Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Parameter Correlation of Proximate Analysis and Ultimate Analysis of the Calorific Value of Coal Wahyudi Zahar
JURNAL PERTAMBANGAN DAN LINGKUNGAN Vol 2, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpl.v2i1.4715

Abstract

Jambi Province is an area that has abundant coal potential, this is due to its location in the Jambi Sub-basin, part of the South Sumatra Basin. As one of the coal mining companies in Jambi Province, PT Kamalindo Sompurna conducts mining with the aim of being marketed and directly sold to predetermined consumers. If coal is tested for chemical properties in the form of proximate and ultimate analysis in a sustainable manner and correlated with its calorific value, the company can market or utilize coal directly or indirectly. Coal samples were taken by channel sampling method in the same seam, the number of samples obtained was 48 samples per 5 cm interval. The number of samples is then reduced to 5 samples with the composite method based on certain intervals. The caloric value of coal in the research area ranges from 4300 - 5300 cal / gr, the caloric value is correlated with the results of proximate and ultimate analysis using simple linear regression statistics. The results obtained between the 9 analysis parameters based on this correlation indicate that the levels of flying matter, ash, carbon content and oxygen levels have a strong correlation as indicated by the correlation value in sequence is 0.98; -0.93; 0.88; -0.89. After conducting a study based on these parameters and correlation values, researchers can provide references related to the use of coal in processing and its use as fuel, both in the power generation industry and processing of cement raw materials and so on.
Rekonsiliasi Rencana Penambangan Bulanan Terhadap Aktual Penambangan pada PT Caritas Energi Indonesia Kabupaten Sarolangun Jambi Anang Murtiyoso; Wahyudi Zahar; Yudi Arista Yulanda
Jurnal Pertambangan dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpl.v5i1.21933

Abstract

Penerapan Good Mining Practice mensyaratkan perlunya akurasi penambangan terhadap rencana penambangan. Analisis dapat dilakukan melalui rekonsiliasi antara design terhadap aktual survey progress. Hasil dari rekonsiliasi penambangan menunjukkan area yang sesuai design (In of plan) dan area yang tidak sesuai berupa overcut, over-stripping dan undercut. PT. Caritas Energi Indonesia Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi terdapat ketidaksesuaian produksi rencana dan aktual pada bulan September, ketidaksesuaian produksi tentu juga berdampak pada ketidaksesuain rencana penambangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat ketidaksesuaian rencana dan aktual yaitu berupa area undercut, overcut, dan overstripping. Volume overcut sebesar 36.542,13 BCM, undercut sebesar 136.686,81 BCM, dan overstripping sebesar 376,21 BCM, Untuk volume overburden yang tertambang pada front 1 sebesar 170.639,76 BCM, pada front 2 sebesar 44.324,47 BCM, pada front 3 sebesar 24.746,03 BCM. Faktor penyebab ketidaksesuaian dipengaruhi oleh ketersedian alat yang tidak terpenuhi yang disebabkan banyak alat yang breakdown unscheduled sehingga dari komposisi 7 fleet hanya terealisasi 4 fleet. Selain itu, terdapat juga faktor pengawasan dan pengaruh cuaca yang mempengaruhi movement alat yang berdampak pada posisi penempatan dan penggalian fleet yang tidak sesuai. Dampak yang ditimbulkan adalah perlunya penyusunan rencana ulang berupa redesign rencana tambang dan penyesuaian ketersediaan alat di bulan berikutnya agar dapat mengejar lokasi-lokasi yang tertinggal pada bulan sebelumnya.
Perancangan sequence penambangan pada kuartal I Tahun 2024 di PT Bintang Sukses Energi Alfadiansyah Alfadiansyah; Yudi Arista Yulanda; Wahyudi Zahar
Jurnal Pertambangan dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpl.v1i1.27684

