Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KEPRIBADIAN TOKOH JAMILA DALAM NASKAH DRAMA “PELACUR DAN SANG PRESIDEN” KARYA RATNA SARUMPAET DITINJAU DARI GERAKAN FEMINISME LIBERAL Muhammad Bayu Gumelar; Ajat Sudrajat; Arip Hidayat
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/nk45td51

Abstract

Penelitian ini merupakan suatu analisis kualitatif tentang kepribadian tokoh Jamila yang terdapat dalam naskah drama “Pelacur dan Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet ditinjau dari gerakan feminisme liberal. simpulan kepribadian tokoh Jamila; mempunyai kepribadian Koleris; egois, emosional, pemberontak, orang yang bisa berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain, berorientasi pada tujuan, mempunyai kualitas kepemimpianan sejak lahir, mempunyai sikap menantang, keras kepala, bebas, mandiri, disipin dalam hidup, mengoreksi yang tidak benar, serba memaksa, membuat keputusan dengan segala konsekuensinya, mengambil kuasa dengan cepat dan tegas, lebih tertarik mencapai tujuan daripada menyenangkan hati orang lain, kurang ramah tamah, jujur, ingatan kuat, imajinasi kuat, rasa benci kuat, jarang dicintai, banyak orang takut padanya, sulit memahami titik tolak pemikiran orang lain, berjuang sampai tujuan tercapai, pikiran diisi tujuan cita-cita dan rencana, orang yang tekun bekerja, daya tahan kuat, lebih banyak menyelesaikan pekerjaan dari watak lainnya. Kepribadian tokoh Jamila ditinjau dari Gerakan Feminisme Liberal; (1) perempuan harus berpikir rasional, perempuan tidak lebih lemah dari laki-laki, apabila mendapat represi maka perempuan berhak untuk melawan, (2) menolak pola pikir yang membelenggu untuk tidak mendapat kebahagiaan, (3) memperjuangkan masyarakat agar wajib memberikan pendidikan kepada perempuan seperti halnya pendidikan kepada laki-laki, (4) menolak peran gender yang opresif, yaitu peran yang digunakan sebagai alasan untuk memberikan tempat yang rendah bagi perempuan atau tidak memberikan tempat sama sekali.
REPRESENTASI CERITA KARNADI ANEMER BANGKONG SEBAGAI IDENTITAS MASYARAKAT SUNDA Arip Hidayat
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 15 No 2 (2019)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/tvsxsz38

Abstract

Penelitian ini membahas tentang bentuk representasi, perubahan representasi, serta pandangan tentang representasi cerita Karnadi Anemer Bangkong. Penelitian ini menggunakan metode dekriptif dengan teknik penelitian kualitatif. Metode penelitian yang digunakan dengan metode diakronis. Metode diakronis merupakan penelitian resepsi sastra yang dilakukan terhadap tanggapan-tanggapan pembaca dalam beberapa periode. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Rasiah Nu Goreng Patut serta karya-karya lain yang bercerita tentang Karnadi Anemer Bangkong dan karya lain yang erat hubungannya dengan Karnadi Anemer Bangkong dari sejak 1928 sampai dengan tahun 2017. Data dikelompokkan berdasarkan tahun kemunculannya. Dalam hal ini dipilih tiga data yaitu Madraji : Carita Pantun Modern karya Suyudi, Fiksimini Karnadi Kiwari karya Tia Baratawiria, dan naskah drama Barok (Tidak Bodoh Tapi Tidak Tahu Sebab Tidak Pernah) karya Aan Sugiantomas. Hasil penelitian cerita Rasiah Nu Garong Patut (Karnadi Anemer Bangkong) mengalami berbagai macam bentuk representasi. Bentuk representasi itu diantaranya naskah dan scenario film dan sinetron, pantun (cerita pantun), fiksimini, dan naskah drama. Perubahan representasi dari Karnadi dan Madraji adalah pada bentuk. Madraji dalam bentuk cerita pantun, sementara Karnadi dalam bentuk novel. Dari segi isi, keduanya bercerita tentang kaum bawah yang kemudian merefleksikan kritik pada kemiskinan yang ada pada zamannya masing-masing. Kritik sosial menjadi pesan penting pada karya keduanya. Tia Baratawiria merepresentasikan Karnadi berbeda dengan cerita aslinya. Karnadi dalam fiksi mini Tia Baratawiria dibalik seratus delapan puluh derajat. Tia memposisikan Karnadi sebagai orang kaya, yang pada akhirnya nyaris sama seperti keluarga Eulis Awang yang sombong. Tia hendak memberikan pesan, bahwa jika seandainya Karnadi kaya pun sifatnya tidak akan berubah menjadi baik. Watak dan kepribadian manusia dipengaruhi oleh harta. Aan Sugiantomas merepresentasikan tokoh Barok berbeda dengan Karnadi. Jika Karnadi buruk rupa, maka Barok tampan. Barok secara fisik dan kedudukan berbeda, namun tetap mewakili kaum bawah. Melalui Barok Aan menggugat simbol-simbol kebodohan yang dilekatkan pada diri Barok yang tidak sekolah. Secara alur naskah Barok sama dengan cerita Karnadi Anemer Bangkong.
Pengunaan Micro Vidio dalam Pembelajaran Apresiasi Puisi Arip Hidayat; Andriyana; Tifani Kautsar
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 20 No 1 (2024)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/4xhtmb76

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan micro video dalam pembelajaran apresiasi puisi di kalangan mahasiswa Universitas Kuningan. Dengan menerapkan metode pre-test post-test control group design, penelitian ini membandingkan hasil belajar antara kelompok eksperimen yang menggunakan micro video dan kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Kajian literatur menghasilkan diagram alir yang merangkum langkah-langkah pembelajaran yang efektif, yang kemudian diuji pada kelompok eksperimen. Hasil analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam kemampuan apresiasi puisi setelah penggunaan micro video, dengan nilai Z sebesar -3,245 dan signifikansi 0,001. Penemuan ini menegaskan bahwa micro video dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap puisi, menjadikannya alat pembelajaran yang inovatif.
EKSPLORASI STILISTIKA PADA NOVEL-NOVEL KARYA ANDREA HIRATA Tifani Kautsar; Arip Hidayat; Ahmad Nasrullah Nasution
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 1 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/t2g6r037

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini merupakan kajian stilistika pada novel Edensor, Ayah, Sirkus Pohon, Buku Besar Peminum Kopi, dan Guru Aini karya Andrea Hirata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan stilistika pada unsur pemajasan, penyiasatan struktur, dan citraan dalam novel-novel tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Edensor, Buku Besar Peminum Kopi, dan Guru Aini, pemajasan didominasi oleh metafora karena kesamaan genre komedi, petualangan, dan inspiratif. Sementara itu, dalam novel Ayah dan Sirkus Pohon, pemajasan lebih banyak menggunakan personifikasi yang sesuai dengan genre keluarga dan romantis. Pada unsur penyiasatan struktur, hiperbola mendominasi novel Ayah, Buku Besar Peminum Kopi, dan Guru Aini, yang memiliki kesamaan genre keluarga dan perjalanan. Sebaliknya, repetisi lebih banyak digunakan dalam novel Edensor dan Sirkus Pohon yang bergenre romantis dan inspiratif. Unsur citraan dalam semua novel lebih didominasi oleh citraan visual dibandingkan auditif dan kinestetik. Penggunaan citraan visual ini memperkuat deskripsi lingkungan dan suasana hati tokoh, serta membantu pembaca dalam membayangkan skenario yang dihadirkan secara lebih jelas dan mendalam.