Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Journal Industrial Servicess

Pengaruh jadwal kerja dan masa kerja terhadap beban kerja fisik dan beban kerja mental di sintering plant Ani Umyati; Syauqi Ramadhan Basyra; Lovely Lady
Journal Industrial Servicess Vol 5, No 1 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v5i1.6508

Abstract

PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk menggunakan jadwal kerja yang terdiri dari tiga shift yaitu shift pagi, shift sore dan shift malam. Adanya perbedaan jam kerja maka mengakibatkan adanya perbedaan beban kerja fisik dan beban kerja mental operator. Beban kerja tersebut terjadi akibat aktivitas pekerjaannya yang dituntut untuk meminimumkan kesalahan, berhadapan langsu ng dengan mesin - mesin besar dan juga dituntut kehandalan kerjanya berdasarkan masa kerja masing- masing pekerja. Melalui pengolahan IMT, konsumsi energi dan % CVL maka diketahui bahwa terdapat 16 operator dengan IMT normal, terdiri dari 7 operator yang memiliki beban fisik ringan (< 30%), 5 operator yang mengalami beban fisik sedang (30% - 60%) dan 4 operator mengalamin beban kerja agak berat (60%- 80%). Melalui pengolahan dengan metode NASA- TLX maka dapat diketahui bahwa skor beban kerja mental pada 16 operato r berada pada range 52 - 92. Sehingga diperoleh hasil bahwa operator shift 1 memiliki rata- rata beban kerja fisik lebih tinggi dibanding operator shift 2 dan 3. Sedangkan operator 3 miliki rata - rata skor beban kerja mental lebih tinggi dibandingkan dengan operator shift 1 dan 2. Dengan mengelompokkan operator kedalam dua kelompok masa kerja, yaitu masa kerja < 6 tahun dan 6- 10 tahun maka diketahui bahwa operator dengan masa kerja 6 - 10 tahun memiliki rata- rata beban kerja yang lebih tinggi dibanding operator dengan masa kerja < 6 tahun. Sedangkan operator dengan masa kerja <6 tahun memiliki rata - rata beban kerja yang lebih tinggi dibandingan dengan operator dengan masa kerja 6 - 10 tahun.
Tingkat kelelahan kerja pada pekerja luar ruangan dan pengaruh lingkungan fisik terhadap peningkatan kelelahan Lovely Lady; Ahmad Syarif Wiyanto
Journal Industrial Servicess Vol 5, No 1 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v5i1.6504

Abstract

Kelelahan (fatique ) berakibat kepada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh. Kelelahan adalah proses menurunnya efisiensi, performansi kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Faktor lingkungan seperti suhu, kebisingan, pencahayaan, dan ventilasi akan berpengaruh terhadap kenyamanan fisik, sikap mental, dan kelelahan kerja. PT XYZ adalah suatu perusahaan yang bergerak dibidang penambangan bahan galian golongan C yaitu berupa batuan andesit. Pada pengoperasiannya perusahaan melakukan aktifitas pada lingkungan terbuka dan berbahaya. Operator harus bekerja dalam kondisi temperatur, kelembaban udara , dan kebisingan tinggi pada siang hari. Penelitian ini bertujuan menghitung tingkat kelelahan yang terjadi di pada operator PT XYZ pada divisi penghancuran batu menjadi batu yang lebih kecil atau pasir dan menganalisa pengaruh lingkungan fisk kerja terhadap peningkatan kelelahan pada operator. Metode IFRC digunakan untuk menilai kelelahan yang dirasakan operator. Lingkungan fisik yang diamati dan diduga mempengaruhi kelelahan dalam produksi adalah adalah temperatur, kelembaban, kebisingan, dan pencahayaan. Besar kelelahan di plant A2 secara umum pada kondisi pra- kerja sebesar 71,71 dengan kategori kelelahan sedang dan kelelahan pada kondisi pasca- kerja I didapatkan sebesar 75,71 dengan kategori kelelahan sedang, dan kelelahan ada kondisi pasca- kerja II sebesar 71,43 dengan kategori kelelahan sedang. Kondisi lingkungan fisik kerja yang melebihi ambang bat as adalah temperatur dan kebisingan. Peningkatan temperatur kerja dan kebisingan dari kondisi pagi hari (pra - kerja) ke siang hari (pasca- kerja II) tidak signifikan meningkatkan kelelahan.
ANALISIS TINGKAT STRES KERJA DAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB STRES KERJA PADA PEGAWAI BPBD KOTA CILEGON Lovely Lady; Wahyu Susihono; Ade Muslihati
Journal Industrial Servicess Vol 3, No 1b (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.355 KB) | DOI: 10.36055/jiss.v3i1b.2084

