Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SD DALAM MELAKSANAKAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Budhayanti, Clara Ika Sari
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.29 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v1i2.2891

Abstract

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru SD/MI adalah kemampuan mengembangkan diri secara professional. Kemampuan mengembangkan diri secara professional dapat dilihat dari kemampuan dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berdasarkan wawancara dengan tiga sekolah dasar di Kabupaten Cisauk, yaitu SDN Kedokan, SDN Cibogo, dan SDN Mekarwangi, jarang ada guru yang melakukan PTK. Dari 24 guru yang di ketiga sekolah tersebut hanya 7 guru yang pernah melaksanakan PTK, namun hanya 4 orang guru yang melaksanakan PTK untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan. Sedangkan 3 guru lainnya melaksanakan PTK dalam rangka memenuhi salah satu tugas perkuliahan saat mengambil program sarjana. Oleh karena itu, Unika Atma Jaya melaksanakan Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas bagi guru-guru di tiga SD tersebut. Setelah pelatihan guru diminta untuk menyusun draf proposal PTK. Pada dasarnya guru-guru telah dapat menentukan masalah dan alternatif pemecahan masalah yang akan diteliti, namun kebanyakan guru masih kesulitan menentukan fokus tindakan dan teknik pengumpulan data serta analisis data. Selain itu ada beberapa  guru yang menuliskan latar belakang masalah penelitian tidak dilengkapi dengan landasan teori atau ada namun cara penulisannya salah. Draf proposal PTK yang telah disusun juga tidak memuat teori-teori secara lengkap sehingga tidak heran jika ketika menuliskan fokus tindakan, guru mengalami kesulitan. Dengan demikian, berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara konseptual, guru-guru telah memahami bagaimana melaksanakan PTK namun dalam praktik guru-guru tersebut masih mengalami kesulitan terutama dalam menentukan dan mengembangkan instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data serta bagaimana cara mengolahnya menjadi data penelitian. Oleh karena itu, disarankan perlu adanya pendampingan dalam pengembangan instrumen penelitian serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelasnya.
PENGEMBANGAN GAME EDUKASI UNTUK MATERI BANGUN DATAR MENGGUNAKAN LINTASAN BELAJAR GEOMETRI Budhayanti, Clara Ika Sari; Bata, Julius
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.9477.2021

