Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS PEMILIHAN GELOMBANGSQUARE SEBAGAI PEMBIAS SWITCHING TERHADAP KESTABILAN GELOMBANG OUTPUT INVERTER I Made Sumerta Yasa
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 13 No 2 (2013): July
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.539 KB)

Abstract

Inverter merupakan alat yang dipergunakan mengubah tegangan DC menjadi tegangan AC. Inverter terbentuk dari rangkaian oscillator, buffer, driver, switching electronics dan transformtor. Output inverter yang dihasilkan adalah tegangan dan frekuensi yang stabil. Untuk memperoleh tegangan yang stabil dibutuhkan pembiasan switching yang stabil salah satunya dengan menggunakan gelombang square. Menggunakan gelombang square untuk pembiasan switching dapat memberikan unjuk kerja sistem yang bagus karena lebih kebal terhadap gangguan/derau. Untuk menyatakan inverter tersebut dalam kondisi stabil diperlukan pengujian pemberian beban sesuai dengan inverter yang direncanakan. Berdasarkan pengujian dan pengolahan data yang dilakukan dengan memberikan beban yang bervariasi dari 5 watt sampai 60 watt, maka diperoleh kesimpulan memang benar gelombang output osilator menentukan kestabilan gelombang output inverter dan kestabilan inverter rata-rata sebesar 88,1 %.
Analisis Perubahan Sinyal Frekuensi Input Terhadap Kebutuhan Kapasitas Catu Daya DC Power Amplifer OCL I Made Sumerta Yasa; I Putu Sutawinaya
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 15 No 3 (2015): November
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.045 KB)

Abstract

Audio amplifier idealnya akan menghasilkan sinyal keluaran yang bentuknya sama persis dengan bentuk sinyal masukan, hanya amplitudonya lebih besar karena adanya penguatan (gain). Namun, sayangnya di dunia ini tidak ada yang ideal. Sinyal keluaran dari audio amplifier selalu tidak sama persis bentuknya dibandingkan dengan sinyal masukannya. Cacat pada audio amplifier dapat berupa dengung, suara kurang kencang, treble pecah, bass tidak penuh, interfrensi dan lainnya. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh salah satunya berupa catu daya DC power amplifier yang tidak stabil atau kapasitas catu dayanya kurang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh sinyal input dengan frekuensi yang berbeda dari 20 Hz sampai dengan 20 KHz terhadap kebutuhan catu daya DC nya pada power amplifier OCL tersebut. Dari penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dengan perubahan frekuensi input power amplifier maka terjadi perubahan kebutuhan kapasitas daya yang berubah pula, pada frekuensi input rendah membutuhkan catu daya yang lebih besar dibandingkan dengan pada saat diberikan sinyal frekuensi input tinggi, sehingga dalam merancang power supply DC untuk power amplifier OCL sangat perlu diperhatikan kestabilannya pada kondisi frekuensi rendah atau nada-nada rendah pada saat mendengarkan musik.
EVALUASI ERROR KWH METER ANALOG PENGUKURAN LANGSUNG DENGAN METODE PENERAAN WAKTU PADA LABORATORIUM JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI BALI Djoko Suhantono; I Made Sumerta Yasa; Kadek Amerta Yasa
Matrix : Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika Vol 8 No 1 (2018): MATRIX - Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.852 KB) | DOI: 10.31940/matrix.v8i1.750

Abstract

Secara logika, suatu alat ukur kWh meter akan mengalami perubahan fisik maupun elektrodinamiknya bila alat tersebut digunakan secara terus-menerus. Karyawan P2TL PLN banyak menemui penyimpangan di lapangan pada alat ukur kWh meter analog satu fasa. Hal ini kemungkinan dapat terjadi pada kWh meter di Laboratorium Listrik Jurusan Teknik Elektro. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian secara konvensional dengan metode peneraan waktu. Hasil yang diperoleh bahwa error masing-masing alat ukur melampaui batas yang dijinkan yaitu lebih dari 5,366% dan kurang dari -4%. Hal ini tidak sesuai ketentuan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri.