Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis SNR pada Variasi Reduction Factor Sensitivity Encoding MRI Brain Sekuens DWI Axial Hernastiti Sedya Utami; Fani Susanto; Arga Pratama Rahardian; Muhammad Erfansyah
Jurnal Imejing Diagnostik (JImeD) Vol 7, No 2: JULY 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimed.v7i2.7450

Abstract

Backgroud: Brain MRI examination generally has a long scanning time because many protocols that must be used, one of them is DWI sequences, which are sequences that can provide pathological information on the brain. One way to reduce scan time is to use parallel imaging sensitivity encoding (SENSE) techniques. SENSE utilizing the spatial information RF coil phased array to reduce the acquisition time by reducing the number of sampling lines K space therefore produce quality and good spatial resolution, but its has the limitations, namely the reduction of SNR. The purpose of this research was to analyze in SNR on  the variations of SENSE value in MRI brain DWI axial slices.Methods: This research is a quantitative study with an experimental approach in 15 patients MRI Brain. Data was taken by calculating the SNR value for the region of interest (ROI) in cortex cerebri, basal ganglia, thalamus, pons and cerebellum, and then ROI in noise background. Data was analyzed through Repeated Measures Anova test by comparing the differences in SNR values obtained in MRI brain DWI axial between the use of various SENSE values, that are 2.0; 3.0 and 4.0.Results: MRI image of DWI axial brain sequence with variation of reduction factor 2.0; 3.0 and 4.0 cause different SNR values. The highest SNR is found in the variation of 2.0 and the lowest value is 4.0 but the scan time is fastest at the 4.0 variation This is because there is a reduction in the phase encoding line in the K-space on each image using SENSE and the higher the reduction factor, the higher the reduction factor. SNR will decrease.Conclusion: The higher the value of SENSE variations will decrease the SNR value but the scan time is faster.
PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG DETEKSI DINI BAHAYA PENYAKITBATU GINJAL (UROLITHIASIS) DAN PENGOBATANNYA Fani Susanto; Arga Pratama Rahardian
PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP Vol 3 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP 2021
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.823 KB)

Abstract

Faktor penyebab urolithiasis atau batu ginjal diantaranya faktor geografis dan iklim. Urolithiasis juga lebih banyak terjadi pada daerah yang bersuhu tinggi dan area yang gersang/ kering dibandingkan dengan tempat/ daerah yang beriklim sedang. Iklim tropis, tempat tinggal yang berdekatan dengan pantai, pegunungan, dapat menjadi faktor resiko tejadinya urolithiasis. Daerah Banteran, tergolong ke dalam kawasan yang sejuk karena posisinya yang berada di bawah dari gunung slamet. Letak geografis demikian menjadikan masyarakat banteran termasuk ke dalam masyarakat dengan faktor resiko cukup tinggi untuk terkena batu ginjal. Pengabdian bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang deteksi dini bahaya penyakit batu ginjal (urolithiasis) dan pengobatannya. Metode kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan cara penyuluhan dan ceramah terkait materi tentang urolithiasis kepada masyarakat target, kemudian evaluasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner pre-test dan post-tset untuk mengetahui tingkat penambahan pengetahuan masyarakat terkait urolithiasis. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang deteksi dini bahaya penyakit batu ginjal (urolithiasis) dan pengobatannya. Masyarakat sangat diperlukan mengedepankan dan menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari beberapa macam penyakit seperti batu ginjal.
Prosedur Pemeriksaan MRI Lumbal pada Kasus Efusi Pleura Suspek Tuberkulosis Fani Susanto; Arga Pratama Rahardian; Hernastiti Sedya Utami; Widya Mufida
Jurnal Imejing Diagnostik (JImeD) Vol 9, No 1: JANUARY 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimed.v9i1.9419