Abstract

PT Bintang Sukses Energi merupakan perusahaan kontraktor jasa pertambangan yang dipercaya oleh pihak (owner) yakni PT Bara Sentosa Lestari untuk menjalankan project pengupasan overburden. Untuk penambangan pada kuartal I Tahun 2024 PT Bintang Sukses Energi sudah memiliki target expose batubara dan pit limit penambangan, namun belum memiliki rancangan sequence penambangan per bulan. Sequence penambangan ini diperlukan untuk mempermudah proses penambangan terkait dimana posisi expose batubara paling efisien dan pembuatan akses mobilitas alat tambang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rencana produksi overburden dan membuat rancangan sequence penambangan batubara pada kuartal I tahun 2024. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif dengan sumber data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui target produksi overburden pada Bulan Januari 579.300 BCM dan coal expose 94.967 MT, Bulan Februari overburden 648.700 BCM dan coal expose 111.844 MT, Bulan Maret overburden 655.800 BCM dan coal expose 119.236 MT. Untuk sequence penambangan Bulan Januari berada di bagian pit Pinang Selatan dengan kapasitas overburden 635.427 BCM dan coal expose 105.479 MT, Bulan Februari dengan kapasitas overburden 666.539 BCM dan coal expose 117.568 MT. Dan Bulan Maret dengan kapasitas overburden 688.987 BCM dan coal expose 127.597 MT.
Pengolahan Limbah Plastik Menggunakan Reaktor Pirolisis di Bank Sampah Dream Central, Desa Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi Lenny Marlinda; Rahmi Rahmi; Diah Riski Gusti; Intan Lestari; Wahyudi Zahar; Aditya Denny Prabawa; Yuli Evrianti Br Rajagukguk; Ermita Meisa Manulang; Ladiva Adinda; Rif’at Syauqi
Jurnal IPTEK Bagi Masyarakat Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : Ali Institute of Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/j-ibm.v5i1.1178

Abstract

The COVID-19 pandemic has increased online shopping and food delivery, causing a surge in single-use plastic waste and has become a habit to this day along with the rapid development of digital technology. Dream Central Waste Bank (BSI Dream) in Wijaya Pura Village collects 3 tons of waste monthly but lacked advanced plastic processing technology. This community service initiative aimed to implement a pyrolysis reactor to convert plastic waste into fuel oil and paving blocks, thereby enhancing economic value while promoting environmental sustainability. The activity stages included partner coordination and surveys, reactor performance upgrades, operational training, and evaluation. This activity involved five partners representing the Wijaya Pura Village community.  The reactor successfully produced fuel oil (density: 0.848–0.912 g/mL) and residues suitable for paving block production. The outcome of this initiative demonstrated improved skills among partners, the creation of marketable products and increased community income opportunities. Furthermore, the activity fostered greater awareness of the importance of sustainable waste management and supported the application of circular economy principles.
Karakterisasi Pasir Silika Sebagai Bahan Baku dalam Pembutan Panel Surya Berdasarkan Analisis Geokimia di Desa Teluk Rendah, Jambi Muhammad El Hakim; Wahyudi Zahar; Yudi Arista Yulanda; Jarot Wiratama
Blend Sains Jurnal Teknik Vol. 4 No. 4 (2026): Edisi April
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/blendsains.v4i4.1638

Abstract

Indonesia sebagai negara tropis menjadikannya sebagai negara yang mendapatkan penyinaran matahari yang lama dan konsisten setiap harinya. Oleh sebab itu potensi pemanfaatan panel surya di Indonesia juga cukup besar, di samping bahan bakunya juga tersedia di Indonesia. Pasir silika memiliki sumberdaya yang berlimpah, stabil digunakan sebagai penyimpan panas, dan memerlukan biaya yang rendah sebagai penyimpan panas dengan temperatur hingga 1.2000C. Penelitian ini menggunakan metoda kuantitatif, yaitu dengan cara melakukan pengujian dan pengukuran secara geokimia pada sampel pasir silika yang ada di Desa Teluk Rendah, Jambi. Sampel diuji menggunakan motede Atomic Absorption Spectrometry (AAS) dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengetahui dan melakukan analisis terhadap karakterisasi sampel pasir silika yang telah diambil. Kualitas pasir silika sebagai bahan baku panel surya sebaiknya mengandung kadar unsur Silicon Dioxide lebih dari 99,7%, Iron Oxide kurang dari 85 ppm, Titanium Dioxide kurang dari 140 ppm, Aluminium Oxide kurang dari 500 ppm. Dari hasil pengujian AAS didapatkan karakteristik pasir silika di daerah penelitian tidak memenuhi syarat dengan kadar Silicon Dioxide sebesar 95,78%, Iron Oxide 17.200 ppm, Titanium Dioxide 13.700ppm, dan Aluminium Oxide 8.900ppm. Namun jika dilihat dari kandungan silika yang cukup tinggi pada sampel, maka kemungkinan pemanfaatan pasir silika pada daerah penelitian perlu dikaji lebih lanjut. Dari hasil uji SEM-EDS didapatkan unsur yang paling banyak terdeteksi berupa Carbon dengan massa konsentrasi 40,86%, Oksigen dengan massa konsentrasi 30% dan Silikon 25,22%. Kehadiran Silikon (Si) dan Oksigen (O) dalam jumlah yang banyak mengindikasikan mineral yang paling banyak pada daerah ini adalah mineral Silikat (SiO2) dengan total massa konsentrasi 53,97%.
Evaluasi Rencana Penambangan Tahunan 2022 Untuk Optimalisasi Target Produksi di PT. Jambi Prima Coal Desa Pamusiran Senja Dyafrika Ginting; Yudi Arista Yulanda; Wahyudi Zahar
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 23 No. 1 (2023): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/r4n0rn04