Abstract

Badan Penanggulangan Bencana Daerah merupakan salah satu Perangkat Daerah Kota Cilegon yang mempunyai tugas yaitu usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta rekonstruksi. Dalam menjalankan tugasnya untuk membantu masyarakat dalam pencegahan bencana dan penanganan bencana, Pegawai Negeri Sipil rentan terhadap stres karena tuntutan pekerjaan yang berat dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat dalam penanggulangan bencana, pegawai setiap saat harus waspada terhadap bencana yang akan terjadi. Berdasarkan penelitian terdahulu, hasil pengolahan beban kerja pegawai BPBD Kota Cilegon sangat tinggi sebanyak 7 orang, tinggi sebanyak 2 orang, dan sangat rendah 10 orang. Beban kerja yang tinggi dapat menyebabkan stres kerja. Tujuan penelitian yaitu mengukur tingkat stres kerja pegawai dan mengetahui faktor-faktor penyebab stres kerja. Penelitian ini menggunakan kuesioner NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Hasil penelitian adalah Pegawai yang mengalami stres kerja sebanyak 9 orang dan tidak stres 10 orang. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin, umur, jumlah anak, masa kerja, kebisingan, suhu, ventilasi, ketidakpastian pekerjaan, tanggung jawab terhadap pekerja lain dan aktivitas di luar pekerjaan dengan stres kerja. Penyebab stress kerja pada karyawan adalah tipe kepribadian kepribadian A, penilaian diri, pencahayaan, konflik peran, ketaksaan peran, konflik interpersonal, kurangnya kontrol, kurangnya kesempatan kerja, jumlah beban kerja, variasi beban kerja, kemampuan yang tidak digunakan, tuntutan mental dan dukungan sosial dengan stres kerja. 
Preventing musculoskeletal disorders due to manual material handling in the production process of clean water Lady, Lovely; Nuraeni, Sekar Fani
Journal Industrial Servicess Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jiss.v10i1.24471

Abstract

Several activities have been identified that can cause occupational diseases in the production process of clean water. The Minister of Manpower Regulation of Indonesia No.5 in 2018 emphasized the dangers of ergonomic factors in the workplace and efforts to control them. The hazards from ergonomic factors identified in the study are Manual Material Handling (MMH) and physical environmental hazards. The MMH assessment calculates the value of the Recommended Weight Limit (RWL) and Lifting Index (LI), and assesses the calories spent when lifting weights upstairs in the clean water production process. In the assessment of environmental hazards, potential hazards are predominantly caused by chemical substances used in the production process. The analysis was carried out using a hazard matrix and assessing the risk level of each hazard, as well as providing risk control recommendations to reduce potential work accidents. The control for extreme-level risks in the production division involves substituting manual handling (MMH) activities and substituting MMH by applying a mechanical system using a chemical dosing pump. Control of potential hazards from chemical substances includes using gloves, earplugs, and safety goggles. Improving work processes with mechanical processes and using personal protective equipment can minimize the potential for work-related injuries.
Cognitive failure and driving distraction on private car drivers using naturalistic driving study Al Baihaqi, Hasby; Lady, Lovely
Journal Industrial Servicess Vol 10, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jiss.v10i2.28846

Abstract

Driving requires the driver to have physical and cognitive readiness. Cognitive failure can impact driving performance and lead to accidents. This study aims to identify factors that cause cognitive failure, determine the average score of cognitive failure in private car drivers, and identify distractions frequently experienced by drivers during driving. For data collection, the observer rode as a passenger in the respondent's car and identified driving distractions using a checklist. Cognitive failure rates were measured using the Cognitive Failure Questionnaire (CFQ). The distribution of questionnaires to drivers occurred after naturalistic driving. The research found that driver cognitive failure is at a high to moderate level, with distractibility being the dominant factor. The distractions experienced were predominantly internal. The adolescent group experienced more driving distractions than the adult group.
Analysis of mental workload during exams in hybrid learning in the new normal era post-pandemic Yadi, Yayan Harry; Umyati, Ani; Mariawati, Ade Sri; Lady, Lovely; Dewantari, Nustin Merdiana; Herlina, Lely; Alvizar, Rezi
Journal Industrial Servicess Vol 11, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jiss.v11i1.21976

Abstract

During the Covid-19 pandemic, most universities implemented distance learning to prevent the spread of the virus. After the pandemic, the learning process shifted to a hybrid method, combining both offline and online instruction. This hybrid system is applied to certain courses, featuring face-to-face classroom sessions alongside video conferencing for lectures. However, the hybrid learning approach has led to a decline in the student achievement index for some students, highlighting the need to evaluate their mental workload. Therefore, this study aimed to measure students’ mental workload during both online and offline exams using the NASA Task Load Index (NASA-TLX) method. The results showed a higher average mental workload score for offline exams compared to online exams. Statistical analysis revealed a significant difference between the scores, indicating a notable disparity in mental workload between offline and online exams. In conclusion, the mental workload associated with hybrid learning—particularly during exams—is considered high.