Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PEMANFAATAN BAHAN AJAR SEJARAH DENGAN PENDEKATAN ILMU – ILMU SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XII IPS 1 SMA NEGERI 1 TRENGGALEK ASNA, KHABIBATUL; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan sarana terpenting untuk membentuk karakteristik bangsa. Dalam dunia pendidikan ada empat masalah utama pendidikan yang ada di Indonesia. Masalah tersebut meliputi kurikulum, guru, budaya literasi, serta buku teks yang digunakan oleh siswa di dalam kelas. Keempat masalah tersebut saling berhubungan satu sama lain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan bahan ajar sejarah dengan pendekatan ilmu ? ilmu sosial untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SMA Negeri 1 Trenggalek. Peneliti fokus pada satu kelas, yakni XII IPS 1. Dari data yang telah dihimpun oleh peneliti bahwa sekolah telah menyiapkan beberapa buku paket sebagai penunjang belajar siswa, LKS (Lembar Kerja Siswa). Selain itu, sekolah juga memfasilitasi wifi untuk menunjang pembelajaran siswa di dalam kelas.Rumusan masalah dari penelitian ini adalah 1) Bagaimana kelayakan bahan ajar dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial pada pembelajaran di SMA Negeri 1 Trenggalek? 2) Bagaimana bahan ajar dengan pendekatan ilmu sosial dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMA Negeri 1 Trenggalek?Kelayakan bahan ajar diukur dengan menggunakan skala Guttman dimana lebih dari 61% respon siswa dapat dianggap bahan ajar layak untuk digunakan di dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini, 73% siswa merespon dan bahan ajar ini dapat dikatakan layak. Sedangkan hasil belajar siswa meningkat setelah diadakan post test pada akhir pertemuan.Kata kunci: Buku Teks, Kelayakan Bahan Ajar, Hasil Belajar.
ISLAMISASI MASYARAKAT TIONGHOA SURABAYA MASA ORDE BARU MUWAFIQ ZAMRONI, M; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Etnis Tionghoa merupakan etnis minoritas di Indonesia, sebagai etnis minoritas mereka harus bisa berbaur dengan masyarakat pribumi yang merupakan mayoritas di Indonesia. Hal ini menimbulkan berbagai diskriminasi yang terjadi terhadap etnis Tionghoa. Salah satu cara mengatasi diskriminasi adalah melalui asimilasi melalui Islamisasi. Rumusan masalah dalam penelitian adalah (1) Bagaimana tokoh ? tokoh Islamisasi Tionghoa masa Orde Baru di Surabaya (2) Bagimana wadah dan upaya yang dilakukan agar Islamisasi masyarakat Tionghoa masa Orde Baru di Surabaya. (3) bagimana dampak Islamisasi Tionghoa masa Orde Baru di Surabaya. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah Heuristik, Kritik, Interpretsi, dan Historiografi. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat tokoh ?tokoh Tionghoa yang mencetuskan dan mendukung Islamisasi masyarakat Tionghoa salah satunya adalah H. Abdul Karim Oey kemudian ada Junus Yahya. Selain itu, ada juga Bambang Sujanto dan Ust. Syaukani Ong yang merupakan orang ? orang pendiri PITI Surabaya. Dalam proses Islamisasi yang dilakukan terdapat wadah yang menjadi pendukung dilakukannya Islamisasi seperti PITI, Yayasan Pembauran, Yayasan H. Karim Oey dengan cara bersilaturrohim di orang ? orang Tionghoa yang non muslim, selain itu juga dengan mmpertemukan orang ? orang Tionghoa Muslim dan non Muslim di hari raya. Proses Islamisasi yang dilakukan tehadap masyarakat Tionghoa mengalami juga mengalami berbagai masalah dan hambatan mulai dari ekonomi, psikologi serta fisik. Namun berbagai masalah tersebut tidak menjadi penghalang terhadap dakwah di kalangan masyarakat Tionghoa. Islmaisasi dilakukan dengan tujuan agar mereka menjadi seorang muslim yang kemudian menjadi identitas mereka sehingga identitas mereka menjadi Muslim Tionghoa. Kata Kunci: Tionghoa,Orde Baru, Islamisasi, PITI.
