,4%), 6(13,6%), 5(11,4%) pada hemodialisis ≥5 tahun. Dengan analisis fisher’s diperoleh nilai p=0,732. Pada uji somers’d diperoleh nilai p=0,781 antara lama hemodialisis dengan kualitas hidup.Variabel perancu seperti usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status pernikahan, penyakit mendasari, menunjukkan hubungan tidak bermakna dengan kualitas hidup. Sedangkan jenis kelamin dan IMT berpengaruh terhadap kualitas hidup.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan maupun hubungan yang signifikan secara statistik antara lama hemodialisis dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik di RSUP Dr.Kariadi Semarang.
PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG DITERAPI DENGAN CONTINUOUS AMBULATORY PERITONEAL DIALYSIS ATAU HEMODIALISIS Muchammad Ramadhan Abdul Ghaffar; Shofa Chasani; Fanti Saktini
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.092 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i4.18382

Abstract

Latar Belakang : Saat ini PGK merupakan merupakan masalah kesehatan yang dipandang sangat serius di dunia, terlebih lagi di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri jumlah kasus PGK baru dalam setahun semakin meningkat pertahunnya. Modalitas Renal Replacement Therapy yang tepat penting untuk membantu pasien menghadapi penyakitnya. Pemilihan modalitas Renal Replacement Therapy yang sesuai diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien PGK.Tujuan  : Menganalisis perbedaan kualitas hidup pada pasien PGK dengan CAPD dan PGK dengan HD di Unit Dialisis RSUP Dr. Kariadi SemarangMetode : Penelitian ini merupakan penelitian komparatif yang menggunakan desain cross sectional. Subjek penelitian dipilih secara consecutive sampling dari pasien PGK di Unit Dialisis RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pengumpulan data dengan pencatatan dari kuesioner KDQOL SF™1.3. Uji normalitas data menggunakan uji Shapiro-Wilk dan independent t-test digunakan untuk uji hipotesis.Hasil    : Nilai keseluruhan kualitas hidup terdapat perbedaan yang signifikan dengan rerata lebih tinggi pada pasien PGK dengan CAPD (74,92 ± 11,24 dengan 54,88 ± 12,69). Setelah dilakukan Independent t-test didapatkan p < 0,05(0,000). Sampel dengan kualitas hidup baik lebih banyak ditemukan pada pasien PGK dengan CAPD yaitu 12 (60%) sampel sedangkan pada pasien PGK dengan HD hanya terdapat 1 (5%) sampel. Pada pasien PGK dengan CAPD juga didapatkan sampel dengan kualitas hidup cukup sebanyak 6 (30%) sampel dan sampel dengan kualitas hidup kurang sebanyak 2 (10%). Sementara itu, terdapat 6 (30%) sampel dengan kualitas hidup cukup dan 13 (65%) sampel dengan kualitas hidup kurang pada pasien PGK dengan HD.   Simpulan : Terdapat perbedaan kualitas hidup antara pasien PGK dengan CAPD dan PGK dengan HD di Unit Dialisis RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pasien CAPD memiliki rerata kualitas hidup yang lebih baik daripada pasien PGK dengan HD.
Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik Stadium Terminal Pada Penderita Hipertensi Stadium 1-2 Kartika Ikawati; Shofa Chasani
Pena Medika Jurnal Kesehatan Vol 7, No 2 (2017): PENA MEDIKA JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pmjk.v7i2.706

