Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Silver Recovery from X-ray Film Waste by Leaching and Precipitation Method Using Sodium Hydroxide and Sodium Sulfide Soja Siti Fatimah; Wiwi Siswaningsih; Ali Kusrijadi; Fikri Aziz Shalahuddin
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 6, No. 1, May 2020
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.547 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v6i1.13648

Abstract

Silver recovery research from x-ray film waste by leaching and precipitation method using NaOH and Na2S aims to determine the optimum conditions in silver recovery. The parameters optimated in this study were the concentration of the precipitants, leaching temperature and the effect of the type of precipitants on the precipitated time. The results showed that the NaOH and Na2S precipitants were able to recover silver optimally at a concentration of 1.5 M. The optimum leaching temperature of the film with the Na2S precipitant to recover silver was at 25oC, whereas in the NaOH precipitant the film leaching temperature only affected the time of precipitation. Therefore, the formation of precipitate using Na2S is more efficient than NaOH, but the acquisition of silver is better to use NaOH than Na2S.
MIKROENKAPSULAT MINYAK BELUT (Monopterus albus) BEROMEGA-3 SEBAGAI FORTIFIKAN KEJU COTTAGE Florentina Maria Titin Supriyanti; Devita Putri Herwiandani; Ali Kusrijadi
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.549 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n2.9188

Abstract

Minyak belut merupakan salah satu sumber asam lemak tak jenuh ganda atau polyunsaturated fatty acid (PUFA). Penelitian ini bertujuan untuk fortifikasi keju cottage menggunakan mikroenkapsulat minyak belut. Metode yang digunakan pada penelitian ini meliputi mikroenkapsulasi freeze drying dan karakterisasi produk mikroenkapsulat yang meliputi penentuan formulasi terbaik, rendemen, ukuran mikrokenkapsulat, efisiensi mikroenkapsulat, dan kadar air. Keju cottage hasil fortifikasi dengan mikroenkapsulat minyak belut dianalisis kandungan asam lemaknya dengan GC-MS, dan tingkat kesukaan dengan uji hedonik. Berdasarkan hasil penelitian didapat kandungan omega-3 pada minyak belut sebesar 11,26%. Formulasi terbaik bahan penyalut pada produksi mikroenkapsulat minyak belut adalah, maltodekstrin : gum arab 5:1 ; rendemen 74% b/b; ukuran mikroenkapsulat 10-50 μm; efisiensi mikroenkapsulat 64 % dan kadar air mikroenkapsulat 1,03%. Berdasarkan uji hedonik yang dilakukan, didapat bahwa keju cottage terfortifikasi 10% memiliki tingkat kesukaan warna dan tekstur yang tertinggi. Hasil GC-MS menunjukkan bahwa kandungan asam lemak omega-3 pada keju cottage terfortifikasi minyak belut yang terukur sebesar 6,42%.
Pemanfaatan Tepung Pisang-Singkong Sebagai Alternatif Pengganti Tepung Terigu Pada Pembuatan Mie Dengan Penambahan Putih Telur atau Isolat Kedelai Filiana Fizqi Utami; Zackiyah Zackiyah; Ali Kusrijadi
Jurnal Natural Scientiae Vol 2, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jns.v2i2.6633

Abstract

In general, wheat flour noodles have a chewy and elastic texture, due to the presence of amylose, amylopectin and gluten proteins. People with celiac disease are gluten intolerant, so to enjoy noodles like people in general, an alternative gluten-free flour is needed to replace wheat flour, one of which is banana-cassava flour. To increase the nutritional value and texture of noodles, such as using wheat flour, egg white protein or soybean isolate and xanthan gum or ash water are added. This study aims to determine the effect of adding egg white protein or soybean isolate and the effect of xanthan gum or water ash on banana-cassava flour noodles on the physicochemical and sensory profiles. The research stages are the production of banana-cassava flour noodles, physicochemical profile analysis includes chemical profiles (moisture content, ash content and protein content), physical profile (optimum cooking time, swelling index, cooking loss and water absorption) and gluten content and sensory testing. The results of the analysis showed that the chemical profile of banana-cassava flour noodles met the wet noodle quality standard set by SNI 2987-2015, while the ash content was higher than the quality standard. Some good formulas, the water and ash content in the addition of egg white and xanthan gum (PTX) were around 4.95% and 1.80%, respectively, while the protein content in the addition of soybean isolate and water ash (PKA) was 12.89%. . Physical profiles for cooking time and swelling index on the addition of soybean isolate and water ash (PKA) were 2.50 minutes and 186.10%, respectively, cooking loss on the addition of egg white and xanthan gum (PTX) was 5.85%, while the water absorption in the addition of egg white and water ash (PTA) was 73.95%. Gluten levels in the addition of soybean isolates and water ash (PKA) ranged from 1.10%. The physicochemical profile of banana-cassava flour noodles was influenced by the type of protein and the best formula for gluten-free noodles was the addition of soy isolate. While the ash content, swelling index, water absorption, and gluten content are influenced by the type of agglomerate, and the best formulation for gluten-free noodles is the addition of ash water. The results of the organoleptic test obtained an average score of 4 (out of a scale of 5) on the attributes of color, aroma, taste, texture, and overall preference for the banana-cassava flour noodle sample.
Designing Project-Based Learning Oriented to Scientific Literacy in Matter and Their Changes [Pelatihan Pembelajaran Berbasis Proyek yang Berorientasi Literasi Sains Pada Materi Zat dan Perubahannya] Miarti Khikmatun Nais; Asep Kadarohman; Muhamad Nurul Hana; Ali Kusrijadi; Rahmat Setiadi; Sjaeful Anwar; Ijang Rohman; Gun Gun Gumilar
Jurnal Pengabdian Isola Vol 2, No 1 (2023): JPI: VOLUME 2, ISSUE 1, 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpi.v2i1.57630

