Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ANALISIS PATH LOSS MODEL PROPAGASI DALAM RUANGAN Ummu Handasah; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 14, No 39 (2016)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.62 KB)

Abstract

Path loss yang terjadi dalam ruangan disamping dipengaruhi frekuensi dan jarak juga dipengaruhi oleh sekat/penghalang, sehingga daya terima akan menjadi lebih kecil ketimbang hanya dipengaruhi oleh frekuensi dan jarak. Untuk menghitung besar rugi-rugi path loss dapat ditentukan berdasarkan model propagasi yang telah direkomendasi. Paper ini menghitung dan menganalisis rugi-rugi path loss dalam ruangan. Pengerjaan perhitungan dilakukan berdasarkan model ITU-R dan  COST231-Multiwall kemudian dianalisis berdasarkan perbandingan part loss hasil pengukuran secara nyata dalam ruangan. Lokasi pengukuran dilakukan pada ruangan kelas J314 dan  J313 di lantai 3 bangunan Departemen Teknik Elektro USU. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka model propagasi ITU-R lebih layak digunakan pada ruangan kuliah lantai 3 Departemen Teknik Elektro dibandingkan dengan model propagasi COST 231 dengan mean error masing-masing sebesar 19,26694 dB dan 26,41393 dB dan standar deviasi masing-masing sebesar 9,686598 dB dan 11,06642 dB.
ANALISIS PENERAPAN MODEL PROPAGASI EMPIRIS COST-231 MULTI-WALL PADA GEDUNG SWALAYAN YANG DIMODELKAN Elsa Dahlia Sinaga; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 14, No 40 (2016)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.957 KB)

Abstract

Fasilitas WiFi semakin banyak diterapkan pada berbagai lembaga/instansi. Pada swalayan, salah satunya. Untuk menentukan jumlah dan posisi access point, jarak di mana rugi-rugi lintasan maksimum diambil untuk mewakili jari-jari sel cakupan area. Pada tulisan ini, perhitungan rugi-rugi lintasan dilakukan dengan metode pemodelan propagasi indoor menggunakan Cost-231 multi-wall. Jarak antar rak pada bangunan swalayan yang dimodelkan divariasikan. Dari analisis yang dilakukan didapatkan, untuk variasi jarak antar rak (dalam meter) adalah 0,75, 1,25, 1,75, 2, dan 2,3, besar rugi-rugi maksimumnya secara berturut-turut (dalam dB) adalah 74,95193, 78,99955, 78,16135, 78,37394 dan 78,99963, yaitu pada jarak (dalam meter) 11,6251, 12,526, 16,8216, 17,2384 dan 18,527. Pada model bangunan swalayan berukuran 125 x 81 meter persegi dengan jarak antar rak rata-rata adalah 2,3 meter memiliki jari-jari sel paling besar sehingga jumlah access point yang dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan yang lainnya, yaitu 13. Kata kunci : Cost-231 Multi-Wall, WiFi, Access Point
ANALISIS RUGI-RUGI LINTASAN GELOMBANG RADIO DARI LUAR KE DALAM GEDUNG ANTARA PADA SISTEM GSM1800 DAN 3G Panangian Mahadi Sihombing; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 14, No 40 (2016)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rugi-rugi lintasan gelombang radio adalah salah satu parameter yang berpengaruh dalam menentukan posisi pemancar baru yang akan di rancang. Di daerah perkotaan, terutama di daerah pusat kota jumlah pengguna komunikasi jaringan seluler di dalam bangunan melebihi di luar bangunan. Oleh karena itu, untuk memenuhi layanan komunikasi seluler maka diperlukan cakupan level daya dari luar hingga ke dalam bangunan menggunakan pemancar dari luar bangunan. Walaupun di pasaran telah tersedia perangkat komunikasi (repeater) yang berfungsi sebagai penguat daya gelombang radio sehingga cakupan level daya sampai ke dalam bangunan. Namun sebagian besar pengguna jaringan seluler di dalam bangunan masih bergantung pada cakupan gelombang radio dari pemancar di luar bangunan. Pada penelitian ini rugi-rugi lintasan yang terjadi dari luar hingga ke dalam bangunan ditentukan dengan menggunakan model Paulsen, kombinasi model COST231 Walfisch –Ikegami (WI) dengan model COST231 Multi Wall (MW) serta kombinasi model COST231 Walfisch –Ikegami (WI) dengan model ITU-R. Setelah dilakukan perhitungan dan pengukuran maka diperoleh hasil bahwa model kombinasi COST231 WI dengan COST231 MW lebih akurat dibandingkan dengan model Paulsen maupun kombinasi model COST231 WI dengan model ITU-R. Model kombinasi COST231 WI dengan COST231 MW memiliki rata-rata kesalahan (mean error) paling kecil yaitu sebesar -1,92 dB untuk sistem GSM1800 dan -0,75 dB untuk sistem 3G serta standar deviasi sebesar 9,69 dB yang telah memenuhi standar ITU sebagai kelayakan model propagasi yaitu tidak lebih dari 10 dB.
UNJUK KERJA ALGORITMA HARD HANDOFF TERHADAP VARIASI KECEPATAN MOBILE STATION MAKSUM PINEM
Jurnal Dinamis No 9 (2011)
Publisher : Jurnal Dinamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.308 KB)

