Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Recent Catalyst Technology Development in Residue Catalytic Cracking Unit: A Mini Review Suhendra Suhendra; Zen Adi Laksana; Dhenok Widiastuti; Tita Griya Melyta
CHEMICA: Jurnal Teknik Kimia Vol 6, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/chemica.v6i2.14810

Abstract

The use of fuel oil from year to year until now has experienced a rapid increase, due to increasing population growth in vehicle operations and the development of industries that require fuel. The position of renewable energy has not been able to shift the position of petroleum fuels to the needs of the world market. The RCC unit is secondary processing that converts heavy fraction hydrocarbons to light fraction hydrocarbons with the help of using catalysts into high-value petroleum products such as Naphtha, LPG, and Light Cycle Oil. RCC unit has three main parts of the process, namely riser, stripper, and regenerator, with the use of the main raw material of residue and using a catalyst. This paper aims at reviewing recent journals concerning the catalyst applied in the RCC unit. The basis of the RCC unit to be reviewed is from an existing RCC unit in Indonesia. The development of research on catalysts and regeneration technology in the RCC unit has experienced rapid development until now. It is expected that this paper can contribute to the future development and application of catalysts for the RCC unit, both for national and international levels.
Effective Treatment of Industrial Wastewater Contaminated with Mn and Pb using Mesoporous Silica from Yogyakarta Beach Siti Salamah; Suhendra Suhendra
CHEMICA: Jurnal Teknik Kimia Vol 8, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/chemica.v8i2.21952

Abstract

The research was investigated using Yogyakarta beach sand as the main material to synthesize mesoporous silica (MS). The MS usage in the environmental field is mainly to overcome water pollution, contaminated from chemical waste used in industrial productions. In the sol-gel method, the silica from beach sand was extracted and synthesized into MS using a dodecyl amine (DDA) template. MS is used as an adsorbent for manganese (Mn) and lead (Pb) printing liquid waste. MS produced was analyzed with FTIR and surface area analyzer (SAA). The process of waste adsorption used MS weight variables of 1 gr, 2 gr, and 3 gr. The MS was mixed in the waste and stirred with a rotation speed of 120 rpm for 2 hours. The solution was left for 24 hours until separated from the adsorbent. AAS analyzed the resulting liquid, and the adsorbent was dried at 100 °C for 24 hours and analyzed by SEM-EDX. The synthesized MS was characterized. It has a surface area of 122.78 m2/gr and a pore diameter of 4.65 nm. The AAS analysis results showed that the wastewater contains Ni <0.076 mg/L and Pb <0.415 mg/L. The SEM-EDX analysis showed that the adsorbent used contains 0.01% Mn, 0.01% Pb, and 0.39% Cu. The research showed that the liquid printing waste analyzed contains nickel, lead, and copper.
Isolation of Dunaliella salina Microalgae from Pari Island, Jakarta, Indonesia Andri Hutari; Ranti An Nisaa; Suhendra Suhendra; Husnin Nahry Yarza; Devi Anugrah
Jurnal Biologi Tropis Vol. 22 No. 3 (2022): July - September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v22i3.3804

Abstract

Dunaliella salina is a microalga from the Chlorophyta group which is reported to be found in mangrove forests. These microalgae are reported to have economic value as a producer of beta carotene, astaxanthin, and EPA fatty acids. The microalga was isolated from Pari Island, Jakarta. Sampling by streak plate method. This study aimed to obtain Dunaliella salina isolates for further exploration. The results obtained were, that three pure isolates MKA1, MKA2, and MKA3, were successfully purified. The three isolates showed oval-ovoid morphology and orange-pink pigmentation of the culture. Cultivation using seawater, glucose (10 g/L) and yeast extract (3 g/L) produced biomass of about 2.3 g/L and further optimization needs to be explored.
Pemanfaatan Spirulina Platensis sebagai Masker Gel Peel-Off Adi Permadi; Suhendra Suhendra; Mustofa Ahda; Syaeful Akbar Padya; Ananda Ranu Bachtiar; Aulia Nur Rahma; Elza Naura Syafitri; Vania Insani Syita Harmony; Yeni Triwidyastuti
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8536

