Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Dakhîl al-Isrâ’ilîyât Kisah Nabi Yûsuf dalam al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân Karya al-Qurtubî Amrullah Hafizh, Azhar
Mutawatir Vol 5 No 1 (2015): JUNI
Publisher : Program Studi Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.361 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2015.5.1.116-141

Abstract

Normatively, the Prophet Muhammad is not giving a ban to tell tales originating from the Banî Isrâ’îl. The Prophet simply gave the record that his people did not justify and deny the stories narrated by Ahl al-Kitâb. However, in the course of the history of Islam, many isrâ’ilîyât seeps into some sort of authoritative books of Jâmi‘ al-Bayân created by al-Tabarî, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azîm by Ibn Kathîr, Rûh al-Ma‘ânî by al-Alûsî, and al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân by al-Qurtubî. Ironically, in many cases, isrâ’ilîyât that goes into the book of commentary of the Koran without any comments from the authors, so it assumes that the isrâ’ilîyât is a strong opinion and can be used as a reference. As a result, isrâ’ilîyât like virus that continues to undermine the authenticity of the Koran
DAKHîL AL-ISRâ’ILîYâT KISAH NABI YûSUF DALAM AL-JâMI‘ LI AHKâM AL-QUR’âN KARYA AL-QURTUBî Amrullah Hafizh, Azhar
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 5 No. 1 (2015): JUNI
Publisher : Program Studi Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.361 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2015.5.1.116-141

Abstract

Normatively, the Prophet Muhammad is not giving a ban to tell tales originating from the Banî Isrâ?îl. The Prophet simply gave the record that his people did not justify and deny the stories narrated by Ahl al-Kitâb. However, in the course of the history of Islam, many isrâ?ilîyât seeps into some sort of authoritative books of Jâmi? al-Bayân created by al-Tabarî, Tafsîr al-Qur?ân al-?Azîm by Ibn Kathîr, Rûh al-Ma?ânî by al-Alûsî, and al-Jâmi? li Ahkâm al-Qur?ân by al-Qurtubî. Ironically, in many cases, isrâ?ilîyât that goes into the book of commentary of the Koran without any comments from the authors, so it assumes that the isrâ?ilîyât is a strong opinion and can be used as a reference. As a result, isrâ?ilîyât like virus that continues to undermine the authenticity of the Koran
ZAKAT PROFESI PERSPEKTIF NELAYAN DI DESA DHARMA TANJUNG KECAMATAN CAMPLONG KABUPATEN SAMPANG Ananda, Ananda; Navlia, Rusdiana; Hafizh, Azhar Amrullah
Al Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.126 KB) | DOI: 10.19105/al huquq.v1i1.2647

Abstract

Zakat profesi adalah sebuah terma zakat baru yang masih sangat kontroversial. Salah satu sebabnya adalah problem zakat profesi bagi masyarakat berpenghasilan rendah seperti nelayan yang belum memiliki persepsi yang benar tentang zakat profesi terutama di Desa Dharma Tanjung Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, sehingga dalam pelaksanaannya, ada kesalahan dalam penyaluran zakat tersebut. Dari fenomena tersebut timbul beberapa pertanyaan yaitu: Pertama, Bagaimana pandangan masyarakat nelayan tentang zakat profesi di Desa Dharma Tanjung Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang; Kedua, Bagaimana implikasi dari pandangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa Masyarakat nelayan di Desa Dharma Tanjung Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang dalam mengeluarkan zakat mengikuti apa yang ada dipikirannya sendiri dan tidak mengikuti ajaran agama Islam. Sedangkan Implikasi dari pandangan masyarakat tersebut adalah adanya kesalahan dalam penentuan nisab zakat dan adanya salah sasaran dari obyek sasaran zakat.
FENOMENA NGANYARÄ“ KABIN PADA BULAN MUHARRAM DI DESA POJA KECAMATAN GAPURA KABUPATEN SUMENEP Emha, Ahmad Rofiqi; Hafizh, Azhar Amrullah; Navlia, Rusdiana
Al-Manhaj: Journal of Indonesian Islamic Family Law Vol 2, No 1 (2020): in Progres
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.819 KB) | DOI: 10.19105/al-manhaj.v1i1.2652

Abstract

Perkawinan merupakan sebuah akad sakral yang dianggap sebagai janji sekali seumur hidup. Pada perkembangannya, ada sebuah fenomena yang terjadi di dalam masyarakat Madura yang dilakukan dalam upaya untuk kembali merefresh janji suci tersebut terutama pada bulan Muharram, fenomena itu adalah Praktek Nganyar? kabin. Praktek Nganyar? kabin  merupakan praktek mengulang akad perkawinan karena ada motif dan tujuan tertentu, yaitu untuk memperkokoh ikatan rumah tangga. Penelitian ini berusaha untuk mengeksplorasi pelaksanaan Fenomena Nganyar? kabin  pada Bulan Muharram di Desa Poja Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dan apa yang melatar belakangi masyarakat lebih memilih Bulan Muharram dalam melakukan Nganyar? kabin, serta status hukum Nganyar? kabin  dan pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah fenomenologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam proses pelaksanaan nganyare kabin ada harapan bahwa pernikahan akan lebih bahagia dan barokah, sehingga dilaksanakan di bulan Muharram yang dianggap bulan keramat.
ZAKAT PROFESI PERSPEKTIF NELAYAN DI DESA DHARMA TANJUNG KECAMATAN CAMPLONG KABUPATEN SAMPANG Ananda, Ananda; Navlia, Rusdiana; Hafizh, Azhar Amrullah
Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol. 1 No. 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/alhuquq.v1i1.2647

