Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Politik gaya Sengkuni dan estetika Semar kajian antropologi sastra terhadap pemilu legislatif Suwardi Endraswara
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 27 No. 4 (2014): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.728 KB) | DOI: 10.20473/mkp.V27I42014.195-205

Abstract

This article aims to explain two unique political actions, namely Sengkuni style and Seamr aesthetic. Both styles were viewed from litterature anthropology perspective. This methapor provides authentic data from 2009 election, expected to be a reflection the 2014 election. The study shows that politic, culture, and litterature were conected to each other, produces methapor in two political style. First, in this transitional era, sengkuni style is more favorable in targetting people, especially the middle class-men. Secondly is semar aesthetic style, more suitable for upper class-men group, those who hold their tradition tightly. This style suits better to pro-people type of leader. In conclusion, researcher found that both style has its strength and weakness, mostly depends on the targetted group in the community.
Etnopuitika Mantra Religi: Pemaknaan dan Fungsi Siti Rahmawati; Susi Darihastining; Suwardi Endraswara
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol 1 No 2 (2022): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.463 KB) | DOI: 10.21009/Arif.012.06

Abstract

Penelitian bertujuan menafsir secara antropolinguistik dan fungsi mantra penangkal hujan. Acuan teori etnopuitik dengan metode kualitatif. Sumber data teks mantra dari dua informan. Data penelitian bentuk tafsiran antropolinguistik, pemaknaan kalimat mantra, dan fungsi mantra yang mengandung aspek religi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tafsiran antropolinguistik dan pemaknaan kalimat mantra mengandung aspek religi dan sosial. Tafsiran antropolinguistik melalui judul, pembuka, niat, sugesti, tujuan, dan penutup. Representasi tafsiran antropolinguistik unsur religi tampak pada kosakata dalam kalimat ketuhanan, keesaan Tuhan, dan penghambaan kepada Allah. Kalimat religi menambah rasa optimis dan sugesti dengan mendekatkan diri kepada Allah. Tafsiran antropolinguistik unsur sosial terdapat pada mantra penangkal hujan di Dusun Galuh Krajan Desa Watugaluh, sedangkan yang di Dusun Tebon Desa Kayangan tidak terdapat tafsiran antropolinguistik yang mengandung unsur sosial. Mantra yang menggunakan konsep properties, yaitu fungsi ideologi dua deskriptor, permohonan kepada Tuhan dan menundukkan roh halus.