Abstract

Background: Clinical vertebral tuberculosis (TB) occurs outside the lungs affecting the spine. It generally infects the spine in the lower thoracic and upper lumbar spine. MRI examination is performed on clinical vertebral TB patients to determine the degree of stress and changes in bone elements in the early stages of the disease. This study aims to analyze the lumbar MRI examination procedure in cases of suspected TB pleural effusion. Methods: This research was qualitative with a case study approach. Data collection was carried out at the Radiology Unit of Premier Bintaro Hospital with the methods of observation, interviews, and documentation. Data processing and analysis were carried out descriptively. Results: Lumbar MRI examination with suspected TB pleural effusion at the Radiology Unit of Premier Bintaro Hospital was not specially prepared, the patient was examined first through the patient checklist to avoid metal materials entering the examination room. Examination using the Non-Contrast Lumbar MRI protocol included of sagittal and coronal T2, sagittal T1, sagittal Short Tau Inverse Recovery (STIR), Myelography, Axial T2, and Axial T1. The results of the examination provided sufficient diagnostic information to indicate a vertebral TB lesion. Conclusions: The procedure for examining lumbar MRI in TB cases with suspected pleural effusion at the Radiology Unit of Premier Bintaro Hospital did not require special preparation, the examination protocol used was to provide TB clinical diagnostic information, the addition of Gadolinium contrast media could be an alternative choice. 
Analisis Perbedaan Kualitas Citra Pemeriksaan MRI Cervical Potongan Sagital Pada Penggunaan Sekuens T2 Tse Dixon, T2 Tse Spair, Dan T2 Tse Stir Hakim Masghuri; Arga Pratama Rahardian; Fani Susanto; Alan Samudra; Fathur Rachman Hidayat
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45268

Abstract

Fat suppression merupakan teknik penting dalam pencitraan MRI, khususnya untuk meningkatkan visualisasi struktur anatomi dengan mengurangi sinyal lemak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan kualitas citra pada pemeriksaan MRI Cervical pada penggunaan tiga teknik fat suppression pada masing-masing sekuen, yaitu T2 TSE Dixon, T2 TSE SPAIR, dan T2 TSE STIR. Evaluasi dilakukan pada struktur anatomi CerebroSpinal Fluid (CSF), Spinal Cord, Discus dan Bone Marrow dengan parameter kualitas citra berupa Signal-to-Noise Ratio (SNR) dan Contrast-to-Noise Ratio (CNR). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai SNR pada penggunaan ketiga teknik fat suppresion pada masing-masing sekuen. T2 TSE STIR memiliki mean rank tertinggi, diikuti oleh T2 TSE Dixon dan T2 TSE SPAIR. Sebaliknya, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada nilai CNR antar ketiga teknik. Meskipun nilai SNR tertinggi diperoleh dari sekuen T2 TSE STIR, bukan berarti teknik tersebut memiliki kualitas citra yang paling optimal. Faktor lain seperti karakteristik jaringan dan sensitivitas masing-masing teknik terhadap inhomogenitas medan magnet turut memengaruhi hasil pencitraan. Setiap teknik menunjukkan performa yang bervariasi tergantung pada jenis jaringan yang dianalisis, sehingga pemilihan teknik fat suppression sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan diagnostik yang spesifik.
Analisis Perbedaan Informasi Anatomi Mri Lumbal Menggunakan Sekuen T2 Tse Fat Saturation Mode Weak dan Strong Pada Kasus Hernia Nukleus Pulposus Fani Gimnastiar; Lutfatul Fitriana; Arga Pratama Rahardian; Hernastiti Sedya Utami; Alan Samudra
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45299