Abstract

ABSTRAKPadasistem GSM (Global System for Mobile communication), kualitas link komunikasi harustetap dijaga ketika suatu mobile station sedang berkomunikasi dengan mobile station lain.Ketika mobile station bergerak menjauhi jangkauan suatu base station maka perlu dilakukanhandoff ke base station lain. Salah satu parameter yang mempengaruhi handoff adalahkecepatan pergerakan mobile station (MS). Agar kualitas link komunikasi tidak terlalu buruk danjumlah handoff yang terjadi tidak terlalu banyak, maka perlu dilakukan pertimbangan untuk nilaikeduanya. Oleh karena kecepatan bergerak mobile station dapat berubah-ubah maka perlujuga dilakukan adaptasi agar meningkatkan kinerja sistem komunikasi seluler tersebut. Padatulisan ini disimulasikan algoritma hard handoff yang diadaptasikan terhadap kecepatan mobilestation yang bervariasi dengan menambahkan parameter kontrol (c) pada nilai link degradasi.Kata kunci: Algoritma Hard Handoff, adaptasi, kecepatan.
Perbaikan Internal Blocking Jaringan Interkoneksi Banyak Tingkat Topologi Omega 8x8 dengan Algoritma Look-Ahead M. Zulfin; Maksum Pinem; Raja Harahap; Fahmi Rinaldi; Muhammad Razali
JET (Journal of Electrical Technology) Vol 8, No 1 (2023): Edisi Februari
Publisher : JET (Journal of Electrical Technology)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaringan interkoneksi banyak tingkat (Multistage Interconnection Network/MIN) hingga saat ini digunakan sebagai switching pada sentral-sentral dalam sistem-sistem Telekomunikasi. Disamping itu MIN juga digunakan sebagai switch penghubung antara prosesor dan modul memori pada sistem-sistem Komputer. Penggunaan MIN semakin diminati karena penghematan jumlah crosspoint yang dimilikinya dibandingkan dengan switch matriks konvensional yang jumlah crosspoint-nya lebih banyak. Selain itu MIN mudah dikontrol dan mampu mendukung koneksi input-output dalam skala besar. Namun MIN bersifat internal blocking, sehingga dibutuhkan suatu cara untuk menjadikannya non-blocking atau mengurangi persentase internal blocking yang dimilikinya. Salah satu cara yang dilakukan untuk maksud tersebut adalah menggunakan algoritma. Pada tulisan ini dibahas algoritma Look-Ahead untuk mengurangi internal blocking MIN topologi Omega 8x8. Dari 2 buah contoh yang dianalisis, untuk permutasi dengan koneksi input-output yang uniform tanpa algoritma Look-Ahead diperoleh hasil bahwa internal blocking sebesar 62,5% dan jika menggunakan algoritma Look-Ahead internal blocking turun menjadi menjadi 25%. Sedangkan dengan permutasi yang memiliki koneksi yang non uniform persentase internal blocking-nya menjadi lebih tinggi yaitu sebesar 87,5% jika tanpa algoritma Look-Ahead, sedangkan dengan algoritma Look-Ahead turun menjadi 50%. Jadi algoritma Look-Ahead sangat mengurangi kegagalan koneksi input-output sebuah permutasi atau dengan kata lain mengurangi internal blocking sebuah jaringan MIN secara signifikan.
Comparative performance analysis of MPPT algorithms for wind power generation: P&O, INC, and TSR methods Muhammad Aulia Desky; Yulianta Siregar; Maksum Pinem
International Journal of Applied Power Engineering (IJAPE) Vol 15, No 2: June 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijape.v15.i2.pp894-904

Abstract

Wind energy has great potential, especially in areas with high wind speeds such as Southeast Aceh. However, wind speed fluctuations reduce turbine efficiency, necessitating maximum power point tracking (MPPT) for optimization. This study compared three MPPT methods perturb and observe (P&O), incremental conductance (INC), and tip speed ratio (TSR) to identify the most effective technique. Using MATLAB Simulink, simulations were conducted with wind speed data from Southeast Aceh and a DC-DC boost converter. Results showed the P&O method performed best, producing 847.83 W at 10 m/s, compared to 702.40 W for INC and 324.35 W for TSR. P&O also achieved the highest current output, reaching 16.45 A, while INC and TSR produced 13.66 A and 6.34 A, respectively. At lower wind speeds, P&O continued to outperform the other methods. This study concludes that the P&O method is the most effective method to improve the efficiency of wind turbines in Southeast Aceh, while INC shows moderate performance and TSR is the least effective method due to fluctuating wind speeds in a short time, so that TSR cannot maintain its maximum value. Therefore, P&O is recommended as the optimal MPPT technique for wind power plants in this region.