Abstract

Permasalahan dari penelitian ini adalah PT. Jambi Prima Coalpada semester pertama bulan Januari sampai Juli adalah ketidaktercpaian produksi dimana Target produksi semester pertama (Januari sampai dengan Juli) untuk kegiatan overburden 2.848.280 bcm dan coal getting 803.225 ton sementara produksi actual untuk overburden 1.401.227 bcm (ketercapaian 56%) dan coal getting 260.868 ton (ketercapaian 32%). Adanya penurunan produksi juga mengakibatkan rencana area kerja tidak relevan lagi sehinga area kerja penambangan juga perlu di redesign untuk mengoptimalkan expose batubara dengan produksi yang terbatas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode terapan. Penelitian terapan merupakan penelitian yang dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan nyata secara ilmiah dan praktis. Hasil dari rencana produksi untuk mengoptimalisasi target produksi berdasarkan fleet yang ada di PT. Jambi Prima Coaldengan target produksi batubara semester dua (bulan Agustus sampai Desember) 2022 penambangan batubara 281.276 ton dan 1.145.682.89 bcm overburden dengan stripping rasio 1:4. Rencana design pit bulan Agustus- Desember 2022 untuk elevasi terendah pada elevasi 20 dari sebelumnya -10 dan luas wilayah 15,64 Ha dari sebelumnya 32,15 Ha dengan ketinggian tiap bench 10 meter dan lebar tiap bench berbeda. Luas penambangan lebih kecil menunjukkan adanya optimalisasi area kerja.
Potensi Logam Tanah Jarang pada Fly Ash dan Bottom Ash Endapan Batubara Peringkat Rendah Formasi Muara Enim Wahyudi Zahar; Yudi Arista Yulanda; Jarot Wiratama; Muhammad El Hakim
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 25 No. 2 (2025): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/wffpht91

Abstract

Logam tanah jarang (LTJ) merupakan komoditas strategis saat ini seiring dengan perkembangan teknologi. Penggunaan LTJ banyak diaplikasikan pada industri pertahanan, kesehatan, mobil listrik, turbin, handphone, laptop, dan teknologi maju lainnya. Keterdapatan LTJ pada umumnya berasosiasi sebagai mineral-mineral aksesoris pada batuan berkomposisi granitoids seperti pada monasit, xenotim, allanit, titanit, dan zircon. Akan tetapi berdasarkan beberapa penelitian ditemukan adanya pengkayaan LTJ pada abu sisa pembakaran PLTU FABA (fly ash dan bottom ash). Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterdapan LTJ pada kondisi batubara Peringkat Rendah di Formasi Muara Enim pada endapan insitu dan pengkayaan pada FABA. Sampel batubara diambil secara grab sampling pada lokasi tambang sedangkan sampel FABA diambil secara grab sampling di PLTU Mulut Tambang. Pengujian Laboratorium dilakukan melalui Uji XRF untuk melihat kandungan oksida mineral dan Laboratorium BRIN untuk dilakukan analisis ICP OES. Hasil analisis XRF menunjukkan elemen oksida utama penyusun batubara pada endapan batubara insitu terdiri atas Fe2O3, MgO, dan SO3. Hasil analisis ICP-OES memperlihatkan terjadi pengkayaan konsentrasi LTJ pada FABA. Pengkayaan paling besar terjadi pada unsur Cerium (Ce) dimana pada Fly Ash terjadi peningkatan 19 kali menjadi 40,12 Ppm dan pada Bottom Ash 17 kali menjadi 37,15 Ppm. Selanjutnya pada Lantanum (La) terjadi pengkayaan 27 kali pada fly ash menjadi 19,02 Ppm dan 24 kali pada bottom ash menjadi 16,86 Ppm. Secara umum pengkayaan terjadi lebih besar pada fly ash dibandingkan dengan bottom ash.
Potensi Logam Tanah Jarang pada Fly Ash dan Bottom Ash Endapan Batubara Peringkat Rendah Formasi Muara Enim Wahyudi Zahar; Yudi Arista Yulanda; Jarot Wiratama; Muhammad El Hakim
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 25 No. 2 (2025): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/wffpht91