Abstract

Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) merupakan salah satu penyebab utama nyeri pinggang yang sering dijumpai pada populasi usia produktif, khususnya antara 30 hingga 50 tahun, dengan puncak kejadian pada usia 40–45 tahun. Kondisi ini terjadi akibat penonjolan nucleus pulposus melalui annulus fibrosus discus intervertebralis, yang dapat menekan saraf dan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan MRI menjadi modalitas utama dalam mendiagnosis HNP karena kemampuannya dalam menampilkan jaringan lunak secara detail, terutama dengan teknik fat suppression yang berfungsi untuk menekan sinyal lemak agar visualisasi struktur anatomi menjadi lebih jelas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas citra antara sekuen T2 TSE Fat Saturation mode weak dan strong pada MRI lumbal pasien HNP. Menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 10 pasien di RS SMC Telogorejo Semarang, penilaian dilakukan oleh dua dokter spesialis radiologi melalui metode visual grading analysis. Hasil uji Wilcoxon Signed Test menunjukkan bahwa T2 Fat Sat mode strong memberikan kualitas citra yang lebih baik secara signifikan pada struktur discus intervertebralis, medulla spinalis, CSF, spinal cord dengan nilai p < 0,05 yang menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan. Sedangkan pada corpus vertebrae, ligamentum flafum dan ligamentum posterior tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Dengan mean rank lebih tinggi pada mode strong (17,69) dibandingkan weak (15,50) dan nilai p < 0,001 secara keseluruhan, disimpulkan bahwa sekuen T2 Fat Sat mode strong lebih efektif dalam menghasilkan informasi anatomi yang optimal pada pemeriksaan MRI lumbal kasus Hernia Nukleus Pulposus.
Analisis Perbedaan Informasi Anatomi Pemeriksaan MRI Lumbal Sekuen T2 FSE Sagital Penggunaan ARC Dengan Variasi Time Repetition Pada Kasus Hernia Nukleus Pulposus (HNP) Muhamad Rijal Abdullah; Arga Pratama Rahardian; Hernastiti Sedya Utami; Fani Susanto; Alan Samudra
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan informasi citra pada pemeriksaan MRI lumbal menggunakan sekuens T2 FSE potongan sagital dengan teknik Autocalibrating Reconstruction for Cartesian Imaging (ARC) berdasarkan variasi nilai Time Repetition (TR) pada kasus Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksperimental dengan sampel sebanyak 10 pasien yang menjalani pemeriksaan MRI lumbal dengan tiga variasi nilai TR, 3000 ms, 3500 ms, dan 4000 ms. Penilaian  informasi anatomi dilakukan oleh dua dokter radiologi menggunakan kuesioner, dan data dianalisis menggunakan uji friedman. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p < 0,05) antara variasi TR terhadap informasi citra, dengan nilai TR 4000 ms memberikan mean rank tertinggi (2,27), diikuti TR 3500 ms (2,03) dan TR 3000 ms (1,71). Perbedaan signifikan ditemukan terutama pada anatomi medula spinalis dan discus intervertebralis, sementara struktur lain seperti corpus vertebra, cairan cerebrospinal fluid  (CSF),  ligamentum flafum,dan ligamentum posterior tidak menunjukkan perbedaan berarti. Peningkatan nilai TR terbukti meningkatkan rasio sinyal terhadap noise (SNR), yang berdampak pada peningkatan kualitas informasi anatomi. Dengan demikian, nilai TR 4000 ms direkomendasikan sebagai parameter optimal untuk memperoleh kualitas citra dan informasi anatomi  terbaik pada pemeriksaan MRI lumbal sekuen T2 FSE menggunakan teknik ARC.
Analisis Pengaruh dan Optimalisasi Nilai Full Width At Half Maximum (Fwhm) Terhadap Spektrum Metabolit Metode Multi-Voxel Magnetic Resonance Spectroscopy (Mrs) Fannisa Rahma Pradika; Arga Pratama Rahardian; Hernastiti Sedya Utami; Lutfatul Fitriana; Putri Susilowati
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47221

Abstract

Full Width at Half Maximum (FWHM) merupakan indikator penting dalam Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS) karena memengaruhi kualitas spektrum metabolit dan berpengaruh terhadap akurasi kuantifikasi metabolit. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti rentang nilai FWHM optimal untuk metode multi voxel. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh variasi nilai FWHM terhadap spektrum metabolit serta menentukan nilai FWHM optimal untuk memperoleh spektrum dengan kualitas terbaik. Sampel penelitian sebanyak 12 pasien MRS brain menggunakan MRI 1,5T dengan variasi FWHM (10–14 Hz, 15–18 Hz, 20–22 Hz, dan 23–25 Hz). Nilai integral metabolit N-Acetyl Aspartate (NAA), Creatine (Cr), dan Choline (Cho) dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk, Levene’s test, One-Way ANOVA, dan Kruskal-Wallis. Wawancara terhadap observer untuk mengetahui pengaruh FWHM terhadap spektrum. Hasil menunjukkan bahwa variasi nilai FWHM tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap nilai integral NAA (p = 0,993), Cr (p = 0,399), dan Cho (p = 0,492). Namun, berdasarkan hasil uji statistik deskriptif nilai integral metabolit, rentang FWHM 15–18 Hz memberikan hasil spektrum yang lebih stabil. Meskipun tidak signifikan secara statistik terhadap nilai integral metabolit, rentang FWHM 15–18 Hz direkomendasikan sebagai nilai optimal untuk memperoleh kualitas spektrum terbaik pada MRS multi voxel.