Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

EFFORTS PERFORMED BY HOTELS IN BALI IN LOOKING AFTER THE ENVIRONMENT A.A.G. Raka Dalem; I.N. Widana; I.N. Simpen; I.N. Artawan
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 10 No 1 (2010)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on “Efforts perpormed by hotels in Bali in looking after the environment” was undertaken in 2009, by utilising data from July, 2008 until June, 2009. Objectives of the study was for collecting data on any efforts undertaken by hotels in looking after the environment especially related to minimising water consumption, garbage handling, the use of chemicals (especially cleaning chemicals), minimising energy consumption and ecosystem conservation (measured from the proportion of natural vegetation). Data were collected from interviews, document checkings and distributing questionaires. Results of the study showed that in average water consumption of hotels in Bali was 115 litres / guest night. It was considered low, less than the benchmark of Green Globe/Earthcheck which was 1,300 litres / guest night. The average of energy consumption was 0.322 MJ per guest night, which was still much below the baseline levels / standard of 340 MJ / guest night. In average garbage/waste produced by hotels was 0.0309 litre/guest night. This was also much below the baseline of 6 litres / guest night. The use of biodegradable cleaning chemicals in the hotel was averaged 35% which should be a minimum of 50%. There were 22% only of hotels which used cleaning chemicals that were biodegradable over 50% (over the standard). In average the proportion of natural vegetation in a hotel was 29%. There were 43% of sampled hotels of which their natural vegetation was over the baseline of 33%. Thus, hotels in Bali should improved their performance in looking after the environment, especially dealing with cleaning chemicals and ecosystem conservation. In this regards, they should increase the proportion of the use of biodegradable cleaning chemicals and increase the proportion of land kept with their natural vegetation.
Teleportasi Kuantum Terkontrol Keadaan Dua-Qubit Sembarang Agus Purwanto; Lila Yuwana; I Nengah Artawan; Bayu Dwi Hatmoko; Rafika Rahmawati; Achmad Fatih Alqodri
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.441 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v15i1.4649

Abstract

Kami perlihatkan skema teleportasi terkontrol dua kubit sembarang via kanal lima kubit yang merupakan kombinasi dari keadaan GHZ dan keadaan Bell. Dari 32 kombinasi pengukuran oleh Alice dan Charlie terdapat dua kelompok pengukuran dengan hasil sama.
The Calogero-Moser Model Based On Doubly-Laced Lie Algebras Alexander A. Iskandar; I Nengah Artawan
Indonesian Journal of Physics Vol 14 No 4 (2003): IJP Vol. 14 No. 4, October 2003
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.421 KB)