Abstract

Logam tanah jarang (LTJ) merupakan komoditas strategis saat ini seiring dengan perkembangan teknologi. Penggunaan LTJ banyak diaplikasikan pada industri pertahanan, kesehatan, mobil listrik, turbin, handphone, laptop, dan teknologi maju lainnya. Keterdapatan LTJ pada umumnya berasosiasi sebagai mineral-mineral aksesoris pada batuan berkomposisi granitoids seperti pada monasit, xenotim, allanit, titanit, dan zircon. Akan tetapi berdasarkan beberapa penelitian ditemukan adanya pengkayaan LTJ pada abu sisa pembakaran PLTU FABA (fly ash dan bottom ash). Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterdapan LTJ pada kondisi batubara Peringkat Rendah di Formasi Muara Enim pada endapan insitu dan pengkayaan pada FABA. Sampel batubara diambil secara grab sampling pada lokasi tambang sedangkan sampel FABA diambil secara grab sampling di PLTU Mulut Tambang. Pengujian Laboratorium dilakukan melalui Uji XRF untuk melihat kandungan oksida mineral dan Laboratorium BRIN untuk dilakukan analisis ICP OES. Hasil analisis XRF menunjukkan elemen oksida utama penyusun batubara pada endapan batubara insitu terdiri atas Fe2O3, MgO, dan SO3. Hasil analisis ICP-OES memperlihatkan terjadi pengkayaan konsentrasi LTJ pada FABA. Pengkayaan paling besar terjadi pada unsur Cerium (Ce) dimana pada Fly Ash terjadi peningkatan 19 kali menjadi 40,12 Ppm dan pada Bottom Ash 17 kali menjadi 37,15 Ppm. Selanjutnya pada Lantanum (La) terjadi pengkayaan 27 kali pada fly ash menjadi 19,02 Ppm dan 24 kali pada bottom ash menjadi 16,86 Ppm. Secara umum pengkayaan terjadi lebih besar pada fly ash dibandingkan dengan bottom ash.
Characterization of Rare Earth Elements Enrichment Based on Coal Calorific Value Variations Yudi Arista Yulanda; Wahyudi Zahar; Muhammad El Hakim; Jarot Wiratama; Putri Abby Larassati
Jurnal Ilmiah Dinamika Rekayasa Vol. 22 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Dinamika Rekayasa - Juli
Publisher : Engineering Faculty, UNSOED

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jidr.2026.22.2.122

Abstract

The accelerated transition toward clean energy has triggered a global surge in demand for Rare Earth Elements (REEs), while its supply chain remains heavily dependent on a single dominant producing nation. This constraint has compelled extensive exploration into alternative REEs feedstocks, particularly within coal deposits and Coal Combustion Residuals (CCRs) or Fly Ash and Bottom Ash (FABA). Although multiple studies on REEs occurrences within coal seams and FABA have been conducted, research directly correlating the influence of coal calorific value to REEs enrichment remains profoundly limited. This study addresses this critical research gap by analyzing the correlation between coal energy quality (calorific value) and REEs occurrences within the Oligocene Sinamar Formation at the PT Kuansing Inti Makmur concession area. The methodology integrated ASTM standard proximate analysis to determine fundamental coal quality parameters and Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES) to quantify the concentrations of 10 targeted REEs elements. The proximate results indicated that sample KS100 exhibits a high ash yield (24.11% AR) with a lower gross calorific value (3,560 kcal/kg AR). Conversely, sample KS300 is characterized by a lower ash content (10.36% AR) and a higher calorific value (4,866 kcal/kg AR). Crucially, the ICP-OES analytical data revealed a compelling trend: REEs enrichment is notably more pronounced in the higher-energy quality coal seam (KS300). Cerium (Ce) and Lanthanum (La) emerged as the most dominant Light Rare Earth Elements (LREEs) in both horizons, with Ce concentrations reaching 114 ppm in KS100 and 150 ppm in KS300. Highly strategic elements essential for permanent magnet motors in electric vehicles, such as Neodymium (Nd), reached 91.76 ppm in KS300, which is nearly double the 50.51 ppm recorded in KS100. Furthermore, the total REEs concentration within the macroscopic parting layer was significantly lower (180.01 ppm) compared to the dispersed inorganic fraction within the coal matrices themselves. In conclusion, the novelty of this research demonstrates that REEs enrichment does not correlate linearly with the degradation of calorific value or total ash yield. Instead, it is suggested to be influenced by specific geological settings and the geochemical dynamics at the adjacent claystone boundaries.