Herman Bagus Dwicahyo
Universitas Airlangga

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analysis of NH3 Content, Individual Characteristics and Respiratory Scavenger Complaint in Landfills Benowo Rubbish and Not Scavenger Around Landfills Benowo Surabaya Herman Bagus Dwicahyono
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2017): JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkl.v9i2.2017.135-144

Abstract

Trash are things that cannot be used or have been dumped which formed by human activities and soiled environment then became source of disease. One of high group that greater affected with trash in final disposal is scavenger because they do some direct contact everyday. This study aims to identify NH3 contents, individual characteristic and respiratory complaint for scavenger. Not only that, but also to analyze respiratory complaint according to individual characteristic. This study is observational with quantitative descriptive study and cross sectional design study. The result shows that trash management in final disposal Benowo Surabaya has been implemented a sanitary landfill system based on Undang-Undang RI No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Kadar gas NH3 under quality standard stated by Governor Regulation East Java No.10 Tahun 2009 is 113.9 μg/Nm3 in final disposal and 28.4 μg/Nm3 in non-final disposal. Result shows that almost all respondent was about 35 to 44 years old with Body Mass Index status is overweight, exposured to passive smokers, and had disease history. Almost 65% of total respiratory complaint was happened with scavenger and 89% with non scavenger. The conclusion is trash management in final disposal Benowo Surabaya has been implemented sanitary landfill system, ambient air measurement with indicator in trash final disposal and non-trash final disposal still under quality standard. Almost all respondent who included in scavenger group and nonscavenger group still have a low respiration complaints. There are differences group based on age between respondent who has low and moderate respiration complaints
Implementation of Occupational Health and Safety Standards for Office Buildings in Universitas Airlangga Rectorate Building Dinda Pratiwi; Dani Nasirul Haqi; Herman Bagus Dwicahyo
The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health Vol. 11 No. 2 (2022): The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1182.99 KB) | DOI: 10.20473/ijosh.v11i2.2022.224-238

Abstract

Introduction: Universitas Airlangga office building rectorate includes a high-rise building that must have occupational health and safety (OHS) facilities and also its application must be in accordance with office building standards which applies to prevent accidents and occupational diseases. This study aims to determine OHS office buildings rectorate facilities, and to analyze OHS standards application for office buildings rectorate with applicable OHS office building standards. Methods: This research is an observational study. Data analysis using descriptive method with a cross sectional study design. The variables studied were OHS office building facilities in Universitas Airlangga Rectorate, and OHS standard application for in Universitas Airlangga office buildings rectorate. Data collection techniques are derived from primary data in OHS observations form facilities in office buildings and secondary data in agency documents form. Results: Work safety facilities include fire extinguishers, hydrants, evacuation routes, evacuation plans, gathering points, first aid kits. emergency stairs, safety sign. Occupational health facilities include health promotion media, workforce health checks, and lactation rooms. Office work environment health facilities include toilets and hand washing facilities. Then office ergonomics facilities include cushions for employee work chairs. Conclusion: The facilities are in accordance with Republic of Indonesia Health Minister Regulation Number 48 of 2016 concerning Office OHS Standards which include occupational safety application, occupational health, and office environmental health standards and office ergonomics. The implementation of OHS standards for office buildings at in Universitas Airlangga Rectorate, such as occupational safety, occupational health, office work environment health, and office ergonomics standards have been implemented and carried out.
KESIAPSIAGAAN TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI PT X BERDASARKAN INTERNATIONAL SAFETY RATING SYSTEM Dwicahyo, Herman Bagus; Aurellia, Rafa Laila; Nindyarti, Amira Balladiva; Chrisjon, Jesaya Enrico
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.47043

