Wanodya Kusumastuti
Fakultas Ilmu Sosial Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Purworejo

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SUBJECTIVE WELL-BEING PADA MANTAN PASIEN SKIZOFRENIA Anis Mujaidha; Wanodya Kusumastuti; Meriam Esterina
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v4i1.517

Abstract

Menjadi seorang mantan pasien skizofrenia memerlukan proses penyesuaian yang mendukung dalam fungsi kehidupan sehari-hari. Kondisi awal sembuh hingga saat ini tentu mengalami fluktuatif berbagai aspek yaitu aspek sosial, aspek kognitif serta aspek psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran subjective well-being pada mantan pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Responden pada penelitian ini berjumlah 2 responden yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan wawancara semi terstruktur.Hasil analisis menunjukkan kedua responden memiliki subjective well-being yang bervariasi. Responden AS terlihat dari kepuasan hidupnya diseluruh domain dan afek positif lebih mendominasi afek negatifnya. Sedangkan untuk responden T terlihat dari kepuasan pekerjaannya memiliki afek positif yang cukup baik serta memiliki kepuasan hidup sedangkan afek negatifnya hanya muncul pada saat kondisi tertentu misalnya ketika responden sedang lelah atau teringat dan merindukan orang terdekat.
Pendampingan Psikologis Pada Masyarakat Terdampak Keraton Agung Sejagat Wanodya Kusumastuti; Widyaning Hapsari; Patria Jati Kusuma
Surya Abdimas Vol. 5 No. 4 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/abdimas.v5i4.1289

Abstract

Perkembangan Kerajaan Agung Sejagat (KAS) mulai terdengar di wilayah Kabupaten Purworejo pada akhir tahun 2019. Dua orang pendirinya mengklaim bahwa KAS merupakan kerajaan penerus Majapahit yang merekrut ratusan anggota dan meminta iuran jutaan rupiah per bulan untuk melakukan ritual dan kirab budaya. Munculnya fenomena kerajaan fiktif didukung dengan penguasaan psikologi massa, dimana pendirinya mampu mempengaruhi atau meyakinkan orang lain. Selain itu bisa juga disebabkan karena delusi keagungan (grandiose delusion) serta faktor post power syndrome. Keterlibatan masyarakat Purworejo sebagai abdi dalem KAS menimbulkan kerugian baik secara materiil maupun non materiil. Selain harus memberikan iuran, masyarakat juga diminta untuk mengikuti perintah yang disampaikan pimpinan Keraton. Akibatnya banyak masyarakat yang akhirnya membenarkan keyakinannya bahwa KAS merupakan Keraton yang akan mengembalikan lagi tradisi leluhur dan menjaga tatanan kehidupan masyarakat. Penyimpangan pemikiran pada masyarakat terdampak KAS itu merupakan distorsi kognitif yang menyebabkan masyarakat memiliki persepsi yang salah. Dampak yang dirasakan masyarakat terdampak KAS adalah masalah psikologis, seperti rasa malu, tidak percaya diri, khawatir tidak diterima keluarga atau masyarakat sehingga membatasi interaksi dengan lingkungan sosial. Tujuan kegiatan pendampingan ini adalah memberikan konseling individual dan/atau konseling kelompok pada masyarakat terdampak KAS untuk mengatasi gangguan psikologis yang muncul. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah: (1) distorsi kognitif mulai berkurang sehingga masyarakat terdampak KAS kembali mampu berpikir rasional, (2) berkurangnya rasa khawatir, memiliki kepercayaan diri untuk bersosialisasi kembali di tengah masyarakat
Konseling Krisis Sebagai Intervensi Psikologis Pada Klien Kekerasan Seksual di Purworejo Wanodya Kusumastuti; Widyaning Hapsari; Karsiyati Karsiyati
Surya Abdimas Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/abdimas.v7i1.2652

