Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Biomedika

PERBEDAAN OPTIC NERVE SHEATH DIAMETER (ONSD) PADA RESPONDEN NORMAL DAN NYERI KEPALA Sulistyani Sulistyani; Rivan Danuaji
Biomedika Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v11i2.8466

Abstract

Nyeri kepala merupakan salah satu tanda adanya peningkatan tekanan intrakranial. Nervus optikus merupakan saraf kranialis yang mudah dipengaruhi langsung oleh adanya peningkatan tekanan intrakranial. Kelainan nervus optikus dapat diketahui dengan adanya pelebaran optic nerve sheath diameter (ONSD). ONSD dapat diukur dengan transorbital sonografi yang bersifat noninvasif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan nilai ONSD pada responden normal dan nyeri kepala. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan metode cross sectional. Responden diambil dari pasien rawat inap dan responden normal. Hasil penelitian didapatkan Rata – rata nilai ONSD pada pasien nyeri kepala adalah 0,52 ± 0,86 dan pada responden normal adalah 0,40 ± 0,57 (p 0,05). Terdapat perbedaan signifikan nilai ONSD pada pasien normal dan nyeri kepala. Pasien nyeri kepala akibat peningkatan intrakranial dapat dideteksi dengan pemeriksaan ONSD yang bersifat non invasif.Kata Kunci: Optic Nerve Sheath Diameter (ONSD), Responden Normal, Nyeri KepalaHeadache is one of the symptoms of increased intracranial pressure. The optic nerve is part of the cranial nerve can be affected directly by the increased intracranial pressure. Opticus nerve can be examined from ONSD dilatation examination by non invasif sonography transorbital. The research aimed to defferentiate the optic nerve sheath diameter (ONSD) on the normal volunteer and headache. Analysis observational with cross sectional method was conducted in ward patients with headache at RSDM in April-May 2015. Mean ONSD in headache patient is 0,52 ± 0,86 and normal volunteers 0,40 ± 0,57 (p 0,05). The significant different ONSD value between headache and normal volunteers. Headache with intracranial increased can be detected with non invasif ONSD examination.Keyword: Optic nerve sheath diameter , headache , normal volunteer 
PENGARUH USIA, JENIS KELAMIN, POSISI KERJA DAN DURASI DUDUK TERHADAP DISABILITAS AKIBAT NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA GURU SMA SAAT WORK FROM HOME SELAMA PANDEMI COVID-19 Dwi Kusumaningsih; Atika Fatwa Yukhabilla; Sulistyani Sulistyani; Iwan Setiawan
Biomedika Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v14i1.17465

Abstract

ABSTRAKNyeri punggung bawah mempengaruhi sebagian besar populasi di seluruh dan merupakan salah satu penyebab utama disabilitas fisik. Pandemi COVID-19 mengakibatkan banyak negara memberlakukan pembatasan kegiatan sehingga banyak instansi yang menerapkan work from home. Keterbatasan tempat kerja yang ergonomis di rumah mempengaruhi sikap posisi kerja dan durasi duduk pekerja yang dapat menyebabkan disabilitas akibat nyeri punggung bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh usia, jenis kelamin, posisi kerja dan durasi duduk terhadap disabilitas akibat nyeri punggung bawah pada guru saat work from home selama pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Subjek penelitian meliputi 50 responden diambil dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner secara online dengan alat ukur Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk mengukur posisi kerja dan Oswestry Disability Index (ODI) untuk mengukur disabilitas nyeri punggung bawah. Analisis data menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik. Hasil analisis didapatkan usia mempunyai nilai p=0,033 dan OR=4,392. Jenis kelamin mempunyai nilai p=0,370 dan OR=1,714. Posisi kerja didapatkan nilai p-value=0,004 dan OR=3,926. Durasi duduk didapatkan nilai p-value=0,002 dan OR=6,810. Hasil analisis multivariate uji regresi logistik, dengan nilai R-Square 0,488. Terdapat pengaruh yang signifikan antara usia, posisi kerja dan durasi duduk, sedangkan jenis kelamin tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap disabilitas akibat nyeri punggung bawah.Kata Kunci: Usia, Jenis Kelamin, Posisi Kerja, Durasi Duduk, NPB, WFH ABSTRACTLow back pain affects a large proportion of the population worldwide and is one of the leading causes of physical disability. Due to the COVID-19 pandemic many countries limit their activities and implement work from home. The lack of availability of an ergonomic workplace at home affects the working position and seating duration of workers which can lead to back pain. This study aims to investigate the impact of age, gender, working position, and sitting duration on disability complaints of low back pain in teachers during work from home due to the Covid-19 pandemic. This research method uses a cross-sectional study design. Subjects were 50 respondents taken by purposive sampling technique. Collecting data using an online questionnaire with a Rapid Entire Body Assessment (REBA) to measure work position and Oswestry Disability Index (ODI) to measure disability of low back pain. Data analysis used the chi-square test and logistic regression test. Bivariate analysis results showed that age has a value of p=0,033 and OR=4,392. Gender has a value of p=0,370 dan OR=1,714. Work position obtained the OR value 3,926 with a p-value=0,004 (0.05) and sitting duration obtained OR value 6,810 with p-value=0,002 (0.05). Multivariate analysis of logistic regression test results showed that R-Square has a value of 0.488. There is a significant impact between age, work position, and sitting duration, while there is no significant impact between gender on complaints of low back pain.Keywords: Age, Gender, Work Position, Sitting Duration, LBP, WFH  
PENYAKIT FAHR’S DENGAN KEJANG PADA PASIEN KARSINOMA TIROID: SEBUAH LAPORAN KASUS Iwan Setiawan; Sulistyani Sulistyani
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11796