Abstract

Zakat profesi adalah sebuah terma zakat baru yang masih sangat kontroversial. Salah satu sebabnya adalah problem zakat profesi bagi masyarakat berpenghasilan rendah seperti nelayan yang belum memiliki persepsi yang benar tentang zakat profesi terutama di Desa Dharma Tanjung Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, sehingga dalam pelaksanaannya, ada kesalahan dalam penyaluran zakat tersebut. Dari fenomena tersebut timbul beberapa pertanyaan yaitu: Pertama, Bagaimana pandangan masyarakat nelayan tentang zakat profesi di Desa Dharma Tanjung Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang; Kedua, Bagaimana implikasi dari pandangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa Masyarakat nelayan di Desa Dharma Tanjung Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang dalam mengeluarkan zakat mengikuti apa yang ada dipikirannya sendiri dan tidak mengikuti ajaran agama Islam. Sedangkan Implikasi dari pandangan masyarakat tersebut adalah adanya kesalahan dalam penentuan nisab zakat dan adanya salah sasaran dari obyek sasaran zakat.
Fenomena Nganyarē Kabin Pada Bulan Muharram Di Desa Poja Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep Emha, Ahmad Rofiqi; Hafizh, Azhar Amrullah; Navlia, Rusdiana
Al-Manhaj: Journal of Indonesian Islamic Family Law Vol. 1 No. 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-manhaj.v1i1.2652

Abstract

Perkawinan merupakan sebuah akad sakral yang dianggap sebagai janji sekali seumur hidup. Pada perkembangannya, ada sebuah fenomena yang terjadi di dalam masyarakat Madura yang dilakukan dalam upaya untuk kembali merefresh janji suci tersebut terutama pada bulan Muharram, fenomena itu adalah Praktek Nganyarē kabin. Praktek Nganyarē kabin  merupakan praktek mengulang akad perkawinan karena ada motif dan tujuan tertentu, yaitu untuk memperkokoh ikatan rumah tangga. Penelitian ini berusaha untuk mengeksplorasi pelaksanaan Fenomena Nganyarē kabin  pada Bulan Muharram di Desa Poja Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dan apa yang melatar belakangi masyarakat lebih memilih Bulan Muharram dalam melakukan Nganyarē kabin, serta status hukum Nganyarē kabin  dan pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah fenomenologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam proses pelaksanaan nganyare kabin ada harapan bahwa pernikahan akan lebih bahagia dan barokah, sehingga dilaksanakan di bulan Muharram yang dianggap bulan keramat.
Dakhîl al-Isrâ’ilîyât Kisah Nabi Yûsuf dalam al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân Karya al-Qurtubî Azhar Amrullah Hafizh
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 5 No. 1 (2015): JUNI
Publisher : Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.361 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2015.5.1.116-141

Abstract

Normatively, the Prophet Muhammad is not giving a ban to tell tales originating from the Banî Isrâ’îl. The Prophet simply gave the record that his people did not justify and deny the stories narrated by Ahl al-Kitâb. However, in the course of the history of Islam, many isrâ’ilîyât seeps into some sort of authoritative books of Jâmi‘ al-Bayân created by al-Tabarî, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azîm by Ibn Kathîr, Rûh al-Ma‘ânî by al-Alûsî, and al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân by al-Qurtubî. Ironically, in many cases, isrâ’ilîyât that goes into the book of commentary of the Koran without any comments from the authors, so it assumes that the isrâ’ilîyât is a strong opinion and can be used as a reference. As a result, isrâ’ilîyât like virus that continues to undermine the authenticity of the Koran
Strategi Manajemen Konflik Pendidikan AUD di Masa Pandemi Rusdiana Navlia; Danang Prastyo; Azhar Amrullah Hafizh; Sofia Mubarokah Sa’bana
Al Hikmah: Indonesian Journal of Early Childhood Islamic Education (IJECIE) Vol 5 No 2 (2021): Ijecie
Publisher : Universitas Al-Hikmah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35896/ijecie.v5i2.224

