Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Studi Komparasi Tafsir Ayat Jabr dan Ikhtiyar dalam Tafsir Al-Zamakhshari dan Al-Razi Fasjud Syukroni
JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Qur'an and Hadith Academic Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2575.324 KB) | DOI: 10.15408/quhas.v5i2.13420

Abstract

This article compares Zamakhshari’s interpretation with Rāzī’s one, regarding the verses of jabr and ikhtiyār, using a thematic method. It finds that Zamakhshari’s interpretation is deterministic and sometimes indeterministic, whereas Rāzī’s one is deterministic. Both interpretations were influenced by the contexts where the authors lived. Their interpretations reflect as thoughts which perceive the human capacity in comprehending texts as well as dealing with realities.
Membaca Kodrat Perempuan Dalam Perspektif Qaḍā’ dan Qadar M. Syaḥrūr Fasjud Syukroni
Refleksi Vol 17, No 1 (2018): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.9 KB) | DOI: 10.15408/ref.v17i1.10196

Abstract

Pemahaman agama yang terkait perempuan dalam al-Qur’ān dan Ḥadīs cenderung bias dan misoginis oleh sebagian orang. Hal tersebut telah dianggap wajar dan sesuai dengan alasan sudah kodratnya, sudah menjadi ketentuan ‘ilmu Allāh yang azali, bahwa sosok perempuan sebagai ‘makhluk kedua’ setelah laki-laki. Bias gender tersebut menjadi masyhur dan tidak ditempatkan pada kajian kritis. Dari sini penulis ingin menarik dan mendiskusikan wacana kodrat perempuan ke dalam pemikiran konsepsi qaḍā’ dan qadar M. Syaḥrūr (lahir 1938 M.). Data-data tersebut dianalisa dengan menggunakan perspektif gender. Signifikansi kajian ini adalah untuk menunjukkan bahwa kodrat atau takdir (qadar) tidak berhubungan bahkan tidak mengatur status sosial perempuan menjadi makhluk kedua setelah laki-laki, sehingga perempuan menjadi stereotipe negatif. Oleh karenanya, teks-teks agama (al-Qur’ān dan Ḥadīs) yang bernuansa bias gender harus didudukkan pada kajian kritis. Seperti, perempuan adalah makhluk lemah, tidak cerdas, kurang akalnya, mayoritas penghuni neraka, hanya mengandalkan emosi dan rasa, tidak pantas menjadi pemimpin, karena akan terjadi keruntuhan dan ketidakmajuan, dan lain-lain. Sikap yang benar adalah, fenomena seperti ketidakmajuan, kemajuan, kekalahan, kemenanangan, kebodohan dan kecerdasan adalah ketentuan umum di Laūḥ Maḥfūẓ dengan tidak menunjuk pada subjek tertentu. Sehingga, QS. al-Ḥadid: 22 harus dipahami demikian
QIRĀ’AH MU‘ĀṢIRAH MUḤAMMAD SYAḤRŪR ATAS AYAT-AYAT “MILK AL-YAMĪN” DAN “ZAWĀJ” Fasjud Syukroni
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 1 June 2019
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.915 KB) | DOI: 10.15408/ushuluna.v1i1.15336

Abstract

This article discusses Muḥammad Syaḥrūr's contemporary interpretation of verses of milk al-yamīn, which by classical interpretation means not far from the words al-raqīq, al-sarāri, al-īabīd, al-jawāri, and al-sabāyā. The interpretation is relative, non-standard and not final (read: only interpretation in the children of his time). This is understandable because the slavery system at that time still existed. For Syaḥrūr, the interpretation of "mā malakat aimānukum (milk al-yamīn)" with the meaning of this slave is not in accordance with the spirit of the Qur'an. Because, al-Qur'an is highly upholding universal human values; such as equality between humans, helping the oppressed and real social justice.
KALIMATIN SAWA’ SEBAGAI TITIK TEMU AGAMA-AGAMA Nadzifah, Ainun; Zuhrupatul Jannah; Maulidi; Fasjud Syukroni; Muhammad Ulinnuha
POROS ONIM: Jurnal Sosial Keagamaan Vol 6 No 1 (2025): Poros Onim: Jurnal Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53491/porosonim.v6i1.1682