Abstract

ABSTRAKPenyakit Fahr’s adalah penyakit dengan gangguan neuropsikiatri yang ditandai dengan kalsifikasi di ganglia basalis bilateral dari hasil pemeriksaan pencitraan otak dan biasanya berhubungan dengan gangguan metabolisme fosfor dan kalsium. Artikel ini menyajikan kasus penyakit Fahr’s pada seorang wanita usia 56 tahun dengan karsinoma tiroid dan kejang. Selanjutnya, CT scan kepala menunjukkan adanya kalsifikasi  yang simetris bilateral pada ganglia basalis, dan otak kecil. Manifestasi klinis penyakit Fahr’s bervariasi tergantung usia, letak bagian otak yang mengalami kalsifikasi, dalam hal ini gejala yang dominan adalah jenis kejang berulang berupa bangkitan general tonic clonic. Kejang yang terjadi dalam hal ini bisa jadi akibat perubahan hormon tiroid atau akibat kalsifikasi di otak. Belum ada pengobatan khusus pada penyakit ini,.Gejala kejang yang terjadi mendapatkan terapi dengan sodium valproate dan terapi untuk gangguan perubahan hormon tiroidnya.Kata kunci: Penyakit Fahr’s, Karsinoma Tiroid, Kejang ABSTRAKFahr’s disease is a disease with neuropsychiatric disorder, characterized by bilateral basal ganglia calcification and usually associated with a phosphorus and calcium metabolism disorder. This paper presents a case of Fahr’s disease in a 56-year-old woman with carcinoma thyroid and seizures. Furthermore, CT showed bilateral symmetric basal ganglia and cerebellum calcifications. Clinical manifestations of Fahr’s disease vary depending on age, location of the part of the brain that is calcified, in this case the dominant symptom is recurrent seizures type of the general tonic clonic. Seizures that occur in this case can be resulted of thyroid hormone changes or brain calcification. There is no specific treatment for this disease. The seizures that occur got therapy with sodium valproate and therapy for disorders of thyroid hormone changes.Key words: Fahr’s Disease, Thyroid Carcinoma, WSeizure
PATTERNS OF TRANSCRANIAL DOPPLER FLOW VELOCITIES AND CAROTID INTIMA MEDIA THICKNESS (CIMT) IN JAVANESE ISCHEMIC STROKE Rivan Danuaji; Subandi Subandi; Arif Apriyanto; Endang Kusuma Dewi; Suroto Suroto; Diah Kurnia Mirawati; Pepi Budianto; Yetty Hambarsari; Baarid Lukman Hamidi; Hanindya Riani Prabaningtyas; Sulistyani Sulistyani
Biomedika Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i1.9921

Abstract

ABSTRACTIntracranial atherosclerosis is the most common cause of stroke in Asia including Indonesia. Transcranial Doppler (TCD) is a noninvasive tool which able to detect intracranial atherosclerosis. The purpose of this study was to determine the pattern of TCD waves in Javanese ischemic stroke patients and Carotid Intima Media Thickness (CIMT), and its correlation to demographic data. This is a cross-sectional study was conducted at Hospital X Surakarta. All Javanese ischemic stroke treated in stroke unit were examine for flow velocity using TCD and CIMT using ultrasound. Chi square was used to analyzes the relationship between age, gender, stroke type and the thickness of CIMT.  A total of 43 ischemic stroke patients were examined for TCD, consisting of 30 (69.77%) men and 13 (30,23%) women. The results showed that 31 (72.09%) had intracranial abnormalities in the form of stenosis or occlusion on MCA (23.26%), ACA (4.65%), PCA (4.65%), vertebral arteries (6.98 %) and other locations (32.56%). Thickening of CIMT was obtained as much as 22 (51,16%) of the patients. Age was a factor associated with CIMT thickening with (P: 0.041), while gender and type of stroke did not (P0,05)). To sum up Intracranial flow velocity abnormalities often occur in Javanese ischemic stroke patients, while CIMT thickening is not associated with ischemic stroke pathologyKeywords: TCD, Stroke Ischemic, Flow Velocity, CIMT, JavaneseABSTRAKAterosklerosis intrakranial adalah penyebab paling umum dari stroke di Asia termasuk Indonesia. Transcranial Doppler (TCD) adalah alat noninvasif yang mampu mendeteksi aterosklerosis intrakranial. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola gelombang TCD pada pasien stroke iskemik suku Jawa dan Carotid Intima Media Thickness (CIMT), dan korelasinya dengan data demografi. Penelitian cross-sectional ini dilakukan di Rumah Sakit X Surakarta. Semua stroke iskemik suku Jawa yang dirawat di unit stroke diperiksa untuk kecepatan aliran menggunakan TCD dan CIMT menggunakan ultrasound. Chi square digunakan untuk menganalisis hubungan antara usia, jenis kelamin, jenis stroke dan ketebalan CIMT. Sebanyak 43 pasien stroke iskemik diperiksa untuk TCD, terdiri dari 30 (69,77%) pria dan 13 (30,23%) wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 31 (72,09%) memiliki kelainan intrakranial dalam bentuk stenosis atau oklusi pada MCA (23,26%), ACA (4,65%), PCA (4,65%), arteri vertebral (6,98%) dan lokasi lain (32,56%). Penebalan CIMT diperoleh sebanyak 22 (51,16%) dari pasien. Usia adalah faktor yang terkait dengan penebalan CIMT dengan (p= 0,041), sedangkan jenis kelamin dan jenis stroke tidak (p 0,05), sehingga ditarik kesimpulan bahwa kelainan kecepatan aliran intrakranial sering terjadi pada pasien stroke iskemik Jawa, sedangkan penebalan CIMT tidak berhubungan dengan patologi stroke iskemik.Kata Kunci: TCD, Stroke Iskemik, Flow Velocity, CIMT, Suku Jawa