Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

NILAI ANAK, GENDER, DAN INDIVIDUALISME: STUDI KUALITATIF SIKAP PRO DAN KONTRA CHILDFREE PADA PASANGAN MENIKAH DI PEKANBARU Ajeng Sri Rahayu; Mita Rosaliza
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 8.D (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena childfree (keputusan untuk tidak memiliki anak) telah bergeser dari sekadar wacana global menjadi realitas sosial yang kontroversial di Indonesia, termasuk di kota-kota menengah seperti Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana pasangan menikah di Pekanbaru memaknai nilai anak, mengonstruksi peran gender, dan menegosiasikan individualisme dalam menentukan sikap pro maupun kontra terhadap childfree. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap pasangan menikah yang mewakili spektrum pro dan kontra. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbenturan antara nilai kolektif Melayu-Islam yang memandang anak sebagai kewajiban sosial, emosional, dan religius (penerus keturunan dan investasi akhirat), dengan arus modernitas yang mengedepankan pilihan rasional. Kelompok kontra-childfree tetap mempertahankan hegemoni nilai anak sebagai simbol kesempurnaan keluarga, meskipun mulai bergeser dengan meninggalkan pandangan anak sebagai investasi ekonomi. Sebaliknya, kelompok pro-childfree melakukan dekonstruksi terhadap nilai tradisional, memandang keputusan tanpa anak sebagai bentuk otonomi tubuh, tanggung jawab emosional-psikologis untuk memutus trauma masa lalu, serta strategi adaptasi ekonomi yang realistis di wilayah urban. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap terhadap childfree di Pekanbaru bukan sekadar pilihan privat, melainkan hasil negosiasi kompleks antara identitas kultural dan kesadaran individualistik.
TRANSFORMASI TROTOAR SEBAGAI ARENA SOSIAL: PEMANFAATAN RUANG PUBLIK UNTUK AKTIVITAS JOGGING DI JALAN DIPONEGORO PEKANBARU Safira Tomoko Indah Cahyani; Mita Rosaliza
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 8.D (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas transformasi trotoar Jalan Diponegoro, Pekanbaru, dari ruang transit pejalan kaki menjadi arena sosial yang dimanfaatkan masyarakat untuk jogging. Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang publik tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga diproduksi melalui praktik sosial yang berulang, interaksi sehari-hari, serta kebutuhan warga kota akan ruang yang mudah diakses dan fleksibel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap jogger, pengguna ruang sekitar, serta informan kunci yang memahami pengelolaan trotoar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trotoar Diponegoro dipilih karena aksesnya mudah, lokasinya strategis, biaya penggunaannya rendah, dan suasana sosialnya mendukung aktivitas fisik. Di sisi lain, aktivitas jogging juga dipengaruhi motivasi intrinsik seperti keinginan menjaga kesehatan, mengurangi stres, dan memperoleh kenyamanan, serta motivasi ekstrinsik seperti tren gaya hidup sehat, pengaruh teman, dan media sosial. Temuan ini menegaskan bahwa transformasi trotoar terjadi melalui pertemuan antara pilihan rasional individu dan produksi ruang sosial dalam kehidupan kota.
