Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

ANALISA PERBANDINGAN DIAMETER ANTENA PENERIMA TERHADAP KINERJA SINYAL PADA FREKUENSI KU BAND Ifandi Ifandi; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 6, No 3 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini sistem TV Broadcast sudah dapat menggunakan teknologi komunikasi satelit. Sistem ini memungkinkan pengguna jasa komunikasi satelit untuk dapat menyaksikan siaran TV dimana saja selama masih dalam wilayah cakupan satelit tersebut. Paper ini membahas kualitas link tranmsimi sebuah jaringan Digital TV-Broadcast via satelit Measat 3a pada frekuensi Ku-band berdasarkan parameter level sinyal dan carrier to noise (C/N) yang diukur dengan menggunakan diameter antena parabola yang disediakan oleh penyedia layanan. Keuntungan dari frekuensi Ku-Band yaitu selain bandwidth yang lebih lebar, pemakaian frekuensi Ku-band juga terhindar dari interferensi dengan sistem microwave terestrial yang banyak memakai frekuensi C-Band. Dari hasil analisa yang dilakukan, diketahui bahwa untuk menyalurkan data berupa video format MPEG-4 pada sistem TV Broadcast via satelit Measat 3a frekuensi Ku-Band pada kondisi cerah dengan menggunakan diameter odu 0,6 meter diperoleh level sinyal  yaitu -36,8 dBm s/d -37,3 dBm dengan C/N sebesar 11,9 dB s/d 12,2 dB, sedangkan untuk diameter odu 0.8 meter diperoleh level sinyal yaitu -27,6 dBm s/d -28,2 dBm dengan C/N sebesar 14,1 dB s/d 17,4 dB. Pada kondisi cerah, sistem TV broadcast komunikasi satelit, diameter antena 0,6 meter bisa dipergunakan, karena masih menyisakan margin daya dan kualitas gambar yang dihasilkan masih bagus.
ANALISIS QUALITY OF SERVICE (QoS) JARINGAN INTERNET DI SMK TELKOM MEDAN Rahmad Saleh Lubis; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 7, No 3 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.322 KB)

Abstract

Kualitas Layanan atau Quality of Service merupakan metode pengukuran tentang seberapa baik jaringan dan merupakan suatu usaha untuk mendefiniskan karakteristik dan sifat dari suatu servis. Mengacu pada dibuatnya layanan pembelajaran online dilingkungan SMK Telkom Medan yang memiliki 3 gedung yaitu Gedung A, Gedung B dan Gedung C dan total siswa 828 siswa dengan kapasitas bandwith internet 24Mbps maka diperlukan pengukuran untuk mengetahui seberapa besar kualitas layanan yang harus dipenuhi. Pada tulisan ini, dibahas metode action research dengan model sistem monitoring QoS. Dari hasil analisis pengukuran paramater QoS yang terdiri dari Packet Loss, Delay, Jitter dan Throughput maka didapat nilai QoS untuk gedung A dengan indeks 93,81 dengan kategori “Memuaskan”, nilai QoS untuk gedung B dengan indeks 94,87 dengan kategori “Memuaskan”, dan nilai QoS untuk gedung C dengan indeks 94,60 dengan kategori “Memuaskan”.
ANALISIS BANDWIDTH KANAL CATV MENGGUNAKAN MODULATOR TELEVES 5857 DAN ZINWEL C1000 Mulia raja harahap; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 7, No 3 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam jaringan community antenna television, modulator memegang peranan penting untuk merubah sinyal audio video dari receiver satellite menjadi sinyal radio frekuensi. Sistem modulasi dari modulator tersebut adalah amplitudo modulasi. Modulasi yang digunakan adalah double-sideband atau vestigial-sideband. Untuk mencapai kualitas jaringan community antenna television yang memenuhi standar, perlu diperhatikan tipe modulator yang digunakan. Paper ini menganalisa bandwidth kanal community antenna television dan perbandingan carrier to noise (C/N) menggunakan modulator Televes 5857 dan modulator Zinwel C1000-UVM. Dari hasil pengukuran dan perhitungan diketahui bahwa modulator Zinwell C1000-UVM menggunakan modulasi vestigial-sideband, bandwidth kanal 7 MHz dan ratio carrier to noise 62,2 dB. Modulator Televes 5857 menggunakan modulasi dual-sideband, bandwidth kanal 12 MHz dan ratio carrier to noise 62,2 dB. Besarnya bandwidth berbanding lurus dengan noise yang ditimbulkan. Modulator Zinwell C1000-UVM cocok digunakan untuk jaringan community antenna television yang lebih luas. Sedangkan modulator Televes 5857 cocok digunakan untuk jaringan yang lebih kecil. Kata kunci : Jaringan CATV, Bandwith dan C/N
PENGARUH STANDAR DEVIASI SHADOW FADING TERHADAP KINERJA ALGORITMA SUBOPTIMAL SIGNAL DEGRADATION HANDOFF (SDH) Mediska Simanjuntak; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.329 KB)

