Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pelatihan Pengasapan Ikan dengan Pengawet Alami dan Permodalan Syariah di Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo Sri Wahyuni; Sri Umiyati; Susi Ratnawati; Titiek Indhira Agustin; Djoko Siswanto
Jurnal Abdidas Vol. 4 No. 2 (2023): April, Pages 121 - 220
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v4i2.777

Abstract

Ikan asap merupakan salah satu produk olahan ikan yang banyak ditemukan di Desa penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Ikan asap adalah produk ikan yang telah melewati proses pengasapan. Pengasapan ikan sendiri merupakan salah satu teknologi pengolahan pangan yang telah dikenal sejak lama. Selama ini, produksi ikan asap yang dilakukan di Desa Penatsewu masih menggunakan metode tradisional yang dianggap kurang higienis dan hasil yang diperoleh tidak seragam. Dengan demikian mutu ikan asap yang dihasilkan menjadi tidak konsisten dan tidak ada jaminan keamanan produk ikan asap bagi konsumen. Metode pelaksanaan dilakukan dengan memberikan pelatihan dan pendampingan terkait pengasapan yang benar menggunakan pengawet alami serta memberikan pelatihan terkait permodalan syariah, kemudian dilakukan evaluasi secara berkala. Hasil dari pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini terkait dengan permasalahan produksi ikan asap yang selama ini belum optimal. Secara proses, pengasapan menggunakan alat asap ramah lingkungan lebih higienis dibandingkan dengan pengasapan secara tradisional. Pengasapan dengan alat asap ramah lingkungan mempunyai masa simpan yang lebih lama dibandingkan tradisional. Penggunaan jenis bahan bakar pengasap yang berbeda dapat berpengaruh terhadap mutu ikan asap yang dihasilkan. Ada beberapa komoditas yang menghasilkan limbah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar asap, di antaranya sabut siwalan, bonggol jagung dan batok kelapa. Kesimpulannya, setelah pelatihan para pelaku UMKM ikan asap pengetahuannya bertamah, skill bertambah dan berpengaruh kepada hasil ikan asap yang lebih higienis dan awet.
Human Capital dan Peran Quadrope Helix dalam Mengembangkan UMKM di Desa Campurejo Panceng Sri Umiyati; Sri Wahyuni; Wildan Taufik Raharja
Jurnal Abdidas Vol. 4 No. 2 (2023): April, Pages 121 - 220
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v4i2.780

Abstract

Jumlah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Gresik berkembang pesat. Quadruple Helix merupakan salah satu pilar utama mendorong tumbuhnya UMKM dan menjadi salah program trobosan baru untuk UMKM guna meninggkatkan kualitas produk dan SDM. Peran Quadruple Helix bagi UMKM sangat diperlukan, karena pemerintah selalu berupaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam sektor pertanian agar lebih inovatif, kreatif dan proaktif bisa bergerak dalam ekonomi yang berbasis inovasi, sehingga diperlukan dukungan semua pihak yaitu pemerintah bersama dengan akademisi, pengusaha dan dukungan masyarakat yang tergabung dalam Quadruple Helix untuk meningkatkan pertumbuhan sektor UMKM. Metode pelaksanaan kegiatanm melalui tahapan diantaranya: 1). Survei di desa Campurejo kecamatan Panceng kabupaten Gresik dengan menggali data dan menggali permasalahan-permasalahan yang telah dihadapi oleh Pelaku usaha/UMKM. 2). Pelaksanaan Kegiatan, Sosialisasi dan FGD dilakukan selama 1 hari dengan memberikan pengetahuan dan informasi tentang UMKM dan FGD dengan pelaku usaha / UMKM. 3). Evaluasi Kegiatan, Sosialisasi dan FGD tentang mengembangkan UMKM melalui Human Capital dan Peran Quadrupe Helix telah dihadiri 25 orang sebagai target. Hasil pengabdian masyarakat dari kegiatan tersebut para pelaku usaha /UMKM memahami bahwa untuk mencapai kemandirian usaha menjadi sukses harus mampu memberikan sebuah peluang dan penguatan pada produk UMKM dalam bersaing dipasaran. Karena didalamnya terdapat sinergisitas antara masyarakat, akademisi, pebisnis, dan goverment.
Analisis Kinerja Lembaga Penyelenggara Pelayanan Sosial dalam Pembinaan Anak Penyandang Tunagrahita Terlantar di Kampung Anak Negeri Kota Surabaya Nassa Yulinda Sari; Sri Wahyuni
Aplikasi Administrasi: Media Analisa Masalah Administrasi Volume 26 Nomor 1
Publisher : Faculty of Social and Political Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/aamama.v26i1.142

Abstract

The Surabaya City Government through the Social Service, formed the UPTD Kampung Anak Negeri, listed in Surabaya Mayor Regulation Number 119 of 2021 concerning the Formation and Organizational Structure of the Technical Implementation Unit for the Kampung Anak Negeri Service at the Surabaya City Social Service. The aim of the study was to analyze and find out the supporting and inhibiting factors for the performance of social service delivery institutions in fostering abandoned mentally retarded children at UPTD Kampung Anak Negeri Surabaya City. The method used is a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques using observation, interviews and documentation. Theory uses guidelines in compiling performance reports, State Administration Institutions (LAN, 2018). The results of the research show that the (input) is adequate in terms of human resource needs, sources of budget allocations and policies or Standard Operating Procedures, but in ideal ratio, comparisons do not yet have a reference. (output) is already visible in the provision of skills. (outcome) has fulfilled physical and non-physical needs, but education has not been given and there is an increase in potential with the work of neglected mentally retarded children. (benefits) realizing independence in daily activities and long-term benefits, that is, if a mentally retarded child still has a family, they will be sent home. (positive impact) can be seen that there is an increase in enthusiasm for learning for neglected children with mental retardation, while the negative impact is that there are abandoned children with mental retardation who do not want to be reunified with their family.