Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Penerapan Metode Weighted Aggregated Sum Product Assesment dalam Menentukan Beras Terbaik untuk Pembuatan Kue Serabi Tundo, Tundo; Kurniawan, Doni
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 7 No 4: Agustus 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/jtiik.2020742309

Abstract

Penelitian ini menerangkan penerapan metode Weighted Aggregated Sum Product Assesment dalam menentukan beras terbaik yang akan digunakan untuk pembuatan kue serabi, kasus diambil dari pedagang kue serabi di Kota Tegal Jawa Tengah dengan tujuan memberikan pengetahuan kepada para pedagang kue serabi agar lebih detail dalam menentukan beras yang layak untuk digunakan dalam pembuatan kue serabi bukan hanya sekedar beras tersebut murah, akan tetapi perluh dilihat bentuk dan ciri keseluruhan beras.  Langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan beras terbaik yang kemudian akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue serabi dengan menggunakan metode Weighted Aggregated Sum Product Assesment yaitu: (1) Mempersiapkan sebuah matriks yang didalamnya merupakan nilai dari masing masing himpunan dari kriteria, (2) Menormalisasikan data matriks x menjadi data ternormalisasi, (3) Menghitung nilai alternatif dengan menggunakan rumus Weighted Aggregated Sum Product Assesment sehingga ditemukan nilai perangkingan. Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan, dalam penelitian ini beras terbaik yang tepat untuk digunakan sebagai bahan pembuatan kue serabi adalah beras pelita dengan hasil 7,12 dengan menduduki rangking pertama. AbstractThis study explains the application of the Weighted Aggregated Sum Product Assessment method in determining the best rice to be used for making pancake cakes. The steps taken to determine the best rice using the Weighted Aggregated Sum Product Assessment method are: (1) Prepare all rice data to be calculated, (2) Make rice data in the form of matrix x and normalize the data matrix x into normalized data, ( 3) Calculate the alternative value for the best rice by using the formula Weighted Aggregated Sum Product Assessment so that the ranking value is found. After these steps are carried out, the best rice that is right to be used as a pancake cake ingredient is pelita rice with a yield of 7.12 by occupying the first rank. Proving the results of the Weighted Aggregated Sum Product Assessment method, a questionnaire was conducted directly to pancake cake traders, especially those in Tegal, which produced a percentage of 80% from 100, which said that pelita rice was rice worthy of being used as a material for pancake cakes because the pancake produced is more fragrant and fresher and the price is relatively cheap.
REFORMULASI PENGATURAN HUKUM ACARA TATA USAHA MILITER BERDASARKAN PRINSIP KEPASTIAN HUKUM Kurniawan, Doni
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2023
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Doni Kurniawan, Agus Yulianto, Dewi Cahyandari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: donikurniawane@gmail.com Abstrak Pada penelitian ini, peneliti membahas mengenai sebuah badan peradilan militer yakni pengadilan tata usaha militer. Bahwa semenjak Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer diundangkan pada tahun 1997, pemerintah tidak pernah serius dalam memperhatikan dan melaksanakan amanat dari undang-undang tersebut yakni pada Pasal 353. Hal itu dapat dibuktikan dengan tidak dikeluarkannya peraturan pemerintah yang mengatur terkait operasionalisasi pengadilan tata usaha militer selama 26 tahun. Selain itu, dasar hukum yang digunakan dalam Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer sudah tidak berlaku lagi sehingga perlu untuk dilakukan perubahan. Berdasarkan permasalahan tersebut, rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Apa urgensi reformulasi pengaturan hukum acara tata usaha militer? (2) Bagaimana bentuk reformulasi pengaturan hukum acara tata usaha militer? Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Kemudian, bahan hukum yang peneliti gunakan berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Selanjutnya, Teknik penelusuran bahan hukum dalam penelitian ini adalah menggunakan studi kepustakaan dan studi internet. Bahwa di dalam penelitian ini, peneliti menjadikan tiga tolak ukur dalam menentukan urgensi reformulasi pengaturan, yakni filosofis, yuridis, dan sosiologis. Selain itu, peneliti disini menekankan perlunya pemisahan hukum acara tata usaha militer sebagai undang-undang tersendiri diluar Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 dan bagaimana upaya pemerintah dalam mengoperasionalisasikan pengadilan tata usaha militer. Kata Kunci: reformulasi pengaturan, hukum acara tata usaha militer, kepastian hukum Abstract This research aims to study the Military Administrative Court as a court martial in Indonesia. Following the enactment of Law Number 31 of 1997 concerning Court Martial, the government seemed to overlook the mandate of this law, especially in Article 353, in which the government has not issued any government regulation that should regulate the operation of military administrative court for 26 years. In addition, the legal basis that underlies this law is no longer in place, thereby requiring amendments. Departing from this issue, this research investigates (1) the urgency of the formulation of the procedural law within the scope of military administration and (2) the form of the reformulation of procedural law within the scope of military administration. This research employed a normative juridical method and statutory and conceptual approaches. The primary, secondary, and tertiary data were obtained from library research and Internet sources. In this research, philosophical, juridical, and sociological aspects are the standards that underlie the urgency of the reformulation. The procedural law within the scope of military administration must also be separate as an individual law from law Number 31 of 1997, while the government needs to take some measures to operate the military administrative court. Keywords: reformulation, procedural law of military administration, legal certainty