Abstract

Abstrak     Untuk kelangsungan komunikasi seluler, handoff sangat diperlukan agar percakapan yang terjadi antar pelanggan tetap berlangsung tanpa terputus, meskipun pelanggan berpindah sel/wilayah. Apabila terjadi kegagalan handoff berakibat dropcall yaitu terputusnya hubungan saat percakapan sedang berlangsung. Paper ini, membahas tentang bagaimana pengaruh standar deviasi shadow fading terhadap parameter kinerja, yaitu jumlah sinyal degradasi, delay, dan jumlah handoff. Algoritma handoff yang dievaluasi yaitu algoritma suboptimal Signal Degradation Handoff (SDH), dimana cost(c) adalah parameter pengendalian daya. Dari hasil simulasi, seiring meningkatnya nilai standar deviasi shadow fading yang telah divariasikan antara 3 dB sampai 12 dB, pada cost(c) 0,0045 sampai 0,1 kejadian handoff semakin sering terjadi. Pada cost(c) 0,0045 sampai 0,65 jumlah sinyal degradasi mengalami kenaikan, tetapi ketika nilai cost(c) 0,0045 sampai 0,1 waktu tunda (delay) semakin singkat. Kata kunci: Standar deviasi shadow fading, algoritma suboptimal Signal Degradation Handoff (SDH).
ANALISIS ALGORITMA LOCALLY OPTIMAL HARD HANDOFF TERHADAP KECEPATAN DAN KORELASI JARAK Lucky Simanjuntak; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.487 KB)

Abstract

ABSTRAK   Sebuah sistem komunikasi seluler memberikan kemudahan terhadap pengguna untuk dapat melakukan komunikasi meskipun dalam keadaan bergerak, salah satunya memungkinkan mobile station untuk berpindah dari satu base station ke base station yang lain selama komunikasi berlangsung, mekanisme perpindahan ini dinamakan handoff. Adapun parameter yang mempengaruhi handoff adalah kecepatan pergerakan mobile station dan korelasi jarak pada lingkungan sekitar base station atau disebut sebagai parameter kontrol. Algoritma locally optimal handoff adalah algoritma yang diadaptasikan dengan kecepatan dan korelasi jarak. Paper ini menganalisis perbandingan algoritma locally optimal handoff dengan metode threshold dengan histeresis adaptif. Nilai korelasi jarak adalah 10 m, 20 m, dan 30 m dan titik operasi kecepatan adalah 2 m/s sampai 50 m/s. Jumlah handoff dan sinyal degradasi bernilai rendah ketika nilai korelasi jarak 30 m pada kecepatan 0 m/s sampai 5 m/s. Untuk perbandingan algoritma locally optimal handoff dengan metode threshold dengan histeresis adaptif (do = 10 m) , jumlah handoff berbanding terbalik untuk kedua metode, sedangkan nilai sinyal degradasi sama. Kata kunci: Algoritma locally optimal handoff, metode threshold dengan histeresis adaptif,  kecepatan, korelasi jarak.
ANALISIS EKSPONEN PATH LOSS DENGAN MEMBANDINGKAN METODE HISTERESIS ADAPTIF DAN METODE HISTERESIS TETAP Mutiara Widasari Sitopu; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.11 KB)