Abstract

Spirulina merupakan mikroalga bersel tunggal yang hidup di air dan berkembang biak dengan membelah diri yang dikenal sebagai sumber nutrisi tanaman lengkap yang kaya akan asam amino esensial, vitamin, mineral dan karotenoid. Memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa mikroorganisme misalnya Propionibacterium acne, Streptococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus, tiga bakteri jerawat terkait. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi ekstrak etanolik spirulina menjadi masker gel peel-off dengan Polyvinyl Alcohol (PVA) dan Hydroxypropyl Methylcellulose sebagai gelling agent. Ekstrak etanol spirulina 2% diformulasikan menjadi masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan DMC yang bervariasi. Persentase PVA: DMC pada formula A adalah 2,25% : 1,25%, pada formula B 2,00% : 1,05%, pada formula C 1,50% : 1,15%. Pengujian stabilitas fisik dilakukan pada masing-masing formula meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, waktu kering, viskositas, uji dispersi, uji waktu kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula A (DMC 1, 25%: PVA 2, 25%) dan formula B (DMC 1.05%: PVA 2.00%) memenuhi semua syarat uji stabilitas fisik yaitu nilai pH 5,00, dispersi 10, 30 cm, nilai viskositas 557 CP, waktu kering 29 menit 21 detik untuk formulasi A, dan nilai pH 5,00, dispersi 11,20 cm, nilai viskositas 207 CP, waktu kering 32 menit 01 detik untuk formulasi B.
Hilirisasi Produk Sediaan Kapsul Spirulina Platensis Adi Permadi; Suhendra Suhendra; Mustofa Ahda; Syaeful Akbar Padya; Khalif Fathan Muzakki; Noor Syahdan Fitrianto; Yolanda Waldatul Marwa
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8537

Abstract

Indonesia berhadapan dengan masalah kesehatan khususnya pada prevalensi penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi dampak radikal bebas yang memberi efek buruk pada kesehatan. Perlunya antioksidan dalam mengatasi permasalahan ini diatasi dengan pemanfaatan spirulina. Kandungan protein yang tinggi dan beragam kandungan yang bermanfaat mendorong pentingnya spirulina untuk dikonsumsi. Produk kapsul spirulina 100% telah diuji sesuai standar BPOM. Hasil analisis uji kapsul spirulina diketahui semua parameter uji telah memenuhi syarat sehingga kapsul spirulina layak untuk dikonsumsi. Kapsul spirulina menggunakan kapsul dari bahan gelatin yang telah memiliki lisensi halal MUI dan dikemas dengan botol HDPE yang telah diuji. Selain itu, produk kapsul spirulina juga dilengkapi dengan label agar memudahkan konsumen mendapatkan informasi kandungan dan manfaat dari produk spirulina.
BIOKONVERSI LIMBAH ORGANIK MENGHASILKAN LIPID BERNILAI EKONOMIS MENGGUNAKAN MIKROALGA AURANTIOCHYTRIUM DARI HUTAN BAKAU BUNAKEN, SULAWESI UTARA Suhendra Suhendra; Sekar Pratiwi; Hutri Puspita Sari; Andri Hutari
Jurnal Konversi Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.12.1.8

