Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KERAGAAN 215 PROGENI F1 TANAMAN KARET HASIL PERSILANGAN 2011-2012 DI PENGUJIAN SEMAIAN Fetrina Oktavia
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 38, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v2i38.732

Abstract

Salah satu upaya untuk menghasilkan klon karet unggul baru adalah melalui persilangan buatan antar klon tetua yang memiliki karakter spesifik dan hubungan kekerabatan genetik yang jauh. Berdasarkan Standart Operational Procedure (SOP) seleksi progeni F1 hasil persilangan terdiri dari beberapa tahap yaitu seleksi progeni F1, uji pendahuluan, uji lanjutan, dan uji adaptasi. Pada penelitian ini dilaporkan hasil seleksi 215 progeni F1 hasil persilangan tiga kombinasi klon tetua yaitu BPM 24 x PB 260, IRR 104 X PB 260 dan PB 260 X TJIR 1 dengan klon pembanding AVROS 2037. Pengamatan dilakukan terhadap lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, panjang alur sadap, produksi normal dengan sistem sadap S/2d3, dan aplikasi ethrel 2,5% setiap bulan, serta ketahanan progeni terhadap penyakit gugur daun utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara parameter produksi dengan lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, dan panjang alur sadap. Berdasarkan seleksi 1% parameter produksi lateks, terpilih tujuh progeni yaitu HP2011/215, HP2011/54, HP2011/170, HP2011/200, HP2011/213, HP2011/158, dan HP2011/18. Progeni tersebut akan diuji ke tahap selanjutnya.
STUDI PENDAHULUAN KONSTRUKSI PETA PAUTAN GENETIK DAN IDENTIFIKASI QUANTITATIVE TRAIT LOCI YANG TERPAUT DENGAN PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN KARET Fetrina Oktavia
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 38, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v2i38.733

Abstract

Hevea brasiliensis merupakan salah satu spesies utama penghasil karet alam. Upaya pengembangan klon-klon karet unggul baru yang memiliki produksi lateks tinggi dan karakter agronomis yang baik perlu dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu faktor pembatas upaya tersebut adalah lamanya waktu seleksi yang dibutuhkan yakni berkisar 25-35 tahun. Pendekatan alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah seleksi dengan bantuan marka molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta pautan genetik dan identifikasi QTL yang terpaut dengan pertumbuhan awal tanaman karet. QTL dapat digunakan sebagai penanda molekuler untuk deteksi dini potensi pertumbuhan lilit batang klon karet. Analisis dilakukan pada 201 progeni F1 hasil persilangan klon PB 260 x SP 217. Fenotipe data pertumbuhan lilit batang dilakukan pada tanaman F1 umur 16-22 bulan yang ditanam pada areal seluas lima ha. Penyusunan peta pautan genetik populasi dilakukan menggunakan 263 marka SSR terseleksi. Pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan lilit batang populasi umur 22 bulan berkisar 5,5 – 25,04 cm dengan rata-rata 14,66 cm. Rata-rata penambahan lilit batang progeni F1 setiap bulan berkisar 0,4 – 1 cm. Koefisien keragaman menunjukkan bahwa terdapat keragaman pertumbuhan lilit batang yang cukup tinggi pada populasi. Tiga QTL yang terpaut pertumbuhan awal lilit batang tanaman karet umur 22 bulan setelah tanam berhasil teridentifikasi pada LG 14 dengan LOD 4,64, LG 13 dengan LOD 3,5, dan LG 1 dengan LOD 3. Pada LG 14 dengan LOD 4,1 berhasil teridentifikasi QTL terpaut peningkatan lilit batang dari umur 16 sampai 22 bulan. Posisi lokus gen atau sekuen DNA yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan lilit batang tersebut ditunjukkan oleh marka TAs2185 di mana gen tersebut memberikan pengaruh sebesar 11,7% terhadap pertumbuhan lilit batang tanaman karet. Keberadaan QTL tersebut perlu dianalisis secara berkala untuk mengetahui kestabilan sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu seleksi untuk lilit batang.
EVALUASI KETAHANAN DAN ANALISIS QUANTITATIVE TRAIT LOCI YANG TERPAUT DENGAN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KARET Fetrina Oktavia; Alchemi Putri Juliantika Kusdiana
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 39, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v39i1.757

