Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Mempraktekkan Teori dalam Permasalahan Politik dan Lingkungan Uup Gufron
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 1, No 3 (2021): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v1i3.13449

Abstract

Conelly and Smith build on a big problem in this book about the difficulty of building and protecting the environment. It is due to many underlying factors. Among them is the human factor who does not have the awareness to protect the environment and nature. This is answered and solved by the author to protect the environment in the next section. At least the author divides the environment into two approaches, namely the political approach and the conventional approach. Politically, the environment must be recognized as a resource on earth that must be protected, because wealth has limitations. Politically too, humans must build a shared awareness by creating a harmonious relationship between humans and nature. This cooperative relationship is framed in ethical understanding between humans and other creatures such as animals, plants, earth, sea, sun, and the like.
Corak Moderasi Beragama Keluarga Mualaf Tionghoa (Studi Kasus Jamaah Masjid Lautze Jakarta Pusat) Uup Gufron
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.115

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui corak pemahaman moderasi beragama keluarga mualaf Tionghoa yang berada dalam binaan Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta Pusat. Mayoritas mualaf binaan Masjid Lautze adalah dari kalangan etnis Tionghoa. Hal ini menjawab pertanyaan bagaimanakah corak yang menjadi kekhasan dalam moderasi beragama yang dijalani para mualaf etnis Tionghoa. Penelitian ini termasuk kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara langsung dengan responden yang relevan dan olah data. Berdasarkan data temuan, latar belakang para mualaf Tionghoa menjadi muslim dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yakni (1) faktor spiritualitas; (2) faktor rasionalitas; dari (3) faktor identitas. Faktor spiritualitas lebih dominan dibanding faktor lain, sehingga pemahaman moderasinya lebih mengedepankan perasaan kasih sayang, kelembutan hati, cinta-kasih, dan saling menghormati. Corak moderasi yang dimiliki para mualaf binaan Masjid Lautze dipengaruhi oleh sosok tokoh muslim etnis Tionghoa bernama Haji Karim Oei, yang merupakan tokoh Muhammadiyah yang memiliki pemahaman yang modernis (tajdȋdi), pembauran (istȋ’ab), dan moderat (tawāsuth), bersikap toleran (tasamuh); dan tidak ekstrim (tatharruf). Kata Kunci: moderasi; mualaf; Tionghoa; keluarga; Lautze Abstract This article aims to find out the religious moderation characteristics in Chinese Muslim Families who are under the auspices of the Masjid Lautze Pasar Baru, Central Jakarta. The majority of Mualaf guided by the Lautze Mosque are from the ethnic Chinese. This article answers the question of how the characteristic which become the uniqueness in religious moderation experienced by Chinese Mualaf. This study included descriptive qualitative by conducting direct interviews with relevant respondents and data processing. Based on data, the background of Chinese Mualaf to become Muslim is motivated by three factors, namely (1) the spirituality factor; (2) the rationality factor; from (3) identity factor. The spirituality factor is more dominant than other factors, so that the moderation understanding puts forward affection feeling, gentleness, love and mutual respect. The characteristic moderation of the Mualaf guided by the Lautze Mosque is influenced by the ethnic Chinese Muslim figure named Haji Karim Oei, who is a Muhammadiyah figure and a modernist (tajdȋdi), assimilation (istȋ’ab) and moderate (tawāsuth), tolerant (tasamuh); and not extremist (tatharruf). Keywords: moderation; mualaf; China; family; Lautze
Konsep Good Governance dalam Pandangan Al-Ghazali Uup Gufron
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 4 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This article focuses on studying and observing the thought of Al-Ghazali on the concept of good governance. It is expected to obtain the answer how exactly the concept of political ethics he put it, so it can be a reference and a foothold in the management of state and government in this modern century. So, this reseach is to answer how the concept of political ethics in the view of of Al-Ghazali and what the view of Al-Ghazali on government ethics that can be interpreted as the principles of good governance is. The objectives of this writing is to make formulation the concept of good governance of Al-Ghazali based on ethics philosophy. The writer concludes that Al-Ghazali suggested or gave some advices to the rulers how to make good governance (husn al-siyâsah) based on ethics. These are formulated into seven principles such as competence (kafă’ah); doing fairness (‘âdalah); live by low profile (basâthah); working honesty (amanâh); having responsiveness (istijăbah); humble and sincerity (Tawaddhu’ wal Ikhlash); and meekness to public (rifq). Abstraksi Tulisan ini fokus pada kajian dan menggali pemikirian Al-Ghazali tentang konsep kepemerintahan yang baik. Diharapkan dapat memberikan jawaban bagaimana sebenarnya konsep etika politik yang ia kemukakan, sehingga dapat menjadi acuan dan pijakan dalam pengelolaan negara dan pemerintahan di abad modern ini. Jadi, penelitian ini adalah untuk menjawab bagaimana konsep etika politik dalam pandangan Al-Ghazali dan apa pandangan Al-Ghazali tentang etika pemerintahan yang dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk membuat formulasi konsep tata kelola yang baik dari Al-Ghazali berdasarkan etika filsafat. Penulis menyimpulkan bahwa Al-Ghazali menyarankan atau memberikan beberapa nasihat kepada penguasa bagaimana membuat tata pemerintahan yang baik (husn al-siyasah) berdasarkan etika. Ini diformulasikan ke dalam tujuh prinsip seperti kompetensi (kafa'ah); melakukan keadilan ('adalah); hidup dengan rendah hati (basâthah); kejujuran bekerja (amanah); memiliki respon (istijăbah); rendah hati dan ketulusan (Tawaddhu 'wal Ikhlash); dan kelembutan untuk umum (rifq). Keywords: Islam, Government, Good governance
Pola Pengasuhan Anak Dan Relasinya Dengan Living Religion Di Amerika Serikat Uup Gufron; Kartono Kartono
Syakhsia Jurnal Hukum Perdata Islam Vol 22 No 1 (2021): Januari-Juni
Publisher : Islamic Civil Law Departement of Shari'a Faculty at Islamic State University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37035/syakhsia.v22i1.4875