Abstract

Selain melahirkan berbagai kemudahan, pesatnya perkembangan industri jugamenimbulkan berbagai masalah karena kurangnya literasi sains. PadaSMK/MAK terdapat Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) yangcenderung fokus pada pengembangan literasi sains dengan aspek-aspek ilmupengetahuan alam dan sosial yang kontekstual dan aktual. Terdapat banyakmodel, pendekatan, dan metode yang dapat diterapkan untuk mengingkatkanliterasi sains siswa, salah satunya dengan pembelajaran berbasis proyek atauProject Based Learning (PjBL). Mengingat sangat penting bagi guru untukmemahami tentang konten kimia dan model PjBL, Departemen PendidikanKimia UPI melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat denganmemberikan pelatihan kepada guru-guru SMK/MAK untuk meningkatkanpemahaman guru mengenai konten kimia dan model PjBL. Kegiatan inidilaksanakan secara terstruktur dan sistematis dengan metode daring danluring yang setara dengan 32 JP. Kegiatan Pengabdian ini melibatkan guruguru SMK di wilayah Kabupaten Sumedang dan Majalengka. Kegiatantersebut terdiri dari pemaparan materi tentang literasi sains dan project basedlearning, pendalaman konten kimia, serta workshop perancangan perangkatpembelajaran PjBL berorientasi literasi sains. Melalui kegiatan workshop paraguru sudah berhasil merancang pembelajaran dengan model PjBLberdasarkan permasalahan yang ada didaerah masing-masing. Rancanganrancangan yang dibuat sudah dapat diterapkan di sekolah hanya saja belumfokus pada satu permasalahan atau satu konteks tertentu. Setelah prosesdiskusi dan perbaikan rancangan-rancangan tersebut sudah cukup baik dandapat diimplementasikan dalam pembelajaran disekolah
Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran berbasis Laboratorium Virtual terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik pada Materi Kesetimbangan Evi Lutfia Fauziah; Miarti Khikmatun Nais; Ali Kusrijadi; Hilda Nurul Chaerunisa
Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jrppk.v12i1.69418

Abstract

Untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, pendidik dapat memanfaatkan media pembelajaran, salah satunya laboratorium virtual. laboratorium virtual digunakan sebagai alternatif praktikum apabila tidak dapat dilaksanakan secara langsung di laboratorium karena alasan tertentu. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh laboratorium virtual sebagai media pembelajaran terhadap motivasi belajar peserta didik khususnya pada materi kesetimbangan kimia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian One Shot Case Study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penggunaan laboratorium virtual menghasilkan motivasi belajar peserta didik yang tergolong tinggi dan sebanyak 73,90% peserta didik setuju pembelajaran menggunakan laboratorium virtual akan meningkatkan motivasi belajar. 
Pemanfaatan limbah kotoran sapi menggunakan reaktor terintegrasi alat pemurnian Biogas Sistem Absorbsi-katalitik (SAKTI) di Kampung Cileuweung Kota Cimahi Ali Kusrijadi; Yayan Sunarya
Jurnal Abmas Vol. 17 No. 1 (2017): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v17i1.37292

