Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Gambaran Tanda Gejala Diabetes Mellitus Tipe II pada Pasien Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi Air Putih (Hydrotherapy): Studi Kasus Dwi Anggraini; Esti Widiani; Budiono Budiono
Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences Vol 4 No 2 (2023): Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences: October 2023
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijnhs.v4i2.2118

Abstract

Penatalaksanaan penyakit diabetes mellitus kebanyakan menggunakan obat karena dianggap merupakan cara yang mudah dan simple, tetapi dapat dikombinasikan dengan terapi komplementer seperti terapi air putih (hydrotherapy) agar tanda gejala dapat terkendali dengan baik. Tujuan penelitian ntuk mengetahui gambaran tanda gejala diabetes mellitus pada pasien sebelum dan sesudah pemberian terapi air putih (hydrotherapy) di RSUD Karsa Husada Batu. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan 2 subjek penelitian. Penelitian dilakukan dengan berfokus pada hasil wawancara dan observasi tanda gejala diabetes mellitus sebelum dan sesudah menjalani terapi air putih (hydrotherapy) pasien. Penelitian menunjukkan sebelum diberikan terapi air putih (hydrotherapy) kepada responden 1 dan 2 yang memiliki penyakit diabetes mellitus tipe 2 didapatkan hasil mengalami gejala sukar kenyang meski tidak sedang menjalani aktivitas berat, sering buang air kecil, sering kesemutan atau perasaan tertusuk-tusuk, mudah merasa lemas, serta hasil gula darah sesaat ≥ 200 mg/dL. Setelah menjalani terapi tanda gejala yang dirasakan responden seperti pola makan kedua responden menjadi lebih terkontrol, perasaan ingin berkemih menjadi berkurang, sensasi kesemutan jarang dirasakan, serta hasil gula darah sesaat yang terkendali. Kedua responden mengalami perubahan yang lebih baik pada tanda gejala diabetes mellitus setelah diberikan terapi air putih (hydrotherapy).
Polyscias scutellaria Aqueous Leaves Extract Increases Insulin Levels and Improves Mammary Gland Histology in Lactating Rats Budiono Budiono; Sumirah Budi Pertami; Kasiati Kasiati; Tutik Herawati; Nurul Pujiastuti; Siti Nur Arifah; Mochammad Fitri Atho'illah
The Indonesian Biomedical Journal Vol 15, No 4 (2023)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v15i4.2425

Abstract

BACKGROUND: Exclusive breastfeeding could be a protective step to avoid infant stunting. During lactation, several hormones are involved in milk secretion, including insulin. Polyscias scutellaria is a perennial plant which has traditionally been used to increase breast milk production. This study was conducted to examine the impact of P. scutellaria leaf extract on the mammary gland histology, expression of insulin in the mammary gland, as well as plasma insulin and the insulin receptor levels.METHODS: Five female unmated rats (UR) and twenty female lactating rats were divided into five groups, namely UR, lactating rats only (LRO), lactating rats treated with Asifit (LRA), lactating rats treated with PSAE at a dosage of 250 and 500 mg/kg body weight (BW) (LRPSAE 250 and 500). Treatments were given orally for 14 days. The dams were sacrificed after the weaning stage (third week after parturition), and the serum, mammary gland, liver, and muscle were collected for further analysis.RESULTS: The histoarchitecture of mammary gland between the LRA and LRPSAE groups were similar. The LRPSAE 250 group had higher plasma level and immunofluorescent expression of insulin than the LRA group. PSAE did not affect insulin receptor beta subunit (INSR-β) levels in both liver and muscle of lactating rats.CONCLUSION: PSAE could be used as an herbal treatment to increase breast milk production by improving mammary gland histology and maintaining the mother's insulin levels.KEYWORDS: Polyscias scutellaria, lactating rats, insulin, INSR-β
GERAKAN PERILAKU “CERDIK” BAGI LANSIA SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF TERHADAP PTM DAN PENYAKIT INFEKSI Budiono Budiono; Sumirah Budi Pertami; Nurul Pujiastuti; Ira Rahmawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 6 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i6.19221

Abstract

Abstrak: Perilaku CERDIK merupakan tindakan preventif agar lansia tetap sehat, bugar, dan bebas dari penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit infeksi. Tujuan pengabdian untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku CERDIK, mencegah serta menghindari terjadinya PTM dan penyakit infeksi pada lansia. Metode kegiatan berupa penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan bertempat di Desa Sumberporong selama 3 bulan (Juni-Agustus 2022), melibatkan 35 lansia. Hasil kegiatan; terjadi peningkatan pengetahuan dan perilaku dalam menjalankan perilaku CERDIK pada peserta. Pengetahuan peserta saat pre-test sebesar 60% baik dan post-test sebesar 85% baik. Pada pemeriksaan kesehatan terjadi penurunan rerata tekanan darah dari (148,05/90,34 mmHg) menjadi (138,35/82,94 mmHg), rerata kadar gula darah dari (164,8mg/dL) menjadi (152,74mg/dL), dan rerata kadar kolesterol total dari (195,34 mg/dL) menjadi (180,32 mg/dL). Kesimpulan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Gerakan Perilaku CERDIK berhasil meningkatkan pengetahuan dan perilaku hidup sehat, dibuktikan terjadinya penurunan rerata tekanan darah dan kadar glukosa darah pada peserta kegiatan. Diharapkan lansia tetap melakukan perilaku CERDIK sebagai tindakan preventif pada PTM dan penyakit infeksi.Abstract: CERDIK behavior is a preventive measure so that the elderly remain healthy, fit and free from non-communicable diseases (NCDs) and infectious diseases. The aim of the service is to increase CERDIK knowledge and behavior, prevent and avoid the occurrence of NCDs and infectious diseases in the elderly. The activity method is in the form of counseling and health checks taking place in Sumberporong Village for 3 months (June-August 2022), involving 35 elderly people. Activity results; there was an increase in knowledge and behavior in carrying out CERDIK behavior among participants. Participants' knowledge during the pre-test was 60% good and post-test was 85% good. During the health examination, there was a decrease in the average blood pressure from (148.05/90.34 mmHg) to (138.35/82.94 mmHg), the average blood sugar level from (164.8mg/dL) to (152.74mg/dL), and the average total cholesterol level from (195.34 mg/dL) to (180.32 mg/dL). Conclusion: The community service activities of the CERDIK Behavior Movement succeeded in increasing knowledge and healthy living behavior, as evidenced by a decrease in the average blood pressure and blood glucose levels in activity participants. It is hoped that the elderly will continue to carry out CERDIK behavior as a preventive measure against NCDs and infectious diseases.