Abstract

Meningkatnya kasus kekerasan seksual terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan korban yang sebagian besar anak-anak di bawah umur. Korban kekerasan seksual mendapatkan perlakuan yang menyebabkan trauma sehingga membutuhkan dukungan dan bantuan psikologis. Tujuan dari program pengabdian ini untuk membantu memberikan pendampingan psikologis bagi korban kekerasan seksual yang mengalami trauma psikologis. Korban berusia 6-15 tahun, mengalami beragam permasalahan antara lain post traumatic stress disorder dan gejala depresi. Masalah diperkuat dengan kondisi keluarga yang kurang memiliki pengetahuan dalam mendampingi korban yang mengalami trauma. Oleh karena itu, korban perlu mendapatkan pendampingan psikologis berupa konseling krisis agar mampu mengelola atau meregulasi emosi negatif, sehingga melalui konseling krisis ini korban mampu mengelola kondisi traumanya dengan baik. Konseling krisis merupakan salah satu jenis pendampingan psikologis yang dilakukan dengan mengidentifikasi masalah yang dialami korban, melakukan tahap konseling krisis dan evaluasi hasil. Selama rentang waktu 3 bulan, ada 3 kasus kekerasan seksual yang didampingi dan ketiga kasus tersebut mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan. Lamanya waktu pendampingan dilaksanakan selama 3 bulan dengan 7 kali pertemuan. Setelah mendapatkan konseling krisis, korban lebih mampu menerima kondisi, mengelola rasa trauma dan memiliki keyakinan untuk mengatasi kondisi trauma yang dapat muncul lagi di kemudian hari. Evaluasi dari konseling krisis ini yaitu keluarga perlu memiliki pengetahuan untuk mendampingi anak yang menjadi korban kekerasan seksual, keluarga mampu memberikan peran yang besar dalam memberikan perlindungan, dukungan dan penerimaan terhadap korban, sehingga korban mampu menjadi pribadi yang berdaya dan menerima dirinya secara positif.
Studi Komparatif Self-Monitoring dan Stres Akademik pada Mahasiswa yang Berwirausaha dan Mahasiswa yang Tidak Berwirausaha Ismi Tri Indarti; Wanodya Kusumastuti; Patria Jati Kusuma
Borobudur Psychology Review Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bpsr.8053

Abstract

Untuk mencapai keberhasilan di perguruan tinggi, mahasiswa dituntut untuk mampu mengatasi stres akademik dengan memiliki self-monitoring yang baik, terutama bagi yang berperan ganda sebagai wirausahawan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan self-monitoring dan stres akademik antara mahasiswa yang berwirausaha dan yang tidak berwirausaha. Dihipotesiskan, ada perbedaan self-monitoring dan stres akademik di antara kedua kelompok mahasiswa. Partisipan adalah 24 orang mahasiswa yang tergabung dalam inkubator bisnis dan 24 orang mahasiswa reguler yang tidak berwirausaha di Universitas Muhammadiyah Purworejo yang diperoleh dengan teknik penyampelan non acak. Data dikumpulkan menggunakan Skala Self-Monitoring dan Skala Stres Akademik, kemudian dianalisis statistik dengan uji t dua sampel independen. Ditemukan bahwa ada perbedaan yang secara statistik signifikan pada self-monitoring dengan t = 2,52 (p = 0,015) dan stres akademik dengan t = -2.32 (p = 0,025). Mahasiswa yang berwirausaha memiliki self-monitoring yang lebih tinggi dan stres akademik yang lebih rendah. Hasil ini dapat menjadi masukan baik bagi mahasiswa yang berperan ganda sebagai wirausahawan untuk meningkatkan self-monitoring untuk mengelola stres akademik.
Subjective Well-Being Pasien Kanker Pasca Mastektomi Ika Yuliana Putri Solehah; Wanodya Kusumastuti; Meriam Esterina
Borobudur Psychology Review Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bpsr.8059

Abstract

Menjadi pasien kanker payudara dan harus kehilangan aset terpenting seorang wanita merupakan masalah yang memerlukan proses penyesuaian baik dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Kondisi awal terdiagnosis hingga menjalani mastektomi atau pengangkatan payudara tentu mengalami perubahan dari berbagai aspek kognitif, sosial dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan subjective well-being pasien kanker payudara pasca mastektomi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Responden pada penelitian ini berjumlah 3 orang yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Kriteria responden dalam penelitian ini adalah pasien kanker payudara yang melakukan mastektomi, kemoterapi dan masih menjalani pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan ketiga responden memiliki gambaran subjective well-being yang baik. Gambaran subjective well-being yang bervariasi yang dimiliki ketiga responden membuat mereka mampu menghadapi kehidupan setelah terdiagnosis kanker. Adapun faktor yang mempengaruhi subjective well-being ketiga responden adalah kepribadian, optimis, dukungan sosial dan keluarga, religiusitas, kebersyukuran dan pekerjaan. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran faktor-faktor yang bisa meningkatkan subjective well -being pada pasien kanker payudara pasca mastektomi.