Abstract

Abstrak Sebuah sistem komunikasi bergerak memberikan kemudahan terhadap pengguna untuk dapat melakukan proses komunikasi meskipun dalam keadaan bergerak, salah satunya memungkinkan pengguna untuk berpindah dari suatu cakupan area sel menuju cakupan area sel yang lain, fenomena perpindahan ini dinamakan handoff. Paper ini menganalisis variansi eksponen path loss dengan membandingkan algoritma histeresis adaptif dan histeresis tetap  untuk mengetahui bagaimana pengaruh parameter kinerja yaitu jumlah handoff, delay handoff dan sinyal degradasi. Dengan menggunakan metode histeresis adaptif, jumlah handoff rata-rata pada eksponen path loss = 2dB adalah 2,27 dan pada metode histeresis tetap adalah 5,40. Jumlah delay yang dihasilkan pada saat eksponen path loss = 2dB, dengan menggunakan metode histeresis adaptif adalah 335,53 m/s pada metode histeresis tetap adalah    366,03m/s. Nilai sinyal degradasi pada eksponen path loss = 6,5dB dengan menggunakan metode histeresis adapftif adalah 0,5dB dan pada metode histeresis tetap adalah 0,696dB. Dari hasil yang didapat maka metode yang paling baik digunakan adalah metode histeresis adaptif karena jumlah handoff yang minimal dan tundaan atau delay handoff yang terjadi lebih sedikit serta sinyal degradasi atau sinyal yang berada dibawah sinyal link drop lebih sedikit. Kata kunci : algoritma histeresis adaptif, algoritma histeresis tetap, variansi eksponen path loss
STUDI SISTEM VERTICAL HANDOVER PADA JARINGAN WIRELESS HETEROGEN DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA ADAPTIVE LIFETIME BASED Daniel Hermanto Marpaung; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 32 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.587 KB)

Abstract

Perbedaan standar jaringan komunikasi menjadi hambatan bagi pelanggan untuk dapat selalu terhubung dengan jaringan yang terbaik. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah dengan menggunakan proses vertical handover. Pada tulisan ini membahas tentang studi sistem vertical handover yang menggunakan algoritma adaptive lifetime based dengan variasi kecepatan dan parameter MIT. Perubahan kecepatan dari 1 m/s hingga 5 m/s dan perubahan MIT -80, -75 dan -70. Parameter sistem yang diamati adalah probabilitas transisi vertical handover, probabilitas vertical handover, dan jumlah vertical handover yang terjadi selama lintasan UE. Proses simulasi dimulai ketika UE berada pada jaringan selular 3G dan melewati jaringan WLAN. Hasil simulasi menunjukkan bahwa semakin cepat UE bergerak mendekati jaringan tujuan maka nilai probabilitas transisi vertical handover, probabilitas vertical handover dan jumlah rata-rata vertical handover juga akan meningkat. Untuk menurunkan jumlah vertical handover maka dilakukan variasi nilai MIT. Hasil yang diperoleh yaitu dengan kecepatan 5 m/s dan nilai MIT -80 diperoleh jumlah rata-rata vertical handover sebesar 5,51. Dengan mengubah nilai MIT menjadi -70 maka jumlah rata-rata vertical handover dapat diperkecil menjadi 1,72.
ANALISIS HANDOFF JARINGAN UMTS DENGAN MODEL PENYISIPAN WLAN PADA PERBATASAN DUA BASE STATION UMTS Selfi Sinaga; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 33 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.017 KB)

