Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Penerapan Konsep Desain Iklusif Dalam Perancangan Rumah Susun Laseta Zulkarnaen, Deden Hanif Iskandar; Kustianingrum, Dwi; Karnita, Rosa
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i1.13443

Abstract

ABSTRAK Ubanisasi di Kota Bandung semakin meningkat menjadikan kebutuhan hunian turut meningkat, terutama di area kawasan padat penduduk. Rumah susun vertikal menjadi solusi, namun sering kali mengabaikan kebutuhan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Oleh karena itu, penerapan prinsip desain inklusif diperlukan untuk memastikan aksesibilitas dan kenyamanan bagi semua penghuni. Dalam merancang rumah susun Laseta di jalan Seokarno-Hatta Kota Bandung, dirancang dengan konsep desain inklusif. lokasi site terpotong oleh jalan umum jalan Sumber Sari selebar 5 meter. Komplek rumah susun ini di rancang dalam dua massa bangunan utama yang dapat menampung 2.500 orang. Rumah susun ini terdiri dari dua menara yang masing-masing memiliki ketinggian sembilan dan tujuh lantai, dua podium, dan satu basement semi-basement. Di dalamnya terdapat fasilitas apotek, tempat pengasuh anak, minimarket, dan area komersial. Metode perancangan mengutamakan analisis peraturan desain inklusif diantaranya adalah memenuhi kriteria jalur navigasi yang jelas, ramp yang memadai, dan elevator yang mudah diakses untuk meningkatkan kenyamanan pengguna. Dengan menggabungkan podium dengan area komersial dengan fasilitas umum diharapkan ekonomi dan kebutuhan masyarakat diperhatikan. Melalui perancangan rumah susun Laseta diharapkan dapat menjadi tempat tinggal yang inklusif  yang menerima berbagai kebutuhan hidup penghuninya baik yang umum maupun berkebutuhan khusus. Kata kunci: aksesibilitas, desain inklusif, rumah susun, penyandang disabilitas  ABSTRACT Urbanization in the city of Bandung is increasing, leading to a rise in housing demand, especially in densely populated areas.  Vertical apartment buildings become a solution, but often neglect the needs of vulnerable groups, including people with disabilities.  Therefore, the application of inclusive design principles is necessary to ensure accessibility and comfort for all residents.In designing the Laseta apartment complex on Seokarno-Hatta Street in Bandung City, it was conceived with an inclusive design concept.  The site location is cut by the public road Sumber Sari, which is 5 meters wide.  This apartment complex is designed with two main building masses that can accommodate 2,500 people.  This apartment complex consists of two towers, each with a height of nine and seven floors respectively, two podiums, and one semi-basement.  Inside, there are pharmacy facilities, a childcare center, a minimarket, and commercial areas.The design method prioritizes the analysis of inclusive design regulations, including meeting the criteria for clear navigation paths, adequate ramps, and easily accessible elevators to enhance user comfort.  By combining the podium with commercial areas and public facilities, it is hoped that the economy and the needs of the community will be taken into account. Through the design of the Laseta apartment complex, it is hoped to become an inclusive living space that accommodates the various needs of its residents, both general and special needs.. Keywords: apartment buildings, inclusive design, accessibility, people with disabilities
TELAAH DESAIN RUANG DAN FASAD PERUMAHAN PESONA PERMATA HIJAU 2, SUBANG Nugraha, Hendra; Kustianingrum, Dwi
Jurnal Desain Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 2 No. 2 (2025): JDLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/JDLBI.v2i2.508

Abstract

Perumahan Pesona Permata Hijau 2 di Kota Subang merupakan salah satu contoh penerapan arsitektur minimalis pada kawasan hunian tropis. Prinsip minimalis yang berangkat dari gagasan “less is more” diwujudkan melalui kesederhanaan bentuk geometris, pengurangan ornamen dekoratif, pemanfaatan pencahayaan alami, serta efisiensi tata ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan prinsip arsitektur minimalis pada desain ruang dan fasad dua tipe rumah, yaitu tipe 30/60 dan 36/72. Metode yang digunakan adalah deskriptif-reflektif dengan pengumpulan data melalui studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara terbuka dengan penghuni dan pengembang. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua tipe rumah telah memenuhi prinsip minimalis melalui tata ruang yang ringkas, gubahan massa sederhana, dan penggunaan bukaan kaca sebagai sumber pencahayaan serta ventilasi alami. Modifikasi pada desain atap miring dipilih untuk menyesuaikan dengan iklim tropis di Subang yang memiliki curah hujan tinggi. Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa prinsip minimalis tidak hanya mendukung aspek estetika, tetapi juga meningkatkan efisiensi, kenyamanan, dan relevansi hunian dalam konteks lingkungan tropis perkotaan.