Abstract

Kesiapsiagaan tanggap darurat merupakan komponen krusial dalam memastikan respon cepat dan efektif terhadap kondisi abnormal yang dapat mengancam pekerja, aset, lingkungan, dan reputasi perusahaan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2023, Indonesia mengalami lebih dari 5.400 bencana, mayoritas berupa kebakaran hutan/lahan, cuaca ekstrem, dan banjir. PT X merupakan sebuah perusahaan manufaktur alas kaki berlokasi di Jawa Timur dan yang memiliki risiko tinggi terhadap situasi darurat, sehingga evaluasi kesiapsiagaan tanggap darurat pada perusahaan ini menjadi penting. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapan tanggap darurat kebakaran di PT X berdasarkan 13 komponen International Safety Rating System (ISRS), mengidentifikasi kelemahan, serta memberikan rekomendasi perbaikan. Metode penelitian bersifat deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta peninjauan dokumen perusahaan seperti profil, Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control (HIRADC), Emergency Response Plan(ERP), layout atau denah perusahaan, dan checklist proteksi kebakaran. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar komponen kesiapsiagaan telah diterapkan, termasuk struktur tim, pelatihan, prosedur, serta fasilitas proteksi dan pertolongan pertama. Namun, beberapa aspek seperti partisipasi pekerja, komunikasi darurat eksternal, serta rencana pasca kejadian masih memerlukan perbaikan. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan integrasi lintas sektor, evaluasi sistem secara berkala, serta penguatan keterlibatan pekerja untuk memperkuat ketangguhan perusahaan terhadap keadaan darurat kebakaran. Penelitian merekomendasikan peningkatan integrasi lintas sektor, partisipasi pekerja, dan evaluasi berkala sistem tanggap darurat untuk memperkuat ketahanan perusahaan terhadap kebakaran.
Program APAR (Awareness, Preparedness, Action, Response) sebagai Upaya Penguatan Keselamatan, Kesehatan dan Kesiapsiagaan Santri terhadap Bahaya Kebakaran di Pondok Pesantren Jabal Noer, Sidoarjo Lutfiya, Indah; Damayanti, Ratih; Tyas, Anestasia Pangestu Mei; Ibad, Mursyidul; Dwicahyo, Herman Bagus; Rohmah, Shofiyatur
Jurnal Pengabdian Olahraga Masyarakat Vol 6, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jpom.v6i3.25039

Abstract

Kebakaran merupakan ancaman serius di lingkungan pondok pesantren akibat padatnya hunian santri dan keterbatasan fasilitas keselamatan. Pondok Pesantren Jabal Noer di Sidoarjo, Jawa Timur, pernah mengalami kebakaran pada tahun 2019 akibat korsleting listrik, yang menunjukkan tingginya kerentanan terhadap bahaya tersebut. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan menilai efektivitas intervensi terstruktur dengan pendekatan APAR (Awareness, Preparedness, Action, Response) dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran. Kegiatan dilaksanakan pada Juli–Agustus 2025 dengan melibatkan 27 peserta, sebagian besar santri (96,3%), berusia di atas 15 tahun (51,8%), dan mayoritas perempuan (63%). Intervensi meliputi koordinasi dan asesmen kebutuhan, pembentukan tim tanggap darurat kebakaran, penyediaan fasilitas keselamatan (alat pemadam api ringan, detektor asap, jalur evakuasi, dan alarm), serta pelatihan manajemen kebakaran, penggunaan APAR, dan simulasi evakuasi. Nilai rata-rata pre-test sebesar 62,22 ± 32,26 meningkat signifikan menjadi 90,37 ± 14,00 pada post-test (p = 0,003). Sebanyak 26 santri dan 1 petugas keamanan dilatih serta ditetapkan sebagai tim tanggap darurat kebakaran. Peningkatan ini sejalan dengan teori perubahan perilaku yang menekankan persepsi risiko dan efikasi diri. Program ini terbukti efektif meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan direkomendasikan sebagai model replikasi bagi pesantren lain untuk memperkuat budaya keselamatan dan ketangguhan menghadapi kebakaran
Kegiatan peningkatan pengetahuan dan kemampuan kesiapsiagaan darurat bencana di Pondok Pesantren Lutfiya, Indah; Damayanti, Ratih; Tyas, Anestasia Pangestu Mei; Dwicahyo, Herman Bagus; Rohmah, Shofiyatur; Ibad, Mursyidul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1727

