Novie Amelia Chozie
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia /Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Efektivitas Premedikasi untuk Pencegahan Reaksi Transfusi Nadia Devina Esmeralda; Novie Amelia Chozie
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.383 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.312-6

Abstract

Latar belakang. Penggunaan premedikasi sebelum transfusi meskipun masih digunakan secara luas namun menjadi kontroversi sampai saat ini karena efektivitasnya belum diketahui dengan pasti.Tujuan. Mengetahui efektivitas pemberian premedikasi untuk mencegah reaksi transfusi.Metode. Penelusuran pustaka secara online dengan mempergunakan instrumen pencari Pubmed, Cochrane Library, dan Google. Kata kunci yang digunakan adalah ”premedication”,”transfusion” dan “transfusion reaction”.Hasil. Terdapat 3 artikel yang dianggap relevan dengan masalah. Penelitian retrospekstif penggunaan premedikasi pada pasien yang diberikan transfusi dengan asetaminofen dan difenhidramin tidak terdapat perbedaan dalam kejadian reaksi transfusi antara kelompok yang diberikan premedikasi dengan plasebo. Penelitian prospektif selama 3 tahun menyimpulkan bahwa pemberian premedikasi dapat dikurangi tanpa meningkatkan reaksi transfusi. Cochrane Collaboration melakukan telaah sistematik mengenai premedikasi mendapatkan hasil, reaksi alergi pada kelompok premedikasi RR 1,45 (0,78-2,72) dan untuk reaksi demam didapatkan hasil pada kelompok premedikasi RR 0,52 (0,21-1,25).Kesimpulan. Pemberian premedikasi sebelum transfusi tidak terbukti efektif dalam mencegah reaksi transfusi.
Variabilitas Pola Perdarahan Anak Hemofilia A yang Mendapat Terapi On-demand di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Novie Amelia Chozie; Yuniasti Evitasari; Darmawan Budi Setyanto
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.332 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.221-9

Abstract

Latar belakang. Gejala perdarahan pada hemofilia A bergantung pada kadar faktor VIII, namun pada kadar faktor koagulasi yang sama dapat terjadi perbedaan karakteristik dan luaran klinis. Tujuan. Mengidentifikasi pola perdarahan, terapi dan komplikasi pada anak hemofilia A. Metode. Penelitian kohort retrospektif pada anak ≤18 tahun di RSCM. Data diambil dari rekam medis (Januari 2014 – Juni 2016) meliputi data usia awitan perdarahan sendi, usia saat diagnosis, kekerapan perdarahan, lokasi perdarahan, penggunaan faktor VIII, dan komplikasi yang dialami. Hasil. Terdapat 109 anak lelaki terdiri dari 2,8% hemofilia A ringan, 27,5% hemofilia A sedang, dan 69,7% hemofilia A berat. Perdarahan tersering ditemukan pada sendi (60,6%) terutama pada lutut (37,2%). Dibandingkan hemofilia A ringan dan sedang, anak hemofilia A berat menunjukkan usia awitan perdarahan sendi lebih dini (median 12,5 (4-120) bulan), kekerapan perdarahan sendi lebih sering (median 8 (1-44) kali/tahun), dan menggunakan konsentrat faktor VIII lebih banyak (median 712 (131-1913) IU/kg/tahun). Komplikasi terbanyak adalah artropati dan sinovitis kronik (46,8%) serta inhibitor faktor VIII (7,3%). Terdapat 9 dari 71 (12,6)% subjek hemofilia A berat menunjukkan karakteristik klinis lebih ringan. Kesimpulan. Pola perdarahan pada anak hemofilia A sesuai kadar faktor VIII, tetapi pada hemofilia A berat terdapat variabilitas subjek dengan gejala klinis lebih ringan.
Terapi Antikoagulan pada Anak Novie Amelia Chozie; Raisa Cecilia Sarita
Sari Pediatri Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.3.2021.205-14