Abstract

Telah dilakukan kegiatan Pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan membentuk desa binaan sehat mandiri energi dan pertanian hijau berbasis pada pengolahan limbah ternak sapi. Kegiatan yang dilaksanakan adalah penerapan teknologi dan pelatihan pemanfaatan limbah ternak sapi, menjadi biogas berkualitas tinggi dilengkapi dengan penggunaan alat pemurni biogas (SAKTI). Tahapan kegiatan diawali dengan sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan limbah peternakan, dilanjutkan dengan pembuatan sistem produksi dan pemurnian biogas, diakhiri dengan penguatan kemampuan dalam pemeliharaan sistem yang telah dibuat. Dalam kegiatan ini, telah dihasilkan perangkat biodigester penghasil biogas skala rumah tangga dengan kapasitas 600 m3 yang terintegrasi dengan alat reduksi gas CO2 dan H2S. Hasil analisa kualitatif biogas menunjukkan telah berkurangnya kadar gas CO2 dan H2S dengan volume maksimum dihasilkan pada hari ke 21. Antusiasme peternak sebagai sasaran kegiatan menunjukkan tingkat cukup tinggi dan diharapkan terbentuknya peternak yang berwawasan luas yang dapat melakukan proses reduksi total limbah menjadi produk yang bermanfaat secara berkesinambungan.
Permasalahan guru IPA SMP mengajarkan IPA terpadu berbasis ethnoscience Sjaeful Anwar; Omay Sumarna; Ali Kusrijadi
Jurnal Abmas Vol. 24 No. 1 (2024): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v24i1.64208

Abstract

With the implementation of the Kurikulum 2006 KTSP, chemistry became part of the science subject that must be taught to junior high school students. In the Kurikulum 2013, the composition of chemistry material in science subjects was further strengthened. Junior high school science teachers are expected to have competencies in the four fields of science, namely Chemistry, Physics, Biology, and Earth and Space Science (IPBA). However, a field survey conducted in the Subang district showed that many science teachers had difficulty teaching science in an integrated manner. This is due to their formal educational backgrounds, most of which come from physics education programs (49 percent) and biology education programs (49 percent), and only a few from chemistry education programs (2 percent). To this day, science is still taught in fragmented ways: chemistry, biology, physics, and IPBA. This causes a mismatch between the implementation and the curriculum demands, which requires science to be taught in an integrated manner. This mismatch is mainly due to the lack of integrated science textbooks. This training program serves as a solution to the scarcity of integrated science teaching materials. The training uses a blended learning system, combining online and face-to-face models. During the face-to-face sessions, participants are given presentations on science integration and the 4STMD-based teaching material development method. Two online meetings are held to guide the progress of teaching material development. The training is conducted for 8 hours per week, totaling 32 hours. The results of this training show that science teachers are highly motivated to develop integrated science teaching materials based on ethnoscience, resulting in several integrated science teaching materials.   Abstrak Dengan diberlakukannya kurikulum KTSP tahun 2006, Ilmu kimia menjadi bagian dari mata pelajaran IPA yang harus diajarkan kepada peserta didik SMP. Pada kurikulum 2013, komposisi materi kimia pada mata pelajaran IPA semakin diperkuat. Guru IPA SMP sudah seharusnya memiliki kemampuan di empat bidang IPA, yaitu Kimia, Fisika, Biologi, dan IPBA. Akan tetapi survey lapangan yang dilakukan di wilayah kabupaten Subang menunjukkan bahwa cukup banyak guru IPA mengalami kesulitan mengajarkan IPA secara terpadu. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pendidikan formal mereka yang kebanyakan berasal dari program studi pendidikan fisika (49 persen) dan biologi (49 persen), dan hanya sedikit sekali yang berasal dari program studi pendidikan kimia (2 persen). Sampai saat ini IPA diajarkan secara terpisah-pisah antara IPA kimia, IPA biologi, IPA fisika, dan IPA IPBA. Hal ini yang menyebabkan ketidaksesuaian antara impelentasi dan tuntutan kurikulum, dimana IPA harus diajarkan secara terpadu. Ketidaksesuaian ini disebabkan terutama oleh tidak adanya buku ajar IPA yang disajikan dalam bentuk terpadu. Program pembinaan ini merupakan sebuah solusi bagi kelangkaan bahan ajar IPA terpadu. Pembinaan dilakukan dengan sistem blended learning, yang menggabungkan model daring dan tatap muka. Pada tatap muka diberikan paparan mengenai keterpaduan IPA dan metode pengembangan bahan ajar 4STMD. Dua kali pertemuan dilakukan secara daring untuk memberikan pembinaan progress pengembangan bahan ajar. Pelatihan dilakukan 8 jam per minggu, sehingga seluruhnya 32 jam. Hasil dari pembinaan ini menunjukkan bahwa guru-guru IPA sangat termotivasi untuk mengembangkan bahan ajar IPA terpadu berbasis etnosains, sehingga menghasilkan beberapa bahan ajar IPA terpadu Kata Kunci: 4STMD; bahan ajar; etnosains; IPA terpadu