Abstract

Background : End Stage Renal Disease (ESRD) has been a health problem because the incidence to increase with high mortality. Risk faktors of ESRD of  stage 1-2 hypertention in during 5-10 years have not been studied.  Risk faktors of ESRD ware associated with behaviors and comorbidity diseases in hypertension patientsMethod : This study applied an analytical observational method with a case control study design. The study used 64 respondents as sampels , divided into; 32  as case samples and 32 as control samples with consecutive sampling. Independent variabels in this study ware behavior, history of diabetes mellitus, hyper total cholesterol and  hyper uric acid.  Data were collected by interview and medical record. These data were subject to analyses using univariat, bivariate, and multivariate testsResults : Risk faktors of ESRD of stage 1-2 hypertention in during 5-10 as  followings: type-2 diabetes mellitus (OR=39 ; 95% CI=5.435-73.531; P=0.000), not regularly taking anti-hypertensive drugs  (OR=14; 95%CI=2.117-92.170; P=0.006) and  hyper total cholesterol (OR=13; 95% CI=2.136-81.025; P=0.005).  .Conclusion : Risk factors for ESRD in hypertension patients were; type-2 diabetes mellitus, not regularly taking anti-hypertensive drugs and hyper total cholesterol.  To prevent the progression of hypertension into ESRD, strived not to suffered type 2 diabetes mellitus, taking anti-hypertensive medication regulary and control of  total cholesterol   Keywords :  Risk Faktors, End Stage Renal Disease, Hypertension
Studi Fenomenologi: Pengalaman Aktivitas Fisik Klien Yang Menjalani Hemodialisis Rosiah Rosiah; Shofa Chasani; Wahyu Hidayati
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 3 No. 1 (2017): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPEREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.234 KB) | DOI: 10.33755/jkk.v3i1.78

Abstract

Hemodialisis merupakan salah satu terapi yang dilaksanakan oleh klien dengan penyakit ginjal kronis stadium akhir. Berbagai perubahan fisik dan psikologis klien yang menjalani hemodialisi berpengaruh pada kemampuan klien dalam melakukan aktivitas fisik. Pengalaman klien yang menjalani hemodialisis dalam melakukan aktivitas fisik merupakan hal penting untuk diketahui agar dapat menjadi dasar pengembangan program intervensi untuk mengurangi resiko komplikasi penyakit jantung yang menjadi penyebab utama kematian penyakit ini.Tujuan penelitian ini yaitu mengeksplorasi secara mendalam pengalaman pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik klien yang menjalani hemodialisis.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui in-depth interview kepada 8 (delapan) orang klien yang menjalani hemodialisis.  Keabsahan data meliputi credibility, dependability, confirmability, transferability. Teknik analisis data menggunakan metode Collaizi.Hasil penelitian didapatkan 4 (empat) tema yaitu:  (1) Perubahan pemenuhan kebutuhan aktivitas selama menjalani hemodialisis; (2) Mempertahankan kemampuan perawatan diri selama menjalani hemodialisis (3) Perencanaan dalam upaya mempertahankan kemampuan aktivitas fisik; (4)  Harapan terhadap pelayanan terkait dengan intervensi keperawatanHasil penelitian pengalaman aktivitas fisik klien yang menjalani hemodialis dapat dijadikan dasar pengembangan program pelayanan keperawatan yang lebih bermutu untuk dapat meningkatkan produktifitas klien sehingga kualitas hidup klien hemodialisis menjadi lebih baik.
PROBABILITAS PERILAKU SEDENTARI TERHADAP HIPERTENSI PADA PEGAWAI DAERAH PERIMETER PELABUHAN Eka Oktaviarini; Suharyo Hadisaputro; Shofa Chasani
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 9 No 1 (2019): Januari
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.641 KB) | DOI: 10.32583/pskm.9.1.2019.12-21