Abstract

Handoff merupakan proses perpindahan pelayanan dari satu sel ke sel yang lain, yang disebabkan parameter propagasi sinyal tidak lagi memenuhi batas threshold untuk dilayani oleh BS yang sebelumnya. Horizontal handoff merupakan proses handoff yang terjadi pada jaringan dengan standar teknologi yang sama seperti antara dua atau lebih jaringan selular 3G, sedangkan Vertical handoff merupakan proses handoff yang terjadi pada jaringan dengan standar teknologi yang berbeda seperti jaringan selular 3G dan WLAN. Pada tulisan ini dianalisis peningkatan kinerja jaringan saat dilakukan penyisipan WLAN di perbatasan dua jaringan UMTS. Jaringan WLAN tersebut berfungsi untuk melayani MS ketika sinyal kedua UMTS yang berdekatan lemah. Evaluasi kinerja disimulasikan dalam simulator dengan parameter kinerja yang dianalisis yaitu jumlah handoff dan probabilitas outage. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan melakukan penyisipan WLAN di perbatasan dua jaringan UMTS, nilai probabilitas outage semakin kecil yaitu pada titik perbatasan sel UMTS1 dan UMTS2 pada jarak 910 meter dengan variasi Smin = -80 dBm diperoleh 0,679 menjadi 0, pada Smin = -85 dBm diperoleh 0,385 menjadi 0, dan pada Smin = -90 dBm diperoleh 0,141 menjadi 0. Namun jumlah handoff semakin meningkat, pada Smin = -80 dBm diperoleh rata-rata jumlah handoff 1 menjadi 5,64 kali, pada Smin = -85 dBm diperoleh rata-rata jumlah handoff 1,76 menjadi 7,60 kali dan pada Smin = -90 dBm diperoleh rata-rata jumlah handoff 4,16 menjadi 7,60 kali.
ANALISIS MODEL PROPAGASI PATH LOSS SEMI-DETERMINISTIK UNTUK APLIKASI TRIPLE BAND DI DAERAH URBAN METROPOLITAN CENTRE Nining Triana; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.586 KB)

Abstract

Gedung-gedung bertingkat yang ada di daerah perkotaan (urban), khususnya daerah perkotaan yang sangat padat dengan beberapa gedung pencakar langit (metropolitan centre) merupakan faktor utama penyebab terjadinya path loss. Hal ini ditandai dengan menurunnya level daya yang diterima dibandingkan dengan level daya efektif yang dipancarkan. Pada tulisan ini, untuk memprediksikan nilai path loss yang terjadi adalah dengan menggunakan model propagasi yang cocok untuk daerah urban metropolitan centre, yaitu model propagasi COST231 Hata dan COST231 Walfisch-Ikegami dengan frekuensi kerja triple band, yaitu 935 Mhz untuk sistem GSM900, 1812,5 MHz untuk sistem GSM1800 dan 2140 MHz untuk sistem 3G. Dari analisis yang dilakukan secara perhitungan dan pengukuran di lokasi penelitian diperoleh bahwa model propagasi COST231 Walfisch-Ikegami adalah model yang paling cocok dan layak digunakan untuk sistem GSM1800 dan 3G dengan mean error masing-masing sebesar 1,84 dB dan 0,57 dB dan standar deviasi sebesar 1,45 dB.
Analisis Pengaruh Slope Terrain terhadap Pathloss pada Daerah Suburban untuk Mode Point to Point pada Sistem GSM 900 Fadilah Rahma; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.342 KB)

Abstract

Faktor slope terrain sangat mempengaruhi besaran pathloss yang terjadi pada daerah yang berbukit. Karena pengaruh faktor slope terrain dapat menyebabkan terjadinya drop call. Untuk memprediksi besaran pathloss pada daerah yang memiliki faktor slope terrain dapat menggunakan model Okumura dan model Lee. Kedua model ini memiliki faktor slope terrain yang berbeda   yaitu faktor slope terrain Ksp berdasarkan sudut slope terrain dan faktor tinggi efektif antena base station yang dipengaruhi oleh tinggi kontur tanah. Tulisan ini membahas tentang pengaruh slope terrain terhadap pathloss pada daerah suburban. Adapun metode yang digunakan adalah menghitung pathloss dengan model Lee, serta membandingkan pathloss kedua model propagasi dengan pathloss data pengukuran. Untuk mendapatkan model propagasi yang sesuai pada daerah yang diteliti, maka dilakukan juga metode prediksi yaitu model regresi parabola kuadratik dan MAPE (Mean Absolute Percentage Error). Berdasarkan hasil metode prediksi, maka diperoleh model yang sesuai digunakan pada daerah Sidikalang untuk sistem GSM 900 adalah model Lee. Hal ini dikarenakan dari hasil grafik regresi data pengukuran mendekati grafik dari model Lee dengan nilai MAPE (Mean Absolute Percentage Error) sebesar 4.25 %.