Abstract

In educating the nation's life, the Indonesian government's policy in the education sector that supports lifelong education is the recognition of early childhood education. Conflict is something that cannot be avoided in life. In social interaction and internalization between individuals or between groups. Conflict is actually a natural thing, even as long as human life is always faced and struggles with conflict. In the past, conflict was seen as a symptom or phenomenon that was unnatural and had negative or positive consequences depending on how to manage it. Currently, many parents may still misunderstand the definition and purpose of early childhood education. This is understandable considering the function of early childhood education in several cities or regions, early childhood education which is actually an educational institution to develop the character and personality of children is more often understood as a place of day care.
Problematika Al-Muh{Kam dan Al-Mutasha Hafizh, Azhar Amrullah; Navlia, Rusdiana
JURNAL ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR NURUL ISLAM SUMENEP Vol. 5 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : STQINIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemaknaan terhadap ayat-ayat mutasha>biha>t masih menjadi problem apalagi jika dikaitkan dengan pemahaman terhadap sifat-sifat Allah swt. Banyak sekali madzhab yang menawarkan konsep tentang pemaknaan ayat-ayat mutasha>biha>t ini sehingga dibutuhkan kajian yang mendalam terkait konsepsi dari ayat-ayat muh{kam dan mutasha>bih ini. Tulisan ini berusaha untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagaimana berikut: Pertama, bagaimana konsep dari al-muh}kam dan al-mutasha>bih? Kedua, bagaimana hikmah dari adanya ayat-ayat muh{kam dan mutasha>bih? Ketiga, siapa yang otoritatif dalam pemaknaan ayat-ayat muh{kam dan mutasha>bih? Dengan menggunakan penelitian pustaka dengan pendekatan qawa>id al-tafsi>r, penulis menemukan: Pertama, ayat muh}kam adalah ayat yang jelas maknanya, sedangkan ayat mutasha>bih artikulasinya membutuhkan upaya yang kuat dan sungguh-sungguh untuk sampai kepada makna yang diinginkan penutur (Allah). Kedua, hikmah dari adanya ayat-ayat muh{kam dan mutasha>bihadalah ujian keimanan dan bukti kemukjizatan Al-Qur’an. Ketiga, Ulama yang memiliki ilmu yang kokoh dan dalam memiliki akses terhadap pemaknaan dari ayat-ayat muh{kam dan mutasha>bihbaik itu dari golongan salaf ataupun khalaf.
The Historical Distinction between the Qur’an and Hadith: A Critical Examination of John Wansbrough’s Revisionist Perspective by Fred M. Donner Zulfikar, Eko; Zain, Zaki Faddad Syarif; Aini, Adrika Fithrotul; Hafizh, Azhar Amrullah
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.37551

Abstract

This article aims to critically examines the distinction between the Qur’an and Hadith in response to John Wansbrough’s revisionist-skeptical perspective on the origins of the Qur’an. Wansbrough argued that both corpora emerged from the same “sectarian” milieu and developed within a nearly identical historical timeframe. The present study addresses two primary questions: how Fred M. Donner conceptualizes the distinction between the Qur’an and Hadith, and how his arguments challenge Wansbrough’s theoretical framework. Employing a qualitative methodology with a descriptive-analytical approach, this research analyzes the principal works of both scholars to compare their arguments from textual and historical perspectives. The findings indicate that Wansbrough’s thesis lacks a robust historical foundation, as six key aspects religious and political authority, portrayals of the Prophet’s contemporaries, elements of anachronism, narratives of earlier prophets, depictions of Prophet Muhammad, and descriptions of ritual prayer reveal significant differences between the Qur’an and Hadith. These results support the conclusion that the Qur’an did not originate from the same sectarian environment as the Hadith but emerged in an earlier and distinct historical context. Consequently, the Qur’an is understood to have preceded the Hadith both chronologically and in terms of codification. This article contributes to clarifying the independence and authenticity of the Qur’an as the earliest and primary source of Islamic teaching, while enriching textual-historical scholarship in response to Western revisionist discourse concerning the origins of Islamic scripture. Abstrak: Artikel ini bertujuan mengkaji secara kritis perbedaan (distingsi) antara al-Qur’an dan hadis sebagai respons terhadap pandangan revisionis-skeptis John Wansbrough mengenai asal-usul al-Qur’an. Wansbrough menilai bahwa kedua korpus tersebut lahir dari lingkungan “sektarian” yang sama dan terbentuk dalam periode historis yang hampir bersamaan. Penelitian ini berupaya menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana Fred M. Donner memandang distingsi antara al-Qur’an dan hadis, serta bagaimana sanggahannya terhadap konstruksi pemikiran Wansbrough. Menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif-analitis, penelitian ini menelaah karya-karya utama kedua tokoh tersebut untuk membandingkan argumentasi mereka secara tekstual dan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan Wansbrough tidak memiliki dasar yang kuat secara historis, sebab enam aspek utama, yakni otoritas agama dan politik, gambaran tentang masyarakat sezaman Nabi, unsur anakronisme, kisah para nabi terdahulu, representasi Nabi Muhammad, dan deskripsi tentang ritual salat menunjukkan perbedaan yang signifikan antara al-Qur’an dan hadis. Temuan ini menegaskan bahwa al-Qur’an tidak berasal dari lingkungan sektarian yang sama dengan hadis, melainkan memiliki konteks dan kronologi kemunculan yang lebih awal. Al-Qur’an diyakini muncul lebih dahulu dibandingkan hadis, baik secara kronologis maupun dalam proses kodifikasinya. Artikel ini berkontribusi dalam memperjelas independensi dan keotentikan al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam, sekaligus memperkaya kajian tekstual-historis dalam menghadapi wacana revisionisme Barat terhadap asal-usul dua korpus Islam.