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pola pengasuhan orangtua pada anaknya dalam upaya untuk mempertahankan keberlangsungan kehidupan agama (living religion) sehingga anak dapat menjalankan nilai-nilai agama yang dianutnya. Artikel ini menjawab pertanyaan utama bagaimana pola dan cara orangtua di Amerika Serikat dalam mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak-anak sehingga agama yang mereka anut dapat lestari dan dijalankan kepada anak dan cucu mereka. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan bersifat deskriptif-analitis dengan merujuk pada buku-buku literatur sebagai data analisis untuk menjawab problem di atas. Teori yang digunakan dalam menjawab problem penelitian ini diambil dari Suzan-Crowford Sulivan yang menyebut bahwa pemertahanan keberlangsungan agama seorang anak lebih efektif dilakukan oleh seorang ibu dengan menanamkan nilai-nilai kepercayaan kepada Tuhan dan dekat dengan gereja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa untuk dapat menghidupkan agama dengan sepuluh prinsip, yakni; 1) bahwa Tuhan mempedulikan kita; 2) bahwa semua kehidupan itu mudah; 3) mendengarkan keluhan anak; 4) menggunakan kata-kata yang tidak menyakiti anak; 5) membiarkan anak berkembang sesuai dengan keinginan dan mimpinya; 6) memberi motovasi yang positif; 7) membuat kebiasaan yang memnggugah; 8) menjadikan diri sebagai cermin yang positif bagi anak; 9) mengibarkan semangat berjuang; dan 10) membuat sesuatu yang baru dalam setiap hari anak.
PENERAPAN PEMBELAJARAN INTERAKTIF TENAGA PENDIDIK DI SMP DAAR EL NUUR PESANTREN YAYASAN AL –SALAM, PANDEGLANG , PROPINSI BANTEN Supeno; Eddy Setyanto; Kokok Dj Purwanto; Uup Gufron
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 8: Januari 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v1i8.963

