Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Digital Transformation in the Correctional System Towards Effective Rehabilitation and Social Reintegration Enggarsasi, Umi; Sa’diyah, Nur Khalimatus
International Journal of Law Reconstruction Vol 9, No 2 (2025): International Journal of Law Reconstruction
Publisher : UNISSULA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26532/ijlr.v9i2.47858

Abstract

Digital transformation has emerged as a strategic response to longstanding problems in Indonesia’s correctional system, including overcrowding, high recidivism, and limited resources. Beyond administrative modernization, digitalization is increasingly viewed as a pathway toward a more humane and rehabilitative penal paradigm. This article examines how digital transformation contributes to rehabilitation and social reintegration of inmates in Indonesia. Using a qualitative juridical-empirical method, the study combines normative analysis of laws and human rights principles with empirical data drawn from policy reports, academic studies, and correctional practices. The findings highlight three key contributions of digitalization. First, rehabilitation efforts are strengthened through online learning platforms, digital vocational training, and virtual counseling programs that expand access to inmate development. Second, transparency and accountability are enhanced by integrated databases and complaint systems that reduce maladministration and increase public trust. Third, reintegration opportunities improve through digital entrepreneurship initiatives and technology-based connections with the labor market. These results suggest that digital transformation can be a vital instrument for realizing the rehabilitative mandate of Law Number 22 of 2022 and advancing restorative justice. Properly integrated into correctional policy, digitalization not only increases efficiency but also promotes a correctional system that is more just, inclusive, and socially sustainable.
Penyuluhan Hukum Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Desa Persiapan Belongas Sa'diyah, Nur Khalimatus; Enggarsasi, Umi
PENITI BANGSA (Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bagi Masyarakat) Vol 2 No 1 (2024): PENITI BANGSA
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/PENITI-BANGSA.v2i12024.223

Abstract

Community service is carried out by the proposing team in the form of legal socialization which aims to optimize and increase understanding and legal awareness of the community. Domestic violence is a complex issue in almost every country that is rampant due to the lack of empathy, understanding of victims and the surrounding environment to make reports related to domestic violence cases. Preventive efforts to reduce and eliminate domestic violence can be done through repressive efforts for the perpetrators and also preventive efforts as a prevention of domestic violence. The causes of domestic violence include a lack of public understanding of the act of domestic violence itself. The role of universities in preventing domestic violence by providing knowledge in the form of legal socialization for the public is not only limited to women and children but also for men. Legal socialization aims to increase public insight into legal efforts related to domestic violence so as to increase their awareness not to commit domestic violence. The community service team conducted legal socialization in the preparatory village of belongas, Sekotong sub-district, West Lombok as a preparatory village before being made a definitive village.
Presumption of Innocence in Murder Trials: Legal Principles of Circumstantial Evidence in Indonesian Criminal Law Enggarsasi, Umi
International Journal of Law Reconstruction Vol 5, No 2 (2021): International Journal of Law Reconstruction
Publisher : UNISSULA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26532/ijlr.v5i2.35992

Abstract

Murder is one of the most serious criminal offenses with the heaviest penalties in the Indonesian Criminal Code (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana/KUHP). Valid evidence is regulated in Article 184 paragraph 1 of the KUHAP, which includes witness statements, expert opinions, documents, exhibits, and the defendant's statements. A judge can only impose a criminal sentence on the defendant with at least two valid pieces of evidence. This research adopts a normative juridical research method with a conceptual and case approach. The data collection method applied is literature research, where literature such as books, notes, and reports from previous studies serves as the primary source of data. In the case of the premeditated murder of Wayan Mirna Salihin, the strength of the circumstantial evidence used in the trial, such as Closed Circuit Television (CCTV) recordings, can be considered weak. This is because the recording does not clearly show or monitor that Jessica Kumala Wongso directly placed cyanide into the Vietnamese iced coffee consumed by the victim. Therefore, the judge should carefully weigh and implement the presumption of innocence principle for the defendant before deciding the case, especially after the discovery of the CCTV evidence.
Sosialisasi Penggunaan Artificial Intelligence (AI) secara Bijak Enggarsasi, Umi; Sa'diyah, Nur Khalimatus
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v2i4.523