Abstract

Pengembangan metode seleksi ketahanan tanaman terhadap penyakit utama perlu dilakukan, salah satunya adalah seleksi dengan bantuan marka molekuler. Penelitian bertujuan mengindenfikasi evaluasi ketahanan tanaman karet terhadap penyakit utama yang menyerang tanaman karet yaitu penyakit gugur daun Corynespora, Colletotrichum, dan Oidium, serta penyakit jamur akar putih (JAP) dan identifikasi QTL yang terpaut dengan penyakit tersebut. Populasi yang digunakan adalah 201 progeni F1 hasil persilangan klon PB 260 x SP 217. Pengamatan gejala setiap penyakit dilakukan setiap tiga bulan sekali sampai TBM 2. Peta pautan genetik yang digunakan adalah peta yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya dengan menggunakan 263 marka SSR terseleksi. Identifikasi QTL dilakukan dengan menggabungkan data pengamatan penyakit tanaman umur dua tahun dengan peta pautan genetik menggunakan program Map QTL. Pengamatan menunjukkan bahwa terdapat variasi tingkat ketahanan progeni F1 terhadap serangan setiap patogen. Ketahanan F1 terhadap penyakit gugur daun Corynespora dan Colletotrichum serta jamur akar putih menyebar secara normal dengan tingkat keparahan serangan berkisar 0-9%, 0-22,5%, dan 0-7% secara berturut-turut. Sebaliknya terhadap penyakit gugur daun Oidium, semua progeni F1 memiliki ketahanan yang tinggi dimana keparahan penyakit kurang dari 1,5%. Tiga QTL yang terpaut dengan ketahanan terhadap penyakit gugur daun Corynespora berhasil diidentifikasi pada LG 10, 14, dan 15 dengan LOD berkisar 3,1 - 5,19 dan pengaruh QTL tertinggi sebesar 17,7%. Empat QTL yang terpaut ketahanan terhadap penyakit gugur daun Colletotrichum ditemukan pada LG 1, 3, 10, dan 16 dengan LOD 3 – 4,44 serta pengaruh tertinggi terhadap ketahanan sebesar 11,2%. Pada LG 8 LOD 2,9 berhasil diidentifikasi putatif QTL yang terpaut ketahanan terhadap JAP, sedangkan QTL yang terpaut dengan ketahanan terhadap penyakit gugur daun Oidium belum berhasil diidentifikasi. QTL yang berhasil diidentifikasi dengan LOD di atas 3 diharapkan stabil dan akan dianalisis secara berkala sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu seleksi ketahanan.
Genetic Diversity and Population Structure of IRRDB 1981 and Wickham Rubber Germplasm Based on EST-SSR Fetrina Oktavia; Kuswanhadi Kuswanhadi; Dini Dinarty; Widodo Widodo; Sudarsono Sudarsono
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 39, No 3 (2017): OCTOBER
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v39i3.881

Abstract

The accession of the IRDB 1981 (PN’81) population is a newly introduced and an important rubber tree germplasm while the Wickham clone is a commercial variety one. The objectives of this study were to assess the genetic diversity and the population structure of PN’81 populations and the Wickham clones using 15 EST-SSR loci. Results of the analysis showed that the evaluated SSR primers yielded polymorphic markers. The gSSR 268 primer pairs yielded the most informative markers while HBE 280 primers generated the lowest ones. Results of the genetic diversity analysis supported that the PN’81 population belonged to a single large natural population of rubber trees while the Wickham clones belonged to a different group than that of PN’81. The population structure analysis of the rubber accessions was also in agreement with the results of the genetic diversity analysis. The experiment also indicated that PN’81 populations would be useful for future rubber breeding in Indonesia, especially as the sources of parent clones for rubber tree hybridization programs and rubber tree genetic resource conservation.
KARAKTERISASI POTENSI GENETIK PROGENI F1 HASIL PERSILANGAN TETUA BETINA SBW 2020 DENGAN ENAM KLON TETUA JANTAN Fetrina Oktavia; Sigit Ismawanto; Afdholiatus Syafaah
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 40, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v39i2.801