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep Kalimatin Sawa' sebagai titik temu dialog antaragama, dengan fokus pada kesamaan prinsip antar agama yang ada di Indonesia. Islam dan Kristen utamanya. Kalimatin Sawa' merupakan ungkapan yang ditemukan dalam Al-Qur'an QS. Ali Imran: 64, yang mengajak berbicara tentang kesamaan prinsip dalam agama-agama berbeda. Dalam konteks Indonesia, Pancasila merupakan diantara ekspresi Kalimatin Sawa’. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana konsep Kalimatin Sawa' dapat digunakan menjembatani perbedaan dan memperkuat hubungan antar pemeluk agama berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi teks (textual analysis) terhadap penafsiran Al-Qur'an serta literatur dari sumber agama lain dan sumber terkait. Data yang digunakan terdiri dari teks kitab suci dan literatur agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kalimatin Sawa' menawarkan sebuah fondasi dialog antaragama yang tidak hanya memperhatikan perbedaan, tetapi juga mengutamakan kesamaan dalam ajaran moral dan etika. Dengan demikian, Kalimatin Sawa' berfungsi sebagai dasar pembentukan hubungan harmonis saling menghormati antarumat beragama. Kesimpulannya, Kalimatin Sawa' memiliki potensi besar sebagai titik temu memperkuat toleransi dan kerjasama antaragama, serta mendukung perdamaian global dalam konteks multikulturalisme.
TAFSIR AL-QUR’AN DAN CORE VALUES KEBANGSAAN DI INDONESIA MODERN: STUDI PEMIKIRAN HAMKA, QURAISH SHIHAB DAN “TAFSIR KEMENAG” Kusmana, Kusmana; Syukroni, Fasjud; Jayadi, Hirman
Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8 No 2 (2023): Al-Bayan : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-bayan.v8i2.31892

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan pemikiran Hamka, Quraish Shihab dan tim penafsir “tafsir Kemenag” dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an terkait dengan nilai dasar (core value) kebangsaan; kemanusiaan dan keadilan, persatuan dan kerukunan. Dengan menggunakan metode deskriptif dan teori agensi Gideens, studi ini mengolah data terkumpul ke dalam unit-unit analisis yang saling berhubungan satu dengan lainnya, dan membentuk satu alur cerita koheren tentang bagaimana nilai-nilai dasar itu diresepsi penafsir dan bagaimana embedded values tersebut mewarnai penafsiran mereka dilihat dari diskusi isu-isu di atas.  Studi ini menemukan bahwa dalam tiga karya tafsir yang diteliti, penafsir dengan sikap dasarnya masing-masing menunjukkan sikap penerimaan dan bahkan penempatan organisasi kenegaraan Republik Indonesia sebagai pilihan yang dapat mengayomi berbagai perbedaan latar belakang warga negaranya. Hamka menerima hal tersebut secara kritis, mengukur penerimaannya dengan perspektif Islam. Quraish Shihab, lebih jauh menerimanya melalui pengisian kemerdekaaan ini secara konstruktif. Pertama, melalui aktivisme, menjadi pegawai negeri sipil, rektor, Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII (1998), dan Duta Besar Mesir dan Djibauti. Kedua, secara ide, melalui pemberian catatan kritis pada proyek penerjemahan dan penafsiran al-Qur’an Kementerian Agama, penulisan tafsir dan terjemah al-Qur’an sendiri. Sementara, “tafsir Kemenag,” tidak diragukan lagi merupakan perwakilan negara dalam menyampaikan pesan al-Qur’an. Studi ini juga menemukan bahwa kerja tafsir merupakan refleksi dari embedded values penafsir sebagai muslim dan warga negara yang baik. Terakhir, studi ini menemukan bahwa agensi penafsir mengeksersais sikap efikasinya masing-masing dan berkontribusi dengan caranya masing-masing pada wacana hubungan agama dan negara secara luas.