Abstract

Mathematics is an essential subject for students to master from the start. However, most students have difficulty learning mathematics and reduce interest in learning. This is one of the causes of low math test results. Therefore, a learning method or media was needed that can attract students' interest in learning. One of the learning media that can attract students' interest in educational games. This study aims to develop educational games that can be needed as a medium for learning mathematics, primarily material about geometry. The research method used in this research is development research. The geometry learning path is used as the basis for game design. The trial was conducted with a small group involving teachers and students. The game was developed using the Unity 3D game engine with a digital storytelling model in the geometry learning pathway in elementary schools. The results of the development show that the educational game with the name "GEMBIRA" can help improve the ability to learn flat shapes. This game can also help the learning process of students who experience learning trajectories based on Piaget and Van Hiele's learning trajectories. The game "GEMBIRA" can also attract students' attention to complete all the games, so that students can gain complete knowledge and understanding of the concept of flat shapes. Teachers are advised to use the game "GEMBIRA" in the learning process, especially learning material for flat shapes. It is suggested for learning media developers, especially educational game developers, to develop educational games by referring to the learning trajectory that students must pass so that the games developed can complement the learning process at school. Matematika merupakan mata pelajaran yang penting untuk dikuasai oleh siswa sejak awal. Namun, sebagian besar siswa mengalami kesulitan belajar matematika dan mengurangi minat belajar. Hal ini menjadi salah satu penyebab hasil tes matematika cenderung rendah. Oleh karena itu, dibutuhkan cara atau media pembelajaran yang dapat menarik minat belajar dari siswa. Salah satu media pembelajaran yang dapat menarik minat siswa adalah game edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan game edukasi yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran matematika khususnya materi tentang geometri. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Lintasan belajar geometri digunakan sebagai dasar untuk merancang game. Uji coba dilakukan dengan small group yang melibatkan guru dan siswa. Game dikembangkan dengan menggunakan game engine Unity 3D dengan model digital storytelling dalam lintasan belajar geometri di sekolah dasar. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa game edukasi dengan nama “GEMBIRA” dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran bangun datar. Game ini juga dapat membantu proses belajar siswa yang mengalami lompatan tahapan pembelajaran berdasarkan lintasan belajar Piaget dan Van Hiele. Selain itu, game “GEMBIRA” juga dapat menarik perhatian siswa untuk menyelesaikan seluruh game, sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang utuh mengenai konsep bangun datar. Guru disarankan untuk menggunakan game “GEMBIRA” dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran materi bangun datar. Selain itu juga disarankan bagi para pengembang media pembelajaran khususnya pengembang game edukasi, untuk mengembangkan game-game edukasi dengan mengacu pada lintasan belajar yang harus dilalui siswa sehingga game yang dikembangkan dapat melengkapi kekurangan proses pembelajaran di sekolah.
SIKAP SISWA SMA TERHADAP PROFESI GURU Maria Claudia Wahyu Trihastuti; Clara Ika Sari Budhayanti; Francine Avanti Samino; Paulina Chandrasari Kusuma; V. M. Nilawati Hadisantosa
Psiko-Edukasi Vol 19, No 1 (2021): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap terhadap profesi guru adalah evaluasi positif atau negatif secara kognitif, afeksi, dan psikomotorik terhadap profesi guru yang terkait kompetensi guru (pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial) dan kompensasi serta penghargaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sikap siswa SMA dan SMK di Jabodetabek terhadap profesi guru. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian terdiri dari 50 siswa sebagai sampel ujicoba dan 414 siswa sebagai sampel penelitian dari lima sekolah swasta di Jakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan berdasarkan komponen dan karakteristik sikap yang dikaitkan dengan kompetensi guru serta kompensasi dan penghargaan. Berdasarkan hasil ujicoba diketahui bahwa dari 50 pernyataan, terdapat 43 pernyataan valid dengan koefisien realibilitas instrumen sebesar 0,956. Data penelitian diolah dengan menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat 92 siswa (22%) memiliki sikap yang sangat positif terhadap profesi guru, 259 (63%) siswa memiliki sikap positif, 58 (14%) siswa memiliki sikap cukup positif, 5 (1%) siswa memiliki sikap kurang positif, dan tidak ada siswa yang memiliki sikap negatif terhadap profesi guru. Indikator yang dinilai positif oleh siswa yaitu indikator gaji guru yang memadai dan indikator profesi guru dihargai masyarakat. Indikator yang terkait dengan kompetensi kepribadian yang dinilai positif adalah kepribadian utuh, seperti kebiasaan guru berpakaian rapi dan sopan. Kompetensi sosial guru yang dinilai positif adalah kemampuan guru dalam mempengaruhi siswa untuk berubah ke arah yang baik namun guru dinilai kurang mampu berkomunikasi secara efektif dengan siswa. Kompetensi profesional guru yan dinilai positif antara lain terkait dengan penguasaan materi yang diajarkan namun guru dinilai kurang mampu mengembangkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Kompetensi pedagogik guru cenderung dinilai kurang positif oleh siswa, antara lain guru dinilai kurang tegas, belum mampu mengajar sesuai dengan gaya belajar dan karakteristik siswa, kurang menguasai keterampilan mengajar, serta kurang mampu menyampaikan materi dengan menarik dan kreatif.Saran diberikan kepada kepala sekolah, guru, dan kepala program studi Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya: (1) Kepala sekolah hendaknya menyusun program pengembangan sumber daya guru terutama yang terkait dengan peningkatan kompetensi pedagogik. Pembinaan kompetensi pedagogik guru hendaknya dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan agar pelaksanaan proses pembelajaran lebih efektif dan guru lebih kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran; (2) Guru diharapkan secara terus menerus mengembangkan keilmuan yang telah dimiliki sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan; dan (3) Kepala program studi beserta tim penyusun kurikulum hendaknya memperkaya kurikulum dengan menambah bobot mata kuliah yang terkait keterampilan mengajar calon pendidik.
Pelatihan Strategi Pembelajaran Daring Bagi Guru-Guru di SDN O1 dan O5 Pluit Clara Ika Sari Budhayanti; Lorensius Noel Praba
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2021): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v5i5.7772