Abstract

Keragaman genetik yang luas merupakan kunci utama dalam proses seleksi menghasilkan klon-klon karet unggul baru. Program pemuliaan karet untuk menghasilkan klon unggul baru melalui persilangan membutuhkan beberapa tahapan seleksi, yaitu uji progeni F1, uji plot promosi atau uji pendahuluan, uji lanjutan, dan adaptasi lokasi. Tujuan penelitian adalah karakterisasi pertumbuhan dan potensi produksi lateks sebanyak 131 progeni F1 hasil persilangan klon SBW 2020 dengan enam klon tetua jantan berbeda yaitu BPM 1, BPM 107, BPM 109, IRR 24, PB 260, dan SP 217. Karakter pertumbuhan yang diamati adalah lilit batang, tebal kulit batang, dan jumlah ring pembuluh lateks yang di sadap saat umur tiga tahun. Potensi produksi lateks masing-masing progeni dievaluasi dengan metode testateks, sistem sadap S/2 d3, dan aplikasi ethrel 2,5% setiap bulan. Hasil seleksi dengan intensitas 1%, 5%, dan 10% terpilih sebanyak 14 progeni F1. Lima progeni terbaik hasil intensitas seleksi 1% dengan potensi produksi lateks berkisar 23,25 – 49,21 g/p/s dihasilkan dari persilangan SBW 2020 dengan BPM 107 (HP2009G1, HP2009G15, dan HP2009G11) dan SBW 2020 dengan IRR 24 (HP2009G14 dan HP2009G10). Kelima progeni tersebut memiliki pertumbuhan yang jagur dengan lilit batang berkisar 47,8 – 57,7 cm, tebal kulit 4,7-5,8 mm, jumlah pembuluh lateks 4-6 per cm kulit batang, serta respon yang sangat bagus terhadap penambahan stimulan. Selanjutnya progeni terbaik 1% akan di evaluasi pada uji plot promosi dan terbaik 5% dan 10% akan masuk ke uji pendahuluan.
POTENSI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN DALAM PENYIAPAN BAHAN TANAM KARET UNGGUL Fetrina Oktavia
Warta Perkaretan Vol. 40 No. 2 (2021): Volume 40, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v40i2.803

Abstract

Berbagai upaya dan pendekatan untuk menghasilkan bahan tanam karet unggul baru dengan kualitas yang lebih baik perlu terus dilakukan baik secara konvensional maupun modern. Penyediaan bahan tanam unggul secara konvensional melalui teknik okulasi masih merupakan pilihan terbaik yang digunakan saat ini di masyarakat dengan pertimbangan efektifitas dan aspek ekonomi yang lebih baik dibanding metode perbanyakan vegetatif lainnya. Namun untuk skala massal, metode tersebut masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan batang atas sebagai sumber entres dan biji untuk batang bawah, keterbatasan tenaga okulasi yang terampil, adanya inkompatibilitas batang atas dan batang bawah serta rendahnya juvenilitas sumber mata entres yang digunakan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Perkembangan teknologi modernmelalui kemajuan dibidang bioteknologi kultur jaringan merupakan suatu peluang bagi penyedia bahan tanam karet untuk meningkatkan mutu bahan tanam yang dihasilkan. Permasalahan juvenilitas akibat menurunnya mutu fisiologis entres karet yang telah berumur dan pengaruh batang bawah terhadap pertumbuhan dapat diatasi melalui embriogenesis somatik. Teknologi microcuttingmembantu mengatasi keterbatasan ketersediaan biji sebagai sumber batang bawah. Penggunaan bahan tanam karet asal kultur jaringan mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang mencapai 30–36%. Melalui kultur jaringan penyediaan klonal bahan tanam karet dapat dilakukan secara massal dan seragam dalam waktu yang cepat serta kualitas bibit yang lebih terjamin.