Abstract

Modernisasi dan industrialisasi telah merevolusi sektor pangan dan pertanian yang mengarah pada peningkatan dramatis dalam produktivitas dan pemasarannya. Dampaknya adalah peningkatan produksi makanan dan limbah agroindustri. Untuk mengatasi problematika masalah sampah secara terpadu, perlu dikembangkan strategi berkelanjutan yang sangat tergantung pada pemahaman tentang tantangan teknologi dan ekonomi. Terkait dengan itu, perlu dieksplorasi teknologi untuk mengkonversi limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, antara lain melalui biokonversi menggunakan mikroalga. Salah satu mikroalga yang menarik perhatian besar dunia industri dunia adalah spesies Aurantiochytrium sp. yang saat telah dikembangkan di Eropa dan Amerika pada skala industri. Mikroalga spesies Aurantiochytrium dikenal memiliki habitat hutan bakau dan pertumbuhannya yang cepat dalam produksi asam lemak tak jenuh ganda (lemak tak jenuh rantai panjang PUFA) dengan nilai ekonomi tinggi. Meski Indonesia dikenal sebagai negara dengan hutan bakau terluas di dunia, tetapi kajian teknik kultivasi mikroalga Aurantiochytrium belum banyak dipublikasikan dengan isolat lokal Indonesia. Produk yang dapat dihasilkan dari mikroalga ini salah satunya yaitu omega-3 DHA (Docosahexaenoic acid). Asam lemak tak jenuh rantai ganda (Polyunsaturated Fatty Acids/ PUFA) omega-3 sangat dibutuhkan tubuh manusia, seperti pencegah penyakit jantung dan diabetes, pertumbuhan sel otak dan lain sebagainya. Produksi PUFA secara ekonomis dari biokonversi mikroalga Aurantiochytrium tergantung dari nutrisi yang digunakan. Karenanya, tujuan penelitian ini adalah mempresentasikan teknik kultivasi mikroalga heterotropik menggunakan mikroalga Aurantiochytrium yang masih jarang dipaparkan pada publikasi nasional. Kedua, memaparkan kemampuan biokonversi limbah organik dengan mikroalga Aurantiochytrium yang berasal dari hutan bakau Bunaken, Sulawesi Utara. Penelitian ini dimulai dengan isolasi sampel mikroalga dari hutan bakau Bunaken dan melakukan teknik isolasi direct plating hingga dihasilkan isolat murni. Setelah itu, dilakukan kultivasi dengan sumber nutrisi dari limbah melon, limbah apel, limbah molasses dan limbah air kelapa. Kultivasi dilakukan dalam tiga tahapan, masing-masing tahap standing culture (SC, 48 jam), pre-culture (PC, 48 jam) dan main culture (MC, 120 jam). Pada tahap kultivasi utama (MC) perbandingan sumber nitrogen dan sumber karbon masing-masing 12,5 gram (sumber nitrogen) dan 37,5 gram (sumber karbon). Sumber karbon berasal dari molasses (hasil samping pabrik gula), sampah buah melon, sampah buah apel dan air kelapa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mikroalga mikroalga Aurantiochytrium dapat tumbuh pada media yang digunakan. Selain itu, biomassa yang dihasilkan berwarna kuning cerah berbau amis seperti ikan. Dari variable jenis limbah organik yang dipakai, sampah limbah buah melon menghasilkan biomassa tertinggi, yaitu 99,4 gram/ liter. Potensi produk omega-3 yang dihasilkan bermanfaat untuk dikembangkan di sektor perikanan, peternakan, nutrisi, kosmetika dan farmasi. Oleh karena itu, dengan penelitian ini, kedepan topik penelitian biokonversi ini semoga dapat bermanfaat untuk dikembangkan dalam menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai tambah ekonomi bagi negara demi terwujudnya negara dengan nilai gizi masyarakat dalam program ketahanan pangan dan obat-obatan nasional
POTENSI LIPID MIKROALGA AURANTIOCHYTRIUM DARI HUTAN BAKAU INDONESIA SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI BIOFUEL Suhendra, Suhendra; Veranica, Veranica; Handayani, Nurliana; Hutari, Andri
Jurnal Chemurgy Vol 8, No 1 (2024): Jurnal Chemurgy-Juni 2024
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/cmg.v8i1.7586

Abstract

Microalgae's high lipid content makes them an alternative raw material for the generation of biofuel. This research examines the potential of Aurantiochytrium microalgae sourced from mangrove forests. The capacity to create omega-3 polyunsaturated fatty acids, such DHA, which have a high economic value, is one benefit of Aurantiochytrium microalgae and makes integrated production with biofuel production feasible. The possible biofuel products from Aurantiochytrium microalgae, including biodiesel and bioviation fuel, are reviewed in this research. These microalgae go through multiple steps in the biofuel production process, including isolation, cultivation, lipid extraction, and hydroprocessing and transesterification to turn the algae into biodiesel or biojet fuel. The first steps toward producing biofuel from Aurantiochytrium microalgae obtained from Indonesian mangrove forests are expected to be laid by this research.