Abstract

Pembelajaran daring merupakan salah satu kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Meskipun pembelajaran daring sudah dilaksanakan selama satu tahun lebih, guru masih kesulitan dalam pengelolaan pembelajaran daring. Kesulitan dalam pengelolaan pembelajaran ini juga terjadi pada guru-guru di SDN 01 dan 05 Pluit. Pelatihan ini bertujuan untuk membantu guru di SDN 01 dan 05 Pluit untuk memahami dan merancang pembelajaran daring dengan berbagai strategi pembelajaran daring. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa meskipun guru belum memahami pembelajaran daring seutuhnya, guru sudah mampu merancang pembelajaran daring yang ditunjukkan dengan adanya kegiatan asinkronus dan sinkronus. Rancangan pembelajaran daring masih sangat sederhana terlihat dari pemilihan platform pembelajaran yang terbatas pada WhatsApp group dan Zoom Meetings, serta penggunaan media pembelajaran YouTube dan Quizziz. Oleh karena itu disarankan bagi SDN 01 dan 05 Pluit untuk menindaklanjuti pelatihan ini dengan pelatihan-pelatihan lain yang relevan seperti penggunaan platform pembelajaran yang mengaktifkan siswa belajar.
PELATIHAN PENGEMBANGAN MEDIA MATEMATIKA BAGI GURU SEKOLAH DASAR MARDI WALUYA SINDANGLAYA CIANJUR Clara Ika Sari Budhayanti
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.967 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.7982

Abstract

Mathematical media is one of the keys to the success of achieving mathematics learning goals. Learning mathematics will be more effective when using mathematical media in the process. The use of mathematical media in the learning process is not just about attracting students' interest and attention, but the media is a bridge to explain abstract mathematical concepts. Mathematical media functions as concrete modeling of mathematical concepts. The average elementary school teacher Mardi Waluya, has an old paradigm in carrying out mathematics learning. Mathematics is taught starting from concepts, formulas, and then applied in story problems as a model of problems in everyday life. This way of learning makes students experience boredom and even does not like learning mathematics. The use of mathematical media in learning is still less varied. The use of mathematical media is usually only on certain concepts or material. The development of mathematical media is less done because the teacher does not know how the media was developed to explain a mathematical concept. Mathematics media development training conducted with PGSD, Unika Atma Jaya has greatly assisted teachers in developing ideas about mathematical media. The activities in the training aim to make the teacher understand the important things needed to develop mathematical media. Teachers are invited to experience how easy it is to learn mathematics by using mathematical media that has been prepared by the resource person. Every activity recognized by the teacher is able to inspire the teacher in developing mathematics media. Examples of how to make and use mathematical media provided are very helpful for teachers in creating mathematical media by utilizing simple materials and tools. But the teachers also hoped for further training, both related to the mathematics media and learning methodsABSTRAKMedia matematika merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika akan lebih efektif apabila menggunakan media matematika dalam prosesnya. Penggunaan media matematika dalam proses pembelajaran bukanhanya sekedar menarik minat dan perhatian siswa, namun media menjadi jembatan untuk menjelaskan konsep matematika yang bersifat abstrak. Media matematika berfungsi sebagai pemodelan konkrit konsep matematika. Rata-rata guru SD Mardi Waluya, memiliki paradigma lama dalam melaksanakan pembelajaran matematika. Matematika diajarkan mulai dari konsep, rumus, dan kemudian diaplikasikan dalam soal cerita sebagai model masalah dalam kehidupan sehari-hari. Cara pembelajaran yang demikian membuat siswa mengalami kebosanan bahkan menjadi tidak suka belajar matematika. Penggunaan media matematika dalam pembelajaran masih kurang variatif. Penggunaan media matematika biasanya hanya pada konsep atau materi tertentu saja. Pengembangan media matematika kurang dilakukan karena guru tidak tahu bagaimana media dikembangkan untuk menjelaskan suatu konsep matematika. Pelatihan pengembangan media matematika yang dilakukan bersama PGSD, Unika Atma Jaya sangat membantu guru dalam mengembangkan ide-ide mengenai media matematika. Aktivitas-aktivitas dalam pelatihan bertujuan agar guru memahami hal-hal penting yang diperlukan untuk dapat mengembangkan media matematika. Guru di ajak untuk merasakan bagaimana mudahnya belajar matematika dengan menggunakan media matematika yang sudah disiapkan narasumber. Setiap aktivitas diakui oleh guru mampu menginspirasi guru dalam mengembangkan media matematika. Contoh-contoh bagaimana membuat dan menggunakan media matematika yang diberikan sangat membantu guru-guru dalam menciptakan media matematika dengan memanfaatkan bahan dan alat sederhana. Namun guru-guru juga berharap adanya pelatihan lebih lanjut, baik terkait dengan media matematika maupun metode pembelajarannya. 
ANALISIS INSTRUKSIONAL PEMBELAJARAN TERPADU BERBASIS LITERASI BUDAYA PADA PELAJARAN MATEMATIKA DAN BAHASA INDONESIA Clara Ika Sari Budhayanti; Sri Hapsari Wijayanti; Vanessa Emmily Dirgantara
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.19 KB) | DOI: 10.31949/jcp.v8i1.1917