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk sosialisasi dalam meningkatkan literasi digital dan kesadaran etis mengenai penggunaan Artificial Intelligence (AI) secara bijak serta menanamkan nilai-nilai etis dalam pemanfaatan teknologi berbasis AI di kalangan pelajar dan membangun fondasi kesadaran hukum dan tanggung jawab digital yang berkelanjutan bagi siswa-siswi di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia. Pemanfaatan AI yang masif di kalangan generasi muda membawa peluang besar untuk mendukung proses belajar, kreativitas, dan produktivitas, namun juga menyimpan potensi risiko seperti plagiarisme, penyalahgunaan data, hingga berkurangnya kemampuan berpikir kritis. Kegiatan ini dilaksanakan pada 17 Juni 2025 oleh tim penyuluh yang terdiri dari dosen dan mahasiswa magister hukum, bekerja sama dengan pihak sekolah SIKL dan didukung oleh KBRI Kuala Lumpur. Metode yang digunakan berupa penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, serta simulasi pemanfaatan AI dalam kegiatan belajar. Sebanyak 40 siswa SMA aktif mengikuti kegiatan ini dengan antusias, ditandai dengan tingginya partisipasi dalam sesi tanya jawab dan praktik penggunaan AI secara bertanggung jawab. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai manfaat dan risiko AI, serta tumbuhnya kesadaran akan pentingnya prinsip kehati-hatian, etika digital, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang partisipatif mampu menjadi strategi efektif dalam membangun literasi digital dan karakter siswa. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terciptanya budaya literasi digital yang sehat dan berintegritas di lingkungan sekolah serta Pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan mempersiapkan generasi muda Indonesia agar mampu bersaing secara global dengan tetap menjunjung etika, tanggung jawab, dan integritas akademik.
Analisis Kasus Bullying terhadap Korbanlukaberat Dwi, Dhiah Ayu; Tyas, Mahqummida; Eka, Melanis; Enggarsasi, Umi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying merupakan suatu kasus yang sering terjadi pada siapapun, salah satunya terjadi pada anak, terutama pada lingkungan sekolah. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis kasus bullying terhadap para korban yang terkena luka berat. Selama tahun 2023, berdasarkan data Federasi Serikat Guru Indonesia, kasus bullyiing atau perundungan di lembaga pendidikan tercatat sebanyak 23 kali selama periode Januari- September 2023. Dengan presentase SMP 50 persen, dan SD 23 persen, SMA 13,5 persen. Meninjau dari kasus ini ada pada Undang-undangpasal 170, 310, dan 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nantinya hasil penelitian kasus ini akan menyimpulkan tentang perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Seperti contoh kasus Bullying yang terjadidi Cilacap dikenakan ancaman hukuman berlapis Pasal yang diterapkan yaitu Pasal 80 UU Sistem Peradilan Pidana Anak, dengan ancaman hukuman 3,5 Tahun. Selian itu Pasal untuk Para Pelaku dijerat dengan pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.
Peran Masyarakat Dalam Mencegah Dan Menanggulangi Bullying Sa'diyah, Nur Khalimatus; Enggarsasi, Umi
PENITI BANGSA (Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bagi Masyarakat) Vol 3 No 2 (2025): PENITI BANGSA
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/PENITI-BANGSA.v3i22025.692

Abstract

Community Service in the form of legal counseling on the Role of the Community in Preventing and Handling Bullying aims to increase public legal awareness regarding the dangers of bullying and the steps that can be taken to prevent and handle it. Bullying, whether in the form of physical, verbal, or cyberbullying, has serious impacts on victims, including psychological and social disorders. From a legal perspective, bullying can be categorized as an act that violates human rights and can be subject to sanctions based on applicable laws and regulations, such as the Child Protection Law, the Criminal Code, and the ITE Law. Therefore, the community has an important role in creating a safe environment, including through education, prevention, and reporting to the authorities if a bullying case occurs. This counseling method uses Empirical Jurisprudence, participants are given an understanding of the forms of bullying, its legal impacts, and the role of the Community, family, school, and community in preventing and handling bullying cases. The community is expected not only to be a spectator, but also to play an active role in building an anti-bullying culture by providing support to victims, reporting perpetrators, and educating children and adolescents about the importance of mutual respect. With the active role of the community, it is hoped that the number of bullying cases can be reduced and a safer and more equitable environment can be created for all individuals.
Progresivisme Hukum Atas Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Mayat yang dilakukan Oleh Pengidap Nekrofilia Fadzilla, Nova Romadzoni; Enggarsasi, Umi; Suharti, Titik
Journal Evidence Of Law Vol. 4 No. 3 (2025): Journal Evidence Of Law (Desember)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jel.v4i3.1960

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku pencabulan mayat oleh pengidap nekrofilia serta menilai relevansi kemampuan bertanggung jawab pelaku dalam konteks hukum pidana nasional. Pertanyaan utama yang ingin dijawab adalah bagaimana konstruksi pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku nekrofilia dan norma hukum apa yang dapat dijadikan dasar pemidanaan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang- undangan, konseptual, dan kasus, melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang- undangan, doktrin hukum pidana, serta literatur psikologi forensik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbuatan pencabulan terhadap mayat dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana melalui penafsiran sistematis Pasal 271 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, namun pemidanaan bergantung pada kemampuan bertanggung jawab pelaku. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan integrasi antara hukum pidana dan psikologi forensik dalam menangani kejahatan seksual non-konvensional. Kesimpulannya, diperlukan pengaturan pidana yang lebih eksplisit serta standar pemeriksaan kejiwaan yang komprehensif guna menjamin kepastian hukum dan keadilan substantif, sekaligus membuka ruang bagi penelitian lanjutan berbasis komparatif dan kebijakan kriminal.