SAPPHIC: PEREMPUAN DAN KULTUR KEPEREMPUANAN ATAU LESBIAN DALAM BASE @SAPPHICSFESS Khansa Aqila Zahra; Mita Rosaliza
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 9.A (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai sapphic sebagai identitas perempuan yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis dalam ruang digital sering kali berhadapan dengan stigma sosial. Kondisi ini juga dialami oleh pengguna akun base @sapphicsfess di platform X yang memanfaatkan media sosial sebagai ruang aman untuk mengekspresikan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan sapphic dan kultur keperempuanan serta praktik frontstage dan backstage melalui anonimitas dalam ruang digital, penelitian ini juga berupaya memahami bagaimana interaksi digital membentuk pengalaman sosial pengguna dan bagaimana ruang virtual memediasi identitas minoritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap empat informan dan satu informan kunci yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta divalidasi melalui triangulasi, peneliti juga melakukan reduksi data dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Keabsahan data diperkuat melalui perbandingan antar sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa @sapphicsfess berfungsi sebagai ruang aman digital yang memungkinkan perempuan sapphic mengekspresikan identitas, berbagai pengalaman, dan membangun solidaritas. Kultur keperempuanan tercermin dalam penggunaan simbol identitas dan interaksi yang suportif. Anonimitas menjadi strategi penting yang mencerminkan praktik dramaturgi, yaiutu pemisahan antara frontstage dan backstage. Selain itu, interaksi yang terjadi memperlihatkan adanya dukungan emosional yang kuat antar pengguna. Dengan demikian, @sapphicsfess berperan sebagai counterpublic digital yang membantu pengguna membangun identitas serta melawan stigma dalam masyarakat heteronormatif. Ruang ini menjadi sarana resistensi terhadap norma dominan yang menekan kelompok minoritas. Keberadaannya memperkuat solidaritas dan rasa kebersamaan antar pengguna. Oleh karena itu, media sosial memiliki peran strategis dalam mendukung keberagaman identitas
KONSEP DIRI COSPLAYER DI KOTA PEKANBARU (STUDI PADA KOMUNITAS HYPERCOSU) Rahma Delia; Mita Rosaliza
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 9.C (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep diri cosplayer di Kota Pekanbaru, khususnya pada komunitas HyperCosu, serta faktor yang mendorong informan menjadi cosplayer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori looking-glass self Charles Horton Cooley. Informan berjumlah enam orang cosplayer yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri cosplayer terbentuk melalui pandangan orang lain, penilaian sosial, serta respons audiens dan komunitas. Konsep diri yang terbentuk cenderung positif, ditandai dengan meningkatnya kepercayaan diri, keberanian tampil, kemampuan berekspresi, dan keterbukaan sosial. Motivasi menjadi cosplayer meliputi hobi, ketertarikan pada karakter fiksi, ekspresi diri, pertemanan, apresiasi sosial, pengembangan keterampilan, peluang ekonomi kreatif, dan kebutuhan melepas stres. Temuan ini menunjukkan bahwa cosplay berperan dalam pembentukan identitas dan konsep diri generasi muda dalam budaya populer.
DINAMIKA PEMBENTUKKAN IDENTITAS DIGITAL MAHASISWA FISIP UNIVERSITAS RIAU MELALUI PENGGUNAAN MULTIPLE ACCOUNT DI INSTAGRAM Herlivia Koeswari; Mita Rosaliza
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 9.C (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami latar belakang penggunaan multiple account pada Instagram serta pemanfaatannya dalam mengelola identitas digital dan interaksi sosial mahasiswa FISIP Universitas Riau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan melibatkan enam mahasiswa sebagai informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara , dokumentasi, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Instagram oleh mahasiswa mengalami pergeseran fungsi dari media hiburan menjadi sarana untuk kebutuhan lainnya. Perkembangan tersebut mendorong mahasiswa memiliki lebih dari satu akun Instagram untuk memenuhi kebutuhan digital yang berbeda, yang mana multiple account dimanfaatkan untuk mengelola identitas digital melalui perbedaan username, fungsi akun, jenis konten, pengaturan audiens, dan citra diri yang ditampilkan pada setiap akun. Selain itu multiple account juga berfungsi sebagai ruang aman digital yang memberikan rasa nyaman, privasi, dan kebebasan berekspresi karena audiens yang terlibat telah melalui proses seleksi. Temuan ini menunjukkan bahwa multiple account tidak hanya menjadi strategi pengelolaan identitas digital, tetapi juga membentuk realitas sosial baru yang memengaruhi cara mahasiswa memaknai diri dan hubungan sosialnya di era digital.