Abstract

Seiring berkembangnya pengobatan dan teknologi di rumah sakit seperti pemasangan akses vaskular, serta kondisi penyakit pada anak, maka faktor risiko kejadian trombosis pada anak juga semakin meningkat. Kejadian trombosis ini perlu penanganan berupa terapi antikoagulan yang bertujuan untuk menurunkan risiko emboli, mencegah komplikasi, dan profilaksis bagi individu yang berisiko. Penggunaan antikoagulan pada anak di praktik klinis sehari-hari sebagian besar menggunakan data ekstrapolasi dari hasil studi pada orang dewasa. Terbatasnya data yang ada saat ini dan sistem hemostasis anak yang berbeda dengan dewasa menyebabkan penggunaan antikoagulan pada anak menjadi tantangan khusus. Beberapa pilihan terapi antikoagulan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya baik dari sisi pengaturan dosis, frekuensi pemberian, pemantauan, efikasi dan efek samping. Tinjauan pustaka ini akan membahas penggunaan antikoagulan pada anak khususnya heparin (unfractionated heparin, low molecular weight heparin), warfarin, dan perkembangan studi antikoagulan oral baru, serta pada populasi khusus yaitu anak dengan keganasan, sindrom lupus eritematosus, dan infeksi virus SARS-COV-2. 
Prevalensi Alergi Makanan pada Anak Usia Kurang dari 3 Tahun di Jakarta Berbasis Survei dalam Jaringan / Online Meida Tanukusumah; Nia Kurniati; Novie Amelia C
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.365-74

Abstract

Latar belakang. Alergi makanan diasumsikan oleh masyarakat maupun praktisi kesehatan memiliki prevalensiyang tinggi. Pada anak usia <3 tahun di Indonesia, prevalensi alergi makanan belum diketahui.Tujuan. Mengetahui prevalensi alergi makanan pada anak usia <3 tahun di Jakarta.Metode. Studi deskriptif potong lintang menggunakan survei dalam jaringan (daring)/online Januari2011-Oktober 2013. Orangtua anak usia <3 tahun yang mengaku anaknya alergi makanan di Jakarta danmampu mengakses internet, tercatat masuk di www.alergianakku.com, mengisi kuesioner daring modifikasiepidemiology of asthma and allergy in early life (EAAEL) untuk diseleksi. Konfirmasi diagnosis subjekberdasarkan anamnesis (convincing history).Hasil. Terdapat 286 subjek memenuhi kriteria inklusi, 100 (35%) terduga alergi makanan dan 30 diantaranya didiagnosis alergi makanan. Mayoritas subjek laki-laki (60%) dan kelompok usia >12-36 bulan(48%). Usia terbanyak kelompok alergi >6-12 bulan (11/30), gejala reaksi kulit (26/30), dan penyebabnyaadalah susu sapi. Mayoritas subjek mendapatkan ASI hingga usia 12 bulan (13/30), ASI eksklusif <6 bulan(23/30), dan diberikan makanan pendamping pada usia 2-4 bulan (13/30). Riwayat alergi keluarga (27/30),tersering adalah asma (12/30) dengan hubungan keluarga ibu kandung (15/30).Kesimpulan. Prevalensi alergi makanan berbasis survei daring 10,5% dan 30% dari subjek yang diakuorangtua memiliki alergi makanan. Manifestasi terbanyak berupa reaksi kulit, jenis makanan penyebabadalah susu sapi.
Insiden Hiponatremia Pasca operasi Mayor pada Anak di Ruang Rawat Intensif Nathanne Septhiandi; Rismala Dewi; Piprim B Yanuarso; Evita Kariani B. Ifran; Novie Amelia; Eka Laksmi Hidayati
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.327-334