MAKNA SIMBOLIK KERIS DALAM STRUKTUR SOSIAL KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT TAHUN 1855-1877 (BERDASARKAN PENELUSURAN PUSTAKA) FEBRIYAN ILHAM RAMADHAN, RIFKI; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keris merupakan benda seni warisan nenek moyang bangsa Indonesia berupa seni tempa logam yang diwariskan kepada kita sebagai salah satu identitas diri. Keris dalam perkembangannya bukan lagi sebagai senjata pembunuh, melainkan telah menjadi simbolisasi kehidupan masyarakat, atau dengan kata lain sebagai refleksi persona dan kehidupan masyarakat Jawa. Pada masa lalu, keris juga dipakai sebagai simbol identitas diri, baik itu smbol diri pribadi, keluarga, klan dan status sosial.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana gaya perkerisan yang mewakili struktur sosial di Keraton Yogyakarta? (2) Bagaimana makna simbolik keris bagi masyarakat di Keraton Yogyakarta?. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan secara praktis terkait menjelaskan makna simbolik keris dalam struktur sosial Keraton Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode pendekatan sejarah (historical approach), yang meliputi empat tahapan proses yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa, Keris tidak hanya memenuhi keindahan dari aspek fisiknya saja tetapi ada makna-makna yang sangat mendasar di dunia perkerisan, sehingga aspek nilai ini pada akhirnya akan membentuk cara berpikir dan perilaku masyarakat Jawa serta akan melahirkan identitas masyarakat Jawa itu sendiri. Makna simbolik keris dalam struktur sosial Keraton Yogyakarta memberikan gambaran tentang kedudukan atau jabatan seseorang dalam lingkungan Keraton Yogyakarta yang didasarkan pada visual bentuk, warna, maupun cara memakainya. Beberapa aspek yang melekat pada keris tersebut yang akan menunjukkan status sosial seseorang dalam lingkungan keraton.Kata Kunci : Keris, Simbol, Keraton
HARMONISASI HUBUNGAN ANTARA ETNIS TIONGHOA DENGAN ETNIS LAINNYA DI SURABAYA PADA MASA KERUSUHAN MEI 1998 ANDRE ALAMSYAH, DEA; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusuhan pada bulan Mei 1998 menjadi puncak dari aksi anti Tionghoa, kerusuhan Mei 1998 terjadi di kota-kota besar yang ada di Indonesia seperti di Padang, Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dll. Di Surabaya awalnya massa yang terdiri dari sebagian besar mahasiswa dan ada juga warga melakukan aksi turun ke jalan yang tujuannya untuk menuntut adanya reformasi, namun karena masa yang turun ke jalan jumlahnya mencapai ratusan ribu sehingga sulit mengendalikan. Kondisi di Kota Surabaya tergolong aman, sebab hampir tidak ada aksi penjarahan, pemerkosaan, dan kekerasan terhadap etnis Tionghoa Surabaya. Ini menjadi perbedaan antara Surabaya dengan kota-kota lainnya, perlakuan warga Surabaya terhadap orang etnis Tionghoa membuat kondisi Surabaya tetap aman sehingga hampir tidak ada aksi penjarahan, pemerkosaan dan kekerasan terhadap orang etnis Tionghoa.Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Mengapa Etnis Tionghoa di Surabaya mendapatkan perlakuan yang baik dari warga Surabaya. (2) Mengapa warga Surabaya memiliki toleransi besar terhadap orang etnis Tionghoa.Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut, perlakuan yang baik sekali warga Surabaya terhadap orang etnis Tionghoa di Surabaya karena sejak masa kolonial hubungan antara warga Surabaya, Madura, Arab, dan Tionghoa sudah terjalin dengan sangat baik sekali. Mereka saling berampingan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dampak yang ditimbulkan adalah antara etnis Jawa, Arab, Madura, dan Tionghoa saling memiliki rasa toleransi satu sama lainnya. Bahkan ketika masa Orde Baru, etnis Tionghoa yang terpaksa harus menghilangkan ketionghoaannya kemudian mempelajari budaya warga Surabaya justru semakin memperkuat rasa toleransi antara warga Surabaya dan etnis Tionghoa.Sikap toleransi warga Surabaya terhadap orang etnis Tonghoa begitu besar sehingga orang etnis Tionghoa pada saat terjadinya kerusuhan Mei 1998, warga Surabaya memberikan perlindungan terhadap orang etnis Tionghoa agar tidak dijadikan objek sasaran masa. Sikap toleransi dari warga Surabaya ini dikarenakan warga Surabaya sendiri tidak menganggap orang etnis Tionghoa sebagai orang asing, warga Surabaya menganggap orang etnis Tionghoa merupakan warga Surabaya juga sehingga mereka etnis Tionghoa juga berhak mendapatkan apa yang didaptkan oleh warga Surabaya pada umumnya. Kemudian toleransi warga Surabaya begitu besar terhadap orang etnis Tionghoa karena hubungan keduanya sudah berjalan sangat lama sekali dan tidak jarang antara warga Surabaya dan etnis Tionghoa ada yang memiliki kedekatan emosional.Kata Kunci : Etnis Tionghoa, Surabaya, Kerusuhan Mei 1998, Toleransi