Abstract

Salah satu kendala guru dalam melaksanakan pembelajaran terpadu berbasis budaya terletak pada proses perancangan pembelajaran yaitu pada penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru kesulitan menjabarkan kompetensi dasar menjadi indikator pembelajaran, karena kurang memahami benang merah dari Kompetensi Dasar dan indikator pencapaian kompetensi. Hal ini menyebabkan guru kesulitan dalam tahapan analisis instruksional selanjutnya, yaitu perumusan tujuan pembelajaran dan pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Guru memerlukan panduan dalam merumuskan indikator pembelajaran yang baik dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi dasar dalam perumusan indikator pembelajaran terpadu berbasis literasi budaya pada Matematika dan Bahasa Indonesia di Kelas II Sekolah Dasar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode studi pustaka. Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dimana dokumen yang diteliti adalah kurikulum 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator pembelajaran berbasis literasi budaya untuk Matematika dan Bahasa Indonesia, dapat dirumuskan dengan mengacu pada lima tahapan penyusunan rancangan pembelajaran terpadu menurut Saud, dkk. Pada tahap penetapan kompetensi dasar, digunakan tabel matrik kompetensi untuk mempermudah identifikasi kompetensi dasar Matematika dan Bahasa Indonesia yang sesuai untuk pembelajaran terpadu berbasis literasi budaya. Tabel matrik ini juga mempermudah untuk mengidentifikasi kompetensi literasi budaya sebagai konteks pembelajaran. Selain itu, perumusan indikator pembelajaran matematika dan Bahasa Indonesia mengacu pada lintasan belajar dan empat keterampilan berbahasa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perumusan indikator pembelajaran terpadu berbasis literasi budaya dapat menggunakan lima tahapan penyusunan rancangan pembelajaran terpadu menurut Saud, dkk.
Peningkatan Kapasitas Guru Dalam Pemberian Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Daring di SDN PLUIT 01 dan 05 Clara Ika Sari Budhayanti; Maria Magdalena Triwarmiyati DW; Lorensius Noel Praba; Vinny Magdalena
MADANI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 2 (2021): Madani : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.222 KB) | DOI: 10.53834/mdn.v7i2.3563

Abstract

One of the weaknesses of online learning is the lack of learning interactions, both interactions between teachers and students, students and students, and media and learning resources. Teachers tend to give assignments that must be completed independently by students. Learning interactions only occur at the time of giving and collecting duties. This lack of learning interaction resulted in the learning process running monotonous and less varied.  This condition causes students to be lazy to study and bored. So, they are not motivated to learn. If this is allowed to continue, it will affect student achievement. Therefore, teachers need to change online learning patterns by changing learning methods, using various learning media, and intensifying learning activities to increase students' motivation. Implementing this activity uses the lecture, discussion, and assignment methods that aim to provide an overview and help teachers at SDN 01 and 05 Pluit design online learning that fosters and increases student motivation. The results of this activity are pretty good, as expected. The training participants can fully understand how students' learning motivation is to design lessons that motivate students. Some teachers have been able to choose various learning media that can attract students' attention so that students do not get bored in participating in learning. The follow-up to this activity is more intensive assistance to teachers in planning implementation and conducting learning assessments.
Pengembangan Materi Video Pembelajaran dengan OpenShot untuk Meningkatkan Kompetensi Digital Guru Sekolah Dasar Sri Hapsari Wijayanti; Clara Ika Sari Budhayanti; Margaretha Susanti; Veronica Veronica; Andriani Wiyesi
Warta LPM WARTA LPM, Vol. 26, No. 2, April 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.065 KB) | DOI: 10.23917/warta.v26i2.1267