Abstract

Background: Islamic boarding schools (pesantren), as boarding Islamic educational institutions, play a strategic role in shaping the character of their students (students). However, they face serious challenges related to disaster risks, particularly earthquakes and fires, due to overcrowding and a lack of mitigation systems. Jabal Noer Islamic Boarding School in Sidoarjo, located in an earthquake-prone zone and home to hundreds of teenage students, exhibits low levels of emergency preparedness, including first aid knowledge and skills. Given this high vulnerability, educational interventions in the form of emergency response and first aid training involving the entire Islamic boarding school community are needed to strengthen disaster response capacity and create a safe and prepared learning environment. Purpose: To improve the knowledge and skills of students within Islamic boarding schools in disaster preparedness in the face of emergencies. Method: The activity was held on July 21, 22, and 23, and August 2, 2025, at the Jabal Noer Islamic Boarding School, Geluran Taman, Sidoarjo Regency, East Java. Twenty-six participants, consisting of students and one security guard, were involved. The material was delivered through focus group discussions (FGDs) between D4 K3 lecturers and the boarding school administrators, who also formed the SIGAP cadre. Knowledge and skills were measured using a questionnaire, assessing participants' attendance, practical simulation skills, and students' socio-cultural involvement in the boarding school environment. A descriptive and quantitative evaluation was conducted by assessing the level of change in knowledge and skills before and after the educational activities (pre-test) and after the educational activities (post-test). Results: Data obtained showed that the level of knowledge and skills of participants before the educational activities (pre-test) achieved an average score of 24.8 points with a standard deviation of 16.86, while the level of knowledge and skills of participants after the educational activities (post-test) achieved an average score of 74.0 points with a standard deviation of 16.07. The intervention improved participants' ability to practice basic skills such as cardiopulmonary resuscitation and minor injury management. The intervention also successfully formed SIGAP cadres and provided safety facilities, which overall strengthened the preparedness of the Islamic boarding school environment. Conclusion: This community service activity successfully increased disaster preparedness capacity through the formation of SIGAP cadres and first aid training. The increased knowledge and skills of SIGAP cadres also made a positive contribution and strengthened the institution in disaster response, injury management, earthquake and fire preparedness, and disaster impact prevention. Suggestion: SIGAP cadres are expected to conduct routine training and periodic simulations. It is also hoped that educational activities and training in disaster preparedness can be integrated into the extracurricular curriculum through collaboration with external institutions such as the Indonesian Red Cross and the Regional Disaster Management Agency. Keywords: Disaster; Emergency preparedness; First aid; Islamic boarding schools Pendahuluan: Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam berasrama memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter santri, namun menghadapi tantangan serius terkait risiko bencana, khususnya gempa bumi dan kebakaran, akibat kepadatan hunian dan minimnya sistem mitigasi. Pondok Pesantren Jabal Noer di Sidoarjo, yang berada di zona rawan gempa dan dihuni oleh ratusan santri remaja, menunjukkan rendahnya kesiapsiagaan darurat, termasuk pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama. Mengingat tingginya kerentanan tersebut, diperlukan intervensi edukatif berupa pelatihan tanggap darurat dan P3K yang melibatkan seluruh komunitas pesantren guna memperkuat kapasitas respon bencana, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan siaga. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kesiapsiagaan bencana pada santri di lingkungan Pondok Pesantren dalam menghadapi darurat bencana. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 21, 22, 23 Juli dan 2 Agustus 2025 di Pondok Pesantren Jabal Noer, Geluran Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Melibatkan 26 peserta yang terdiri dari santri dan satu petugas keamanan Pondok Pesantren. Materi disampaikan melalui focus group discussion (FGD) antara Dosen D4 K3 dan pengasuh pondok pesantren yang sekaligus membentuk kader SIGAP. Pengukuran tingkat pengetahuan dan kemampuan menggunakan media kuesioner dengan memberikan penilaian dari aspek kehadiran peserta, keterampilan praktis simulasi, dan keterlibatan sosial budaya santri di lingkungan pesantren. Sebagai evaluasi secara deskriptif dan kuantitatif adalah dengan melihat tingkat perubahan pengetahuan dan kemampuan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) mendapatkan rerata skor 24.8 poin dengan standar deviasi 16.86, sedangkan tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta sesudah kegiatan edukasi (post-test) mendapatkan rerata skor 74.0 poin dengan standar deviasi 16.07. Meningkatkan kemampuan peserta dalam mempraktikkan keterampilan dasar seperti resusitasi jantung paru dan penanganan cedera ringan. Intervensi juga berhasil membentuk kader SIGAP dan menyediakan fasilitas keselamatan, yang secara keseluruhan memperkuat kesiapsiagaan lingkungan pesantren. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan bencana melalui pembentukan kader SIGAP dan pelatihan pertolongan pertama (P3K). Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan kader SIGAP juga memberikan kontribusi yang positif dan memperkuat institusi dalam menghadapi bencana, penanganan cedera, potensi gempa, kebakaran dan pencegahan dampak bencana. Saran: Diharapkan kader SIGAP melakukan pelatihan rutin dan simulasi berkala. Diharapkan juga kegiatan edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana dapat di integrasikan ke dalam kurikulum ekstrakurikuler dengan melakukan kolaborasi pada lembaga eksternal seperti PMI dan BPBD.