MINAT TERHADAP PROFESI GURU PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA PUTRI ARIADIKA, JUNNYTA; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena mengenai profesi guru dan hal-hal yang mempengaruhi tingkat minat mahasiswa untuk menjadi guru jurusan Pendidikan Sejarah cukup menarik untuk diteliti karena dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan alasan-alasan yang berbeda dari mahasiswa untuk menjadi guru. Oleh karena itu, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah seberapa besar minat mahasiswa untuk menjadi guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat menjadi guru pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan nilai Kartu Hasil Studi (KHS) mahasiswa. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif dengan menggunakan tabel dan presentase. Hasil penelitian data angket menunjukkan bahwa minat terhadap profesi guru pada mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya berada dalam kategori berminat dengan presentase 38,14%, sedangkan hasil penelitian data dari rekapitulasi nilai mata kuliah kependidikan berada dalam kategori baik dengan presentase 75,25%. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya berminat untuk menjadi guru, karena memang dari awal mereka sudah menyukai profesi guru, sehingga mahasiswa juga memiliki persepsi yang baik terhadap profesi guru, yang kemudian mereka menunjukkan sikap apabila menjadi guru nantinya, setelah itu mereka dapat menguasai mata kuliah kependidikan yang sudah ditempuhnya. Kata Kunci: Minat, Profesi Guru
PENGARUH METODE GROUP INVESTIGATION TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI DI SMA NEGERI 4 SIDOARJO JAKA PRATAMA, ARWINDA; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang masalah pada penelitian ini adalah di dalam proses pembelajaran sejarah yang diterapkan disekolah masih belum memfasilitasi peserta didik untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah lemahnya proses pembelajaran dikelas masih menggunakan metode konvensional (ceramah). Jenis penelitian yang di lakukan oleh peneliti dalam penelitian ini merupakan penelitian True Experimental Design, subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPS 1 menjadi kelas eksperimen dan peserta didik kelas XI IPS 3 menjadi kelas kontrol. Hasil penelitian dengan lembar observasi metode Group Investigation di kelas eksperimen dapat melaksanakan metode Group Investigation dengan sangat baik hasil prosentase rata-rata 92,33%. Hasil penelitian dengan angket kemampuan berpikir kritis dapat dikatakan sangat kuat dengan rata-rata 84,2%. Hasil penelitian dengan metode tes uji statistik yang digunakan adalah hasil postest dengan rata-rata kelas eksperimen adalah 80,66 dan kelas kontrol adalah 74,33. Hasil penelitian dengan dengan uji statistik SPSS 25, untuk kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan dilihat pada nilai R Square sebesar 0,848. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode Group Investigation terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik adalah sebesar 84,8% sedangkan 15,2% kemampuan berpikir kritis dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak di teliti. Hasil penelitian dengan uji n-gain dapat diketahui pengaruh penerapan metode Group Investigation dalam bentuk persen (%). Dapat diketahui bahwa rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menunjukan presentase nilai sebesar 59.4410% dibulatkan menjadi 59% pada kelas eksperimen, dan 44.8511% dibulatkan menjadi 45% pada kelas kontrol.Kata Kunci: Metode Pembelajaran Group Investigation, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Pembelajaran Sejarah.
Eksplorasi Penggunaan Artificial Intelligence oleh Guru dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri Kabupaten Gresik Safitri, Ainun; Sri Mastuti Purwaningsih
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2116

Abstract

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), dan robotika telah mentransformasi dunia pendidikan, termasuk proses pembelajaran. Teknologi ini, khususnya AI menawarkan potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui berbagai inovasi. Namun, eksplorasi pemanfaatan AI dalam konteks pembelajaran mata pelajaran sejarah, masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan AI oleh guru sejarah dan menganalisis tingkat kesiapan guru dalam mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan teknik purposive snowball sampling untuk menentukan sampel penelitian. Penelitian ini melibatkan 13 guru sejarah dari SMA Negeri di Kabupaten Gresik. Data dikumpulkan melalui angket, wawancara, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian mengungkap bahwa penggunaan AI didominasi oleh ChatGPT (30%), Canva (27%), dan Gemini (19%), dengan total pemanfaatan mencapai 76% untuk kegiatan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Namun, adopsi AI untuk evaluasi pembelajaran masih sangat rendah (15%). Analisis kesiapan guru berdasarkan kerangka Mayes dan Fowler (2006) menunjukkan bahwa100% responden telah menguasai pemahaman dasar AI, 77% mampu menerapkan AI dalam konteks pembelajaran, tetapi hanya 23% yang mencapai tahap transformasi digital.