Abstract

Latar belakang. Penggunaan cairan yang tidak tepat sering menimbulkan peningkatan kejadian hiponatremia yang berhubungan erat dengan meningkatnya berbagai komplikasi, seperti edema otak, kejang, bahkan kematian.Tujuan. Mengetahui insiden hiponatremia pada anak pasca tindakan operasi mayor.Metode. Studi retrospektif potong lintang dilakukan terhadap anak usia 1 bulan hingga 18 tahun yang menjalani tindakan operasi mayor dan masuk ruang rawat intensif. Penelusuran status medik sesuai kriteria inklusi dilakukan sampai jumlah sampel terpenuhi. Dicatat data subjek pre operasi, intra operasi, serta pemantauan pasca operasi. Definisi hiponatremia <135 mEq/L, diklasifikasikan sesuai derajat hiponatremia dan dilakukan pencarian lebih lanjut terhadap komplikasi.Hasil. Didapat 90 subjek, terdiri atas 56,7% laki-laki (51,1%) dan  rentang usia 1 bulan hingga 17 tahun. Tindakan laparatomi dengan berbagai indikasi dijalani 47,8% subjek. Hampir semua subjek (9 3,3%) mendapat cairan hipotonik pasca operasi. Insiden hiponatremia pasca operasi 28,9%, 11,1% di antaranya hiponatremia sedang-berat. Rerata kadar natrium pasca operasi (130,1±4,1) mEq/L, rerata total cairan (79,8±27,4) mL/kg. Pada 30,9% subjek yang mendapatkan cairan hipotonik pasca operasi mengalami kejadian hiponatremia, rerata lama rawat 5,6±4 hari. Terdapat 1/26 subjek yang mengalami komplikasi berupa kejang dan edema otak.Kesimpulan. Insiden hiponatremia pasca tindakan operasi mayor di ruang rawat intensif hampir mencapai 30% dan sebagian besar mendapat cairan hipotonik pasca operasi. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengevaluasi pemberian cairan pasca operasi yang tepat untuk mencegah hiponatremia. 
Perdarahan Intrakranial pada Hemofilia: Karakteristik, Tata Laksana, dan Luaran Novie Amelia C; Djajadiman Gatot; Endang Windiastuti; Setyo Handryastuti
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.250-6

Abstract

Latar belakang. Perdarahan intrakranial merupakan salah satu penyebab mortalitas tertinggi pada hemofilia dan morbiditas berupa gangguan neurologis. Tujuan.Mengetahui gambaran klinis, tata laksana dan luaran pasien hemofilia anak yang mengalami perdarahan intrakranial di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta selama periode 2007-2010.Metode. Studi retrospektif pasien hemofilia berusia >1 bulan hingga 18 tahun yang dirawat dengan diagnosis perdarahan intrakranial di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM dalam kurun waktu 1 Januari 2007 – 31 Desember 2010. Data dikumpulkan dari Registrasi Hemofilia Divisi Hematologi-Onkologi dan rekam medik Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM, Jakarta.Hasil. Selama kurun waktu penelitian, dari 154 pasien hemofilia anak (usia <18 tahun) yang terdaftar di Registrasi Hemofilia Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM, terdapat 13 episode perdarahan intrakranial yang dialami oleh 11 pasien (7,1%). Pasien adalah hemofilia A dengan median usia 6 tahun (3 - 15 tahun). Delapan dari 13 episode perdarahan intrakranial didahului oleh trauma kepala. Manifestasi klinis tersering adalah nyeri kepala (7), muntah (6), kejang (4), penurunan kesadaran (3), iritabilitas (2), paresis motorik (2), paresis saraf kranial (2) dan vulnus laceratumdi kepala (1). Perdarahan terbanyak adalah pada lokasi subdural (7). Median durasi pemberian faktor VIII adalah 10,5 hari (7-16 hari). Sembilan pasien membaik tanpa komplikasi, satu pasien mengalami epilepsi dan satu pasien meninggal dunia.Kesimpulan. Angka kejadian perdarahan intrakranial pada hemofilia di RSCM 7,1%. Ketersediaan faktor pembekuan untuk replacement therapydan kerjasama tim multidisiplin sangat penting untuk memperbaiki luaran pasien hemofilia yang mengalami perdarahan intrakranial.
Efektivitas Transfusi Trombosit Hasil Uji Silang Serasi (Crossmatch) pada Kondisi Trombositopenia Refrakter Murti Andriastuti; Novie Amelia Chozie; Syahminar Rahmani
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.50-7

