Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

SISTEM PENAMPUNG DAN FILTER AIR HUJAN SEBAGAI PENYEDIA BAHAN BAKU AIR NUTRISI UNTUK SISTEM HIDROPONIK Suprianti, Yanti; Wachjoe, Conny Kurniawan; Yulistiani, Fitria; Utami, Sri; Hernawan, Kholiq
Jurnal Difusi Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Difusi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/difusi.v7i1.5585

Abstract

Alih fungsi lahan pertanian menjadi area pemukiman penduduk terjadi cukup signifikan di wilayah Jawa Barat, seperti wilayah Desa Cihanjuang yang makin dipenuhi oleh pemukiman. Akibatnya lahan pertanian semakin sedikit, dan diperlukan metode baru dalam beradaptasi dengan kondisi ini. Salah satu cara bercocok tanam modern adalah dengan sistem hidroponik, yang menggantikan media tanah dengan air nutrisi,. Dan dapat dipasang di area yang cukup sempit. Pengaliran air nutrisi memerlukan pompa yang digerakkan oleh sumber energi listrik. Sumber lisrik ini dapat dipasok dari sumber energi terbarukan, seperti surya, yang tersedia melimpah. Animo masyarakat RW 14 Cibaligo, Cihanjuang, sangat tinggi untuk mengaplikasikan sistem ini dengan menanam berbagai macam tanaman. Akan tetapi, konsentrasi nutrisi yang diperlukan untuk setiap tanaman berbeda-beda. Penanaman banyak jenis tanaman dalam satu instalasi sistem hidroponik bukan pilihan yang baik. Oleh karena itu diperlukan pengembangan instalasi lama, yaitu sistem solar PV yang mampu memasok daya untuk 3 pompa, baru digunakan untuk satu pompa saja. Keperluan air baku untuk nutrisi saat ini masih dilakukan melalui pengisian manual dan masih bersatu dengan kebutuhan kedai. Pada kegiatan PkM ini diaplikasikan integrasi 3 sistem hidroponik yang disertai dengan sistem pengaturan nutrisi tanaman, untuk mengakomodasi kebutuhan tanaman yang berbeda. Penyediaan air baku untuk air nutrisi tanaman disediakan dengan cara memanen air hujan menggunakan sistem penampung dan filter air hujan.
Regenerasi In-Situ Adsorben Karbon Aktif Tipe Granul dengan Metode Termal Suprianti, Yanti; Kurniasetyawati, Annisa Syafitri
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 3 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.47 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v3i1.91

Abstract

Produk biogas memiliki spesifikasi yang masih perlu ditingkatkan (mengandung metana, CH4 50-70%, dan karbon dioksida, CO2 30 – 49%), agar dapat bersaing dengan gas alam, yaitu lebih dari 98% metana. Metode pemurnian melalui adsorpsi CO2 paling banyak diterapkan, karena tidak memerlukan biaya tinggi, jika dibandingkan teknologi pemisahan konvensional lain. Tetapi, media adsorben karbon aktif akan mengalami kejenuhan dalam waktu tertentu. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meregenerasi karbon aktif yang jenuh oleh CO2 yaitu dengan peningkatan temperatur melalui metoda termal. Pada penelitian ini dilakukan regenerasi in-situ dengan peningkatan temperatur karbon aktif di dalam kolom adsorpsi-desorpsi, dengan alat dapat mengakomodasi tiga pola operasi, yaitu adsorpsi, regenerasi/desorpsi, dan pengosongan gas. Alat terdiri atas kolom yang dilengkapi perpipaaan, blower pendorong udara, heater dan thermostat untuk pemanas dan pengatur temperatur udara. Hasil uji alat menunjukkan bahwa durasi proses adsorpsi hingga mencapai kejenuhan adalah 30 menit pada siklus pertama dan 40 menit pada siklus kedua. Selanjutnya, durasi proses desorpsi dari siklus pertama hingga ketiga menunjukkan peningkatan linier, dipengaruhi oleh temperatur udara pemanas, dengan penurunan konsentrasi Ca(OH)2 hingga masih menunjukkan tren peningkatan. Setelah dilakukan tiga siklus proses adsorspi-desorpsi didapatkan bahwa performa dari karbon aktif masih belum mengalami penurunan kapasitas. siklus proses adsorspi-desorpsi didapatkan bahwa performa dari karbon aktif masih belum mengalami penurunan kapasitas. Kata kunci: adsorpsi, desorpsi, karbon aktif, karbon dioksida, regenerasi in-situ, temperatur ABSTRACT Biogas have certain specifications that need to be improved (contain methane, CH4, 50-70%, and carbon dioxide, CO2, 30-49%), in order to compete with natural gas ( >98% methane). The adsorption of CO2 is the most widely applied to purify biogas since it considered as low cost, in terms of energy supply and raw materials. However, activated carbon adsorbent will be saturated and must be regenerated. One of the methods that can be used to regenerate CO2-saturated activated carbon is using thermal method. In this research, the in-situ regeneration was carried out by increasing temperature of the activated carbon in adsorption-desorption column, which accommodate three operating patterns, namely adsorption, regeneration/desorption, and gas discharge. The tool consists of columns, piping, blower, heater and thermostat for air heating and controlling temperature. The result showed that the saturation time was 30 minutes and 40 minutes, respectively in 1st and 2nd cycle. The duration of the desorption from the 1st to 3rd cycle showed a linear trend, influenced by heating air temperature. And the reduction in Ca(OH)2 concentration still showed increasing trend after three adsorption-desorption cycles carried out, so the performance or adsorption capacity of activated carbon had not yet been decreased.
POTRET BANK SAMPAH CEMPAKA 2 SEBAGAI MEDIA PENINGKATAN PERAN SERTA MASYARAKAT CIWARUGA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH Muldiani, Ratu Fenny; Suprianti, Yanti; Widarti, Sri; Pratama, Defrianto; Koesoemah, Nita Henita; Agoes, Farida; Yuliyawati , Sri Nur
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 5 No. 3 (2022): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurangnya peran serta warga atau masyarakat RW 02 Ciwaruga, Kabupaten Bandung Barat dalam pengelolaan sampah walaupun telah memiliki Bank Sampah Cempaka 2, yang dibentuk sejak tahun 2016. Metode pelaksanaan kegiatan PKM ini  disesuaikan  dengan  kondisi dan waktu kegiatan Bank Sampah dengan langkah-langkah melakukan kunjungan dan diskusi dengan kader penggiat bank sampah, memotret dan mensosialisasikan tingkat keberhasilan bank sampah dilihat dari manfaat secara sosial dan ekonomi, serta merumuskan penyuluhan dan mempersiapkan berbagai media sosialisasi. Perilaku memilah sampah berpotensi untuk ditumbuhkan sebagai gerakan massal dan adanya Bank Sampah, secara ekonomi, sangat membantu dalam menciptakan pekerjaan dan menambah penghasilan masyarakat RW 02 Ciwaruga. Kata Kunci: Bank Sampah, Dampak Sosial, Ekonomi, Memilah Sampah  
PEMBERDAYAAN WARGA RW 14 CIBALIGO DALAM MENGOLAH SAMPAH ORGANIK MENGGUNAKAN KOMPOSTER AEROB SEDERHANA Suprianti, Yanti; Utami, Sri; Muldiany, Ratu Fenny; Gantina, Tina Mulya
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.62012