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemberdayaan potensi serta kapasitas guru pendidik di Pesantren Madrasah Diniyah Yayasan Al-Salam yang berada di Propinsi Banten. Pendekatan kepada peserta adalah dengan menerapkan pendekatan andragogi dan Kegiatan ini melibatkan guru-guru pendidik Yayasan Al-Salam dalam suatu struktur pengalaman disertai pemilihan metode pembelajaran yang sesuai yaitu metode ceramah, diskusi dan yang lainnya untuk diterapkan di dalam proses belajar mengajar baik di dalam maupun di luar kelas. Diharapkan para peserta yaitu guru dan peserta pendidik Yayasan Al-Salam mampu memilih, menerapkan satu atau beberapa pendekatan pengajaran tersebut dalam menunjang dan mensukseskan proses belajar mengajar di yayasan pondok pesantren tersebut
Manusia, Alam dan Tuhan dalam Ekosufisme Al-Ghazali Uup Gufron; Radea Yuli A. Hambali
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3007.616 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16275

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menggali pemikiran Al-Ghazali tentang relasi manusia, alam dan Tuhan. Dari sini dibangun suatu problem utama bahwa kerusakan alam disebabkan karena ketidakharmonisan antara manusia, alam dan Tuhan, sehingga menghadirkan berbagai bencana seperti kebakaran, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, kekeringan, erosi, dan lain sebagainya. Pandangan manusia modern yang menjadikan alam sebagai objek menjadi problem yang hendak digali dalam artikel ini. Dari problem ini diharapkan dapat ditemukan formulasi primer tentang gagasan Al-Ghazali tentang ekosufisme sebagai solusi alternatif atas krisis lingkungan. Data riset bersumber dari karya-karya Al-Ghazali yang berisi tentang etika manusia kepada Tuhan dan etika manusia kepada alam, serta relasi timbal balik antara keduanya. Artikel ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan metode analisis konten dari beberapa karya Al-Ghazali yang berbicara tentang alam dan lingkungan hidup. Dari berbagai karya Al-Ghazali yang telah digali diketahui bahwa sumber ketidakharmonisan hubungan antara alam, manusia dan Tuhan disebabkan karena faktor konsumtif manusia atas kebutuhan hidupnya sehingga memacu manusia untuk berbuat serakah sehingga menjadikan alam sebagai objek pemenuhan kebutuhan hidupnya. Padahal alam adalah manifestasi cinta Tuhan di bumi, sehingga untuk mencintai Tuhan harus melalui cintanya kepada alam. Untuk itu diperlukan etika uzlah, mahabbah, wara’, zuhud, dan syukur agar terbentuk relasi etis antara manusia, alam dan Tuhan.
Penanaman Nilai-Nilai Kebhinnekaan Melalui Mata Pelajaran PKn SMA Islam Harapan Ibu Jakarta Selatan Kartono Kartono; Uup Gufron; Nujuluddin Siregar
JAGADDHITA: Jurnal Kebhinnekaan dan Wawasan Kebangsaan Vol 2, No 2 (2023): JAGADDHITA: Jurnal Kebhinnekaan dan Wawasan Nusantara
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jagaddhita.v2i2.1865

Abstract

Pemeliharaan kebhinekaan masyarakat Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat termasuk lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebhinekaan atau pendidikan multikulturalisme kepada siswa agar muncul kesadaran betapa pentingnya nilai-nilai kebhinekaan bagi masyarakat yang kaya keberagaman. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana penanaman nilai-nilai Kebhinnekaan di SMA Harapan Ibu Jakarta Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi yaitu mengamati kegiatan sekolah yang berkaitan dengan penanaman nilai kebhinnekaan. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa Penanaman nilai-nilai Kebhinnekaan melalui mata pelajaran PKn di SMA Islam Harapan Ibu adalah diberikan lewat pembiasaan-pembiasaan yang baik di lingkungan sekolah, diberikan kegiatan kegiatan yang dapat menumbuhkan nilai-nilai toleransi keberagaman seperti pemahaman hari-hari Raya agama, pagelaran budaya tradisional dan pengenalan makanan tradisional.
Transposition technique of translating personification in Kahlil Gibran’s novel, The Broken Wings Tatu Siti Rohbiah; Uup Gufron
Jurnal Bebasan Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bebasan.v12i2.288