Abstract

Latar belakang. Penyebab imun tersering trombositopenia refrakter adalah adanya antibodi terhadap human leukocyte antigens (HLA) dan atau human platelet antigens (HPA). Salah satu strategi untuk mengidentifikasi unit trombosit yang kompatibel untuk resipien adalah dengan uji silang serasi (crossmatching).Tujuan. Mengetahui efektivitas uji silang serasi sebagai tata laksana trombositopenia refrakter.Metode. Penelusuran literatur secara daring, digunakan instrumen pencari Pubmed, Cochrane, Clinical key, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan adalah ”crossmatching”,”platelet transfusion”,“thrombocytopenia”, “refractory”, dan “efficacy”.Hasil. Terdapat 3 artikel yang relevan dengan masalah. Penelitian kohort terhadap 100 transfusi trombosit dengan uji silang serasi menunjukkan hasil rerata 24 jam jumlah trombosit pascatransfusi secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kompatibel (9,250±026,6) daripada kelompok inkompatibel (6,757.94±2,656.5), p<0.0001. Penelitian kohort yang kedua juga menunjukkan perbedaan kenaikan jumlah trombosit pascatransfusi antara kelompok kompatibel dan inkompatibel bermakna secara signifikan (p=0,041). Pada penelitian kohort ketiga, transfusi trombosit inkompatibel terbukti meningkatkan risiko terjadinya respons kenaikan trombosit yang buruk pada 1 jam (OR: 5,38; 95% CI: 2,060-14,073; p<0,001), tetapi tidak pada 24 jam (OR: 1,400; CI: 0,572-3,434; p=0,46). Terdapat perbedaan bermakna antara jumlah absolut trombosit pada 1 jam dan 24 jam pascatransfusi trombosit (p<0,001). Kesimpulan. Transfusi trombosit hasil uji silang serasi yang kompatibel efektif diberikan pada pasien dengan kondisi trombositopenia refrakter.
Pemantauan Kerusakan Sendi pada Anak Hemofilia Berat: Peran Pemeriksaan Muskuloskeletal (HJHS), Ultrasonografi Sendi dan Kadar C-Terminal Telopeptide of Type II Collagen Urin Teny Tjitra Sari; Novie Amelia Chozie; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.725 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.234-40

Abstract

Hemartrosis dan artropati hemofilik merupakan morbiditas utama hemofilia. Patogenesis artropati hemofilik masih belum diketahuidengan jelas, diduga meliputi proses degenerasi dan inflamasi. Deteksi dini tahap awal artropati hemofilik sebelum timbul gejalaklinis sangat diperlukan untuk mencegah progresivitas kerusakan sendi. Pemeriksaan muskuloskeletal dengan metode skoringHemophilia Joint Health Score (HJHS) sensitif untuk mendeteksi artropati hemofilik tahap dini. Ultrasonografi sendi memilikisensitivitas yang baik dalam mendeteksi artropati tahap dini, berbiaya lebih murah dan lebih praktis dibanding MRI. Peran petandabiologis kerusakan sendi seperti kadar C-terminal Telopeptide of Type II Collagen (CTX-II) urin sebagai penunjang diagnostikartropati tahap dini dan evaluasi keberhasilan terapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat digunakan dalampraktek sehari-hari. Tinjauan pustaka ini membahas patofisiologi dan pemantauan artropati hemofilik secara klinis, radiologisdan pemeriksaan petanda biologis kerusakan sendi.
Karsinoma Nasofaring pada Anak: Karakteristik, Tata Laksana dan Prognosis Novie Amelia C; Gitta Cempako; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.296 KB) | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.79-84