Abstract

Waste management has become an acute problem for the Bandung Raya area. The government has so far applied the landfill method at the final disposal site (TPA). This method is not an effective way to manage waste, as evidenced by the fire at the end of 2023 at the Sarimukti TPA, which resulted in a waste emergency in Bandung, driven by methane gas that emerged from the waste mountain. The decision of the West Bandung Regency government to limit the volume of waste transported and encourage people to manage their own waste has unsettled residents who are not ready to do so. This was observed in the RW 14 Cibaligo area, which led to organic waste piling up and causing health and environmental hazards. This issue must be resolved immediately by raising awareness among residents to manage their waste from home. This activity is carried out using counseling methods and practicing waste sorting and composting of organic waste, followed by monitoring the organic waste composting process in an aerobic composter, which produces two main products, namely compost and liquid organic fertilizer (POC). This activity has succeeded in increasing public knowledge and understanding regarding the sorting and processing of organic waste, and has led residents to produce fertilizer for their own needs. The results of compost and POC show good characteristics, based on aspects such as volume content, humidity, acidity level, compost temperature, as well as the presence of odors and animals, and aspects of dissolved solids concentration, salinity, conductivity, and acidity level of POC. These results are expected to encourage residents to remain consistent in managing their waste from their own homes, so that the environment becomes clean and healthy.Permasalahan pengelolaan sampah sudah menjadi beban akut wilayah Bandung Raya. Pemerintah selama ini menerapkan metode land fill di tempat pembuangan akhir (TPA). Metode ini bukan cara efektif dalam pengelolaan sampah, terbukti telah terjadi kebakaran pada akhir tahun 2023 di TPA Sarimukti yang mengakibatkan Bandung darurat sampah yang didorong oleh produksi gas metana dari gunungan sampah. Keputusan pemerintah Kabupaten Bandung Barat yang membatasi volume sampah yang diangkut dan mendorong masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri, menyebabkan kekagetan warga yang belum siap untuk melakukannya. Hal ini ditemui di wilayah RW 14 Cibaligo yang mengakibatkan sampah organik menumpuk dan menimbulkan bahaya kesehatan dan lingkungan. Hal ini harus segera diselesaikan, dengan menggugah kesadaran warga untuk mengelola sampahnya semenjak dari rumah. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan praktek pemilahan sampah serta  pengomposan sampah organik, diikuti dengan pemantauan proses pengomposan sampah organik dalam komposter aerob yang menghasilkan dua produk utama, yaitu pupuk kompos dan pupuk organik cair (POC). Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah organik, dan mengantarkan warga menghasilkan pupuk untuk keperluannya sendiri. Hasil kompos dan POC menunjukkan karakteristik yang baik, dengan meninjau aspek volume keterisian, kelembapan, tingkat keasaman, dan temperatur kompos, serta timbulan bau dan binatang yang muncul, juga aspek konsentrasi padatan terlarut, salinitas, konduktivitas, serta tingkat keasaman POC. Hasil ini diharapkan mendorong warga terus konsisten dalam mengelola sampahnya semenjak dari rumah sendiri, sehingga lingkungan menjadi bersih dan sehat.