Abstract

This research is intended to describe and analyze the transposition technique in translating personification in Kahlil Gibran's novel The Broken Wings, and the factors that cause non-equivalence between the source language (SL) and the Indonesian translation, Sayap-Sayap Patah (TL). This research focuses on identifying grammatical transposition techniques. The researcher uses a qualitative method with content analysis. The study identified 89 examples of personification translation, indicating that transposition techniques play an essential role in achieving equivalence. Examples of this case in class shifts, such as the verb "greet" translated into Indonesian as the noun salam, as well as intersystem shifts such as "the earth" to bumi without a definiteness marker, indicate the necessary structural adaptation between English and Indonesian. These shifts reflect the structural asymmetry that affects translation, although this technique is effective in many cases, non-equivalence remains. In conclusion, this research underscores the importance of a thorough understanding of transposition techniques in literary translation and offers practical insights to help academics and translators improve translation quality.
PELATIHAN PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN INTERAKTIF DENGAN PLOTAGON BAGI GURU MI SA'ADATUDDARAIN II, TANGERANG Nugroho; Mildan Arsan Fidinillah; Uup Gufron; Sahri Suwandi; Irfan Hadi; Ricky Eka Sanjaya; Nia Liska Saputri; Nujuluddin Siregar; Yogi Purnama; Rifari Baron
Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM) Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM), Vol 6 No 2 (Oktober 2025)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/jppm.v6i2.3326

Abstract

The digital revolution in education requires teachers to master innovative and engaging learning technologies. This Community Service Program aims to enhance the competency of teachers at MI Sa’adatuddarain II Tangerang in creating interactive learning videos using the Plotagon application. Plotagon was chosen due to its user-friendliness and its ability to produce engaging 3D animated videos without requiring advanced technical skills. The method employed was a one-day intensive training featuring a hands-on approach, including live demonstrations, guided practice sessions, and individual mentoring. The activity was involved 25 teachers from various subjects. Pre-test results revealed a low initial knowledge level with an average score of 45.6. Following the training, this improved dramatically to an average post-test score of 82.4. Furthermore, 92% of participants successfully created simple learning videos of adequate quality, and 96% stated their intention to implement this tool in their daily teaching. Satisfaction evaluation indicated that 96% of participants were delighted with the training program. This training has proven effective in boosting teachers’ digital literacy. It holds the potential to enhance the quality of instruction at MI Sa’adatuddarain II Tangerang by utilizing more interactive and engaging media.
Ekosufisme Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai Paradigma Etika Lingkungan Islam: Analisis Ontologis, Epistemologis, dan Etis Uup Gufron; Kartono Kartono
Jurnal Teologi Islam Vol. 2 No. 2 (2026): JUNI-NOVEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/qshw8w69

Abstract

The global environmental crisis has encouraged the development of environmental ethics rooted in religious and spiritual values. This study aims to reconstruct Syekh Nawawi Al-Bantani's eco-Sufism as a paradigm of Islamic environmental ethics through ontological, epistemological, and ethical analyses. The research employed a qualitative library research approach using the major works of Syekh Nawawi Al-Bantani as primary sources and relevant scholarly literature on eco-Sufism, Islamic eco-theology, and environmental ethics as secondary sources. Data were collected through documentation and analyzed using content analysis integrated with the philosophy of Islamic thought. The findings reveal that, ontologically, nature is regarded as God's creation and a manifestation of divine signs that must be preserved. Epistemologically, environmental awareness is constructed through the integration of the Qur'an, Hadith, reason, and spiritual experience. Ethically, the principles of khilāfah, amānah, mīzān, zuhd, qanā'ah, and iḥsān constitute the moral foundation for environmental stewardship. The novelty of this study lies in reconstructing Syekh Nawawi Al-Bantani's eco-Sufism into an integrated conceptual framework that contributes to the development of contemporary Islamic environmental ethics and enriches theological discourse on ecological sustainability.