Abstract

The Calogero-Moser model is an one-dimensional dynamical system that describes N pairwise interacting particles on a line with nonlinear interaction potentials. These potentials are associated with the root system of the Simple Lie Algebras. The Calogero-Moser model is integrable, and its integrability is describe through the Lax pair operators built in the root system of the associated Lie algebra. In the present work, a new Lax pair operator for the Calogero-Moser model based on the Doubly Simply-Laced Lie algebras is presented. It is shown that the canonical equation of motion obtained from the Lax pair formulation and from the Hamiltonian formulation are consistent.
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM PERTUNJUKAN DRAMA KLASIK SANGGAR TEATER MINI LAKON TRAGEDI BALI I MADE RUDITA; I NENGAH ARTAWAN; NI LUH PUTU TRISDYANI; I PUTU YUDA ARMANDA
WIDYANATYA Vol 6 No 1 (2024): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Didalam agama Hindu ada sebuah ajaran yang disebut Tri Hita Karana. Tri Hita Karana terbentuk dari tiga kata, Tri yang berarti tiga, Hita yang berarti kebahagiaan atau sejahtera, Karana yang berarti sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita Karana mempunyai arti tiga penyebab kebahagiaan. Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kebahagiaan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara 3 hal yaitu: (1) Parhyangan (hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, (2) Palemahan (hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan), (3) Pawongan (hubungan harmonis antara manusia dengan sesama). Implementasi Ajaran Tri Hita Karana dalam pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Tragedi Bali mempunyai makna yang sangat kompleks yang belum pernah dikaji secara mendalam. Penelitian ini berjudul “Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Pertunjukan Drama Klasik Sanggar Teater Mini lakon Tragedi Bali” adalah hasil studi yang mendalam terhadap implementasi ajaran Tri Hita Karana dalam pertunjukan Drama Klasik. Penelitian ini mengangkat satu pokok masalah yaitu : 1) untuk mengetahui dan menganalisis implementasi ajaran Tri Hita Karana dalam pertunjukan Drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Tragedi Bali . Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Ajaran Tri Hita Karana dalam pertunjukan Drama Klasik Sanggar Teater Mini lakon Tragedi Bali. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna implementasi Ajaran Tri Hita Karana dalam pertunjukan Drama Klasik Sanggar Teater Mini. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan menggunakan satu teori yaitu teori simbol. Metode-metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan.Seluruh data diolah menggunakan tehnik deskriptif interpretatif. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut ; Makna implikasi ajaran Tri Hita Karana dalam pertunjukan Drama Klasik Sanggar Teater Mini lakon Tragedi Bali adalah sebagai berikut : (1) implementasi Prhyangan, (2) implementasi Pawongan , dan (3) implementasi Palemahan.
PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU YANG TERKANDUNG DALAM GEGURITAN PANCA DATU WIT DASAR JAGAT BALI DI DESA UBUNG KAJA KECAMATAN DENPASAR UTARA KOTA DENPASAR I NENGAH ARTAWAN; I KETUT WINANTRA; KADEK TENNY MULYANI; I KADEK BAGUS MAHAYANA RIAWAN
WIDYANATYA Vol 6 No 1 (2024): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan agama Hindu di Bali tidak bisa lepas dari aspek seni dan kebudayaan yang mengiringi didalamnya. Salah satu dari sekian banyaknya kesenian yang ada di Bali, yang berbentuk karya sastra klasik, atau lebih dikenal dengan sebutan Geguritan. Geguritan merupakan sastra klasik yang perlu dikaji, karena didalam Geguritan terdapat nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu. Salah satu karya sastra klasik yang berbentuk Geguritan adalah Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali. Geguritan ini merupakan geguritan yang sangat bagus dijadikan sebagai media penanaman nilai Pendidikan Agama Hindu, karena didalam Geguritan ini kaya akan nilai pendidikan yang dapat diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan: Untuk mengetahui nilai, proses dan implikasi dari penanaman nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali di Desa Ubung Kaja Kecamatan Denpasar Utara kota Denpasar. Teori yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian ini adalah: Penelitian ini berbentuk rancangan kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik kepustakaan, observasi, dan wawancara. Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh simpulan sebagai hasil penelitian, sebagai berikut: (1) Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali yaitu Nilai Pendidikan Tattwa, Pendidikan Susila, dan Nilai Pendidikan Upacara, (2) Proses Penanaman yang digunakan yaitu melalui proses pesantian, (3) Implikasi dari penanaman nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali yaitu memberikan hasil yang cukup baik dimasyarakat, masyarakat lebih mengetahui makna dan tujuan dari upacara yang dilakukan, meningkatkan dan menumbuhkan sraddha bakti akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
WARAK KERURON SEBAGAI WUJUD UPACARA PITRA YADNYA PALING SEDERHANA Ida Bagus Purwa Sidemen; Ida Bagus Ngurah Bradijaya Manuaba; I Nengah Artawan
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah tradisi yang dijaga dengan baik merupakan salah satu alat penyaring bentuk serbuan kehidupan modern. Semuanya bisa dipilah, mana yang baik dan mana yang buruk, dengan mengacu pada ajaran tradisi yang memiliki nilai-nilai luhur. Umat Hindu memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada disebabkan oleh suatu hal yang ada atau terjadi sebelumnya. Dari keyakinan tersebut memunculkan sebuah konsep hukum alam yang disebut dengan Karmaphala, atau hasil dari perbuatan. Sehubungan dengan hal tersebut, sebuah upacara yaitu Warak Keruron merupakan salah satu cara untuk membebaskan roh bayi dari belenggu yang mengikatnya di dunia agar sang roh dapat kembali ke asalnya. Bilamana hal ini tidak dilaksanakan tentu dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kehidupan sang ibu maupun sang ayah. Selama ini istilah Warak Keruron sangat jarang terdengar di masyarakat, padahal upacara ini sendiri sudah ada sejak dahulu. Warak Keruron bertujuan serta berfungsi untuk membersihkan atau mensucikan kondisi seorang ibu secara psikologis maupun jasmani. Roh yang di upacarai akan kembali ke alamnya dengan jalan sempurna sedangkan bagi orang tua yang masih mengharapkan keturunan diberikan kemudahan dan siap secara lahir bathin. Demikian pentingnya upacara Warak Keruron sebagai bentuk paling sederhana dalam upacara Pitra Yadnya dan sebaiknya dilakukan oleh pasangan suami istri atau bagi yang mengalami keguguran.