Abstract

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistol ≥140 mmHg atau diastol ≥90 mmHg. Hipertensi sering disebut the silent killer karena tidak menimbulkan gejala sehingga pengobatannya seringkali terlambat. Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Pegawai menghabiskan waktu kurang lebih delapan jam sehingga tidak memiliki kebiasaan olahraga secara teratur. Perilaku sedentari merupakan perilaku yang berisiko terhadap salah satu penyakit pembuluh darah. Proporsi hipertensi berdasarkan survei deteksi dini penyakit tidak menular pada pegawai kantor di daerah perimeter adalah 33,68%. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan desain case control dengan jumlah 76 sampel terdiri dari 38 kasus dan 38 kontrol yang diambil secara consecutive sampling pada populasi pegawai perimeter pelabuhan yang tercatat dalam survei deteksi dini tahun 2017. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil statistik yang diperoleh adalah jenis kelamin (p=0,010; OR adjusted 6,179; 95%CI 1,553-24,587) dan perilaku sedentari (p=0,034; OR adjusted 0,338; 95%CI 0,124-0,921). Umur, riwayat keluarga, kebiasaan olahraga, riwayat stres kerja dan jadwal kerja tidak terbukti sebagai faktor risiko hipertensi. Hormon merupakan salah satu penyebab hipertensi pada laki-laki cenderung lebih tinggi. Otot seseorang yang kurang melakukan aktivitas fisik cenderung akan mengendor sehingga peredaran darah akan terhambat dan kerja jantung akan lebih berat. Kata kunci : Hipertensi, pegawai, pelabuhan, sedentari SELF-CONCEPT OF PATIENTS WITH CHRONIC RENAL FAILURE WHO UNDERWENT HEMODIALYSIS ABSTRACT Hypertension is an increase in systolic blood pressure ≥140 mmHg or diastolic ≥90 mmHg. Hypertension is often called the silent killer because it does not cause symptoms so the treatment is often late. Hypertension is a work-related disease. Officers spend approximately eight hours so they do not have regular exercise habits. Sedentary is a risky behavior for one of the vascular diseases. The proportion of hypertension based on early detection of non-communicable diseases in the perimeter area is 33,68%. This research is an analytic observational study using a case control design with 76 samples consisting of 38 cases and 38 controls taken by consecutive sampling in the population of port perimeter officers recorded in the early detection survey in 2017. Data were analyzed by univariate, bivariate and multivariate. Results obtained were gender (p=0,010; adjusted OR 6,179; 95%CI 1,553-24,587) and sedentary behavior (p=0,034; adjusted OR 0,338; 95%CI 0,124-0,921). Age, family history, exercise habits, history of work stress and work schedules are not proven to be risk factors of hypertension. Hormone is one of the causes of hypertension in men tend to be higher. The muscle of someone who is less physically active tends to relax so that blood circulation will be hampered and the heart will work harder. Keywords: Hypertension, officers, port, sedentary.
ISLAMIC PRAYER IS EFFECTIVE TO REDUCE PAIN AND ANXIETY PATIENTS WITH ACUTE MYOCARDIAL INFARCTION IN ICVCU : A PILOT STUDY] Arif Adi Setiawan; Shofa Chasani; Mardiyono Mardiyono
Jurnal LINK Vol 12, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.496 KB) | DOI: 10.31983/link.v12i2.619

Abstract

Peak periods of pain and anxiety begins in the first 12 hours of entry ICVCU (Intensive Cardiovascular Care Unit) and improve after 48 hours until the patient was transferred to the ward. The study was to evaluate the efftects of Islamic Prayer in reducing pain and anxiety in patients with AMI in ICVCU. The study was A quasi experimental pre and post test design. The Samples were AMI patients hospitalized for 3 days. Islamic Prayer is composed by reciting Qur’an, prayer, and zikr. Pain was measured by the Numeric Rating Scale for Pain and anxiety was measured by the Numerical Rating Scale for Anxiety (NRSA). The data pain and anxiety were analysized by paired t-test. The findings show that there were significant reductions in mean pain scores and anxious before and after intervention after entering ICVCU Islamic Prayer interventions effectively reduce pain at 12 hours (t = 6.293, p = .000), 24 hours (t = 5.191, p = .000) and 48 hours after admission (t = 6.698, p = .000) and anxious 12 hours (t = 6.293, p = .000), 24 hours (t = 5.506, p = .000), 48 hours (t = 5.234, p = .000). which means that Islamic Prayer is effective to reduce pain and anxiety in patients with AMI in ICVCU.