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian karsinoma nasofaring (KNF) pada anak bervariasi antara 1-5% dari seluruhkeganasan pada anak, dengan gejala klinis tersering massa di leher yang tidak nyeri akibat keterlibatankelenjar getah bening regional.Tujuan. Mengkaji secara deskriptif karakteristik, tata laksana, dan prognosis pasien KNF pada anak.Metode. Studi ini merupakan kajian deskriptif pada pasien KNF anak yang berobat di Departemen IKARSCM sejak Januari 2004 hingga Desember 2009 dan telah dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi.Data perjalanan penyakit pasien berikut hasil pemeriksaan penunjang dan terapi diperoleh dari data registrasipasien onkologi IKA RSCM dan rekam medik.Hasil. Selama tahun 2005-2009 terdapat pasien baru KNF 24 orang, namun data lengkap hanya terdapatpada 13 pasien. Satu orang pasien meninggal sebelum dilakukan penentuan stadium. Dari 12 pasien, 10pasien adalah laki-laki dan 2 orang perempuan. Median usia pasien 12 tahun. Manifestasi klinis terseringadalah benjolan di leher yang tidak nyeri (8), epistaksis (4), dan nyeri kepala (1). Sepuluh dari 12 pasienmempunyai gambaran histopatologi karsinoma tidak berdiferensiasi (klasifikasi WHO tipe III), dan 2 oranglainnya karsinoma sel skuamosa (klasifikasi WHO tipe I). Dari 12 pasien, 3 orang stadium III, 4 orangstadium IVA, 4 orang stadium IVB dan 1 orang stadium IVC. Sepuluh dari 12 pasien mendapat pengobatankombinasi radioterapi dan kemoterapi, dua lainnya menjalani radioterapi. Dari 12 pasien yang mendapatpengobatan, 7 orang dinyatakan loss to follow up, dan 5 orang masih dalam pengobatan.Kesimpulan. Jumlah pasien KNF anak di Departemen IKA RSCM 2% (24 dari 1194 pasien) dari seluruhkeganasan anak tahun 2004-2009. Mayoritas pasien datang dalam kondisi lanjut, stadium III dan IV padawaktu diagnosis. Analisis free survival pada studi ini sulit dilakukan karena angka loss to follow up tinggi.
Activation of coagulation system and d-dimer levels in children with acute leukemia Harun Wijaya; Novie Amelia Chozie; Badriul Hegar
Paediatrica Indonesiana Vol 54 No 4 (2014): July 2014
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.6 KB) | DOI: 10.14238/pi54.4.2014.227-31

Abstract

Background D-dimer is a molecule as result of breaking downof excessive fibrin formation from the activation of coagulationsystem. There is evidence of increased activation of coagulation inpatients with acute leukemia which was showed by the incrementof d-dimer levels.Objective To evaluate the incidence of activation of coagulationsys tem in children with acute leukemia before receivingchemotherapy.Method This cross-sectional study was performed at Dr. CiptoMangunkusumo Hospital. All newly-diagnosed children with acuteleukemia were included in this study, prior to their receiving anychemotherapy treatment. Blast count, prothrombin time (PTI),activated partial thromboplastin time (APTf), and D-dimer levelswere examined after the diagnosis was confirmed by morphology andimmunophenotyping studies on bone marrow specimens.Results Out of 22 subjects, 13 subjects had increased D-dimervalues. The median D-dimer level of this elevated group was 1,000(range 500-14, 700) n gfmL. In the acute myeloblastic leukemia(AML) patients, activation of coagulation was found in 7 out of 8subjects. The median D-dimer levels was 950 (range 100-14, 700)ng/mL. In the acute lymphocytic leukemia (ALL) patients, 6 outof 14 subjects had increased activation of coagulation with medianD-dimer level of 300 (range 100-3,800) ngfmL. Nine out of 10subjects with blast cells on peripheral blood smear had a medianD-dimer level of 1,000 (range 500-3,800) ng/mL. Both PT andAPTT were found normal in all subjects.Conclusion Activation of coagulation sys tem occurs at thetime of diagnosis as shown by increased D-dimer levels. Thecharacteristics of activation of coagulation system are differentbetween ALL and AML subjects, as well as between subj ects withpositive and negative blast counts on peripheral blood smears.Despite the increased activation of coagulation, PT and APTfremain normal.