Abstract

Learning by video makes teachers explain complex or conceptual material, motivate students, create a less boring learning atmosphere, and students can repeat watching videos to understand the material better. The skills of making and editing videos for classroom needs have not been mastered yet by elementary school teachers in Cisauk Subdistrict, Tangerang. This community service activity aims to develop the digital competence of elementary school teachers in Cisauk District through training on making learning video materials using OpenShot Video Editor. The participants were 20 people from 12 public elementary schools. The methods used are training, assignment or project, mentoring, monitoring, and evaluation. The training was delivered online and offline, with one meeting each. Assistance and monitoring of video assignments were carried out online for three meetings. The results of the evaluation were observed from the resulting videos and interviews. This training provides the teachers with new knowledge, insights, and skills. The teachers are not used to editing videos yet. The videos produced by teachers still need to be improved and prepared carefully, including by utilizing mentoring to discuss the video-making process and prepare storyboards better
PENINGKATAN REGULASI MAHASISWA PPG MELALUI AKTIVITAS PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN Ivan Stevanus; Clara Ika Sari Budhayanti; Theresia Agnes Wijaya
JURNAL PENDIDIKAN DASAR PERKHASA: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar Vol 9, No 2 (2023): Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpdp.v9i2.2816

Abstract

The development of learning tools aims to facilitate students to design innovative learning activities by utilizing the results of analysis of problem-based, literacy and HOTS teaching materials. Project-Based Learning is aimed at improving high-level thinking skills, understanding problems and strengthening literacy. This classroom action research describes increasing the regulatory abilities of PPG students in using Project Based Learning (PjBL). This research was carried out in two cycles. The research results show that Project Based Learning (PjBL) model learning through the Learning Management System can improve the regulatory abilities of Teacher Professional Program (PPG) students. In the first cycle, the achievement of indicators of student regulatory success reached the quite good category with a percentage of 71%. In the second cycle of action, PPG students' regulatory abilities increased to the good category with a percentage achievement of 76%. It can be concluded hat self-regulation abilities to increase and be consistent, the implementation of Project Based Learning can be carried out in three cycles and reinforced with various learning topics in the Learning Management System (LMS). This effort is important with a focus on improving aspects of self-regulation capabilities, namely deepening essential questions, strengthening plans and implementation of HOTS-based projects.
PENINGKATAN REGULASI EMOSI MELALUI PENDEKATAN EXPERIENTIAL LEARNING PADA MAHASISWA PPG PRA JABATAN Stevanus, Ivan; Budhayanti, Clara Ika Sari
VOX EDUKASI: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol 15, No 1 (2024): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/ve.v15i1.3277

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan regulasi emosi melalui pendekatan experiential learning mahasiswa Program Profesi Guru Prajabatan. Penelitian ini menggunakan metode tindakan kelas secara kolaboratif bersama Dosen Bimbingan dan Konseling melalui dua tahapan siklus penelitian tindakan. Subjek penelitian sebanyak 17 mahasiswa. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan skala regulasi emosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode expressive writing dapat meningkatkan regulasi emosi mahasiswa dengan hasil rerata-skor regulasi emosi aksi pra tindakan sebesar 85,69, pada siklus I sebesar 90,60, dan pada siklus II meningkat menjadi 99,23. Rerata tersebut didukung dengan hasil observasi dan wawancara mahasiswa dan dosen disimpulkan bahwa: (1) mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan pemberian tindakan, (2) mahasiswa mampu mengenal emosi, dan tidak malu untuk tampil di depan umum, (3) mahasiswa lebih memahami emosi yang dirasakannya, (4) mahasiswa mengetahui strategi dalam mengurangi emosi negatif, (5) Mahasiswa mampu merespon dengan emosi yang tepat, dan mampu menyelesaikan masalah emosi mereka secara personal.Kata Kunci : regulasi emosi, pendekatan experiential learningABSTRACTThe aim of this research is to describe improving emotional regulation through an experiential learning approach for students in the Pre-Service Teacher Professional Program. This research uses a collaborative classroom action method with Guidance and Counseling Lecturers through two stages of the action research cycle. The research subjects were 17 students. Data collection methods use observation, interviews and emotional regulation scales. The results of the research show that the expressive writing method can improve students' emotional regulation with the average pre-action emotional regulation score of 85.69, in cycle I it was 90.60, and in cycle II it increased to 99.23. This average is supported by the results of observations and interviews of students and lecturers. It is concluded that: (1) students are actively involved in action giving activities, (2) students are able to recognize emotions, and are not embarrassed to appear in public, (3) students better understand emotions. he feels, (4) students know strategies for reducing negative emotions, (5) Students are able to respond with the right emotions, and are able to solve their emotional problems personally.Keyword: emotion regulation, experiential learning approach